Sekolah Rakyat Dampingi Lebih dari 44 Ribu Anak dari Keluarga Kurang Mampu

oleh -574 Dilihat
oleh
Sekolah Rakyat Dampingi Lebih dari 44 Ribu Anak dari Keluarga Kurang Mampu

Makassar | Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menyampaikan bahwa lebih dari 44 ribu anak dari keluarga kurang mampu telah mengikuti pembelajaran di Sekolah Rakyat. Angka tersebut menunjukkan capaian program dalam memperluas kesempatan belajar bagi anak-anak yang selama ini menghadapi keterbatasan akses pendidikan. Jumlah siswa yang sudah terlayani itu merupakan bagian dari alokasi 45 ribu siswa untuk tahun ini. Pemerintah menargetkan jumlah peserta dapat bertambah hingga melampaui 45 ribu, seiring upaya menjangkau lebih banyak anak yang membutuhkan dukungan untuk bersekolah.

Pernyataan itu disampaikan dalam perayaan satu tahun Sekolah Rakyat sekaligus peringatan Hari Sumpah Pemuda, di Gelanggang Olahraga Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, pada 28 Oktober 2026. Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk menyoroti perkembangan program dan perannya dalam membantu anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. Capaian lebih dari 44 ribu peserta juga menggambarkan besarnya kebutuhan terhadap jalur pendidikan yang dapat menjangkau kelompok yang belum memperoleh layanan secara memadai. Sekolah Rakyat dirancang untuk membuka kembali peluang belajar, sekaligus mendampingi peserta agar dapat mengikuti proses pendidikan dengan lebih terarah.

Sasaran program mencakup anak-anak yang belum mendapatkan akses pendidikan secara layak. Di mereka terdapat anak yang belum pernah bersekolah hingga usia remaja, sehingga kesempatan mengikuti pembelajaran baru terbuka setelah mereka tumbuh lebih besar. Sekolah Rakyat juga menyasar anak yang terpaksa berhenti sekolah dan bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Situasi tersebut dapat membuat pendidikan tersisih oleh tuntutan ekonomi, meskipun belajar tetap penting bagi perkembangan dan pilihan masa depan mereka. Dengan menyediakan kesempatan belajar bagi kelompok ini, program diharapkan membantu mereka kembali menempuh pendidikan dan memperoleh pendampingan yang sesuai. Bertambahnya jumlah siswa dari alokasi awal menjadi lebih dari 45 ribu akan memperluas jangkauan upaya tersebut, terutama bagi anak-anak yang sebelumnya sulit mengakses sekolah. Capaian itu sekaligus menegaskan pentingnya memastikan pendidikan dapat dijangkau tanpa mengabaikan keadaan keluarga dan pengalaman masing-masing anak.

Latar belakang anak-anak yang mengikuti Sekolah Rakyat sangat beragam, sehingga kebutuhan pendampingan mereka tidak dapat disamakan. Gus Ipul menjelaskan bahwa sebagian siswa pernah menjalani kehidupan yang berat sebelum memperoleh kesempatan belajar. Ada anak yang sebelumnya hidup di jalanan dan bekerja sebagai pengamen. Ada pula yang sudah putus sekolah selama dua tahun, lalu bekerja sebagai pembantu. Beberapa anak lainnya menjadi kuli, sementara sebagian pernah bekerja di tempat yang tidak semestinya bagi anak. Pengalaman tersebut dapat memengaruhi kondisi fisik, rasa aman, kesiapan belajar, dan kepercayaan diri mereka.

Karena itu, dukungan yang diberikan tidak hanya berfokus pada kegiatan belajar di kelas. Sebagian anak perlu memperoleh pemeriksaan dan penanganan kesehatan terlebih dahulu. Ada pula yang membutuhkan pemulihan dari pengalaman sulit, rehabilitasi, atau proses penyetaraan agar kemampuan serta kesiapan belajarnya dapat diketahui. Pendampingan dapat mencakup beberapa tahap, menyesuaikan kondisi masing-masing anak sebelum mereka bergabung dalam pembelajaran. Dengan pendekatan ini, kebutuhan dasar dan hambatan yang dialami siswa dapat ditangani secara lebih tepat, bukan sekadar dianggap sebagai masalah akademik.

Dari alokasi 45 ribu siswa pada tahun ini, lebih dari seribu anak masih menjalani rehabilitasi di sentra-sentra milik Kementerian Sosial. Sementara itu, lebih dari 44 ribu anak lainnya telah mengikuti pembelajaran di Sekolah Rakyat. Perbedaan angka tersebut menggambarkan bahwa proses pendampingan berjalan sesuai tahap dan kebutuhan siswa. Anak yang masih menjalani rehabilitasi tetap mendapatkan dukungan, meskipun belum bergabung dalam kegiatan belajar seperti siswa lainnya. Setelah kondisi dan kesiapan mereka memungkinkan, proses pendidikan dapat dilanjutkan dengan mempertimbangkan kebutuhan individual. Pendekatan bertahap ini membantu memastikan bahwa akses pendidikan disertai perhatian terhadap kesehatan, pemulihan, dan pengalaman hidup anak, sehingga mereka memiliki landasan yang lebih kuat untuk kembali belajar dan berkembang.

Menurut Gus Ipul, perubahan mulai terlihat setelah para siswa mendapatkan pendampingan selama satu tahun. Anak-anak yang sebelumnya menghadapi persoalan kesehatan, seperti gangguan gigi dan anemia, kini disebut menunjukkan kondisi yang lebih baik. Mereka tampak lebih sehat dan bugar, sehingga dapat menjalani kegiatan belajar serta aktivitas harian dengan lebih nyaman. Perkembangan ini menjadi salah satu tanda bahwa pendampingan di Sekolah Rakyat tidak hanya berfokus pada pendidikan, tetapi juga memperhatikan kebutuhan dasar siswa secara menyeluruh.

Perubahan kesehatan tersebut turut berpengaruh pada rasa percaya diri anak. Dengan kondisi tubuh yang lebih baik dan dukungan yang konsisten, mereka dinilai lebih berani menatap masa depan. Pendampingan juga memberikan ruang bagi siswa untuk berkembang sesuai kemampuan dan potensinya. Gus Ipul menyampaikan bahwa perkembangan ini memerlukan waktu, perhatian, serta kerja sama dari berbagai pihak. Karena itu, keberlanjutan dukungan bagi anak-anak dan keluarga menjadi bagian penting dalam menjaga kemajuan yang telah mulai tampak.

Dampak pendampingan juga dirasakan oleh orang tua. Mereka disebut semakin bersemangat dalam mendampingi anak, baik dalam proses belajar maupun dalam membangun kebiasaan yang mendukung kesehatan dan perkembangan. Keterlibatan keluarga dapat membantu memperkuat manfaat yang diterima siswa di sekolah. Ketika orang tua ikut memberikan perhatian dan dorongan, anak memiliki lingkungan pendukung yang lebih kuat. Perubahan ini menunjukkan bahwa program tidak hanya menyentuh siswa, tetapi juga mendorong partisipasi keluarga dalam perjalanan pendidikan mereka.

Di sisi fasilitas, pemerintah sedang membangun gedung permanen di 100 titik Sekolah Rakyat. Namun, hingga 28 Oktober 2026, baru 93 titik yang dapat dioperasikan. Pembangunan dilakukan bertahap karena pengiriman logistik dan bahan bangunan membutuhkan waktu lebih lama di sejumlah daerah, terutama di luar Jawa. Kondisi geografis dan proses distribusi menjadi tantangan yang perlu diperhitungkan agar pembangunan dapat berjalan sesuai kebutuhan. Pemerintah berharap pembangunan berlanjut pada 2027, dengan tambahan 100 titik. Dengan fasilitas permanen yang terus berkembang, layanan pendidikan dan pendampingan diharapkan semakin tersedia bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di berbagai daerah.

Presiden Prabowo Subianto menargetkan setiap kabupaten dan kota memiliki sekurang-kurangnya satu gedung permanen Sekolah Rakyat. Rencana ini menjadi arah pengembangan fasilitas pendidikan agar keberadaan sekolah tersebut menjangkau wilayah secara lebih merata. Gedung permanen yang direncanakan akan menampung lebih dari 2.000 siswa, dengan layanan pendidikan pada jenjang sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Dengan kapasitas tersebut, satu lokasi dapat menyediakan ruang belajar bagi anak-anak dari beberapa kelompok usia dan jenjang pendidikan.

Perencanaan sebaran gedung itu berkaitan dengan tujuan Sekolah Rakyat yang tidak terbatas pada perluasan akses pendidikan. Program ini juga dirancang sebagai bagian dari upaya pengentasan kemiskinan keluarga. Karena itu, perhatian tidak hanya diberikan kepada anak sebagai peserta didik, tetapi juga kepada kondisi keluarga yang mendukung kehidupan dan keberlanjutan pendidikan mereka. Keterhubungan layanan sekolah dan dukungan bagi keluarga menjadi unsur dalam rancangan program, terutama bagi keluarga kurang mampu yang menjadi sasaran pendampingan.

Dalam kerangka tersebut, orang tua siswa memperoleh pemberdayaan dan bantuan sosial. Keluarga juga dapat menerima dukungan lain sesuai kebutuhan, termasuk jaminan kesehatan melalui Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK). Selain itu, tersedia bantuan perbaikan rumah agar tempat tinggal keluarga lebih layak dihuni. Berbagai bentuk dukungan ini melengkapi penyediaan pendidikan, sehingga rancangan program mencakup kebutuhan anak sekaligus kondisi orang tua dan rumah tangga.

Baca juga: Dampingi Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Borobudur, Bamsoet Tegaskan Lapas Harus Mampu Membentuk Warga Binaan yang Siap Hidup Taat Hukum | Bamsoet Terima Lamaran Putra Melly Goeslaw, Beda Partai Tak Menghalangi Dua Keluarga Bersatu | Revit Sekolah Nganjuk Memanas: Potongan Anggaran Mulai Mengusik Publik