Situbondo | Seekor sapi limusin milik Tomo (50), warga Desa Jangkar, Kecamatan Jangkar, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, terperosok ke dalam sebuah sumur pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Sumur tersebut memiliki kedalaman sekitar 20 meter, sehingga upaya untuk mengangkat sapi itu menghadapi kondisi yang tidak mudah.
Sapi tersebut kemudian dinyatakan mati setelah berada di dasar sumur. Hingga saat ini, bangkainya masih berada di dalam sumur karena petugas belum berhasil melakukan pengangkatan. Kondisi sumur menjadi kendala utama dalam proses evakuasi, sehingga upaya pengangkatan belum dapat diselesaikan.
Peristiwa ini menjadi perhatian karena sapi limusin milik Tomo disebut sebagai sapi berkaki enam. Sapi tersebut sebelumnya pernah mencuri perhatian dalam kontes sapi Piala Presiden. Keberadaannya di dasar sumur dan belum berhasilnya proses pengangkatan membuat peristiwa ini menjadi perhatian warga, terutama karena sapi itu dikenal melalui keunikannya dalam kontes tersebut.
Petugas masih menghadapi tantangan untuk mengeluarkan bangkai sapi dari sumur dengan kedalaman sekitar 20 meter itu. Selama belum berhasil diangkat, bangkai sapi tersebut masih berada di lokasi kejadian, sementara kondisi sumur tetap menjadi faktor yang menyulitkan proses penanganan.
Proses penyelamatan sapi milik warga Jangkar berlangsung sulit karena kondisi sumur yang menjadi lokasi jatuhnya hewan tersebut. Lubang sumur memiliki diameter sangat sempit, sehingga petugas tidak dapat leluasa melihat posisi sapi dari permukaan. Keterbatasan ruang juga membuat upaya untuk menjangkau tubuh sapi harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak membahayakan petugas maupun hewan yang hendak dievakuasi.
Selain berdiameter kecil, sumur itu memiliki kedalaman sekitar 20 meter. Jarak yang cukup jauh dari bibir sumur ke dasar membuat proses pemantauan dan penentuan posisi sapi menjadi tidak mudah. Pandangan dari atas terhalang oleh bentuk lubang yang sempit, sementara kondisi di bagian dalam sumur tidak dapat diamati secara menyeluruh. Keadaan tersebut menyebabkan petugas perlu mengandalkan pemeriksaan secara bertahap sebelum menentukan cara pengangkatan yang paling memungkinkan.
Kasubbag Umum Dinas Pemadam Kebakaran Situbondo, Dayat, menjelaskan bahwa kedalaman dan ukuran sumur menjadi kendala utama dalam evakuasi. “Sumurnya sangat dalam dan sapinya tidak terlihat dari atas,” kata Dayat. Keterangan tersebut menggambarkan terbatasnya jarak pandang petugas sejak awal penanganan. Sapi yang berada jauh di dasar sumur tidak dapat langsung dipastikan posisinya hanya dengan melihat dari permukaan.
Ukuran serta bobot tubuh sapi turut memperberat pekerjaan. Ruang yang sempit menyulitkan petugas ketika hendak memasang tali pada bagian tubuh sapi, terlebih pemasangan harus dilakukan dengan tepat agar ikatan tidak lepas saat proses pengangkatan. Tali juga perlu ditempatkan pada posisi yang aman supaya beban dapat ditahan secara seimbang. Dalam kondisi sumur yang dalam, setiap tahapan memerlukan pengaturan dan kehati-hatian ekstra. Petugas tidak bisa terburu-buru menarik sapi sebelum memastikan perlengkapan terpasang dengan benar. Kombinasi diameter sumur yang kecil, kedalaman mencapai 20 meter, posisi sapi yang sulit terlihat, serta bobot hewan membuat upaya pengangkatan berlangsung lebih rumit daripada evakuasi biasa.
Proses evakuasi sapi milik warga Jangkar menghadapi kendala karena peralatan yang tersedia di lokasi belum memadai untuk mengangkat beban dengan ukuran dan bobot seperti hewan tersebut. Pemadam Kebakaran (Damkar) Situbondo tidak memiliki tripod besi khusus yang dapat digunakan untuk mengangkat beban berat dari dalam sumur. Keterbatasan peralatan itu membuat petugas perlu mencari dukungan dari instansi lain agar upaya penyelamatan dapat dilakukan secara lebih aman dan terukur.
Petugas kemudian meminta bantuan kepada tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Situbondo. Instansi tersebut memiliki tripod besi serta peralatan pendukung yang dibutuhkan dalam penanganan kondisi darurat seperti ini. Dayat menjelaskan bahwa pemanggilan BPBD dilakukan karena Damkar tidak mempunyai alat khusus untuk mengangkat beban berat. Dukungan BPBD dinilai penting untuk menyesuaikan penanganan dengan kondisi sapi dan situasi sumur yang menjadi lokasi kejadian.
Selain persoalan ketersediaan alat, ukuran sapi juga menjadi pertimbangan dalam evakuasi. Beban yang harus dipindahkan cukup besar, sehingga petugas tidak dapat mengandalkan perlengkapan yang biasa digunakan untuk penanganan lain. Kondisi di dalam sumur turut memperumit proses tersebut. Udara di ruang sempit itu semakin menipis, sehingga petugas harus memperhatikan keselamatan hewan maupun personel yang terlibat dalam penanganan.
Menurut Dayat, kondisi udara yang terus berkurang menjadi alasan lain perlunya dukungan peralatan dan personel dari BPBD. Evakuasi harus dilakukan dengan mempertimbangkan keterbatasan ruang, bobot sapi, serta keamanan selama proses berlangsung. Karena itu, petugas Damkar berkoordinasi dengan BPBD Situbondo sebelum melanjutkan penanganan. Keterangan tersebut menegaskan bahwa hambatan utama dalam upaya pengangkatan sapi bukan hanya lokasi sumur, melainkan juga keterbatasan alat khusus dan kondisi udara yang semakin menipis di dalamnya.
Laporan mengenai sapi milik warga yang terperosok ke dalam sumur di wilayah Jangkar, Situbondo, diterima oleh petugas sekitar pukul 10.00 WIB. Informasi tersebut menjadi dasar dilakukannya upaya penanganan untuk mengangkat hewan dari dasar sumur. Namun, kondisi sumur membuat proses evakuasi tidak dapat dilakukan dengan mudah. Ruang yang terbatas, kedalaman sumur, serta keadaan di dalamnya menjadi kendala bagi petugas yang berupaya mengevakuasi sapi tersebut.
Beberapa jam setelah laporan diterima, petugas masih berusaha memastikan kondisi sapi dan mencari cara yang aman untuk melakukan pengangkatan. Sekitar pukul 14.00 WIB, suara dari dasar sumur tidak lagi terdengar. Hilangnya suara tersebut kemudian menjadi tanda bahwa sapi diperkirakan sudah tidak bernyawa. Setelah dilakukan pemantauan, sapi dinyatakan mati di dalam sumur.
Puriyono, petugas Pusat Pengendalian Operasi BPBD Situbondo, membenarkan bahwa sapi milik warga tersebut mati di dalam sumur. Ia juga menyampaikan bahwa proses evakuasi bangkai masih sulit dilakukan karena kondisi lokasi tidak mendukung pengangkatan secara langsung. Berbagai pertimbangan keselamatan dan teknis perlu diperhatikan agar upaya tersebut tidak membahayakan petugas maupun warga di sekitar lokasi.
Hingga informasi tersebut disampaikan, bangkai sapi belum berhasil dievakuasi dari dalam sumur. Kondisi ini berpotensi menimbulkan persoalan lanjutan bagi warga, terutama apabila bangkai belum segera diangkat, karena dapat memunculkan bau yang mengganggu lingkungan sekitar. Meski demikian, informasi yang tersedia belum memastikan bagaimana status akhir proses pengangkatan bangkai tersebut. Petugas masih menghadapi kendala dalam menentukan langkah evakuasi yang paling memungkinkan dan aman untuk dilakukan.

