Palembang | Binbin Firman Tresnadi, staf khusus Menteri Sekretaris Negara, menemui mahasiswa Universitas Trisakti yang sedang berunjuk rasa di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, pada Kamis, 29 Oktober 2026. Pertemuan tersebut berlangsung sekitar pukul 17.05 WIB, ketika aksi mahasiswa masih menjadi perhatian di lokasi demonstrasi. Kehadiran Binbin membuka ruang komunikasi langsung perwakilan pemerintah dan para peserta aksi.
Dalam pertemuan itu, Binbin berdialog dengan mahasiswa dan menjawab sejumlah pertanyaan yang mereka sampaikan. Mahasiswa membawa berbagai tuntutan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Dialog berlangsung di tengah suasana demonstrasi, dengan para peserta menyampaikan aspirasi serta meminta tanggapan atas hal-hal yang menjadi perhatian mereka.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari komunikasi pemerintah dengan kelompok mahasiswa yang turun ke jalan. Melalui dialog, mahasiswa dapat menyampaikan tuntutan secara langsung kepada perwakilan dari lingkungan Kementerian Sekretariat Negara. Sebaliknya, Binbin memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan dalam pertemuan tersebut. Interaksi itu berlangsung di kawasan Patung Kuda, salah satu titik yang kerap menjadi lokasi penyampaian aspirasi publik di Jakarta.
Aksi mahasiswa Trisakti itu menempatkan tuntutan mereka terhadap pemerintah sebagai pokok pembicaraan. Para mahasiswa menyampaikan aspirasi kepada pemerintahan Prabowo-Gibran, sementara kehadiran staf khusus Mensesneg memungkinkan pertukaran pandangan secara langsung. Informasi mengenai pertemuan ini menegaskan bahwa dialog berlangsung pada sore hari, sekitar pukul 17.05 WIB, di tengah kegiatan demonstrasi pada Kamis tersebut.
Dengan demikian, peristiwa di Patung Kuda tidak hanya diwarnai penyampaian tuntutan melalui aksi, tetapi juga pertemuan mahasiswa dan perwakilan pemerintah. Binbin menemui peserta demonstrasi, mendengarkan pertanyaan, lalu memberikan jawaban dalam dialog. Pertemuan itu menjadi fokus dari interaksi yang berlangsung di lokasi, saat mahasiswa Universitas Trisakti menyuarakan aspirasi mereka kepada pemerintah pusat.
Sekitar pukul 17.31 WIB, Binbin diminta naik ke mobil komando untuk menyampaikan hasil dialog dengan mahasiswa Trisakti. Dari atas mobil tersebut, ia menyampaikan bahwa pemerintah telah mendengar tuntutan yang dibicarakan dalam pertemuan dan menyatakan komitmen untuk menindaklanjutinya. Salah satu perhatian yang disampaikan berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan serta dampaknya terhadap kesehatan warga. Penyampaian itu menjadi bagian dari komunikasi langsung perwakilan pemerintah dan mahasiswa, setelah dialog berlangsung. Binbin menyebut beberapa wilayah yang terdampak, yakni Kalimantan, Sumatera, Riau, dan Palembang. Wilayah-wilayah tersebut disebut dalam konteks penanganan karhutla dan warga yang mengalami gangguan kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Dengan menyampaikan hasil pembicaraan di hadapan mahasiswa, ia menegaskan bahwa persoalan yang diangkat menjadi perhatian pemerintah.
Binbin juga menyampaikan janji mengenai akses pengobatan bagi warga yang terdampak ISPA akibat situasi tersebut. Ia mengatakan akan memastikan warga yang terdampak dapat memperoleh layanan rumah sakit tanpa dipungut biaya. Pernyataan itu menempatkan kebutuhan pengobatan sebagai salah satu komitmen yang disampaikan kepada mahasiswa, selain penanganan kebakaran hutan dan lahan. Bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan, kepastian bahwa layanan rumah sakit dapat diakses tanpa biaya menjadi hal penting dalam menghadapi dampak kesehatan. Binbin menyebut komitmen tersebut secara langsung, dengan menekankan bahwa warga terdampak harus mendapatkan pelayanan tanpa dikenai pungutan. Ia tidak hanya menguraikan persoalan karhutla, tetapi juga mengaitkannya dengan kebutuhan warga untuk memperoleh penanganan kesehatan. Penyampaian itu memberi gambaran mengenai tuntutan yang dibahas dalam dialog dan bentuk respons yang disampaikan pemerintah melalui dirinya.
Dalam pernyataannya, Binbin menyebut Kalimantan, Sumatera, Riau, serta Palembang sebagai wilayah yang terkait dengan perhatian tersebut. Ia menyatakan akan memastikan warga yang terdampak memperoleh layanan rumah sakit tanpa dipungut biaya, terutama mereka yang mengalami ISPA. Pernyataan tersebut merupakan komitmen yang disampaikan saat berada di mobil komando sekitar pukul 17.31 WIB, setelah diminta menyampaikan hasil dialog kepada mahasiswa. Di samping janji tentang layanan pengobatan, ia juga menyampaikan komitmen pemerintah untuk menangani kebakaran hutan dan lahan. Kedua hal itu menjadi pokok pesan yang disampaikan kepada mahasiswa Trisakti: upaya penanganan karhutla dan perhatian terhadap kondisi kesehatan masyarakat yang terdampak. Binbin menegaskan tanggung jawab untuk memastikan akses layanan rumah sakit tanpa biaya bagi warga tersebut, tanpa menyebut rincian program ataupun waktu pelaksanaannya. Dengan demikian, pesan utamanya adalah bahwa dampak kesehatan akibat karhutla, termasuk ISPA, mendapat perhatian dalam komitmen yang disampaikan pemerintah kepada mahasiswa.
Pernyataan Binbin mengenai upaya mengatasi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak langsung meredakan keraguan mahasiswa yang hadir. Sejumlah peserta menyambut penjelasannya dengan sorakan tidak percaya, bahkan meneriakkan kata “bohong”. Reaksi tersebut menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa belum yakin janji yang disampaikan akan segera diwujudkan, terutama karena dampak asap telah dirasakan oleh warga.
Di tengah respons itu, mahasiswa mempertanyakan kapan langkah yang dijanjikan pemerintah benar-benar akan direalisasikan. Pertanyaan tersebut menyoroti kebutuhan masyarakat akan kepastian, bukan sekadar pernyataan mengenai rencana penanganan. Mereka ingin mengetahui kapan warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap dapat memperoleh bantuan, serta apakah layanan yang disebutkan akan menjangkau mereka yang terdampak secara langsung.
Menanggapi keraguan tersebut, Binbin mengatakan pengobatan gratis bagi warga terdampak infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akan segera dilaksanakan secepat-cepatnya. Pernyataan itu disampaikan sebagai jawaban atas tuntutan agar penanganan kesehatan tidak ditunda. Namun, mahasiswa tetap meminta kejelasan tentang pelaksanaan janji tersebut, termasuk waktu dimulainya layanan bagi masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan dan pengobatan.
Seorang mahasiswa Trisakti asal Papua kemudian meminta jaminan secara langsung mengenai layanan kesehatan gratis bagi masyarakat yang terdampak karhutla. Pertanyaan itu menegaskan bahwa warga membutuhkan akses layanan yang nyata ketika asap menimbulkan gangguan pernapasan, bukan hanya kepastian secara umum. Mahasiswa tersebut meminta Binbin memastikan bahwa masyarakat terdampak benar-benar akan memperoleh bantuan kesehatan tanpa biaya.
Binbin menjawab bahwa penanganan masalah asap karhutla akan dilakukan secepatnya. Meski jawaban itu kembali menekankan urgensi, mahasiswa menginginkan kepastian mengenai langkah konkret dan waktu pelaksanaannya. Sorakan dan pertanyaan yang muncul dalam pertemuan tersebut menggambarkan pentingnya tindak lanjut yang dapat dirasakan langsung oleh warga. Bagi masyarakat yang terdampak ISPA, kejelasan mengenai akses pengobatan gratis menjadi bagian penting dari respons terhadap karhutla, sementara realisasi janji akan menjadi ukuran apakah kebutuhan kesehatan mereka benar-benar ditangani.
Dalam pertemuan dengan mahasiswa Trisakti, seorang mahasiswa asal Papua membawa noken, tas tradisional yang dikenal dalam kehidupan masyarakat Papua. Kehadiran benda tersebut menjadi bagian dari penyampaian aspirasi di lokasi demonstrasi. Ia menjelaskan bahwa noken bukan sekadar wadah untuk membawa barang, melainkan memiliki makna yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Papua. Melalui simbol itu, ia menggambarkan hubungan masyarakat dengan alam yang menjadi bagian penting dari kehidupan mereka.
Penjelasan mengenai noken memperlihatkan bahwa aspirasi yang disampaikan tidak hanya berisi tuntutan terkait dampak kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, tetapi juga membawa gambaran tentang nilai-nilai yang dijaga masyarakat Papua. Tas tradisional tersebut digunakan sebagai lambang kehidupan sekaligus pengingat mengenai keterikatan manusia dan lingkungan. Dalam konteks pembicaraan mengenai karhutla, penjelasan itu menempatkan persoalan lingkungan sebagai sesuatu yang berhubungan langsung dengan kehidupan masyarakat, bukan semata persoalan administratif.
Mahasiswa tersebut juga meminta kepastian mengenai kapan persoalan karhutla akan diselesaikan. Pertanyaan itu menyoroti kebutuhan akan kejelasan waktu, di samping adanya janji untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan.
Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla
