BNPB Catat 2.186 Bencana hingga Oktober, Karhutla dan Banjir Mendominasi

oleh -41 Dilihat
oleh
BNPB Catat 2.186 Bencana hingga Oktober, Karhutla dan Banjir Mendominasi

Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 2.186 kejadian bencana di Indonesia sejak Januari hingga 21 Oktober 2026. Data tersebut menunjukkan bahwa berbagai wilayah masih menghadapi ancaman bencana dengan jenis dan tingkat dampak yang beragam. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menyampaikan jumlah itu berdasarkan pembaruan data kejadian bencana yang dihimpun lembaganya.

Dalam pembaruan pada Rabu, 21 Oktober 2026, BNPB menerima laporan tujuh kejadian tambahan. Enam di antaranya merupakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sedangkan satu kejadian lainnya adalah banjir. Penambahan tersebut turut memperbarui catatan kumulatif bencana nasional hingga tanggal pelaporan.

Karhutla menjadi jenis bencana yang paling banyak tercatat, dengan total 1.006 kejadian sejak awal tahun. Banjir berada di urutan berikutnya, mencapai 581 kejadian. Sementara itu, cuaca ekstrem dilaporkan terjadi di 337 lokasi dan kekeringan tercatat sebanyak 122 kejadian. Tanah longsor menyusul dengan 108 kejadian.

Selain bencana-bencana tersebut, BNPB juga mencatat 14 kejadian gempa bumi dan 14 kejadian gelombang pasang atau abrasi. Erupsi gunung api menjadi jenis dengan jumlah paling sedikit dalam catatan ini, yakni empat kali. Rincian tersebut menggambarkan dominasi karhutla dan banjir, sekaligus memperlihatkan bahwa ancaman lain tetap terjadi di sejumlah daerah.

Berton menjelaskan, lebih dari 99 persen kejadian bencana yang tercatat berkaitan dengan hidrometeorologi, baik basah maupun kering. Bencana hidrometeorologi basah lain berkaitan dengan hujan, banjir, dan cuaca ekstrem, sedangkan jenis kering mencakup kekeringan serta karhutla. Besarnya porsi kejadian yang terkait kondisi cuaca dan iklim menegaskan pentingnya kewaspadaan serta kesiapsiagaan di tingkat daerah. Data BNPB ini menjadi gambaran situasi kebencanaan nasional hingga 21 Oktober, dan dapat menjadi acuan bagi pemerintah maupun masyarakat dalam memahami jenis ancaman yang paling sering muncul. Pemantauan dan penyampaian informasi risiko secara berkala tetap diperlukan agar warga dapat mengikuti perkembangan kondisi di wilayah masing-masing.

Data BNPB mengenai 2.186 bencana hingga Oktober menunjukkan bahwa dampaknya terhadap masyarakat tidak hanya tercermin dalam jumlah kejadian, tetapi juga pada besarnya korban dan kebutuhan untuk mengungsi. BNPB mencatat 427 orang meninggal dunia, 21 orang masih hilang, dan 3.258 orang terluka. Selain itu, sebanyak 5,79 juta orang terpaksa mengungsi. Angka-angka tersebut menggambarkan konsekuensi kemanusiaan yang perlu diperhatikan dalam membaca perkembangan bencana sepanjang periode pelaporan.

Setiap kelompok dalam catatan itu memiliki status yang berbeda. Sebanyak 427 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 21 orang masih dinyatakan hilang. BNPB juga mencatat 3.258 orang mengalami luka-luka. Adapun 5,79 juta orang terpaksa meninggalkan tempat tinggal dan mengungsi. Karena status tersebut tidak sama, jumlah korban meninggal, orang hilang, orang terluka, dan warga yang mengungsi perlu disampaikan secara terpisah agar gambaran dampaknya tetap akurat. Data yang tersedia menunjukkan skala konsekuensi bagi masyarakat, tanpa perlu menyamakan kondisi setiap kelompok.

Jumlah pengungsi menjadi salah satu angka besar dalam catatan dampak tersebut. Sebanyak 5,79 juta orang terpaksa mengungsi, menandakan bahwa bencana juga memengaruhi kehidupan warga yang tidak tercatat sebagai korban meninggal, hilang, atau terluka. Pengungsian merupakan konsekuensi tersendiri yang dialami jutaan orang, dan perlu dipahami berdampingan dengan angka korban lainnya. Dengan demikian, paparan BNPB memuat beberapa bentuk dampak yang berbeda: kehilangan nyawa, orang yang masih belum ditemukan, luka-luka, serta perpindahan warga ke tempat pengungsian.

Keempat angka itu menjadi ringkasan penting mengenai beban bencana terhadap masyarakat hingga Oktober. Catatan 427 orang meninggal dunia, 21 orang masih hilang, 3.258 orang terluka, dan 5,79 juta orang terpaksa mengungsi perlu dipertahankan sesuai status masing-masing. Penyajian yang cermat membantu publik memahami besarnya dampak tanpa mencampur kategori atau menambahkan rincian yang tidak tercantum dalam data. Di tengah total 2.186 kejadian bencana yang dicatat BNPB, perhatian pada konsekuensi manusiawi ini melengkapi gambaran tentang skala peristiwa yang terjadi. Data tersebut menegaskan bahwa dampak bencana dirasakan dalam berbagai bentuk oleh masyarakat, baik melalui korban jiwa, kondisi hilang dan luka, maupun kebutuhan untuk mengungsi.

Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih diprioritaskan di enam provinsi, yakni Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Riau. Data penanganan di wilayah tersebut mencatat luas lahan yang menjadi sasaran mencapai 983,34 hektare. Dari total itu, kebakaran pada 481,26 hektare masih berlangsung, sedangkan 502,08 hektare telah berhasil dipadamkan. Angka tersebut menunjukkan bahwa upaya pemadaman masih harus berjalan beriringan dengan pemantauan titik api dan pencegahan agar api tidak meluas kembali.

Kalimantan Tengah mencatat area yang belum padam paling luas, yakni lebih dari 321 hektare. Sementara itu, petugas telah memadamkan kebakaran pada 110,31 hektare di provinsi tersebut. Di Sumatra Selatan, lebih dari 84 hektare masih terbakar dan 291,25 hektare telah berhasil dipadamkan. Perbedaan angka lahan yang masih terbakar dan yang telah tertangani menggambarkan kondisi lapangan yang beragam di setiap wilayah. Karena itu, pengerahan personel dan dukungan pemadaman perlu disesuaikan dengan luas serta perkembangan kebakaran di masing-masing daerah.

Kebakaran yang belum tertangani juga masih ditemukan di Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Riau. Keberadaan titik api di empat provinsi ini membuat penanganan tetap diperlukan, meskipun rincian luas untuk masing-masing wilayah tidak disebutkan dalam data tersebut. Berton menyampaikan bahwa Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan menjadi perhatian utama dalam penanganan karhutla. Pernyataan itu menegaskan fokus terhadap dua provinsi dengan luasan kebakaran yang masih besar, tanpa mengesampingkan kebutuhan penanganan di provinsi lainnya. Pemantauan berkelanjutan penting untuk mengetahui perubahan kondisi, memastikan titik api yang telah dipadamkan tidak menyala kembali, serta mengarahkan sumber daya ke lokasi yang masih terbakar. Dengan demikian, upaya di enam provinsi dapat dilakukan secara terukur berdasarkan situasi terkini di lapangan.

Selain enam provinsi prioritas, kebakaran hutan dan lahan juga tercatat di sejumlah wilayah lain. BNPB melaporkan total 1.044,08 hektare lahan terdampak di lokasi-lokasi tersebut. Dari luasan itu, 44,08 hektare telah berhasil dipadamkan. Dengan demikian, perkiraan luas yang masih belum padam mencapai sekitar 1.000 hektare. Angka tersebut menunjukkan bahwa penanganan kebakaran masih perlu dilakukan pada area yang tersebar di berbagai daerah, mulai dari Jawa hingga Sulawesi dan Maluku. Sebaran lokasi dan luas terdampak menjadi gambaran cakupan upaya pemadaman yang masih berlangsung.

Wilayah terdampak terluas yang disebutkan berada di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dengan luasan 490 hektare. Di provinsi yang sama, kebakaran di Gunung Sumbing berdampak pada 140 hektare. Sementara itu, kawasan Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur mencatat 75,37 hektare lahan terdampak. Di Lampung, luas kebakaran di Taman Nasional Way Kambas mencapai 34 hektare. Kalimantan Timur dan wilayah Ibu Kota Nusantara mencatat 30,58 hektare. Rincian tersebut memperlihatkan bahwa kejadian tidak hanya berada di kawasan hutan, tetapi juga menjangkau bentang alam dan wilayah dengan karakter berbeda.

Di luar Pulau Jawa, BNPB mencatat 179,13 hektare terdampak di Maluku Utara. Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, melaporkan 60 hektare, sedangkan Kabupaten Tojo Una-Una di provinsi yang sama mencatat 10 hektare.

Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla