Kratom dikenal sebagai tanaman tropis yang banyak ditemukan di Pulau Kalimantan

oleh -103 Dilihat
oleh
Kratom dikenal sebagai tanaman tropis yang banyak ditemukan di Pulau Kalimantan

Jakarta | Di dalam negeri, DKI Jakarta, Kalimantan Barat, dan Jawa Timur adalah provinsi utama yang menopang ekspor kratom, menyumbang hampir seluruh nilai ekspor nasional. Kratom dikenal sebagai tanaman tropis yang banyak ditemukan di Pulau Kalimantan. Hal ini disepakati dalam Rapat Koordinasi Komite Kebijakan Sektor Kesehatan (KKSK) Triwulan III Tahun 2026 di Hotel Novotel Bogor Selasa (6/10/2026).

Keterangan yang tercatat menyebut Setelah mendengarkan beberapa masukan, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa kratom dapat dihilirisasi menjadi obat. Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan integrasi tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan pemerintah dalam mendeteksi, mengawasi, mengevaluasi, dan menindak penyalahgunaan obat-obat tertentu. Dengan SATUSEHAT Logistik, kita bisa melihat, mengontrol, mendeteksi, mengevaluasi, dan kemudian melakukan penindakan mulai dari produksi sampai distribusi obat-obat tertentu ke fasilitas pelayanan kefarmasian," kata Taruna.

Data lain dalam laporan menunjukkan Kita bisa mendiskusikan hal-hal yang overlapping dan mencari jalan keluarnya bersama," ujar BGS dalam keterangan tertulisnya dikutip Minggu (11/10/2026). KKSK jugamenyepakati percepatan penyelesaian sejumlah rencana tindak lanjut KKSK periode 2023-2025 yang masih overdue. Pembahasan akan dilakukan dua minggu sekali di tingkat teknis dan satu bulan sekali di tingkat pimpinan kementerian/lembaga secara daring. Data BPS tahun 2023 menunjukkan AS sebagai pengimpor terbesar kratom dari Indonesia, dengan volume mencapai 4.694 ton dan nilai ekspor sekitar US$ 9,15 juta. Kontribusinya mencapai US$ 4,45 juta, atau sekitar 60,75% dari total nilai ekspor.

Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Jakarta, Pemerintah lewat Komite Kebijakan Sektor Kesehatan (KKSK) akhirnya memutuskan pemanfaatan kratom sebagai bahan baku dan ekstrak untuk kepentingan kesehatan. Kebijakan tersebut akan disusun dengan mempertimbangkan manfaat, risiko, aspek keamanan, mutu, serta hasil kajian ilmiah. Pemanfaatan kratom juga akan didukung melalui penelitian dan uji klinis untuk memperoleh bukti mengenai keamanan dan efektivitasnya, termasuk potensi penggunaan sebagai analgesik serta dalam membantu mengurangi ketergantungan terhadap opiat. Pembahasan kratom dalam forum tersebut mencakup pemanfaatannya sebagai bahan baku dan ekstrak dengan mempertimbangkan manfaat dan risiko. Pengembangan pemanfaatan kratom juga diarahkan untuk didukung bukti ilmiah, standardisasi, serta kerangka regulasi yang dapat memastikan aspek keamanan dan kesehatan masyarakat tetap menjadi pertimbangan.

Ini menunjukkan pentingnya penguatan hilirisasi di wilayah penghasil untuk memastikan keberlanjutan dan pengembangan lebih lanjut dari komoditas ini. Yang perlu dilakukan adalah penelitian dan pengembangan lebih lanjut. Pria yang akrab disapa BGS itu meminta agar uji klinis kratom mengikutsertakan beberapa indikasi sekaligus, termasuk efek analgesik dan mengurangi kecanduan opiat. Ini adalah rapat koordinasi kebijakan sektor kesehatan. Selain soal Kratom, dalam rapat tersebut juga disepakati pemanfaatan SATUSEHAT Logistik untuk memperkuat monitoring dan pengawasan obat-obat tertentu. Sistem tersebut akan mengintegrasikan pemantauan Kemenkes dan BPOM, mulai dari produksi hingga distribusi ke fasilitas pelayanan kefarmasian. Hal lain yang disepakati adalah pengawasan obat-obat tertentu, penguatan kapitasi berbasis kinerja, hingga koordinasi antar penyelenggara jaminan kesehatan. Sementara berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag), dari seluruh ekspor kratom Indonesia, DKI Jakarta menjadi pemain utama. Kalimantan Barat dan Jawa Timur menyusul di posisi kedua dan ketiga dengan kontribusi signifikan. Di pasar luar negeri, Kratom yang diolah menjadi bentuk ekstrak dihargai mencapai US$ 6.000 per kg. Namun, kratom memiliki tantangan terkait legalitasnya di pasar internasional. Di AS, permintaan kratom terus meningkat meski status legalitasnya masih belum mendapat pengesahan penuh dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA). Meskipun demikian, masyarakat Amerika membeli begitu banyak kratom dan produk berbahan dasar kratom, baik secara online atau di minimarket pom bensin, toko serba ada, toko rokok, dan bar, sehingga menjadi industri senilai US$ 1 miliar. Sementara di Jepang dan Jerman mengizinkannya dalam penggunaan terbatas. India, dengan kebijakan yang lebih longgar, menjadi salah satu pasar ekspor terbesar. Legalitas yang bervariasi ini menuntut perhatian Indonesia dalam menjaga kualitas produk agar dapat memenuhi standar global yang terus berkembang. Tanaman kratom sendiri dikenal karena manfaatnya dalam pengobatan tradisional, seperti mengatasi nyeri, kecemasan, hingga membantu proses detoksifikasi bagi pengguna opioid. Meskipun di Indonesia sempat menuai kontroversi dan disebut sebagai "narkoba baru," kratom justru berhasil menembus pasar AS dan berkembang menjadi industri bernilai miliaran dolar.

Baca juga: Panglima TNI Tinjau JS Kunisaki, Dukung Penanganan Karhutla di Kalimantan | Hercules TNI AU Mendarat di Lanud Sjamsudin Noor Bawa Kekuatan Baru dari Kemhan RI, Penanganan Karhutla Kalimantan Selatan Kian Diperkuat | Tiga Ton NaCl Disemai dari Udara, Lanud Sjamsudin Noor Dukung OMC Tekan Karhutla Kalimantan Selatan