Sepuluh SD di Banyuwangi Dapat Pendampingan Pendidikan Astra Selama Lima Tahun

oleh -51 Dilihat
oleh
Sepuluh SD di Banyuwangi Dapat Pendampingan Pendidikan Astra Selama Lima Tahun

Kabupaten Banyuwangi | Kemitraan Yayasan Pendidikan Astra–Michael D. Ruslim (YPA-MDR) dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi resmi dimulai melalui program pendampingan pendidikan bagi 10 sekolah dasar. Sekolah-sekolah tersebut berada di Kecamatan Glagah dan Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi. Selama lima tahun, pendampingan akan diarahkan untuk membantu setiap sekolah meningkatkan standar kualitas pembelajaran secara berkelanjutan, sesuai dengan kebutuhan dan potensi masing-masing satuan pendidikan.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman bertajuk “Bersama Berkarya untuk Pendidikan yang Berdampak”. Kegiatan berlangsung di Rumah Dinas Bupati Banyuwangi pada Sabtu (10/10). Penandatanganan ini menjadi dasar bagi pelaksanaan kolaborasi YPA-MDR dan pemerintah daerah dalam memperkuat mutu pendidikan dasar, termasuk melalui pengembangan kapasitas sekolah serta penerapan proses pembelajaran yang lebih terarah.

Nota kesepahaman ditandatangani oleh Chief of Corporate Affairs Astra sekaligus Ketua Pengawas YPA-MDR, Boy Kelana Soebroto; Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani; serta Ketua Pengurus YPA-MDR, Gunawan Salim. Keterlibatan para pihak tersebut mencerminkan komitmen bersama untuk menghadirkan pendampingan yang terencana dan konsisten bagi sekolah sasaran.

Program selama lima tahun ini diharapkan dapat membangun fondasi peningkatan kualitas yang tidak hanya berfokus pada hasil belajar, tetapi juga pada penguatan tata kelola sekolah dan kemampuan pendidik. Melalui kemitraan tersebut, sekolah dasar di Glagah dan Sempu memperoleh kesempatan untuk mengembangkan praktik pendidikan yang lebih efektif, relevan, dan berdampak bagi peserta didik. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan YPA-MDR akan menjalankan peran masing-masing agar kerja sama dapat berlangsung secara berkesinambungan serta memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekolah dan masyarakat.

Pada tahap awal, program pendampingan pendidikan Astra di sepuluh sekolah dasar di Banyuwangi dirancang dengan pendekatan yang menyatukan pembentukan karakter siswa dan penguatan kompetensi akademik guru. Kedua aspek tersebut dipandang saling berkaitan karena keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh penguasaan materi, tetapi juga oleh sikap, kebiasaan, serta nilai yang berkembang dalam diri peserta didik. Melalui kegiatan yang terarah, sekolah diharapkan mampu membangun lingkungan belajar yang mendorong kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian, dan semangat bekerja sama.

Pendampingan bagi siswa akan diarahkan untuk memperkuat karakter sekaligus menumbuhkan kesiapan menghadapi perubahan. Perkembangan teknologi, dinamika sosial, dan tuntutan kompetensi masa depan membuat murid perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, beradaptasi, serta menyelesaikan masalah. Sementara itu, para guru memperoleh dukungan untuk meningkatkan kualitas perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Penguatan kompetensi akademik tersebut diharapkan membantu tenaga pendidik menyajikan materi secara lebih relevan, kreatif, dan sesuai dengan kebutuhan belajar siswa.

Rancangan ini juga menempatkan guru sebagai penggerak utama perubahan di lingkungan sekolah. Dengan peningkatan kapasitas yang berkelanjutan, guru tidak hanya menjalankan tugas mengajar, tetapi juga mampu membimbing perkembangan karakter dan potensi setiap murid. Kolaborasi sekolah, pendamping, dan masyarakat menjadi bagian penting agar praktik baik dapat diterapkan secara konsisten dan memberi dampak jangka panjang.

Boy Kelana Soebroto menyampaikan bahwa program tersebut merupakan penerapan butir pertama filosofi Catur Dharma Astra, yaitu menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Menurutnya, pendampingan ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi nyata perusahaan di bidang pendidikan. Melalui dukungan yang berkesinambungan, Astra berupaya membantu murid dan tenaga pendidik menghadapi perubahan serta berbagai tantangan zaman, sekaligus memperkuat fondasi pembelajaran yang berkualitas di Banyuwangi.

Penetapan wilayah sasaran pendampingan pendidikan tidak dilakukan secara langsung, melainkan diawali survei mendalam. Proses tersebut mencakup pemetaan kondisi sekolah, kebutuhan peserta didik, kapasitas guru, dukungan masyarakat, serta tantangan yang dihadapi setiap satuan pendidikan. Hasil survei menjadi dasar bagi Yayasan Pendidikan Astra–Michael D. Ruslim (YPA-MDR) dalam menentukan sekolah yang dinilai membutuhkan pendampingan berkelanjutan dan memiliki potensi untuk berkembang. Pendekatan berbasis data ini diharapkan memastikan program selama lima tahun berjalan sesuai kebutuhan nyata di lapangan.

Program pendampingan bagi sepuluh sekolah dasar di Banyuwangi juga memiliki keterkaitan dengan inisiatif Astra yang telah lebih dahulu berjalan melalui Program Desa Sejahtera Astra. Program tersebut hadir di Desa Kemiren, Jambewangi, Temurejo, dan Sumbermulyo dengan mendorong penguatan potensi masyarakat serta pembangunan desa secara berkelanjutan. Kehadiran YPA-MDR pada jenjang sekolah dasar memperluas dampak upaya tersebut, terutama melalui penguatan mutu pembelajaran, peningkatan kompetensi pendidik, dan penciptaan lingkungan sekolah yang mendukung perkembangan anak.

Sebelumnya, dukungan pendidikan dalam rangkaian program di wilayah tersebut lebih banyak berfokus pada pendidikan anak usia dini. Pendampingan di tingkat sekolah dasar menjadi pelengkap penting karena memastikan proses pengembangan kemampuan anak dapat berlanjut ketika mereka memasuki pendidikan dasar. Kesinambungan antartahap pendidikan diharapkan membantu sekolah membangun fondasi akademik, karakter, dan kecakapan sosial siswa secara lebih terarah.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyambut baik inisiatif jangka panjang tersebut. Menurutnya, pendampingan yang konsisten dapat memperkuat upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya di wilayah yang memerlukan dukungan tambahan. Gunawan Salim juga berharap kolaborasi lintas sektor pemerintah, dunia usaha, sekolah, guru, dan masyarakat mampu membuat sekolah di daerah berkembang secara setara. Dengan kerja sama yang terencana, manfaat program diharapkan tidak hanya dirasakan oleh sekolah dan guru, tetapi juga oleh siswa, keluarga, serta masyarakat luas.

Sebagai dukungan awal bagi sekolah penerima manfaat, Yayasan Pendidikan Astra–Michael D. Ruslim (YPA-MDR) memberikan satu unit laptop untuk setiap sekolah di Banyuwangi. Perangkat tersebut diharapkan menjadi sarana penunjang pembelajaran digital, baik untuk mengakses bahan ajar, menyusun materi, mengembangkan metode pembelajaran, maupun memperluas penggunaan teknologi dalam kegiatan belajar mengajar. Kehadiran laptop juga dapat membantu sekolah meningkatkan kesiapan guru dan siswa dalam menghadapi kebutuhan pendidikan yang semakin terhubung dengan teknologi.

Bantuan perangkat tidak berdiri sendiri. Pelaksanaannya diperkuat melalui pendampingan harian di lapangan yang dikawal oleh area officer khusus. Petugas tersebut bersiaga di Banyuwangi untuk memantau perkembangan program, berkoordinasi dengan pihak sekolah, serta membantu mengidentifikasi kebutuhan dan tantangan yang muncul selama proses pendampingan. Dengan pengawalan langsung ini, dukungan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi setiap sekolah, sehingga pemanfaatan perangkat dan program pendidikan berjalan lebih terarah serta berkelanjutan.

Kehadiran sepuluh sekolah baru di Banyuwangi menjadi bagian dari perjalanan YPA-MDR yang telah berlangsung selama 17 tahun. Penambahan tersebut membuat total sekolah binaan YPA-MDR mencapai 200 sekolah yang tersebar di sembilan provinsi dan 19 kabupaten. Cakupan binaan itu terdiri atas 147 sekolah dasar, 37 sekolah menengah pertama, serta 16 sekolah menengah atas dan sekolah menengah kejuruan.

Skala pendampingan tersebut menunjukkan bahwa program YPA-MDR tidak hanya berfokus pada penyediaan bantuan awal, tetapi juga membangun dukungan pendidikan dalam jangka panjang. Secara keseluruhan, program ini telah menjangkau lebih dari 3.100 guru dan 43.000 siswa sebagai penerima manfaat. Data tersebut mencerminkan luasnya dampak pendampingan, sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi berkelanjutan yayasan, sekolah, pendidik, dan masyarakat untuk memperkuat mutu pendidikan di berbagai daerah.