Asap Karhutla di Palembang Perpanjang PJJ, Siswa dan Orang Tua Terbebani

oleh -83 Dilihat
oleh
Asap Karhutla di Palembang Perpanjang PJJ, Siswa dan Orang Tua Terbebani

Palembang | Kualitas udara di Palembang belum menunjukkan perbaikan ketika asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti sejumlah wilayah. Pemantauan pada Rabu, 21 Oktober, memperlihatkan konsentrasi partikulat halus PM2.5 berada pada tingkat yang membahayakan kesehatan. Di Stasiun Talang Betutu, kadar PM2.5 tercatat 336,8 mikrogram per meter kubik pada pukul 09.00 WIB. Angka tersebut telah berada jauh di atas tingkat yang dinilai aman dan menandakan paparan polusi udara yang perlu diwaspadai.

Kondisi pada dini hari bahkan lebih buruk. Data di stasiun pemantauan yang sama mencatat konsentrasi tertinggi hari itu mencapai 876,8 mikrogram per meter kubik pada pukul 04.00 WIB. Menurut pemantauan BMKG, kualitas udara Palembang berada dalam kategori hitam atau berbahaya sejak tengah malam. Kategori ini menunjukkan bahwa polusi dapat menimbulkan dampak bagi kesehatan, sehingga masyarakat perlu membatasi aktivitas di luar ruang, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan.

Asap juga mengurangi jarak pandang secara signifikan. Jarak pandang di Palembang sempat menyusut hingga sekitar 200 meter, keadaan yang dapat mengganggu perjalanan dan meningkatkan risiko kecelakaan, khususnya bagi pengendara kendaraan bermotor. Pengguna jalan disarankan mengurangi kecepatan, menyalakan lampu kendaraan, dan menjaga jarak aman ketika kondisi berkabut asap. Bagi warga yang harus beraktivitas di luar, penggunaan masker yang sesuai dapat membantu mengurangi paparan partikel, meskipun tidak menghilangkan seluruh risiko.

Lonjakan PM2.5 dan jarak pandang yang terbatas memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak hanya terasa pada lingkungan, tetapi juga pada rutinitas harian warga. Sekolah yang memperpanjang pembelajaran jarak jauh menghadapi situasi ketika kesehatan siswa perlu dijaga, sementara orang tua harus menyesuaikan pendampingan dan pekerjaan. Pemantauan kualitas udara secara berkala menjadi penting agar keluarga dapat menentukan langkah berdasarkan kondisi terkini. Selama asap masih pekat, perhatian terhadap imbauan pemerintah dan informasi resmi BMKG dapat membantu masyarakat mengurangi paparan serta mengantisipasi perubahan keadaan di lingkungan sekitar.

Memburuknya kualitas udara akibat asap kebakaran hutan dan lahan membuat sebagian besar sekolah di Palembang masih menerapkan pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ). Kebijakan ini diambil agar siswa dapat mengikuti kegiatan belajar tanpa harus beraktivitas di luar rumah ketika kondisi udara dinilai kurang baik. Namun, bagi para pelajar, belajar dari rumah selama berminggu-minggu bukan perkara mudah. Mereka tetap harus mengikuti pelajaran dan menyelesaikan tugas, sementara kesempatan untuk bertemu guru serta teman sekelas secara langsung menjadi terbatas.

Andika, siswa berusia 15 tahun di salah satu SMP negeri di Palembang, merasakan kejenuhan setelah lebih dari sebulan menjalani pembelajaran daring. Ia mengaku bosan karena hampir setiap hari harus belajar dari rumah dan menerima banyak tugas dari berbagai mata pelajaran. Tugas-tugas tersebut datang dari masing-masing pelajaran, sehingga ia merasa kegiatan belajarnya tidak hanya berlangsung saat mengikuti kelas. Di tengah situasi itu, Andika tetap berusaha mengerjakan kewajibannya sebagai siswa, meski rutinitas yang berulang membuatnya semakin merindukan suasana sekolah.

Penggunaan ponsel setiap hari juga menjadi salah satu hal yang dikeluhkan Andika. Perangkat itu diperlukan untuk mengakses materi dan mengikuti pembelajaran, tetapi menatap layar terus-menerus membuatnya merasa lelah dan jenuh. Ia ingin kembali belajar secara langsung di sekolah, bertemu guru dan teman, serta menjalani kegiatan belajar seperti biasa. Keinginan tersebut mencerminkan harapan siswa agar PJJ tidak berlangsung lebih lama dari yang diperlukan. Meski demikian, selama kualitas udara belum membaik, pembelajaran jarak jauh masih menjadi pilihan bagi banyak sekolah untuk menjaga keselamatan warga sekolah. Bagi Andika dan siswa lain, keputusan untuk kembali tatap muka berkaitan erat dengan kondisi udara yang lebih aman, sekaligus kesempatan untuk memperoleh pengalaman belajar yang lebih nyaman dan interaktif.

Bagi Fitriana, wali siswa yang tinggal di Kalidoni, Palembang, pembelajaran jarak jauh bukan hanya mengubah cara anak mengikuti pelajaran, tetapi juga menambah pengeluaran rumah tangga. Keluarganya belum memasang Wi-Fi, sehingga kegiatan sekolah daring bergantung pada paket internet telepon seluler. Agar anaknya dapat mengikuti pelajaran dan mengirimkan tugas, Fitriana harus membeli kuota lebih banyak daripada biasanya. Pemakaian dalam sehari bahkan dapat melampaui dua gigabita, terutama ketika kegiatan belajar berlangsung cukup lama dan anak perlu mengakses materi atau mengirim hasil pekerjaannya.

Pengeluaran kuota itu menjadi kebutuhan tambahan yang harus diperhitungkan selama sekolah berlangsung dari rumah. Tanpa jaringan Wi-Fi, paket data yang dibeli perlu mencukupi berbagai keperluan belajar anak, bukan sekadar membuka pesan dari sekolah. Jika kuota cepat habis, kegiatan belajar dan penyelesaian tugas dapat terganggu. Karena itu, keluarga perlu menyediakan akses internet secara rutin, sementara kebutuhan lain di rumah tetap berjalan. Bagi Fitriana, besarnya pemakaian harian menunjukkan bahwa sekolah daring membawa konsekuensi nyata bagi keluarga, khususnya ketika perangkat dan sambungan internet harus dipenuhi dengan biaya sendiri.

Beban yang dirasakan Fitriana tidak berhenti pada kuota. Ia juga perlu meluangkan waktu untuk mendampingi anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar saat mengerjakan tugas. Pendampingan diperlukan agar anak memahami instruksi, menyelesaikan pekerjaan, dan menyiapkan hasil yang diminta guru. Beberapa tugas bahkan meminta foto bersama, sehingga orang tua turut terlibat dalam proses pengerjaan dan dokumentasi. Kesibukan tersebut menambah tanggung jawab harian Fitriana, yang harus membagi perhatian urusan keluarga dan kebutuhan belajar anak. Pengalaman itu berbeda dengan anaknya yang duduk di bangku sekolah menengah pertama. Menurut Fitriana, anak tersebut sudah dapat belajar secara mandiri, sehingga tidak membutuhkan pendampingan yang sama intensifnya. Perbedaan usia dan kemandirian ini membuat kebutuhan dukungan di rumah tidak seragam. Namun, bagi anak SD, kehadiran orang tua tetap penting untuk membantu menjaga kegiatan belajar berjalan dan tugas terselesaikan. Dengan demikian, perpanjangan pembelajaran jarak jauh akibat asap karhutla turut menambah beban keluarga melalui biaya internet sekaligus waktu dan tenaga untuk mendampingi anak.Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menjelaskan bahwa asap yang menyelimuti Palembang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Dengan demikian, kondisi udara di ibu kota provinsi tersebut berkaitan dengan kejadian kebakaran yang berlangsung di beberapa kabupaten, bukan hanya satu titik. Asap dari lokasi kebakaran dapat terbawa angin dan menyebar ke kawasan lain, sehingga dampaknya dirasakan oleh masyarakat yang tinggal jauh dari area pemadaman.

Ferdian menyebut petugas melakukan pemadaman di Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, Musi Banyuasin, Penukal Abab Lematang Ilir, dan Muara Enim. Sejumlah lokasi tersebut menjadi bagian dari penanganan karhutla di Sumatera Selatan. Luas wilayah dan kondisi di lapangan dapat membuat upaya pemadaman memerlukan waktu, sementara petugas terus berusaha mengendalikan titik api. Ogan Komering Ilir, menurut Ferdian, menjadi penyumbang asap terbesar di wilayah yang disebutkan. Kondisi ini turut menjelaskan mengapa kabut asap masih dapat teramati di Palembang meskipun sumber kebakaran berada di luar kota.

Potensi asap masih ada selama karhutla belum sepenuhnya tertangani. Selama api dan bara masih ditemukan, asap dapat terus dihasilkan dan berisiko memengaruhi kualitas udara di wilayah sekitar maupun daerah yang lebih jauh. Karena itu, perubahan kondisi udara bergantung pada perkembangan kebakaran serta keberhasilan petugas mengendalikan titik api. Ferdian menyampaikan bahwa pemadaman masih dilakukan hingga tuntas.

Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla