Penjelasan Vicky Prasetyo Setelah Dede Sunandar Jatuh dalam Laga Tinju

oleh -834 Dilihat
oleh
Penjelasan Vicky Prasetyo Setelah Dede Sunandar Jatuh dalam Laga Tinju

KOTA JAMBI, JAMBI — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Insiden terjadi dalam pertandingan tinju celebrity match yang mempertemukan Vicky Prasetyo dengan Dede Sunandar dan Bedu. Dalam laga tersebut, format pertandingan dibuat berbeda dari duel tinju pada umumnya. Vicky bertanding seorang diri, sedangkan Dede dan Bedu berada dalam satu tim sehingga pertandingan berlangsung dengan pola dua lawan satu.

Laga itu merupakan bagian dari acara Kapolda Fighter Match yang digelar di GOR Kota Jambi pada Sabtu (3/10). Pertandingan tersebut kemudian menjadi perhatian setelah video salah satu momen di atas ring beredar luas di media sosial pada akhir pekan. Potongan video itu memperlihatkan Dede Sunandar terkena pukulan Vicky Prasetyo hingga sempat tidak sadarkan diri.

Momen tersebut segera memunculkan banyak reaksi dari pengguna media sosial. Sejumlah warganet membicarakan kerasnya pukulan Vicky serta situasi pertandingan yang melibatkan dua peserta dalam satu tim. Namun, kejadian itu tetap berlangsung dalam konteks laga tinju yang menjadi bagian dari acara olahraga hiburan, bukan peristiwa yang terjadi di luar pertandingan.

Perhatian publik terutama tertuju pada kondisi Dede setelah menerima pukulan tersebut dan pada penjelasan Vicky mengenai insiden di atas ring. Format 2 lawan 1 juga menjadi salah satu hal yang membuat pertandingan itu berbeda dan menarik perhatian. Dengan demikian, video yang ramai dibagikan perlu dipahami berdasarkan rangkaian acara Kapolda Fighter Match, termasuk aturan dan susunan peserta yang telah ditetapkan untuk celebrity match tersebut.

Vicky Prasetyo mengungkapkan bahwa perkiraannya sebelum pertandingan berbeda dari hasil yang kemudian terjadi di atas ring. Ia semula tidak menyangka pukulannya dapat mengenai Dede Sunandar dengan telak. Pertimbangan itu muncul karena Dede tidak tampil sendirian, melainkan bertanding bersama Bedu dalam format yang memungkinkan keduanya bergantian menghadapi lawan. Menurut Vicky, pola tersebut semestinya memberi kesempatan bagi Dede untuk mengatur tenaga selama laga berlangsung.

Dengan adanya pergantian tersebut, Vicky memperkirakan stamina dan napas Dede akan lebih terjaga dibandingkan jika harus menghadapi pertandingan seorang diri sejak awal hingga akhir. Ia menyadari bahwa dirinya memiliki postur yang lebih besar, sehingga kondisi itu dapat menjadi tantangan tersendiri bagi Dede dan Bedu. Namun, Vicky tetap menduga format dua lawan satu akan membuat tekanan fisik terhadap masing-masing peserta menjadi lebih terbagi. Karena itu, ia tidak memperkirakan serangannya bisa memberikan dampak sedemikian besar.

Vicky juga mengaku tidak dapat mengukur secara pasti seberapa keras pukulan yang dilepaskannya maupun seberapa kuat ketahanan lawannya dalam menerima serangan. Ia menyebut Dede kemungkinan mengalami blackout dan kelelahan setelah beberapa kali menerima pukulan di bagian rusuk serta rahang. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai dugaan berdasarkan situasi yang terlihat selama pertandingan, bukan sebagai kepastian medis. Kondisi Dede tetap memerlukan penilaian dari tenaga kesehatan untuk memastikan penyebab jatuh dan dampak yang dialaminya.

Penjelasan itu menunjukkan bahwa Vicky pun tidak sepenuhnya memperkirakan jalannya laga. Ia memperhitungkan keunggulan postur, tetapi juga menilai pergantian lawan dapat membantu Dede mempertahankan tenaga. Ketika pukulan berulang akhirnya membuat Dede terjatuh, Vicky menyatakan bahwa hasil tersebut berada di luar perkiraan awalnya. Baginya, kejadian itu memperlihatkan bahwa dinamika pertandingan dapat berubah cepat, terutama ketika intensitas serangan meningkat dan kemampuan fisik setiap peserta mulai terkuras.

Setelah Dede Sunandar terkapar dalam laga tinju, pertandingan segera dihentikan agar ia dapat memperoleh pertolongan medis. Dede langsung ditangani oleh tim kesehatan, sementara Vicky Prasetyo juga menjalani pemeriksaan dokter di ruangan berbeda. Situasi tersebut membuat suasana seusai pertandingan menjadi sangat tegang, terutama karena kondisi Dede sempat terlihat mengkhawatirkan.

Vicky menangis histeris ketika melihat Dede tidak sadarkan diri. Ia mengaku panik setelah melihat wajah Dede tampak pucat dan membiru. Keadaan itu juga mengingatkannya pada mendiang pelatihnya, Hero Tito, sehingga rasa takut dan kesedihan yang muncul menjadi semakin kuat. Bagi Vicky, Dede bukan sekadar lawan dalam pertandingan, melainkan sudah dianggap seperti sahabat. Karena itu, ia tidak dapat menahan emosi ketika menyaksikan Dede jatuh dan belum memberikan respons.

Vicky kemudian memastikan pertandingan dihentikan dan ikut mengantar Dede ke rumah sakit. Ia terus mendampingi Dede selama proses penanganan medis, meskipun dirinya sendiri sebelumnya juga diperiksa oleh dokter. Perhatian Vicky tetap tertuju pada kondisi Dede hingga akhirnya sang petinju siuman. Bagi Vicky, memastikan Dede mendapatkan perawatan dan berada dalam keadaan aman menjadi hal yang lebih penting daripada hasil pertandingan.

Setelah Dede sadar, Vicky langsung meminta maaf dan memeluknya. Ia juga menghubungi anak-anak Dede untuk menyampaikan perkembangan kondisi terbaru ayah mereka. Tindakan tersebut menunjukkan bahwa hubungan keduanya tidak berhenti sebagai rival di atas ring. Reaksi emosional Vicky muncul karena ia merasa bertanggung jawab secara moral sebagai teman sekaligus sesama petinju yang menyaksikan langsung insiden tersebut. Setelah mendapat perawatan dan kembali sadar, kondisi Dede pun terus dipantau oleh orang-orang terdekatnya.

Setelah sadar dan dapat menjelaskan kondisi yang dialaminya, Dede Sunandar mengungkapkan alasan dirinya tidak mengenakan pelindung kepala atau headguard dalam pertandingan tersebut. Menurut Dede, pada awalnya para peserta memang diminta menggunakan perlengkapan pelindung untuk menjaga keamanan selama bertanding. Namun, ia dan peserta lainnya mengira laga itu hanya akan menjadi ajang bersenang-senang, bukan pertandingan dengan atmosfer yang begitu serius. Karena pemahaman tersebut, perlindungan kepala yang telah disiapkan akhirnya tidak digunakan ketika mereka naik ke ring.

Dede juga mengakui bahwa suasana di GOR ternyata sangat berbeda dari suasana latihan. Kehadiran penonton dan kemeriahan yang tercipta membuat pertandingan terasa lebih hidup serta mendorong para peserta untuk memberikan kemampuan terbaik. Hal itu sejalan dengan apa yang sebelumnya pernah disampaikan Vicky Prasetyo kepada Dede. Vicky telah mengingatkan bahwa atmosfer pertandingan di GOR tidak sama dengan latihan biasa, tetapi perbedaan tersebut baru benar-benar dirasakan Dede ketika berada di tengah laga.

Situasi itu kemudian membuat Dede terdorong untuk tampil sebaik mungkin. Ia tidak hanya ingin memberikan penampilan terbaik bagi dirinya sendiri, tetapi juga untuk Bedu dan Vicky yang berada dalam rangkaian acara tersebut. Semangat untuk menunjukkan kemampuan di hadapan penonton membuat Dede berusaha menjalani pertandingan dengan sungguh-sungguh, meskipun sejak awal ia dan peserta lain memandangnya sebagai kegiatan untuk bersenang-senang. Dorongan tersebut pada akhirnya berujung pada kejadian yang tidak diharapkan ketika Dede jatuh dalam laga, setelah pertandingan berlangsung dengan suasana yang lebih meriah dan intens daripada yang semula mereka bayangkan.