Kinerja WIKA Menguat pada Kuartal III-2026, Penjualan Tumbuh 11,9 Persen

oleh -932 Dilihat
oleh
Kinerja WIKA Menguat pada Kuartal III-2026, Penjualan Tumbuh 11,9 Persen

Jakarta | PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) mencatat peningkatan kinerja hingga kuartal III-2026. Penjualan perusahaan mencapai Rp15,80 triliun, tumbuh 11,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut mencerminkan aktivitas usaha yang tetap berjalan di tengah pelaksanaan transformasi dan upaya penyehatan perusahaan.

Penjualan itu berasal dari dua kelompok proyek. Kontribusi proyek non-KSO tercatat sebesar Rp9,04 triliun, sementara proyek dengan skema kerja sama operasi (KSO) menyumbang Rp6,77 triliun. Jika dijumlahkan, angka berdasarkan pembagian tersebut dapat sedikit berbeda dari total penjualan yang dilaporkan karena pembulatan. Kedua sumber pendapatan itu menunjukkan bahwa kegiatan proyek WIKA ditopang oleh pelaksanaan pekerjaan secara mandiri maupun melalui kerja sama operasi.

Selain peningkatan penjualan, WIKA membukukan perolehan kontrak baru sebesar Rp9,78 triliun hingga akhir kuartal III-2026. Nilai tersebut meningkat 57,9 persen secara tahunan. Pertumbuhan kontrak baru dapat menjadi salah satu indikator perkembangan portofolio pekerjaan perusahaan, meskipun nilai kontrak dan penjualan menggambarkan hal yang berbeda. Kontrak baru menunjukkan pekerjaan yang berhasil diperoleh, sedangkan penjualan mencerminkan pendapatan yang diakui dalam periode berjalan.

Perusahaan mengaitkan perkembangan tersebut dengan transformasi serta langkah penyehatan yang dijalankan sejak 2023. Upaya itu menjadi bagian dari agenda untuk memperbaiki kondisi usaha dan menjaga keberlanjutan kegiatan operasional. Dengan penjualan yang meningkat dan kontrak baru yang tumbuh, capaian sampai kuartal III-2026 memperlihatkan kemajuan pada dua aspek kinerja utama WIKA. Namun, perkembangan selanjutnya tetap perlu dicermati, termasuk realisasi pekerjaan dari kontrak yang diperoleh dan konsistensi pendapatan pada periode berikutnya.

Komposisi penjualan dan kenaikan kontrak baru memberikan gambaran mengenai aktivitas WIKA sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Data tersebut juga menjadi tolok ukur untuk menilai hasil transformasi yang telah berlangsung beberapa tahun. Ke depan, kemampuan perusahaan menjaga pelaksanaan proyek, mengelola kerja sama, dan meneruskan agenda penyehatan akan berperan dalam mempertahankan tren kinerja tersebut.

Dalam mengejar kontrak baru, WIKA menerapkan seleksi proyek secara ketat agar pertumbuhan usaha tetap sejalan dengan kemampuan perusahaan menjaga kualitas pendapatan. Setiap peluang tidak hanya dinilai berdasarkan nilai kontrak atau potensi penambahan pekerjaan, tetapi juga melalui pertimbangan risiko, skema pendanaan, dan prospek keuntungan. Salah satu landasan proses tersebut adalah prinsip four eyes, yakni penelaahan yang melibatkan lebih dari satu pihak atau sudut pandang sebelum keputusan diambil. Dengan pemeriksaan berlapis, perusahaan berupaya memastikan bahwa asumsi dan persyaratan proyek telah dikaji secara memadai sebelum kontrak disepakati.

Selain seleksi awal, WIKA memperhatikan pola pembayaran yang tercantum dalam kontrak. Perusahaan mengutamakan proyek dengan uang muka serta pembayaran progres secara bulanan. Uang muka dapat membantu memenuhi kebutuhan awal pelaksanaan, sementara pembayaran berkala berdasarkan kemajuan pekerjaan mendukung ketersediaan arus kas selama proyek berjalan. Pola ini penting bagi kontraktor yang perlu membiayai tenaga kerja, material, peralatan, dan kebutuhan operasional lainnya. Dengan penerimaan yang lebih teratur, pelaksanaan pekerjaan diharapkan tidak terlalu bergantung pada pembiayaan dari luar ataupun menimbulkan tekanan kas berkepanjangan.

Menurut perusahaan, kombinasi seleksi ketat dan ketentuan pembayaran tersebut ditujukan agar proyek memberikan profitabilitas yang baik sekaligus mampu beroperasi secara mandiri. Artinya, setiap pekerjaan diharapkan dapat menopang kebutuhan pelaksanaannya sendiri dan memberi kontribusi yang sehat bagi kinerja usaha. Pendekatan ini sejalan dengan perbaikan hasil pada kuartal III-2026: laba kotor WIKA mencapai Rp1,09 triliun, meningkat 44,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Margin laba kotor turut naik menjadi 12,11 persen, dari 8,34 persen setahun sebelumnya. Kenaikan margin menunjukkan porsi laba yang lebih besar dari pendapatan setelah biaya pokok diperhitungkan. Meski hasil tersebut tidak semata-mata ditentukan oleh kebijakan seleksi proyek, disiplin dalam memilih kontrak dan mengelola arus pembayaran menjadi bagian penting dari upaya mempertahankan kualitas pekerjaan. Dengan demikian, pertumbuhan kontrak dapat diarahkan bukan hanya pada peningkatan volume, tetapi juga pada proyek yang mendukung profitabilitas dan ketahanan operasional perusahaan.Transformasi yang dijalankan WIKA mulai tercermin pada penguatan kinerja bisnis utama sepanjang kuartal III-2026. Laba usaha tercatat sebesar Rp754,33 miliar, meningkat 162,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan perbaikan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari kegiatan operasional, sekaligus memperlihatkan dampak upaya penguatan bisnis dan pengelolaan kinerja yang lebih disiplin.

Dari sisi EBITDA core operasi, WIKA membukukan Rp957,84 miliar, naik 148,4 persen secara tahunan. Angka tersebut tidak memasukkan penyertaan pada investasi kereta, sehingga memberi gambaran lebih terfokus mengenai performa operasi inti perusahaan. Penguatan laba usaha dan EBITDA berlangsung seiring dengan pertumbuhan penjualan, serta menjadi salah satu indikator bahwa strategi bisnis mulai mendukung peningkatan margin. Perkembangan ini juga mencerminkan perhatian perusahaan terhadap kualitas pendapatan dan efektivitas pelaksanaan kegiatan operasional, bukan hanya peningkatan skala usaha.

Perusahaan turut menerapkan lean management untuk menjaga efisiensi dan mengendalikan biaya. Penerapan tersebut tercermin pada operating expense ratio yang turun menjadi 5,34 persen pada kuartal III-2026, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan rasio beban operasional ini menunjukkan upaya WIKA menata pengeluaran agar lebih sejalan dengan aktivitas bisnis, sembari menjaga kapasitas operasional dan mutu pelaksanaan pekerjaan. Pengelolaan biaya yang terukur menjadi bagian penting dari penguatan margin dan upaya mempertahankan daya saing perusahaan di tengah kebutuhan pasar yang terus berkembang.

Sekretaris Perusahaan WIKA Ngatemin, Jumat, 30 Oktober 2026, menyampaikan bahwa pertumbuhan penjualan dan penguatan margin mencerminkan strategi penguatan pasar serta operasi yang lean dan excellence. Menurutnya, perusahaan berkomitmen menjaga pertumbuhan dan profitabilitas secara berkelanjutan. Komitmen tersebut menempatkan efisiensi sebagai pendukung kinerja jangka panjang, bukan semata langkah pengurangan biaya dalam satu periode. Dengan menjaga keseimbangan perluasan pasar, disiplin operasional, dan pengendalian beban, WIKA berupaya memperkuat fondasi bisnis utamanya. Hasil kuartal III-2026 memberi indikasi kemajuan transformasi, sementara konsistensi pelaksanaan strategi akan tetap penting untuk menopang kinerja pada periode berikutnya.Di tengah upaya transformasi dan penyehatan perusahaan, WIKA menyatakan bahwa penguatan kondisi keuangan tidak dapat dilakukan secara mandiri. Perseroan membutuhkan dukungan dan kerja sama berbagai pihak, termasuk pemegang saham, kreditur, regulator, serta publik. Dukungan tersebut dinilai penting agar langkah pemulihan dapat berjalan terarah, sekaligus menjaga kesinambungan kegiatan usaha dan pelaksanaan tanggung jawab perusahaan. WIKA juga perlu menata struktur keuangan supaya kemampuan memenuhi kewajiban dapat membaik seiring proses pemulihan kinerja operasional.

Salah satu kebutuhan yang disampaikan adalah restrukturisasi komprehensif. Upaya ini mencakup penataan kewajiban dan langkah penguatan modal, termasuk pengembalian modal perseroan. WIKA juga memerlukan divestasi pada proyek penugasan kereta cepat sebagai bagian dari penanganan beban yang terkait dengan proyek tersebut. Rangkaian langkah itu diharapkan membantu mengurangi tekanan terhadap keuangan perusahaan, terutama beban bunga dan kerugian yang timbul dari penugasan. Pelaksanaan restrukturisasi perlu mempertimbangkan kepentingan para pihak serta dilakukan melalui koordinasi dengan pemangku kepentingan terkait.

Pengembalian modal, apabila direalisasikan, dapat dimanfaatkan untuk membayar kewajiban kepada kreditur. Penerima pembayaran yang disebut mencakup bank serta pemegang obligasi dan sukuk, sehingga langkah tersebut berpotensi mendukung penyelesaian kewajiban perseroan. Kelompok pemegang surat utang yang tercatat dalam bahan sumber terdiri atas 206 pemegang perorangan, 88 lembaga dana pensiun, dan 154 lembaga keuangan.