Kisah Alena Berakhir Duka, Bayi 28 Hari Meninggal Setelah Dirawat Intensif

oleh -103 Dilihat
oleh
Kisah Alena Berakhir Duka, Bayi 28 Hari Meninggal Setelah Dirawat Intensif

Surabaya | Kisah Alena, bayi yang sempat ramai dibicarakan di media sosial, berakhir dengan kabar duka. Bayi tersebut meninggal dunia pada Minggu (11/10) dalam usia 28 hari setelah sebelumnya menjalani perawatan intensif di RSUD Dr Soetomo, Surabaya. Kepergian Alena menjadi perhatian publik karena perjalanan perawatannya sejak dirawat di rumah sakit tersebut terus mendapat sorotan.

Konfirmasi mengenai kabar itu disampaikan Humas RSUD Dr Soetomo, Adin Niken. Ia menyatakan bahwa Alena meninggal pada pukul 07.10 WIB. Keterangan tersebut memastikan bahwa bayi berusia 28 hari itu telah mengembuskan napas terakhir setelah memperoleh perawatan medis secara intensif di fasilitas kesehatan milik pemerintah daerah tersebut.

Adin Niken juga menjelaskan bahwa tim medis telah memberikan penanganan sesuai standar pelayanan dan kebutuhan pasien. Pernyataan itu menunjukkan bahwa perawatan dilakukan berdasarkan kondisi klinis serta kebutuhan Alena selama berada di rumah sakit. Namun, informasi yang tersedia tidak menyebutkan penyebab kematian secara terperinci.

Karena itu, kabar mengenai meninggalnya Alena perlu disampaikan secara hati-hati. Belum ada keterangan resmi yang menyimpulkan adanya hubungan medis kondisi Alena dan dugaan pemberian telur mentah yang sebelumnya turut dibicarakan. Dugaan tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk menentukan penyebab kematian tanpa penjelasan dan pemeriksaan medis resmi dari pihak berwenang.

Hingga keterangan lebih lanjut disampaikan, informasi yang dapat dipastikan adalah Alena telah meninggal dunia pada Minggu pagi setelah menjalani perawatan intensif. Pihak rumah sakit menegaskan pelayanan telah diberikan sesuai standar dan kebutuhan pasien. Publik diharapkan menghormati keluarga serta tidak menyebarkan spekulasi yang belum terverifikasi mengenai peristiwa tersebut.

Alena, bayi berusia 28 hari, mulai menjalani perawatan di RSUD Dr Soetomo sejak Jumat (9/10). Dalam proses perawatan, kondisi bayi tersebut dilaporkan sempat membutuhkan penanganan intensif di ruang neonatal intensive care unit (NICU). Ruang ini digunakan untuk merawat bayi yang memerlukan pemantauan ketat serta dukungan medis khusus, sehingga setiap perubahan kondisi dapat segera ditindaklanjuti oleh tim kesehatan.

Sebelum menjalani perawatan di rumah sakit, beredar informasi di media sosial yang menyebut Alena mengalami demam. Dalam informasi tersebut, bayi itu diduga diberi telur mentah oleh nenek dari pihak ayahnya. Telur mentah tersebut disebut diberikan dengan alasan untuk membantu menurunkan demam. Setelah itu, kondisi Alena dilaporkan memburuk hingga akhirnya memerlukan perawatan di rumah sakit. Namun, informasi mengenai urutan kejadian dan dugaan pemberian telur mentah tersebut berasal dari kabar yang beredar, bukan penjelasan medis resmi dari rumah sakit maupun tenaga kesehatan yang menangani pasien.

Adin Niken menyampaikan bahwa pihak rumah sakit tidak memberikan informasi lebih lanjut mengenai kondisi Alena selama menjalani perawatan. Rumah sakit juga tidak menjelaskan kaitan kondisi pasien dan dugaan pemberian telur mentah yang disebut dalam informasi di media sosial. Keterbatasan keterangan tersebut berkaitan dengan privasi pasien, terutama karena Alena masih berusia bayi. Oleh sebab itu, dugaan mengenai penyebab memburuknya kondisi Alena perlu ditempatkan secara hati-hati dan tidak disimpulkan sebagai fakta sebelum terdapat keterangan resmi dari pihak berwenang atau tenaga medis. Informasi yang beredar juga sebaiknya tidak dijadikan dasar untuk menilai hubungan sebab-akibat pemberian makanan tertentu dan kondisi kesehatan pasien.

Kabar duka mengenai Alena sebelumnya disampaikan melalui akun Threads @calistaarisha, yang diketahui merupakan akun milik bibi Alena sekaligus saudara kandung dari ibu bayi tersebut. Melalui akun itu, keluarga membagikan informasi terbaru terkait kondisi Alena selama menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Sebelum mengabarkan kepergian Alena, pemilik akun tersebut sempat menyampaikan bahwa kondisi bayi masih kritis. Ia juga meminta doa dari warganet agar Alena dapat melewati masa perawatan. Unggahan tersebut kemudian mendapat perhatian luas, terutama dari masyarakat yang sejak awal mengikuti perkembangan kondisi bayi berusia 28 hari itu.

Pada Minggu (11/10), pemilik akun menyampaikan bahwa Alena telah meninggal dunia. Dalam unggahan tersebut, keluarga turut mengucapkan terima kasih atas doa, perhatian, dan dukungan yang diberikan warganet selama Alena menjalani perawatan. Pesan itu menjadi pemberitahuan resmi dari pihak keluarga mengenai kondisi terakhir sang bayi.

Keluarga juga menyampaikan apresiasi kepada Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak serta tim medis RSUD Dr Soetomo yang telah memberikan bantuan dan penanganan selama proses perawatan Alena. Dukungan dari berbagai pihak disebut menjadi bagian penting dalam mendampingi keluarga menghadapi situasi sulit tersebut.

Persoalan keluarga yang ramai dibahas di media sosial juga disebut telah ditindaklanjuti. Meski demikian, keluarga meminta warganet menghormati privasi mereka, terutama ibu Alena. Pihak keluarga menjelaskan bahwa sang ibu belum siap menjawab berbagai pertanyaan mengenai peristiwa yang terjadi. Permintaan tersebut disampaikan agar keluarga dapat menjalani masa berduka tanpa tekanan tambahan, sekaligus mencegah munculnya spekulasi atau penyebaran informasi yang belum terverifikasi.

Peristiwa yang menimpa Alena turut mendapat perhatian tenaga medis di media sosial. Dokter pemilik akun Threads @dr.ferrykslg menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan mengingatkan masyarakat agar lebih cermat dalam memberikan asupan kepada bayi baru lahir. Pernyataan tersebut merupakan edukasi umum mengenai perawatan neonatus, bukan penetapan penyebab meninggalnya Alena. Penyebab kematian hanya dapat ditentukan melalui evaluasi medis dan informasi resmi dari pihak yang berwenang.

Bayi berusia 24 hari masih termasuk neonatus, yaitu periode awal kehidupan sejak lahir hingga sekitar 28 hari. Pada masa ini, tubuh bayi sedang beradaptasi dan memerlukan perhatian khusus, termasuk dalam pemenuhan nutrisi. Kebutuhan asupan bayi pada usia tersebut pada umumnya dipenuhi melalui air susu ibu (ASI). Apabila ASI tidak dapat diberikan atau terdapat pertimbangan tertentu, susu formula yang sesuai dapat digunakan berdasarkan anjuran tenaga kesehatan.

Bayi baru lahir tidak memerlukan makanan atau minuman lain di luar kebutuhan tersebut tanpa indikasi medis. Air putih, madu, makanan, minuman tertentu, maupun ramuan tradisional tidak boleh diberikan secara sembarangan karena dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan bayi. Makanan pendamping ASI (MPASI) secara umum mulai diperkenalkan ketika bayi berusia sekitar enam bulan. Pemberian asupan sebelum usia itu perlu mempertimbangkan kondisi, pertumbuhan, serta kebutuhan masing-masing bayi dengan mengikuti rekomendasi dokter atau tenaga kesehatan.

Masyarakat juga diimbau tidak langsung menerapkan kebiasaan turun-temurun atau informasi yang belum jelas ketika bayi mengalami keluhan. Demam pada bayi baru lahir perlu segera diperiksakan kepada tenaga medis agar bayi memperoleh evaluasi dan penanganan yang tepat. Kondisi tersebut tidak sebaiknya ditangani sendiri menggunakan bahan makanan, minuman, atau ramuan tertentu. Pemeriksaan segera membantu tenaga kesehatan menilai penyebab keluhan dan menentukan langkah yang aman sesuai kondisi bayi.

Baca juga: Asieh Moulaeinejad meninggal dunia karena luka parah