Komnas PA Dituding Tak Netral Usai Konferensi Pers Ruben Onsu dan Sarwendah

oleh -103 Dilihat
oleh
Kuasa Hukum Jelaskan Alasan Sarwendah Mengunggah Rekaman Video Call Ruben Onsu

Jakarta | Akun media sosial Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menerima banyak komentar negatif setelah lembaga tersebut menggelar konferensi pers terkait konflik rumah tangga Ruben Onsu dan Sarwendah. Reaksi itu muncul di tengah perhatian publik terhadap persoalan hak asuh anak yang melibatkan kedua figur tersebut. Sejumlah warganet mempertanyakan sikap Komnas PA dalam menyampaikan pandangan mengenai perkara itu.

Sebagian komentar menilai lembaga tersebut tidak bersikap netral dan terkesan lebih berpihak kepada Sarwendah. Penilaian tersebut terutama berkaitan dengan pembahasan mengenai hak asuh anak dalam konferensi pers. Kritik yang diarahkan kepada akun Komnas PA mencerminkan respons sebagian pengguna media sosial, tetapi tidak serta-merta menggambarkan pandangan seluruh masyarakat ataupun menjadi kesimpulan mengenai posisi resmi lembaga.

Ketua Komnas PA, Agustinus Sirait, menyampaikan bahwa akun lembaganya diserang komentar yang menyudutkan sejak konferensi pers sebelumnya. Pernyataan itu disampaikan Agustinus dalam konferensi pers pada Rabu, 21 Oktober 2026. Ia menjelaskan adanya komentar bernada negatif yang muncul setelah Komnas PA memberikan keterangan kepada publik mengenai persoalan keluarga Ruben Onsu dan Sarwendah.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa pembahasan isu keluarga yang melibatkan anak dapat memicu respons luas, khususnya ketika menyentuh hak asuh dan kepentingan anak. Dalam konteks ini, kritik warganet terhadap Komnas PA berpusat pada persepsi tentang keberimbangan lembaga saat menyampaikan pandangan. Namun, komentar di media sosial tetap perlu dipahami sebagai tanggapan pengguna, bukan bukti bahwa lembaga telah menetapkan dukungan kepada salah satu pihak.

Dengan adanya sorotan tersebut, perhatian publik tidak hanya tertuju pada konflik rumah tangga Ruben dan Sarwendah, tetapi juga pada cara Komnas PA menjalankan perannya dalam isu perlindungan anak. Keterangan Agustinus memberi gambaran mengenai respons yang diterima akun lembaga setelah konferensi pers sebelumnya. Sementara itu, penilaian mengenai netralitas Komnas PA tetap menjadi kritik yang disampaikan sebagian warganet, bukan fakta yang telah dipastikan oleh keterangan tersebut.

Perhatian publik terhadap Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) meningkat setelah video Agustinus yang memuji Pablo Benua beredar luas di media sosial. Pablo merupakan pengacara Sarwendah, mantan istri Ruben Onsu. Potongan video tersebut kemudian menjadi bahan perbincangan dan kritik, terutama karena muncul di tengah sorotan terhadap hubungan Komnas PA dengan para pihak yang terlibat. Sejumlah warganet menilai pujian itu dapat menimbulkan kesan bahwa lembaga tersebut memiliki kedekatan atau sikap khusus terhadap pengacara Sarwendah. Penyebaran video secara luas membuat pernyataan Agustinus tidak lagi dipandang hanya sebagai komentar personal, melainkan juga dikaitkan dengan posisi dan kredibilitas lembaga yang diwakilinya. Situasi ini turut mendorong perdebatan mengenai pentingnya menjaga jarak dan netralitas lembaga perlindungan anak ketika isu keluarga menjadi perhatian publik.

Video itu menjadi salah satu dasar kritik yang disampaikan setelah konferensi pers Ruben Onsu dan Sarwendah. Ruben menilai Komnas PA menunjukkan keberpihakan kepada mantan istrinya, dan pujian Agustinus kepada Pablo dipandang sebagai bagian dari alasan yang memperkuat penilaian tersebut. Dalam konteks itu, sorotan tidak hanya tertuju pada isi pernyataan, tetapi juga pada bagaimana ucapan seorang pengurus dapat ditafsirkan oleh masyarakat. Ketika lembaga berperan dalam isu yang melibatkan beberapa pihak, komentar yang terdengar mengapresiasi salah satu pihak atau kuasanya berpotensi memunculkan pertanyaan tentang sikap yang diambil. Kritik yang muncul, dengan demikian, berkaitan dengan persepsi publik atas netralitas Komnas PA, bukan semata-mata dengan beredarnya sebuah rekaman di media sosial.

Agustinus mengakui bahwa video tersebut turut memunculkan anggapan negatif terhadap lembaganya. Pengakuan itu menunjukkan bahwa ia memahami dampak pernyataannya terhadap citra Komnas PA, khususnya ketika potongan video tersebar tanpa konteks yang utuh. Namun, ia menegaskan bahwa pujian kepada Pablo bukan dimaksudkan untuk membela Sarwendah ataupun mendukung salah satu pihak dalam persoalan yang menjadi perhatian publik. Penjelasan tersebut menjadi penting untuk membedakan maksud pribadi Agustinus dari kesan yang terbentuk setelah video ramai dibicarakan. Meski demikian, perbedaan niat dan tafsir publik tetap menjadi pokok persoalan: pernyataan yang dianggap sebagai pujian dapat dibaca sebagai tanda keberpihakan, terlebih ketika disampaikan oleh figur yang terkait dengan lembaga. Karena itu, kontroversi ini berpusat pada bagaimana ucapan tersebut dipahami dan pengaruhnya terhadap kepercayaan masyarakat.

Agustinus menjelaskan bahwa apresiasinya kepada Pablo Benua berangkat dari pandangan yang disampaikan mengenai hubungan anak dengan orang tua kandung. Menurutnya, anak tidak semestinya dipisahkan dari orang tua biologisnya, dan gagasan tersebut selaras dengan prinsip perlindungan anak yang menjadi perhatian Komnas Perlindungan Anak. Apresiasi itu, ia tegaskan, ditujukan pada substansi pandangan yang dianggap sejalan dengan kepentingan anak, bukan pada seluruh sikap atau tindakan pihak yang menyampaikannya.

Ia juga menyatakan bahwa Komnas PA akan memberikan apresiasi kepada siapa pun yang menyampaikan pemikiran serupa. Dengan demikian, menurut penjelasannya, respons terhadap Pablo tidak dimaksudkan sebagai dukungan khusus kepada individu tertentu maupun sebagai pernyataan mengenai posisi lembaga dalam persoalan Ruben Onsu dan Sarwendah. Ukuran yang digunakan, sebagaimana ia paparkan, adalah apakah gagasan tersebut sejalan dengan prinsip bahwa kepentingan dan perlindungan anak perlu diperhatikan, termasuk dalam pembahasan mengenai relasi anak dengan orang tua kandung.

Penjelasan itu sekaligus menunjukkan bahwa penilaian atas sikap sebuah lembaga sebaiknya mempertimbangkan konteks pernyataan secara utuh. Menganggap Komnas PA berpihak hanya dengan merujuk pada potongan video atau satu ungkapan apresiasi, tanpa menelaah alasan dan batas maksudnya, dinilai belum cukup untuk menggambarkan posisi lembaga secara menyeluruh. Agustinus memandang respons terhadap pandangan tentang anak dan orang tua kandung sebagai bagian dari prinsip perlindungan, bukan bukti bahwa Komnas PA telah menentukan keberpihakan dalam persoalan keluarga yang diberitakan. Karena itu, ia membedakan apresiasi terhadap suatu pandangan dari sikap institusional terhadap pihak-pihak yang terlibat. Penekanan tersebut penting agar pernyataan publik tidak ditafsirkan melampaui maksud yang disampaikan. Dalam isu yang menyangkut anak, pembahasan perlu mengacu pada kepentingan anak dan disertai pemahaman atas konteks, bukan hanya kesan yang muncul dari sebuah cuplikan. Penjelasan Agustinus itu menjadi dasar untuk memahami mengapa apresiasi tersebut diberikan serta bagaimana ia menempatkannya dalam kerangka perlindungan anak.Agustinus menyampaikan pesan kepada para pendukung Ruben Onsu maupun Sarwendah agar menghentikan komentar yang bernada menyerang di media sosial. Seruan tersebut ditujukan kepada kedua kelompok pendukung, bukan hanya kepada pihak yang dianggap memihak salah satu orang tua. Menurut Agustinus, ruang digital sebaiknya tidak digunakan untuk melontarkan cercaan atau saling membalas komentar yang memperuncing persoalan keluarga tersebut.

Ia mengingatkan bahwa anak-anak berpotensi ikut menjadi korban ketika konflik orang tua terus dibicarakan dengan cara yang menyerang. Perselisihan orang tua, kata Agustinus, dapat menjadi beban bagi anak-anak. Situasi itu bisa bertambah berat apabila komentar warganet ikut menyudutkan, membicarakan, atau menyeret mereka ke dalam perdebatan. Karena itu, ia meminta para pendukung mempertimbangkan dampak dari setiap unggahan dan tanggapan yang dibuat di media sosial.

Agustinus juga menekankan bahwa anak-anak tidak semestinya menanggung akibat dari komentar yang ditujukan kepada Ruben maupun Sarwendah. Mereka dapat terdampak ketika persoalan orang tua menjadi bahan perbincangan publik dan komentar bernada keras terus bermunculan. Ia meminta masyarakat tidak menjadikan anak-anak sebagai sasaran pembahasan, serta tidak menambahkan tekanan melalui unggahan yang menyudutkan atau serangan antarpengguna.

Pesan itu menurut Agustinus ditujukan agar para pendukung menghentikan tindakan menyerang.