Jakarta | Survei nasional Parameter Politik Indonesia (PPI) menempatkan Dedi Mulyadi, yang dikenal dengan sebutan KDM, pada posisi teratas dalam simulasi elektabilitas calon wakil presiden untuk Pemilihan Presiden 2029. Dalam paparan hasil survei tersebut, Dedi meraih angka 21 persen. Gibran Rakabuming Raka berada di urutan berikutnya dengan 14,2 persen. Selisih keduanya mencapai 6,8 poin persentase, berdasarkan angka yang disampaikan PPI.
Temuan itu dipaparkan Direktur Eksekutif PPI, Adi Prayitno, saat peluncuran survei nasional bertajuk “Evaluasi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran”. Acara tersebut berlangsung di Jakarta pada Minggu, 18 Oktober 2026. Simulasi nama calon wakil presiden menjadi salah satu bagian dari rangkaian pengukuran opini publik yang disampaikan dalam kegiatan tersebut. Hasilnya menggambarkan pilihan responden ketika sejumlah nama diuji dalam skenario pencalonan untuk pemilu mendatang.
Posisi Dedi di puncak simulasi menunjukkan bahwa namanya memperoleh dukungan tertinggi di tokoh yang disebutkan dalam pengujian tersebut. Namun, angka elektabilitas dalam survei merupakan potret pada waktu pengumpulan data, bukan kepastian hasil pemilihan pada 2029. Preferensi pemilih dapat berubah seiring perkembangan politik, munculnya kandidat lain, serta dinamika koalisi dan pencalonan. Karena itu, hasil ini perlu dibaca sesuai konteks dan cakupan survei yang dipaparkan.
Gibran, sebagai nama dengan angka tertinggi kedua dalam simulasi, mencatat 14,2 persen, terpaut dari perolehan Dedi. Perbandingan tersebut memberikan gambaran awal mengenai tingkat dukungan relatif bagi kedua tokoh pada saat survei dilakukan. Informasi yang disampaikan dalam peluncuran itu menegaskan urutan hasil simulasi, dengan Dedi Mulyadi memimpin dan Gibran Rakabuming Raka menyusul. Temuan PPI ini menjadi salah satu indikator awal yang dapat dicermati dalam pembahasan mengenai peta kandidat wakil presiden menuju Pilpres 2029.
Di luar nama yang memperoleh angka tertinggi dalam simulasi, survei PPI juga mencatat pilihan responden terhadap sejumlah tokoh lain. Agus Harimurti Yudhoyono berada di urutan berikutnya dengan elektabilitas 7,1 persen, disusul Anies Baswedan yang meraih 7 persen. Selisih keduanya tercatat 0,1 poin persentase. Setelah itu, Purbaya Yudhi Sadewa memperoleh 4,8 persen, sementara Mahfud MD mendapat 4,4 persen.
Nama-nama berikutnya mencatat angka di kisaran tiga persen. Sherly Tjoanda meraih 3,2 persen, sedikit di atas Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang memperoleh 3,1 persen. Ganjar Pranowo tercatat mendapat 2,6 persen. Sementara itu, Teddy Indra Wijaya memperoleh 1,4 persen dalam simulasi tersebut.
Untuk tokoh dengan angka di bawah satu persen, Muhaimin Iskandar dan Kaesang Pangarep masing-masing mendapat 0,9 persen. Susi Pudjiastuti meraih 0,8 persen, sedangkan Anis Matta dan Zulkifli Hasan masing-masing memperoleh 0,7 persen. Bahlil Lahadalia berada pada angka 0,5 persen.
Enam nama lainnya masing-masing memperoleh 0,1 persen. Mereka adalah Andi Amran Sulaiman, Raffi Ahmad, Sudaryono, Erick Thohir, Emil Dardak, dan Rieke Diah Pitaloka. Angka yang sama untuk keenam tokoh tersebut menunjukkan bahwa dalam hasil simulasi yang disampaikan, dukungan kepada masing-masing berada pada tingkat yang rendah.
Selain nama-nama yang tercantum, sebanyak 3,5 persen responden menyebut tokoh lain yang tidak dirinci dalam daftar. Adapun 20,8 persen responden tidak memberikan jawaban. Porsi tanpa jawaban ini menjadi salah satu bagian penting untuk membaca hasil survei, karena menunjukkan masih adanya responden yang belum menyebut pilihan tertentu. Secara keseluruhan, daftar tersebut memperlihatkan sebaran pilihan yang cukup beragam, dari tokoh dengan angka di atas tujuh persen hingga sejumlah nama yang masing-masing memperoleh 0,1 persen. Angka-angka ini menggambarkan hasil simulasi sebagaimana dilaporkan, tanpa dengan sendirinya memastikan pilihan akhir pemilih pada pemilihan mendatang. Karena itu, posisi setiap tokoh dalam daftar perlu dipahami sesuai persentase yang tercatat, sementara kelompok yang menyebut nama lain maupun belum menjawab tetap menjadi bagian dari hasil survei.Selain menguji pilihan publik dalam simulasi calon wakil presiden, survei PPI yang sama juga mengukur tingkat pengenalan masyarakat terhadap sejumlah tokoh. Indikator ini menggambarkan seberapa banyak responden mengetahui atau mengenali nama tokoh yang ditanyakan, bukan seberapa besar dukungan mereka untuk memilih tokoh tersebut. Dalam hasil pengukuran, Prabowo Subianto mencatat tingkat pengenalan tertinggi, yakni 96,8 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa hampir seluruh responden mengenal Presiden Prabowo.
Gibran Rakabuming Raka berada di urutan kedua dengan tingkat pengenalan 93,8 persen. Setelahnya, Anies Baswedan memperoleh 90,9 persen, disusul Ganjar Pranowo sebesar 85,8 persen. Dedi Mulyadi mencatat angka 84,3 persen. Selisih tingkat pengenalan sejumlah nama itu menunjukkan bahwa para tokoh tersebut telah memiliki jangkauan keterpaparan publik yang luas, meskipun tingkatnya tidak sama. Data ini memberi konteks mengenai seberapa akrab responden dengan masing-masing figur, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan alasan mereka mendukung atau menolak seorang tokoh.
Temuan pengenalan publik perlu dibedakan secara hati-hati dari hasil simulasi elektabilitas cawapres. Dalam simulasi tersebut, Dedi Mulyadi disebut memimpin pilihan responden, sementara angka pengenalannya berada di bawah Prabowo, Gibran, Anies, dan Ganjar. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa popularitas dalam arti dikenal luas tidak otomatis sejalan dengan posisi teratas dalam pilihan politik. Seseorang dapat dikenal oleh banyak orang tanpa menjadi pilihan utama, sementara tokoh dengan tingkat pengenalan lebih rendah dapat memperoleh dukungan yang kuat dalam skenario tertentu.
Karena itu, kedua indikator sebaiknya dibaca sebagai ukuran yang berbeda dan saling melengkapi, bukan dipertukarkan. Tingkat pengenalan mengukur cakupan pengetahuan publik terhadap nama atau figur, sedangkan elektabilitas dalam simulasi mencerminkan pilihan responden ketika dihadapkan pada susunan kandidat tertentu. Hasilnya juga dapat berubah seiring perkembangan politik, paparan media, dan dinamika kampanye. Angka survei tersebut merupakan potret pada waktu pengumpulan data, bukan prediksi pasti mengenai hasil pemilihan 2029. Pembacaan yang cermat membantu menempatkan posisi Dedi Mulyadi dalam simulasi tanpa menyamakan keterkenalan dengan dukungan.Hasil survei mengenai simulasi calon wakil presiden perlu dibaca sebagai gambaran preferensi responden pada saat pengumpulan data dilakukan. Angka yang menempatkan Dedi Mulyadi di posisi teratas mencerminkan jawaban peserta survei dalam konteks pertanyaan dan pilihan yang disajikan saat itu. Hasil tersebut memberi informasi tentang pandangan yang tercatat pada satu waktu, bukan gambaran tetap mengenai pilihan seluruh pemilih Indonesia. Karena itu, angka survei tidak sepatutnya ditafsirkan sebagai kepastian mengenai siapa yang akan menjadi calon maupun siapa yang akan terpilih.
Simulasi elektabilitas juga berbeda dari hasil pemilihan umum. Preferensi responden dapat berubah seiring waktu, sementara dinamika politik menjelang Pilpres 2029 masih terus berkembang. Perubahan dukungan dapat berkaitan dengan berbagai perkembangan politik dan proses pencalonan, sehingga urutan tokoh dalam suatu survei tidak otomatis bertahan hingga pemungutan suara. Posisi saat ini lebih tepat dipahami sebagai potret sementara, bukan prediksi pasti tentang hasil akhir kontestasi.
Selain itu, status seseorang dalam simulasi tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa ia akan maju sebagai calon wakil presiden. Keputusan pencalonan dan konfigurasi pasangan dapat berkembang sebelum pemilu, sedangkan tokoh yang disebut responden bisa memiliki peran atau pilihan politik yang berbeda. Dengan demikian, angka preferensi perlu dipisahkan dari keputusan resmi mengenai pencalonan. Membaca hasil secara proporsional membantu menghindari anggapan bahwa dukungan yang tercatat saat ini sudah memastikan arah politik pada 2029.
Survei tetap berguna untuk.
