Jakarta | SKK Migas menyebut proyek LNG Abadi Masela sebagai proyek terbesar di Indonesia. Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan bahwa nilai investasi proyek tersebut diperkirakan sekitar US miliar, atau setara Rp399,43 triliun dengan asumsi kurs Rp18.156 per dolar AS. Angka ini menunjukkan besarnya nilai investasi yang dikaitkan dengan pengembangan proyek Masela. Penyebutan nilai dalam dolar AS dan rupiah memberikan gambaran nominal yang sama dalam dua mata uang, dengan konversi rupiah merujuk pada kurs yang disebutkan. Penilaian mengenai statusnya sebagai proyek terbesar dan perkiraan investasi tersebut berasal dari Djoko, sebagaimana disampaikan oleh SKK Migas.
Selain nilai investasi, proyek LNG Abadi Masela ditargetkan memiliki kapasitas produksi sebesar 1.380 MMSCFD. Target itu merupakan angka produksi yang disampaikan dalam informasi mengenai proyek, dan dicantumkan bersama perkiraan investasinya. Dengan demikian, dua ukuran utama yang disebutkan dalam pemberitaan ini adalah besarnya modal yang diperkirakan diperlukan serta target produksi proyek. Nilai investasi sekitar Rp399,43 triliun dan target produksi 1.380 MMSCFD menjadi pokok informasi yang menggambarkan skala proyek menurut SKK Migas. Rincian tersebut tidak mengubah status angka investasi sebagai perkiraan maupun target produksi sebagai sasaran yang disebutkan.
Pernyataan Djoko Siswanto menempatkan proyek Masela dalam skala besar berdasarkan nilai investasi dan target produksi yang diumumkan. Perkiraan US$22 miliar dikonversi menjadi Rp399,43 triliun dengan kurs Rp18.156 per dolar AS, sedangkan angka produksi yang ditargetkan tercatat 1.380 MMSCFD. Kedua angka itu dapat menjadi acuan awal untuk memahami besaran proyek, tanpa menyiratkan rincian lain yang tidak tercantum dalam informasi tersebut. SKK Migas menyebut proyek ini sebagai yang terbesar di Indonesia, sementara angka investasi dan produksi menjelaskan dasar kuantitatif yang disampaikan kepada publik dalam konteks proyek LNG Abadi Masela.
Hingga Selasa (27/10), tahap Front End Engineering Design (FEED) untuk proyek LNG Abadi Masela telah selesai tiga bulan lebih cepat daripada target. Percepatan ini menandai tuntasnya salah satu tahapan penting dalam perencanaan teknis proyek, yang diperkirakan membutuhkan investasi sebesar Rp399,43 triliun. Inpex sebelumnya menargetkan FEED rampung pada akhir tahun ini. Namun, setelah serangkaian rapat, pekerjaan tersebut dapat diselesaikan lebih awal dari jadwal yang telah ditetapkan.
FEED merupakan tahap perancangan teknik yang digunakan untuk merumuskan dasar desain suatu proyek. Pada tahap ini, berbagai kebutuhan dan parameter teknis dijabarkan lebih terperinci agar pengembangan proyek memiliki landasan yang jelas. Hasilnya mencakup dasar desain, spesifikasi, serta kebutuhan teknis yang akan menjadi rujukan bagi tahapan berikutnya. Dengan demikian, FEED bukan sekadar penyusunan rancangan awal, melainkan proses untuk memperjelas bagaimana fasilitas akan direncanakan dan persyaratan apa yang perlu dipenuhi dalam pengembangannya.
Bagi proyek LNG Abadi Masela, hasil FEED menjadi acuan penting dalam persiapan pengembangan fasilitas LNG. Dokumen dan rancangan yang dihasilkan membantu memberikan pijakan teknis untuk merencanakan pekerjaan lanjutan, termasuk kebutuhan fasilitas yang akan dibangun. Penyelesaian FEED lebih awal juga berarti tahapan perencanaan ini dapat menjadi dasar bagi persiapan berikutnya tanpa harus menunggu hingga target akhir tahun. Meski demikian, rampungnya FEED menandai selesainya fase perancangan teknik tersebut, bukan keseluruhan proyek. Proses pengembangan tetap memerlukan tahapan lanjutan sesuai rencana, dengan hasil FEED sebagai salah satu referensi utama dalam mengarahkan pekerjaan berikutnya.
Djoko Siswanto menyampaikan harapan agar keputusan investasi final atau Final Investment Decision (FID) untuk proyek LNG Abadi Masela dapat segera ditetapkan. Ia berharap keputusan tersebut bisa keluar pada akhir tahun ini, atau paling lambat pada Januari 2027. Harapan itu disampaikan sebagai perkiraan waktu yang diinginkan, bukan kepastian bahwa FID akan diumumkan pada salah satu tanggal tersebut.
Dengan tahap desain proyek yang telah rampung lebih cepat dan nilai investasi yang diperkirakan mencapai Rp399,43 triliun, perhatian kini tertuju pada keputusan investasi final. Namun, waktu penetapannya masih perlu dipahami sesuai pernyataan Djoko: akhir tahun ini menjadi waktu yang diharapkan, sementara Januari 2027 disebut sebagai batas paling lambat dalam harapannya. Keduanya bukan pengumuman jadwal resmi yang memastikan kapan keputusan akan keluar.
Penyebutan rentang waktu tersebut memberi gambaran mengenai harapan narasumber terhadap kelanjutan proyek, sekaligus menjaga perbedaan target yang diharapkan dan kepastian. Karena itu, informasi mengenai FID perlu disampaikan dengan atribusi yang jelas kepada Djoko Siswanto. Rumusan yang tepat adalah bahwa ia berharap keputusan segera ditetapkan, dengan kemungkinan waktu pada akhir tahun ini atau paling lambat Januari 2027.
Belum ada kepastian waktu yang dapat disimpulkan hanya dari harapan tersebut. Oleh sebab itu, pembaca sebaiknya mencermati bahwa akhir tahun ini dan Januari 2027 merupakan rentang yang disebut dalam pernyataan narasumber, bukan tanggal penetapan yang telah dipastikan. Harapan Djoko agar FID segera keluar menjadi pokok informasi mengenai keputusan investasi proyek LNG Abadi Masela, sedangkan waktu resminya tetap belum dapat dinyatakan berdasarkan keterangan tersebut.
Dalam pemberitaan mengenai proyek ini, pembedaan tersebut penting agar ungkapan harapan tidak berubah menjadi kabar seolah-olah keputusan telah dijadwalkan. Pernyataan Djoko menunjukkan keinginan agar FID segera ditetapkan, dengan harapan akhir tahun ini atau, jika belum, paling lambat Januari 2027. Sampai terdapat kepastian yang dinyatakan secara resmi, waktu tersebut tetap harus disebut sebagai harapan Djoko Siswanto.
Penelaahan independen menjadi salah satu upaya untuk memperkuat kualitas rancangan teknik proyek LNG Abadi Masela. Pada tahap ini, dokumen Front-End Engineering Design (FEED) dikaji oleh kalangan akademisi agar rancangan dapat ditelaah dari sudut pandang teknis yang beragam. Keterlibatan pihak di luar tim penyusun memberi ruang bagi pemeriksaan yang objektif terhadap isi dokumen, termasuk kejelasan pendekatan dan konsistensi rancangan. Proses tersebut melengkapi tahapan penyelesaian FEED yang telah berlangsung lebih cepat dari perkiraan, sekaligus mendukung persiapan proyek untuk memasuki tahapan berikutnya. Penelaahan ini bukan sekadar pengumpulan pendapat, melainkan bagian dari upaya memastikan bahwa rancangan diperiksa secara cermat sebelum digunakan sebagai dasar pengembangan proyek berskala besar. Dengan demikian, masukan akademisi dapat membantu memperkuat kualitas teknis dokumen dan memberi sudut pandang tambahan dalam proses evaluasi rancangan.
Lebih dari 200 profesor dan doktor dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), serta Universitas Pattimura (Unpatti) terlibat dalam penelaahan tersebut. Para akademisi itu berperan sebagai penelaah independen, bukan sebagai penyusun dokumen FEED. Mereka mengkaji dokumen rancangan dan memberikan masukan teknis berdasarkan bidang keahlian masing-masing. Keterlibatan tiga perguruan tinggi tersebut menghadirkan kapasitas akademik dari institusi yang berbeda untuk mendukung proses tinjauan. Jumlah penelaah yang melampaui 200 orang menunjukkan luasnya partisipasi akademisi dalam pemeriksaan rancangan proyek. Peran mereka berfokus pada telaah dokumen dan penyampaian masukan, sehingga keputusan dan tanggung jawab pengembangan tetap berada pada pihak-pihak yang menangani proyek. Masukan dari penelaah dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menilai kekuatan rancangan serta aspek yang memerlukan perhatian teknis lebih lanjut.
Informasi mengenai keterlibatan akademisi dan penelaahan rancangan tersebut disampaikan Djoko dalam acara FEED Completion Ceremony Inpex di Hotel The Ritz-Carlton, Jakarta Selatan, pada Selasa (27/10). Keterangan itu menegaskan bahwa penyelesaian FEED juga disertai proses pemeriksaan independen atas dokumen desain.
Baca juga: Investasi Rp50 Juta Iming-iming Untung Rp5 Juta dan Umrah, MCI Tuban Diadukan ke Polisi | Hadiri Peringatan 10 Tahun Hubungan Jiangxi–Indonesia, Bamsoet Dorong Peningkatan Kerja Sama Dari Perdagangan ke Investasi dan Basis Produksi
