Sri Sultan Dorong Warga DIY Lebih Cermat Mengelola Keuangan

oleh -11 Dilihat
oleh
Sri Sultan Dorong Warga DIY Lebih Cermat Mengelola Keuangan

Yogyakarta | Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X mengimbau keluarga dan masyarakat agar bijaksana, cermat, serta berhati-hati sebelum mengambil keputusan keuangan. Ajakan tersebut disampaikan dalam acara Financial Expo sekaligus puncak Bulan Inklusi Keuangan 2026 di Yogyakarta pada Minggu. Pesan itu menekankan bahwa pengelolaan uang bukan semata-mata soal besar kecilnya penghasilan, melainkan juga tentang cara seseorang merencanakan kebutuhan, mempertimbangkan pilihan, dan menghadapi risiko. Sikap yang terukur dapat membantu rumah tangga menjaga kestabilan keuangan, memenuhi kebutuhan penting, serta menghindari keputusan yang berpotensi membebani kondisi ekonomi pada masa mendatang.

Sri Sultan mengangkat tiga nilai dalam falsafah Jawa, yaitu gemi, nastiti, dan ngati-ati, sebagai pegangan praktis dalam kehidupan sehari-hari. Gemi mengajarkan sikap hemat dan tidak boros, dengan menggunakan sumber daya secara sepadan dengan kebutuhan. Nilai ini bukan berarti meniadakan pengeluaran atau mengabaikan kualitas hidup, tetapi mendorong masyarakat membedakan kebutuhan pokok dari keinginan sesaat. Dengan kebiasaan mengatur belanja, menyisihkan sebagian pendapatan, dan menghindari penggunaan uang tanpa perencanaan, keluarga dapat membangun ketahanan finansial secara bertahap.

Nastiti berarti teliti dan cermat dalam memperhitungkan pilihan. Dalam praktiknya, nilai ini dapat diterapkan dengan memeriksa informasi sebelum membeli barang, memahami biaya dan ketentuan layanan keuangan, serta membandingkan manfaat dengan kemampuan membayar. Sementara itu, ngati-ati mengingatkan masyarakat untuk terhadap risiko dan tidak tergesa-gesa mengambil keputusan. Sikap tersebut relevan saat menghadapi tawaran investasi, pinjaman, maupun transaksi digital, terutama jika janji keuntungan terdengar tidak wajar atau informasi yang diberikan belum jelas. Ketiga nilai itu saling melengkapi: hemat dalam penggunaan uang, teliti dalam menilai pilihan, dan terhadap dampaknya. Jika diterapkan konsisten, falsafah Jawa dapat menjadi pedoman sederhana bagi keluarga untuk mengambil keputusan keuangan yang lebih bertanggung jawab dan sesuai dengan keadaan masing-masing.Nilai gemi mengajarkan masyarakat untuk menggunakan penghasilan secara bijaksana, bukan sekadar membelanjakannya karena tersedia. Dalam penjelasan Sri Sultan, sikap ini dimulai dengan membedakan kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan berkaitan dengan hal yang penting untuk kehidupan sehari-hari, sedangkan keinginan dapat ditunda atau disesuaikan dengan kemampuan. Pembedaan tersebut membantu seseorang menyusun prioritas, menghindari pengeluaran yang tidak perlu, dan menjaga agar pendapatan mencukupi hingga waktu berikutnya. Gemi juga berarti menyediakan sebagian penghasilan untuk masa depan. Menyisihkan uang secara teratur, meskipun jumlahnya tidak besar, dapat membantu menghadapi keadaan darurat, memenuhi rencana keluarga, atau mempersiapkan kebutuhan jangka panjang.

Kemampuan mengendalikan pengeluaran turut menentukan arah hidup seseorang. Ketika seseorang memahami ke mana uangnya digunakan, ia dapat menilai apakah kebiasaan belanja sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai. Pengelolaan yang terencana memberi ruang untuk membuat pilihan, bukan hanya bereaksi terhadap kebutuhan mendadak atau tekanan konsumsi. Karena itu, mencatat pemasukan dan pengeluaran, menetapkan batas belanja, serta meninjau kembali prioritas merupakan langkah sederhana yang dapat diterapkan. Kebiasaan tersebut bukan berarti menolak semua kesenangan, melainkan menempatkannya secara proporsional agar tidak mengorbankan kebutuhan pokok maupun rencana masa depan. Dengan pengendalian diri, keputusan keuangan menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan yang lebih tertata.

Nilai nastiti melengkapi gemi dengan mengingatkan pentingnya kecermatan sebelum mengambil keputusan. Sikap ini relevan ketika masyarakat memilih tabungan, pembiayaan, asuransi, ataupun investasi. Setiap produk memiliki tujuan, ketentuan, serta konsekuensi yang perlu dipahami sebelum seseorang menyetujui atau menempatkan dana. Calon pengguna sebaiknya memeriksa manfaat yang ditawarkan, kewajiban pembayaran, biaya administrasi, jangka waktu, dan risiko yang mungkin timbul. Pada pembiayaan, misalnya, kemampuan membayar cicilan perlu dihitung berdasarkan pendapatan dan pengeluaran rutin. Untuk investasi, imbal hasil tidak sepatutnya dinilai tanpa mempertimbangkan kemungkinan kerugian. Membaca dokumen, membandingkan pilihan, dan meminta penjelasan atas hal yang belum dipahami merupakan bentuk kehati-hatian. Dengan gemi dan nastiti, keputusan keuangan dapat dibuat lebih sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, serta tujuan masing-masing.

Pesan ngati-ati yang disampaikan Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan bahwa kemudahan layanan keuangan perlu disertai kewaspadaan. Warga sebaiknya menjaga kerahasiaan data pribadi, termasuk nomor identitas, kata sandi, kode verifikasi, dan informasi rekening. Data tersebut tidak patut diberikan kepada pihak yang tidak jelas, sekalipun permintaan disampaikan melalui pesan atau telepon yang tampak meyakinkan. Sebelum menggunakan layanan, masyarakat juga perlu memeriksa legalitas penyedia melalui kanal resmi dan memahami biaya, ketentuan, serta risiko produk. Langkah sederhana ini membantu warga mengambil keputusan dengan informasi yang memadai, bukan semata-mata tergiur proses yang cepat atau penawaran yang terdengar menguntungkan.

Kehati-hatian juga penting ketika seseorang mempertimbangkan pinjaman. Sultan mengingatkan agar calon peminjam menilai kemampuan membayar secara realistis, dengan memperhitungkan penghasilan, pengeluaran rutin, dan kemungkinan perubahan kondisi ekonomi. Besarnya angsuran perlu sesuai dengan arus pendapatan, sehingga kewajiban tidak mengganggu kebutuhan dasar keluarga atau keberlangsungan usaha. Warga berhak memperoleh penjelasan yang jujur dan mudah dipahami, memilih produk yang benar-benar sesuai kebutuhan, serta mendapatkan pendampingan apabila menghadapi persoalan dalam layanan keuangan. Hak tersebut mencakup akses untuk bertanya, memahami konsekuensi perjanjian, dan mengetahui jalur pengaduan sebelum maupun setelah menggunakan produk.

Dalam pandangan Sultan, pameran layanan keuangan sebaiknya tidak hanya menjadi tempat menawarkan produk, tetapi juga ruang bagi lembaga jasa keuangan untuk mendengarkan kebutuhan nyata masyarakat. Dialog dengan warga dapat membantu penyedia memahami perbedaan kemampuan dan pola pendapatan tiap kelompok. Pedagang kecil, misalnya, membutuhkan pembiayaan dengan angsuran yang mengikuti perputaran usaha, bukan skema yang membebani ketika penjualan sedang turun. Pekerja dengan penghasilan terbatas mungkin lebih terbantu oleh pilihan menabung yang terjangkau, sederhana, dan fleksibel. Dengan menyimak pengalaman langsung, lembaga dapat merancang layanan yang lebih relevan dan menjelaskan persyaratannya secara terbuka. Pendekatan tersebut mendukung hubungan yang lebih seimbang penyedia dan pengguna, sekaligus mendorong warga mengelola keuangan dengan cermat, memahami haknya, dan memilih layanan berdasarkan kebutuhan serta kemampuan masing-masing.

Sri Sultan Hamengku Buwono X berharap kegiatan inklusi keuangan di Daerah Istimewa Yogyakarta tidak berhenti pada pembukaan rekening atau pelaksanaan transaksi. Capaian tersebut perlu ditindaklanjuti dengan edukasi dan pelayanan yang berkelanjutan, sehingga warga memahami cara menggunakan layanan keuangan secara tepat. Banyaknya rekening dan transaksi belum dengan sendirinya menunjukkan bahwa masyarakat mampu mengelola uang, mempertimbangkan risiko, atau memilih produk sesuai kebutuhan.

Karena itu, perluasan akses sebaiknya berjalan seiring dengan peningkatan kecakapan mengatur pemasukan, pengeluaran, tabungan, dan pembiayaan. Warga yang memperoleh pembiayaan juga perlu memahami kewajiban pembayaran serta menilai manfaatnya bagi keberlangsungan usaha. Dukungan modal akan lebih bermakna apabila digunakan secara terencana untuk menjaga kegiatan usaha, mengembangkan produk, atau memperkuat pendapatan, bukan sekadar menambah beban keuangan. Edukasi yang mudah dipahami dapat membantu masyarakat mengambil keputusan dengan pertimbangan yang lebih matang.

Pemerintah daerah, regulator, dan industri jasa keuangan diharapkan bekerja bersama memastikan pendampingan menjangkau berbagai kelompok. Pelaksanaannya dapat hadir di pasar, sekolah, hingga kalurahan, dengan materi dan pendekatan yang sesuai kebutuhan warga setempat. Jangkauan layanan perlu disertai kesempatan bertanya dan memperoleh bantuan, agar masyarakat tidak hanya mengetahui keberadaan produk, tetapi juga memahami biaya, manfaat, serta konsekuensinya. Pendampingan berulang dapat memperkuat kebiasaan keuangan yang sehat dan membangun kepercayaan terhadap layanan formal.

Sultan mengajak warga mengambil keputusan keuangan sesuai kebutuhan dan kemampuan. Uang, menurut gagasan yang disampaikannya, semestinya menjadi sarana untuk memuliakan kehidupan.

Baca juga: Panglima TNI Hadiri Pelantikan Menteri Keuangan RI | Ramalan Keuangan Zodiak Capricorn Jumat, 4 September 2026: Ubah Strategi Kelola Uang | Ramalan Keuangan Zodiak Scorpio Jumat, 4 September 2026: Waspada Atur Pengeluaran