Seruan Salat Istisqa Mengemuka dalam Peringatan Hari Santri di Tebuireng

oleh -41 Dilihat
oleh
Seruan Salat Istisqa Mengemuka dalam Peringatan Hari Santri di Tebuireng

Kabupaten Jombang | Ribuan santri Pondok Pesantren Tebuireng berkumpul di lapangan pesantren, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada Kamis, 22 Oktober 2026. Kehadiran mereka menjadi bagian dari apel akbar untuk memperingati Hari Santri Nasional 2026. Kegiatan tersebut menempatkan para santri sebagai peserta utama dalam peringatan tahunan yang berlangsung di lingkungan pesantren itu.

Skala kehadiran yang mencapai ribuan orang menunjukkan bahwa apel di Tebuireng diikuti oleh banyak santri. Informasi yang tersedia menyebut lapangan pesantren sebagai tempat berkumpul, tanpa merinci jumlah peserta secara pasti. Karena itu, gambaran mengenai kegiatan ini dapat disampaikan sebatas lokasi, waktu, peserta, dan tujuan peringatannya, tanpa menambahkan rincian suasana atau rangkaian acara yang belum disebutkan.

Apel akbar tersebut diselenggarakan pada Hari Santri Nasional, yang diperingati setiap 22 Oktober. Bagi para peserta, pertemuan di lapangan menjadi kesempatan untuk mengikuti agenda peringatan bersama di Pondok Pesantren Tebuireng. Kegiatan itu juga menandai keterlibatan komunitas pesantren Jombang dalam peringatan nasional tahun 2026. Kehadiran ribuan santri memberi skala besar pada apel tersebut, sementara lokasi pelaksanaannya menghubungkan acara dengan lingkungan pendidikan pesantren yang menjadi tempat mereka berkumpul.

Dengan informasi yang tercatat, inti kegiatan di Tebuireng adalah berkumpulnya ribuan santri dalam apel akbar pada Kamis, 22 Oktober 2026. Mereka hadir di lapangan pesantren, Kabupaten Jombang, untuk memperingati Hari Santri Nasional 2026. Rincian lain mengenai jalannya apel tidak disertakan dalam informasi ini. Oleh sebab itu, laporan mengenai kegiatan tersebut berfokus pada kehadiran peserta, tempat, tanggal, dan maksud penyelenggaraan, tanpa menyimpulkan adanya agenda tambahan atau menguraikan kondisi lapangan di luar keterangan yang tersedia.

Peringatan Hari Santri di Tebuireng dihadiri sejumlah tokoh lokal, para pengasuh pesantren, serta jajaran pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Kehadiran unsur-unsur tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan ini diikuti kalangan yang beragam, mulai dari lingkungan masyarakat setempat hingga tokoh organisasi dan pesantren. Pertemuan berbagai unsur itu turut memberi ruang bagi peringatan untuk berlangsung dalam suasana kebersamaan, sejalan dengan peran Hari Santri sebagai momentum mengenang kontribusi santri dan pesantren.

Di pimpinan PBNU yang hadir terdapat Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz, yang juga dikenal dengan sapaan Gus Kikin. Kehadiran keduanya menempatkan jajaran tertinggi organisasi dalam rangkaian peringatan di Tebuireng. Selain itu, Prof Mohammad Nuh dan Saifullah Yusuf, atau Gus Ipul, juga tercatat hadir. Nama-nama tersebut menunjukkan keterlibatan sejumlah tokoh dalam acara, tanpa mengubah fokus utama peringatan yang berlangsung di lingkungan pesantren.

Para tokoh lokal dan pengasuh pesantren turut menjadi bagian dari peserta yang hadir bersama jajaran PBNU. Kehadiran mereka mencerminkan hubungan erat kehidupan pesantren, masyarakat sekitar, dan organisasi keagamaan dalam kegiatan bersama. Dalam konteks peringatan Hari Santri, keterlibatan berbagai pihak dapat memperkuat suasana penghormatan terhadap tradisi keilmuan serta pengabdian santri. Kehadiran pimpinan organisasi juga memberi bobot tersendiri pada acara, sementara partisipasi pengasuh dan tokoh setempat menegaskan bahwa peringatan ini berakar pada lingkungan Tebuireng dan komunitasnya. Dengan demikian, daftar hadirin mencakup unsur lokal, pesantren, dan PBNU, yang hadir dalam satu agenda peringatan.

Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz mengajak masyarakat dan pemerintah Indonesia memperkuat persatuan dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa. Pesan tersebut disampaikan dalam amanatnya pada peringatan Hari Santri di Tebuireng. Ia menekankan bahwa tantangan yang dihadapi bersama memerlukan sikap saling mendukung, komunikasi, dan kesediaan untuk bekerja sama. Persatuan, dalam pesan itu, bukan sekadar seruan, melainkan landasan agar unsur masyarakat dan pemerintah dapat menempatkan kepentingan bersama sebagai perhatian utama.

Ajakan tersebut hadir di tengah perhatian terhadap kebakaran hutan dan lahan yang masih melanda sejumlah wilayah Indonesia, terutama di Pulau Kalimantan. PBNU menaruh perhatian pada keadaan itu, sejalan dengan pentingnya kepedulian bersama ketika masyarakat menghadapi persoalan yang memerlukan perhatian luas. Dalam konteks tersebut, penguatan persatuan dapat mendorong masyarakat dan pemerintah untuk saling berkoordinasi serta memberi perhatian terhadap situasi di wilayah terdampak, tanpa mengabaikan kebutuhan dan kondisi setempat.

Seruan salat istisqa yang mengemuka dalam peringatan tersebut juga menempatkan ikhtiar spiritual sebagai bagian dari respons umat. Namun, pesan KH Abdul Hakim Mahfudz menegaskan pentingnya kebersamaan dalam menghadapi persoalan bangsa, termasuk perhatian terhadap karhutla. Masyarakat dan pemerintah diharapkan dapat menjaga hubungan yang erat, saling membantu, dan mengupayakan langkah yang sesuai melalui kerja bersama. Dengan demikian, peringatan Hari Santri di Tebuireng tidak hanya menjadi momentum mengenang peran santri, tetapi juga ruang untuk menyampaikan ajakan agar persatuan terus diperkuat. Kepedulian terhadap keadaan di Kalimantan dan wilayah lain yang mengalami kebakaran hutan dan lahan dapat menjadi salah satu wujud perhatian bersama. Ajakan ini menempatkan kebersamaan sebagai pesan utama: persoalan bangsa perlu disikapi dengan keterlibatan masyarakat dan pemerintah, serta perhatian yang berkelanjutan terhadap keadaan yang berkembang di berbagai daerah.

KH Abdul Hakim Mahfudz mengajak warga Nahdliyin di berbagai daerah untuk menggelar salat istisqa. Seruan ini disampaikan sebagai ikhtiar bersama di tengah kebakaran hutan dan lahan yang menimpa sejumlah wilayah serta berdampak pada saudara-saudara mereka. Salat istisqa merupakan salat yang dilakukan untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT. Melalui ajakan tersebut, warga diharapkan dapat menyertai upaya penanganan bencana dengan doa dan permohonan kepada Tuhan.

Ajakan itu ditujukan kepada warga Nahdliyin secara luas, bukan hanya kepada masyarakat yang berada di daerah terdampak. Warga di berbagai daerah dapat melaksanakan salat istisqa sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas bagi mereka yang menghadapi karhutla. Permohonan hujan diharapkan menjadi ikhtiar spiritual agar kondisi di wilayah terdampak membaik. Hujan yang turun dapat membantu meredakan kebakaran, sementara langkah penanganan di lapangan tetap diperlukan untuk mengatasi keadaan.

Dalam seruan tersebut, salat istisqa ditempatkan sebagai cara memohon pertolongan Allah SWT agar hujan segera turun. Harapannya, turunnya hujan dapat membantu mengatasi karhutla yang sedang menimpa saudara-saudara mereka. Ajakan ini juga mengingatkan bahwa kepedulian terhadap bencana dapat diwujudkan melalui tindakan bersama, termasuk berdoa dan mengikuti ikhtiar yang dianjurkan. Dengan menggelar salat istisqa, warga Nahdliyin diharapkan ikut memohon agar keadaan segera pulih dan masyarakat terdampak memperoleh kelegaan. Seruan KH Abdul Hakim Mahfudz itu menegaskan pentingnya kebersamaan dalam menghadapi musibah. Warga dapat meresponsnya dengan melaksanakan salat istisqa di daerah masing-masing, seraya berharap Allah SWT menurunkan hujan dan memberi kemudahan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Baca juga: Hadiri Peringatan 10 Tahun Hubungan Jiangxi–Indonesia, Bamsoet Dorong Peningkatan Kerja Sama Dari Perdagangan ke Investasi dan Basis Produksi | Kodim Bojonegoro Gelar Upacara Peringatan Haornas XLIII Tahun 2026