Produksi Susu Segar Indonesia Mulai Pulih, tetapi Ketergantungan Impor Masih Tinggi

oleh -91 Dilihat
oleh
Produksi Susu Segar Indonesia Mulai Pulih, tetapi Ketergantungan Impor Masih Tinggi

Jakarta | Produksi susu segar nasional mulai menunjukkan perbaikan setelah mengalami penurunan pada tahun sebelumnya. Berdasarkan data terbaru, produksi pada 2025 mencapai 820.874,80 ton, atau meningkat 1,46 persen dibandingkan capaian 2024 yang berada di angka 809.038,70 ton. Kenaikan ini menjadi sinyal positif bagi industri peternakan sapi perah dan rantai pasok susu dalam negeri, meskipun skalanya masih terbatas.

Peningkatan tersebut belum cukup untuk mengembalikan produksi ke titik tertinggi dalam lima tahun terakhir. Pada 2021, produksi susu segar Indonesia tercatat mencapai 946.388,17 ton. Dengan demikian, capaian 2025 masih lebih rendah sekitar 125.513 ton dibandingkan level tersebut. Selisih ini menunjukkan bahwa kapasitas produksi nasional belum sepenuhnya pulih setelah menghadapi berbagai tekanan dalam beberapa tahun terakhir.

Pergerakan produksi selama lima tahun memperlihatkan pola yang belum stabil. Pada 2021, produksi berada di angka 946.388,17 ton, kemudian turun menjadi 824.273,20 ton pada 2022. Produksi sempat meningkat pada 2023 menjadi 837.223,20 ton, tetapi kembali melemah pada 2024 hingga 809.038,70 ton. Setahun kemudian, angka tersebut naik menjadi 820.874,80 ton.

Rangkaian data itu menunjukkan bahwa kenaikan pada 2025 lebih tepat dipahami sebagai awal pemulihan setelah periode penurunan, bukan pemulihan penuh menuju kapasitas sebelumnya. Pertumbuhan tahunan yang tercatat memang dapat memperkuat optimisme, tetapi jarak dengan capaian 2021 masih cukup besar. Karena itu, peningkatan produktivitas peternak, penguatan populasi sapi perah, perbaikan kesehatan ternak, serta dukungan terhadap efisiensi pakan dan tata kelola produksi tetap diperlukan. Langkah-langkah tersebut penting agar tren positif tidak berhenti pada kenaikan sementara, melainkan berkembang menjadi pertumbuhan yang konsisten dan mampu mempersempit kesenjangan produksi nasional.

Produksi susu segar Indonesia masih sangat terkonsentrasi di Pulau Jawa. Pada 2025, Jawa Timur menjadi provinsi dengan produksi terbesar, yakni mencapai 475.394,90 ton. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 57,9% dari total produksi susu segar nasional, sehingga Jawa Timur memegang peran utama dalam menopang ketersediaan bahan baku susu di dalam negeri.

Jawa Barat menempati posisi kedua dengan produksi sebesar 251.871,10 ton. Sementara itu, Jawa Tengah berada di peringkat ketiga dengan produksi 75.336,85 ton. Jika digabungkan, ketiga provinsi tersebut menyumbang sekitar 97,8% produksi susu segar Indonesia. Dengan kata lain, hampir 98 dari setiap 100 ton susu segar nasional berasal dari Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Konsentrasi ini juga berkaitan erat dengan rantai pasok industri pengolahan susu. Sejumlah perusahaan susu nasional, termasuk PT Sarihusada Generasi Mahardhika (SGM) dan Nestle Indonesia, menggantungkan sebagian pasokannya pada ekosistem peternakan yang terbentang dari Jawa Timur hingga Jawa Tengah. Kedekatan sentra peternakan, koperasi, fasilitas pengumpulan, serta pabrik pengolahan membantu menjaga efisiensi distribusi dan kontinuitas bahan baku.

Dominasi Pulau Jawa terlihat semakin jelas jika dibandingkan dengan wilayah lain. Sumatera Utara, yang berada di peringkat keempat, hanya menghasilkan 6.267,49 ton pada 2025. Angka tersebut jauh di bawah produksi tiga provinsi utama di Jawa, sekaligus menunjukkan masih lebarnya kesenjangan kapasitas produksi antarwilayah.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa produksi susu nasional masih sangat bergantung pada ekosistem peternakan di Jawa. Ketergantungan geografis ini dapat menjadi kekuatan karena membentuk rantai pasok yang relatif terintegrasi, tetapi juga menghadirkan risiko apabila terjadi gangguan pada produksi, distribusi, atau kesehatan ternak di wilayah-wilayah utama tersebut. Pengembangan sentra produksi di luar Jawa menjadi salah satu langkah penting untuk memperluas basis pasokan susu segar Indonesia.

Perkembangan produksi susu segar tidak dapat dilepaskan dari kondisi di tingkat hulu, terutama jumlah sapi perah yang menjadi salah satu penopang utama pasokan domestik. Dalam dua tahun terakhir, populasi sapi perah nasional menunjukkan arah pemulihan. Namun, peningkatan tersebut belum cukup untuk mengembalikan jumlah ternak ke tingkat yang pernah dicapai sebelumnya.

Data mencatat populasi sapi perah berada pada titik terendah sebesar 464.021 ekor pada 2023. Setelah itu, jumlahnya meningkat menjadi 490.592 ekor pada 2024. Kenaikan berlanjut pada 2025, ketika populasi mencapai 499.360 ekor. Dengan demikian, terdapat tambahan 8.768 ekor dibandingkan tahun sebelumnya, atau tumbuh 1,79 persen secara tahunan.

Tren tersebut memberikan gambaran bahwa kapasitas peternakan sapi perah mulai bergerak ke arah yang lebih baik. Pertumbuhan populasi dalam dua tahun berturut-turut menjadi indikasi adanya pemulihan di sektor hulu, yang penting bagi keberlanjutan produksi susu segar. Semakin besar populasi ternak produktif, semakin luas pula potensi basis produksi yang dapat mendukung kebutuhan industri pengolahan susu di dalam negeri.

Meski demikian, posisi pada 2025 masih belum menyamai capaian 2021. Pada tahun tersebut, populasi sapi perah nasional tercatat 582.169 ekor. Artinya, jumlah pada 2025 masih 14,2 persen lebih rendah dibandingkan level 2021. Selisih ini menunjukkan bahwa pemulihan yang berlangsung belum sepenuhnya mengembalikan kapasitas peternakan seperti sebelumnya. Pertumbuhan populasi perlu dilihat sebagai proses yang masih berjalan, bukan tanda bahwa kondisi hulu telah sepenuhnya pulih. Data tersebut juga menegaskan adanya jarak peningkatan terbaru dan kebutuhan untuk memperkuat basis produksi susu nasional secara berkelanjutan.

Kesenjangan produksi susu segar dalam negeri dan kebutuhan nasional masih menjadi persoalan utama dalam penguatan sektor persusuan Indonesia. Kementerian Pertanian menyebutkan bahwa produksi susu segar domestik saat ini baru mampu memenuhi sekitar 20% kebutuhan nasional. Dengan demikian, sebagian besar kebutuhan masih harus dipenuhi melalui pasokan dari luar negeri. Keterbatasan kapasitas produksi tersebut menjadi tantangan ketika konsumsi domestik berpotensi meningkat, termasuk untuk mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan ketersediaan bahan pangan bergizi secara berkelanjutan.

Untuk memperkuat basis produksi, pemerintah menargetkan penambahan sedikitnya 600 ribu ekor sapi perah indukan hingga 2029. Penambahan populasi ternak tersebut diarahkan untuk meningkatkan produksi susu segar sekaligus memperluas kemampuan peternak dan industri dalam memenuhi kebutuhan pasar. Namun, target itu menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas produksi tidak dapat dilakukan secara instan. Ketersediaan sapi perah indukan, pakan, fasilitas pemeliharaan, kesehatan hewan, serta jaringan pengumpulan dan pengolahan susu tetap menjadi bagian penting dalam upaya memperkecil kesenjangan pasokan.

Data Badan Pusat Statistik memperlihatkan besarnya peran impor dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Sepanjang Januari-Juli 2026, impor susu telah mencapai 221.762 ton dengan nilai US$678 juta atau sekitar Rp12,12 triliun, menggunakan kurs US$1 setara Rp17.875. Volume impor dalam tujuh bulan pertama 2026 itu hampir menyamai total impor sepanjang 2025. Tingginya volume dan nilai impor tersebut menggambarkan bahwa pasokan susu domestik masih belum mencukupi kebutuhan nasional.