Jakarta | Selama satu dekade, Girls Takeover di Indonesia telah membuka akses bagi ratusan anak perempuan dan perempuan muda untuk memasuki ruang kepemimpinan yang selama ini lebih banyak ditempati oleh orang dewasa. Melalui inisiatif yang diinisiasi Plan Indonesia tersebut, para peserta memperoleh kesempatan untuk mengambil alih peran pemimpin selama satu hari di berbagai sektor. Mereka tidak sekadar hadir sebagai tamu, tetapi terlibat dalam pengalaman kepemimpinan yang memungkinkan mereka menyampaikan perspektif, gagasan, serta aspirasi mengenai persoalan yang memengaruhi kehidupan anak perempuan dan generasi muda.
Sejak pertama kali dilaksanakan pada 2016, setidaknya tujuh posisi menteri dan lebih dari 40 jabatan strategis di berbagai lembaga telah diambil alih oleh anak perempuan. Kesempatan itu mencakup sejumlah institusi penting, termasuk MRT Jakarta dan beberapa kedutaan besar. Dengan berada langsung di lingkungan pengambilan keputusan, peserta dapat memahami cara kerja lembaga, menyampaikan pandangan kepada para pemangku kepentingan, sekaligus menunjukkan bahwa usia bukan alasan untuk mengabaikan suara anak perempuan.
Pengalaman tersebut juga menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperkuat kepercayaan diri, kapasitas, dan aspirasi kepemimpinan anak perempuan di Indonesia. Selama satu hari, mereka didorong untuk melihat kemungkinan baru bagi masa depan serta mengidentifikasi perubahan yang dibutuhkan di lingkungan masing-masing. Perjalanan satu dekade Girls Takeover diperingati bertepatan dengan Hari Anak Perempuan Sedunia yang jatuh setiap 11 Oktober. Momentum ini menegaskan pentingnya menyediakan ruang yang aman, inklusif, dan bermakna agar anak perempuan dapat berpartisipasi dalam keputusan yang berkaitan langsung dengan hidup mereka.
Girls Takeover penting karena menegaskan hak anak perempuan untuk hadir, berbicara, dan didengar dalam ruang pengambilan keputusan. Selama ini, keputusan yang memengaruhi pendidikan, kesehatan, keamanan, serta masa depan mereka sering disusun tanpa melibatkan pengalaman anak perempuan secara langsung. Padahal, mereka memiliki pengetahuan mengenai persoalan di lingkungan masing-masing dan berhak menyampaikan gagasan tentang solusi yang dibutuhkan. Kehadiran mereka bukan sekadar simbol keterwakilan, melainkan bagian dari upaya membangun keputusan yang lebih adil dan responsif.
Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti, menekankan bahwa program ini bukan hanya pergantian pemimpin selama sehari. Girls Takeover merupakan kesempatan agar suara dan perspektif anak perempuan dipertimbangkan oleh para pemangku kepentingan, sekaligus ruang untuk menunjukkan kapasitas kepemimpinan mereka. Melalui pengalaman tersebut, peserta dapat memahami proses pengambilan keputusan, menyampaikan aspirasi secara percaya diri, dan melihat bahwa kepemimpinan bukan sesuatu yang hanya dapat dimiliki oleh kelompok tertentu.
Namun, Dini juga mengingatkan bahwa tantangan berikutnya adalah memastikan pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan peserta untuk terus memimpin dan mendorong perubahan. Kesempatan satu hari perlu terhubung dengan pendampingan, jejaring, akses pendidikan, dan ruang partisipasi yang berkelanjutan. Dengan demikian, pengalaman tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi bekal untuk memengaruhi kebijakan dan menggerakkan komunitas.
Urgensi ini terlihat dari ketimpangan yang masih dihadapi anak perempuan. Berdasarkan data Susenas yang disampaikan Dini, anak perempuan dari keluarga dengan tingkat pengeluaran terendah hampir tiga kali lebih berisiko menikah sebelum usia 18 tahun dibandingkan anak perempuan dari keluarga dengan tingkat pengeluaran tertinggi. Anak perempuan di perdesaan juga dua kali lebih berisiko mengalami perkawinan anak daripada mereka yang tinggal di perkotaan. Laporan global Plan International 2026 turut menunjukkan bahwa 90 persen anak perempuan dan perempuan muda yang disurvei menyatakan peristiwa iklim memberi tekanan serius terhadap keberlangsungan hidup, kesehatan, dan stabilitas rumah tangga mereka. Karena itu, mendengar suara mereka merupakan langkah penting untuk merancang perlindungan dan kebijakan yang sesuai dengan kenyataan hidup mereka.
Keterlibatan MRT Jakarta dalam Girls Takeover menunjukkan bahwa pembukaan ruang bagi anak perempuan juga memerlukan kesiapan dari institusi untuk mendengar. Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta (Perseroda), Weni Maulina, menyebut partisipasi tersebut sebagai kesempatan bagi institusi untuk mendengarkan sudut pandang generasi muda. Pandangan ini menempatkan Girls Takeover bukan hanya sebagai ruang bagi peserta, melainkan juga sebagai kesempatan bagi lembaga untuk membuka diri terhadap pengalaman, gagasan, dan cara pandang yang datang dari kelompok muda. Kehadiran institusi dalam ruang semacam ini menjadi bagian dari proses untuk memahami suara yang mungkin belum selalu terdengar dalam percakapan kelembagaan.
Menurut Weni, perspektif kaum muda, termasuk perempuan, dapat memperkaya cara MRT Jakarta memahami kebutuhan dan pengalaman masyarakat. Pemahaman tersebut tidak hanya dibentuk melalui data, kebijakan, atau proses internal institusi, tetapi juga melalui kesediaan untuk mendengarkan bagaimana masyarakat memandang dan mengalami kehidupan sehari-hari. Generasi muda membawa pengalaman yang khas, sementara anak perempuan dapat menghadirkan sudut pandang yang semakin memperluas pemahaman tersebut. Dengan mendengarkan perspektif mereka, institusi memiliki kesempatan untuk melihat kebutuhan masyarakat secara lebih beragam, sekaligus belajar dari pengalaman yang disampaikan secara langsung.
Pemberian ruang kepada anak perempuan, karena itu, tidak berhenti pada ajakan untuk berbicara. Ruang tersebut menuntut kesiapan institusi untuk menerima pandangan mereka dengan terbuka, mendengarkan secara sungguh-sungguh, serta belajar dari pengalaman dan pemikiran yang disampaikan. Sikap ini penting agar keterlibatan anak perempuan berlangsung secara bermakna, bukan sekadar simbolis. Partisipasi MRT Jakarta melalui Girls Takeover memperlihatkan pentingnya hubungan dua arah institusi dan generasi muda. Ke depan, harapannya, ruang-ruang serupa dapat terus dibuka secara bermakna, sehingga anak perempuan memiliki kesempatan untuk menyampaikan perspektifnya dan institusi tetap bersedia mendengar serta belajar dari mereka.
Bagi Mala, pengalaman mengambil alih posisi Menteri BUMN pada 2021 tidak berhenti sebagai sebuah peristiwa sehari atau pengalaman simbolis. Ia memandangnya sebagai bagian dari perjalanan kepemimpinannya, karena kesempatan tersebut mempertemukannya secara langsung dengan tanggung jawab, proses kerja, serta pertimbangan yang menyertai pengambilan keputusan. Pengalaman itu memberinya ruang untuk melihat bagaimana seorang pemimpin bekerja dan bagaimana gagasan dapat disampaikan dalam lingkungan yang memiliki pengaruh luas.
Dari pengalaman tersebut, Mala memahami bahwa kepemimpinan membutuhkan keberanian untuk mengemukakan apa yang dilihat dan apa yang ingin diubah. Keberanian itu bukan hanya tentang berbicara di hadapan orang lain, tetapi juga tentang kesediaan memperhatikan persoalan, menyampaikan pandangan, dan mengambil bagian dalam pembahasan yang dapat menghasilkan perubahan. Bagi anak perempuan, keberanian semacam ini perlu dibangun melalui kesempatan untuk mencoba secara langsung, bukan hanya melalui nasihat atau penjelasan tentang kepemimpinan.
Mala menyampaikan bahwa pengalaman Girls Takeover membuatnya semakin percaya bahwa anak perempuan perlu diberi kesempatan untuk terlibat dan menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan. Ketika mereka hadir dalam ruang tersebut, anak perempuan dapat mengenali kemampuan mereka, memahami berbagai persoalan, serta belajar bahwa pendapat mereka memiliki arti. Keterlibatan ini juga membantu mereka melihat kepemimpinan sebagai sesuatu yang dapat dipelajari dan dijalani, bukan peran yang hanya tersedia bagi kelompok tertentu.
Girls Takeover menjadi ruang pengalaman langsung yang mempertemukan peserta dengan situasi, tanggung jawab, dan percakapan yang berkaitan dengan kepemimpinan. Bagi Mala, pengalaman itu membantu menumbuhkan keberanian untuk terlibat, menyampaikan gagasan, dan mendorong perubahan. Perjalanan kepemimpinan tersebut berawal dari kesempatan untuk hadir dan mengambil bagian, lalu berkembang melalui refleksi atas apa yang dilihat serta keinginan untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik. Dengan demikian, pengalaman sehari yang dijalani peserta dapat menjadi bagian penting dari proses mereka membangun kepercayaan diri dan keberanian memimpin.

