Survei PPI: Prabowo Memimpin Tiga Simulasi Pilpres, Anies dan AHY Menyusul

oleh -11 Dilihat
oleh
Survei PPI: Prabowo Memimpin Tiga Simulasi Pilpres, Anies dan AHY Menyusul

Jakarta | Parameter Politik Indonesia (PPI) menyampaikan hasil survei nasional bertajuk “Evaluasi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran” dalam peluncuran di Jakarta pada Minggu. Direktur Eksekutif PPI, Adi Prayitno, menjelaskan bahwa lembaganya menguji pilihan responden melalui tiga simulasi Pilpres. Pendekatan berlapis tersebut digunakan untuk melihat gambaran elektabilitas dalam susunan kandidat yang berbeda, bukan hanya dalam satu daftar nama.

Simulasi pertama bersifat terbuka dan mencakup 20 nama. Pada skenario ini, responden diberi ruang untuk menyebutkan pilihan mereka dari daftar yang lebih luas. PPI melibatkan 1.200 responden dalam simulasi terbuka tersebut. Hasil skenario ini menjadi salah satu potret preferensi pemilih terhadap tokoh-tokoh yang masuk dalam bursa, dengan pilihan disampaikan ketika pertanyaan survei diajukan.

PPI kemudian menyusun simulasi kedua dengan 17 kandidat. Daftar yang lebih ringkas memungkinkan lembaga survei membandingkan dukungan ketika jumlah pilihan dibatasi pada nama-nama yang telah ditentukan. Simulasi ketiga menggunakan lima kandidat, sehingga responden menilai kontestasi dengan susunan yang lebih terbatas. Ketiga skenario ini memberi konteks berbeda untuk membaca kecenderungan pilihan, sesuai dengan jumlah nama yang disodorkan kepada responden.

Meski jumlah kandidat berubah, pertanyaan pokok yang diajukan tetap sama. Responden ditanya siapa yang akan mereka pilih apabila pemilihan presiden digelar pada saat survei dilakukan. Keseragaman pertanyaan tersebut membantu menjaga fokus pengukuran pada pilihan elektoral, sementara variasi daftar kandidat menjadi pembeda utama antarsimulasi.

Dalam paparan hasil yang menjadi perhatian publik, Prabowo disebut memimpin tiga simulasi, dengan Anies dan AHY menyusul. Namun, pembacaan atas temuan itu perlu memperhatikan skenario yang digunakan: hasil dari daftar 20 nama tidak sepenuhnya setara dengan hasil dari 17 atau lima kandidat. Karena itu, ketiga simulasi sebaiknya dipahami sebagai gambaran pilihan dalam komposisi kontestasi yang berbeda. Uraian PPI menunjukkan bagaimana perubahan jumlah kandidat dapat menjadi kerangka untuk melihat posisi para tokoh dalam survei, tanpa mengubah pertanyaan dasar kepada responden.

Dalam simulasi terbuka yang dipaparkan PPI, Prabowo Subianto berada di posisi teratas dengan elektabilitas 31,6 persen. Angka tersebut menempatkannya sebagai nama dengan tingkat dukungan tertinggi di para tokoh yang dicantumkan dalam simulasi. Hasil ini menggambarkan pilihan responden ketika nama kandidat tidak dibatasi pada sejumlah pasangan atau skenario tertentu, melainkan disajikan dalam daftar terbuka. Berdasarkan data yang dilaporkan, jarak Prabowo dan tokoh yang menempati posisi berikutnya cukup lebar. Namun, angka ini tetap perlu dibaca sebagai hasil simulasi survei, bukan hasil pemungutan suara ataupun kepastian mengenai kontestasi mendatang.

Di urutan kedua, Dedi Mulyadi memperoleh 11,4 persen, disusul Anies Baswedan dengan 10,1 persen. Gibran Rakabuming Raka berada pada posisi berikutnya dengan 6,9 persen, sedangkan Ganjar Pranowo mencatat 4,4 persen. Daftar sepuluh besar kemudian mencakup Agus Harimurti Yudhoyono dengan 2,3 persen dan Mahfud MD dengan 1,7 persen. Sherly Tjoanda memperoleh 1,1 persen. Dua nama lainnya, Purbaya Yudhi Sadewa dan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, masing-masing meraih 0,8 persen. Seluruh persentase tersebut mengikuti angka yang disampaikan dalam hasil simulasi terbuka PPI.

Dengan demikian, sepuluh nama teratas menunjukkan variasi tingkat elektabilitas, dari dukungan dua digit bagi tiga tokoh teratas hingga angka di bawah satu persen bagi dua nama pada urutan terakhir. Perbedaan tersebut menyajikan gambaran posisi relatif para tokoh dalam pengukuran yang sama. Meski demikian, simulasi terbuka yang diberitakan tidak hanya memuat sepuluh nama tersebut. Secara keseluruhan, terdapat 20 nama dalam daftar kandidat yang diuji. Karena itu, daftar sepuluh besar merupakan bagian dari hasil yang lebih luas, sementara tokoh lain tetap tercatat dalam simulasi tanpa mengubah angka elektabilitas yang telah dilaporkan untuk masing-masing nama.

Dalam simulasi kedua yang memuat 17 nama ketua umum partai politik serta sejumlah tokoh yang berpeluang diusung partai nonparlemen atau partai baru, Prabowo Subianto kembali menempati posisi teratas. Ia memperoleh 34 persen suara responden. Hasil tersebut menempatkannya jauh di atas kandidat lain dalam daftar, dengan selisih 14,6 poin persentase dari posisi kedua. Simulasi ini memperluas pilihan dibandingkan skenario yang hanya melibatkan sejumlah nama, sehingga mencakup lebih banyak figur dari berbagai partai dan latar politik.

Anies Baswedan berada di urutan kedua dengan 19,4 persen, sementara Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menempati posisi ketiga dengan 11,1 persen. Gibran Rakabuming Raka menyusul sangat dekat di posisi keempat, meraih 10,9 persen. Perbedaan AHY dan Gibran tercatat 0,2 poin persentase. Setelah empat nama teratas, Muhaimin Iskandar memperoleh 3 persen. Jarak dukungan Muhaimin dengan Gibran cukup lebar, yakni 7,9 poin persentase, sedangkan hasilnya menjadi batas kelompok dengan dukungan lebih tinggi dan para tokoh lain yang meraih angka di bawah dua persen.

Di urutan berikutnya, Yusril Ihza Mahendra mencatat 1,7 persen dan Pramono Anung 1,6 persen. Puan Maharani memperoleh 1,4 persen, diikuti Kaesang Pangarep dengan 1,3 persen serta Surya Paloh dengan 1,1 persen. Zulkifli Hasan meraih 0,8 persen, Bahlil Lahadalia 0,6 persen, dan Muhammad Mardiono 0,5 persen. Tiga nama dengan angka paling rendah adalah Al Muzzammil Yusuf dengan 0,4 persen, Anis Matta dengan 0,3 persen, dan Angela Tanoesoedibjo dengan 0,2 persen. Dengan demikian, seluruh 17 figur dalam simulasi memperoleh dukungan terukur, meskipun tingkatnya berbeda-beda. Komposisi hasil memperlihatkan Prabowo unggul, sementara Anies dan AHY menjadi pesaing terdekat dalam daftar tersebut; tokoh-tokoh lain berada pada tingkat dukungan yang lebih rendah.

PPI juga menyelenggarakan simulasi yang melibatkan lima kandidat sebagai bagian dari pengukuran elektabilitas. Simulasi semacam ini membantu lembaga survei melihat bagaimana dukungan responden terbagi ketika pilihan yang disodorkan lebih terbatas dibandingkan daftar kandidat yang lebih panjang. Namun, keterangan yang tersedia mengenai survei tersebut tidak mencantumkan nama-nama yang masuk dalam simulasi lima kandidat. Informasi itu juga tidak memuat angka elektabilitas masing-masing peserta, sehingga tidak ada dasar untuk menyebut siapa yang berada di posisi teratas atau bagaimana jarak dukungan antarkandidat. Karena itu, keberadaan simulasi dapat dijelaskan, tetapi hasilnya tidak dapat dirinci berdasarkan bahan yang tersedia.

Pertanyaan yang diajukan kepada responden tetap berfokus pada pilihan presiden apabila pemilihan presiden berlangsung pada saat survei dilakukan. Dengan kata lain, jawaban yang dihimpun menggambarkan preferensi politik responden dalam konteks waktu pelaksanaan survei, bukan kepastian mengenai hasil pemilu mendatang. Pilihan dalam simulasi menjadi cara untuk mengukur kecenderungan tersebut melalui konfigurasi kandidat tertentu. Perbedaan jumlah nama yang ditawarkan dapat menghasilkan gambaran kompetisi yang berbeda, sehingga setiap hasil perlu dibaca sesuai format simulasi dan daftar kandidat yang digunakan. Tanpa rincian daftar serta hasil lima nama, pembaca sebaiknya tidak menarik kesimpulan lebih jauh dari informasi terbatas itu.

Dalam paparan sumber yang tersedia, angka hasil yang dapat disebutkan berasal dari simulasi terbuka dan simulasi dengan 17 nama. Kedua format tersebut merupakan bagian yang berbeda dari pengukuran PPI dan tidak dapat dianggap mewakili angka untuk simulasi lima kandidat. Sumber hanya menyatakan bahwa simulasi lima kandidat turut digelar, tanpa menyertakan komposisi kandidat maupun hasilnya.