Survei Dua Tahun Pemerintahan Menempatkan Kinerja Gibran di Bawah Nilai Lima

oleh -51 Dilihat
oleh
Survei Dua Tahun Pemerintahan Menempatkan Kinerja Gibran di Bawah Nilai Lima

Jakarta | Hasil survei mengenai dua tahun pemerintahan menempatkan kinerja Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada nilai di bawah lima. Penilaian tersebut tercatat dalam riset dan survei yang dilakukan oleh Center of Economic and Law Studies (CELIOS) bersama KabinetBayangan. Temuan ini menjadi bagian dari evaluasi terhadap kinerja pemerintahan selama dua tahun, dengan penilaian yang diberikan oleh responden dari dua kelompok berbeda.

Kelompok pertama terdiri atas para ahli yang diminta memberikan penilaian terhadap kinerja Wakil Presiden. Dari kelompok ini, nilai untuk Gibran berada di bawah angka lima. Hasil tersebut dicatat sebagai bagian dari pengukuran yang dilakukan dalam survei, bersama dengan penilaian terhadap aspek-aspek lain dalam penyelenggaraan pemerintahan. Data survei menunjukkan bahwa skor kinerja Wakil Presiden dari responden ahli belum mencapai nilai lima.

Penilaian serupa juga muncul dari kelompok masyarakat umum yang menjadi responden dalam riset CELIOS dan KabinetBayangan. Kelompok tersebut memberikan nilai di bawah lima terhadap kinerja Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden. Dengan demikian, nilai rendah itu tercatat pada kedua kelompok responden, baik ahli maupun masyarakat umum. Hasil survei tersebut menyajikan catatan penilaian kinerja Wakil Presiden dalam evaluasi dua tahun pemerintahan, berdasarkan tanggapan yang dihimpun dari kedua kelompok tersebut.

Hasil survei dua tahun pemerintahan menunjukkan adanya perbedaan cukup lebar penilaian kelompok ahli dan masyarakat umum terhadap kinerja Gibran. Kelompok ahli memberikan skor rata-rata 2,2 dari skala 10. Nilai tersebut menggambarkan evaluasi yang sangat rendah terhadap capaian, peran, serta kontribusi Gibran selama menjalankan tanggung jawab pemerintahan.

Sementara itu, masyarakat umum memberikan penilaian yang lebih tinggi, yakni 4,9 dari 10. Kendati berada di atas skor kelompok ahli, angka tersebut masih belum mencapai nilai lima. Dengan demikian, persepsi masyarakat umum terhadap kinerja Gibran juga cenderung kritis, meskipun tingkat penilaiannya tidak serendah penilaian dari kalangan ahli.

Perbedaan skor itu memperlihatkan adanya jarak pandangan responden yang memiliki latar belakang keahlian dan publik secara umum. Kelompok ahli biasanya menilai berdasarkan indikator yang lebih terukur, seperti kualitas kebijakan, kapasitas kepemimpinan, konsistensi pelaksanaan program, serta dampak pemerintahan terhadap kondisi sosial dan ekonomi. Adapun masyarakat umum dapat membentuk penilaian dari pengalaman sehari-hari, informasi yang diterima, dan persepsi terhadap komunikasi politik.

Selisih 2,7 poin kedua kelompok menjadi salah satu temuan penting dalam survei tersebut. Walaupun masyarakat umum memberikan skor lebih tinggi, hasilnya tetap menunjukkan bahwa kinerja Gibran belum memperoleh apresiasi yang kuat. Penilaian di bawah lima menandakan bahwa mayoritas evaluasi responden masih berada pada tingkat kurang memuaskan.

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menyampaikan informasi itu ketika memaparkan hasil riset secara daring pada Minggu, 11 Oktober 2026. Pemaparan tersebut menempatkan kedua skor secara berdampingan sehingga pembaca dapat melihat perbedaan penilaian dengan jelas. Data itu juga menunjukkan pentingnya membedakan hasil berdasarkan kelompok responden, karena angka agregat berpotensi menyamarkan variasi pandangan di masyarakat dan kalangan profesional.

Survei dua tahun pemerintahan tersebut mengelompokkan responden ke dalam dua kelompok utama, yaitu para ahli dan masyarakat umum. Pembagian ini menjadi kerangka dasar untuk melihat penilaian terhadap kinerja Gibran dari dua sudut pandang yang berbeda. Para ahli merepresentasikan penilaian berbasis keahlian dan pengamatan terhadap penyelenggaraan pemerintahan, sedangkan masyarakat umum merepresentasikan pandangan warga terhadap kinerja yang mereka nilai selama periode dua tahun.

Kedua kelompok itu digunakan sebagai dasar pembanding dalam membaca hasil riset. Penilaian dari para ahli memberikan salah satu gambaran mengenai kinerja pemerintahan berdasarkan perspektif kelompok yang memiliki perhatian dan pemahaman terhadap isu-isu pemerintahan. Pada saat yang sama, pandangan masyarakat umum menghadirkan gambaran lain mengenai bagaimana kinerja tersebut dipersepsikan oleh publik secara lebih luas.

Pengelompokan ini membuat hasil survei tidak hanya bertumpu pada satu jenis penilaian. Perbandingan pandangan ahli dan masyarakat umum membantu menunjukkan apakah terdapat kesamaan atau perbedaan dalam menilai kinerja Gibran selama dua tahun pemerintahan. Dengan demikian, hasil riset dapat dibaca melalui dua perspektif yang saling melengkapi, tanpa mencampurkan karakter penilaian dari masing-masing kelompok.

Dalam konteks laporan survei, penyebutan dua kelompok responden tersebut penting untuk memahami dasar pengukuran yang digunakan. Nilai kinerja yang muncul merupakan hasil pembacaan terhadap penilaian para ahli dan masyarakat umum sebagai kelompok yang berdiri dalam kategori berbeda. Keduanya menjadi rujukan utama untuk menggambarkan persepsi terhadap pelaksanaan pemerintahan selama dua tahun, sekaligus memberikan konteks ketika hasil penilaian Gibran dibahas.

Selain menilai kinerja Gibran, riset yang sama memberikan gambaran mengenai penilaian terhadap Presiden Prabowo selama periode pemerintahan yang menjadi objek survei. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, kelompok ahli memberikan skor 2,8 dari 10 kepada Prabowo. Angka ini menunjukkan bahwa penilaian terhadap kinerja presiden juga berada pada tingkat yang rendah menurut responden yang dilibatkan dalam riset.

Skor tersebut dapat digunakan sebagai konteks pembanding untuk memahami posisi nilai yang diperoleh Gibran. Dalam survei yang membahas kinerja pemerintahan selama dua tahun, Gibran mendapatkan penilaian di bawah lima. Sementara itu, Prabowo memperoleh nilai 2,8 dari 10 berdasarkan penilaian kelompok ahli. Kedua angka tersebut menggambarkan evaluasi yang kurang positif terhadap kinerja pejabat yang dinilai dalam periode yang sama, meskipun skor masing-masing berasal dari penilaian terhadap posisi dan tanggung jawab yang berbeda.

Hasil ini juga memperlihatkan bahwa riset tidak hanya memotret persepsi terhadap wakil presiden, tetapi turut menyajikan penilaian terhadap kepala pemerintahan. Data mengenai skor Prabowo menjadi informasi tambahan penting untuk membaca keseluruhan temuan survei secara lebih proporsional. Perbandingan tersebut tidak serta-merta menjelaskan penyebab rendahnya nilai, tetapi menunjukkan bagaimana kelompok ahli mengevaluasi kinerja kedua pemimpin berdasarkan periode pemerintahan yang diteliti. Dengan demikian, skor 2,8 dari 10 untuk Prabowo menjadi bagian dari konteks utama dalam memahami hasil penilaian terhadap kinerja Gibran.