Evaluasi Dua Tahun Prabowo-Gibran: Skor Kinerja Rendah dan Tekanan Publik Menguat

oleh -33 Dilihat
oleh
Evaluasi Dua Tahun Prabowo-Gibran: Skor Kinerja Rendah dan Tekanan Publik Menguat

Jakarta | Laporan evaluasi terhadap dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menunjukkan adanya penilaian yang rendah dari publik maupun kelompok ahli. Dokumen tersebut disusun oleh Kabinet Bayangan bersama Center of Economic and Law Studies (CELIOS) pada Oktober 2026. Berdasarkan hasil penilaian masyarakat umum, pemerintahan Prabowo-Gibran memperoleh skor rata-rata 4,7 dari 10.

Nilai yang diberikan kelompok ahli tercatat lebih rendah, yakni 2,9 dari 10. Perbedaan tersebut menjadi salah satu temuan utama dalam laporan evaluasi. Penilaian dilakukan untuk melihat pelaksanaan sejumlah aspek pemerintahan selama dua tahun, meliputi program prioritas, tata kelola pemerintahan, kepemimpinan, serta komunikasi publik. Dengan cakupan tersebut, laporan tidak hanya menilai hasil kebijakan, tetapi juga proses pengelolaan pemerintahan dan penyampaian informasi kepada masyarakat.

Bhima Yudhistira menjelaskan bahwa terdapat jarak penilaian masyarakat umum dan kelompok ahli. Masyarakat memberikan skor yang relatif lebih tinggi dibandingkan para ahli, sementara kelompok ahli menilai kinerja pemerintahan dengan ukuran yang lebih rendah. Perbedaan ini disampaikan dalam pemaparan hasil riset yang berlangsung secara daring pada 11 Oktober 2026. Laporan tersebut menjadi gambaran mengenai persepsi terhadap kinerja pemerintahan memasuki tahun kedua, berdasarkan penilaian dari dua kelompok responden yang berbeda.

Evaluasi terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran memisahkan penilaian atas kinerja Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Pemisahan ini penting karena keduanya memiliki tanggung jawab, ruang kewenangan, serta tingkat keterlibatan yang berbeda dalam pengambilan kebijakan. Selain itu, survei tersebut melibatkan dua kelompok responden, yaitu kelompok ahli dan masyarakat umum, sehingga hasilnya dapat menggambarkan pandangan dari kalangan yang memiliki kompetensi khusus sekaligus persepsi publik secara lebih luas.

Dalam penilaian kelompok ahli, Prabowo memperoleh skor 2,8 dari 10. Sementara itu, masyarakat umum memberikan nilai 4,6 dari 10. Kedua angka tersebut masih berada di bawah lima, yang menunjukkan bahwa kinerja Presiden belum dinilai memuaskan oleh kedua kelompok responden. Perbedaan skor ahli dan masyarakat umum memperlihatkan adanya jarak dalam cara kedua kelompok membaca capaian pemerintah, meskipun arah penilaiannya sama-sama rendah.

Penilaian terhadap Gibran menunjukkan skor yang lebih rendah dari Presiden menurut kelompok ahli. Wakil Presiden memperoleh nilai 2,2 dari 10 dari para ahli, sedangkan masyarakat umum memberinya skor 4,9 dari 10. Walaupun penilaian masyarakat umum terhadap Gibran mendekati angka lima, skor tersebut tetap belum melewati batas lima. Dengan demikian, kedua kelompok responden belum memberikan penilaian yang dapat dikategorikan tinggi terhadap kinerja Wakil Presiden.

Merujuk pada penjelasan Bhima Yudhistira, perbedaan penilaian ahli dan masyarakat umum perlu dibaca dengan mempertimbangkan sudut pandang serta dasar evaluasi masing-masing kelompok. Ahli cenderung menilai kebijakan berdasarkan ukuran substansial, dampak, dan konsistensi pelaksanaan, sedangkan masyarakat umum lebih banyak merasakan pengaruh kebijakan dalam kehidupan sehari-hari. Parafrasa ini menegaskan bahwa perbedaan angka bukan berarti kedua kelompok memberikan penilaian yang berlawanan, melainkan menggunakan pengalaman dan pertimbangan yang berbeda.

Secara keseluruhan, skor tersebut memperlihatkan bahwa Prabowo maupun Gibran menghadapi tantangan serius untuk meningkatkan kepercayaan publik. Nilai di bawah lima dari ahli dan masyarakat umum menjadi indikator bahwa capaian pemerintahan masih dipandang belum memenuhi harapan. Hasil evaluasi itu juga menempatkan kinerja Presiden dan Wakil Presiden dalam sorotan, terutama terkait efektivitas kebijakan, dampak yang dirasakan masyarakat, serta kemampuan pemerintah menjawab persoalan publik.

Temuan survei mengenai situasi kebatinan masyarakat menunjukkan adanya tekanan psikologis yang cukup kuat selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran berjalan. Sebanyak 75 persen masyarakat menyatakan merasa stres terhadap kebijakan pemerintah. Angka tersebut menggambarkan bahwa kebijakan publik tidak hanya dinilai dari substansi dan dampaknya, tetapi juga berkaitan dengan kondisi emosional masyarakat dalam menghadapinya. Survei ini memotret persepsi responden terhadap situasi yang mereka alami, tanpa menguraikan penyebab khusus yang melatarbelakangi munculnya perasaan stres tersebut.

Tekanan serupa juga terlihat ketika pertanyaan diarahkan secara khusus pada perilaku Presiden Prabowo Subianto. Sebanyak 67 persen responden menyatakan merasa stres terhadap perilaku presiden. Temuan ini menjadi bagian dari penilaian publik atas dimensi kepemimpinan dan komunikasi publik selama pemerintahan berlangsung. Dengan demikian, laporan menempatkan respons emosional masyarakat sebagai salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam membaca hubungan pemimpin, kebijakan, serta penerimaan publik. Data tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan alasan di balik penilaian responden, melainkan mencatat tingkat perasaan yang dilaporkan.

Sorotan terhadap kapasitas kepemimpinan juga muncul dari kelompok ahli yang menjadi responden laporan. Dari 129 ahli yang disurvei, 71 persen menilai kapasitas kepemimpinan presiden tidak memadai. Selain itu, sebanyak 92 persen responden ahli menyatakan mengkhawatirkan arah kebijakan kepemimpinan Prabowo. Penilaian ini memperlihatkan bahwa evaluasi terhadap kepemimpinan tidak hanya berlangsung di kalangan masyarakat umum, tetapi juga di kelompok yang memiliki perhatian dan pengetahuan khusus terhadap tata kelola pemerintahan. Dalam kerangka laporan, temuan tersebut berkaitan dengan penilaian atas kualitas kepemimpinan dan komunikasi publik, sementara survei tidak memberikan kesimpulan tambahan mengenai penyebab kekhawatiran maupun tekanan yang dirasakan responden.

Rapor evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran mencatat sejumlah persoalan kebijakan yang menjadi perhatian publik. Salah satu catatan utama berkaitan dengan kondisi ekonomi. Sebanyak 53 persen responden menilai keadaan ekonomi saat ini lebih buruk dibandingkan tahun sebelumnya. Penilaian tersebut menunjukkan bahwa tekanan ekonomi masih dirasakan oleh sebagian besar masyarakat, baik melalui perubahan daya beli, biaya kebutuhan sehari-hari, maupun ketidakpastian terhadap prospek penghasilan. Persepsi ini menjadi indikator penting dalam membaca tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah.

Isu lain yang memperoleh penilaian sangat negatif adalah penanganan kebakaran hutan dan lahan. Sebanyak 96 persen responden menyatakan bahwa upaya pemerintah dalam menangani karhutla belum efektif. Angka tersebut memperlihatkan kuatnya kritik terhadap pencegahan, kesiapsiagaan, respons di lapangan, serta penegakan aturan terkait kebakaran hutan dan lahan. Karhutla tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengganggu kesehatan, aktivitas ekonomi, dan kehidupan masyarakat di wilayah terdampak. Karena itu, isu ini menjadi salah satu aspek kebijakan yang menonjol dalam rapor kinerja tersebut.

Riset ini melibatkan dua kelompok responden dengan karakteristik berbeda. Kelompok pertama terdiri atas 129 responden ahli yang memiliki latar belakang, domisili, dan pengalaman profesional beragam. Kelompok kedua mencakup 1.142 responden masyarakat umum yang tersebar di berbagai provinsi. Pengumpulan data dilakukan pada 15 September hingga 9 Oktober 2026, sehingga temuan yang disajikan merekam persepsi responden dalam periode tersebut.

Untuk menjaring masyarakat umum, penelitian menggunakan non-probability sampling dengan memanfaatkan Meta Ads. Metode ini memungkinkan penyebaran survei kepada responden dari berbagai wilayah melalui platform digital, meskipun tidak memberikan peluang terukur yang sama bagi setiap anggota populasi. Sementara itu, responden ahli dihimpun menggunakan snowball sampling, yakni dengan mengembangkan jaringan partisipan melalui rekomendasi responden sebelumnya untuk menjangkau individu yang memiliki keahlian dan pengalaman relevan dengan tema evaluasi pemerintahan.

Baca juga: Ramalan Karier Zodiak Scorpio Sabtu, 5 September 2026: Evaluasi Arah Karier | Kondisi finansial yang sempat mengalami tekanan juga diyakini berangsur membaik | Ramalan Karier Zodiak Scorpio Jumat, 4 September 2026: Evaluasi Arah Karier dengan Tenang