Jakarta | Bank Jakarta menerima penghargaan sebagai PUJK Literasi Keuangan Teraktif 1 dalam Anugerah Digitalisasi Pasar Inklusif 4.0, yang menjadi bagian dari rangkaian Jakarta Financial Festival 2026. Pengakuan ini diberikan atas peran Bank Jakarta dalam memperluas literasi dan inklusi keuangan bagi pedagang pasar serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Penghargaan tersebut diserahkan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno kepada Direktur Utama Bank Jakarta sekaligus Ketua FKIIJK DKI Jakarta, Agus H. Widodo.
Apresiasi tersebut menempatkan pendampingan pedagang sebagai salah satu bagian penting dari upaya menghadirkan layanan keuangan yang lebih mudah dijangkau. Bagi pedagang pasar, pemahaman mengenai layanan dan pengelolaan keuangan dapat membantu mereka mengenali pilihan yang tersedia serta mengambil keputusan sesuai kebutuhan usaha. Sementara itu, akses terhadap layanan keuangan formal dapat membuka kesempatan bagi pelaku UMKM untuk mengelola transaksi dan mengembangkan kegiatan usaha secara lebih terarah. Penghargaan yang diterima Bank Jakarta mencerminkan pengakuan terhadap keterlibatan lembaga tersebut dalam agenda literasi dan inklusi keuangan bagi kelompok ini.
Anugerah Digitalisasi Pasar Inklusif 4.0 menjadi wadah apresiasi dalam rangkaian festival keuangan di Jakarta. Dalam konteks tersebut, pengakuan kepada Bank Jakarta menyoroti pentingnya peran lembaga jasa keuangan dalam mendukung pemahaman keuangan masyarakat, termasuk para pelaku ekonomi di pasar. Penyebutan pedagang dan UMKM sebagai penerima manfaat memperlihatkan bahwa perluasan literasi tidak hanya menyasar nasabah secara umum, tetapi juga kelompok yang menjalankan usaha sehari-hari dan berkontribusi pada perekonomian lokal. Penghargaan ini sekaligus menjadi penanda atas kontribusi Bank Jakarta dalam upaya tersebut. Penyerahan penghargaan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta kepada pimpinan Bank Jakarta turut menegaskan posisi acara ini sebagai bagian dari agenda publik yang mengangkat inklusi keuangan. Namun, pengakuan tersebut tidak perlu dimaknai sebagai ukuran tunggal atas seluruh program maupun dampak yang dicapai. Informasi yang tersedia menyatakan penghargaan diberikan atas peran Bank Jakarta dalam memperluas literasi dan inklusi keuangan bagi pedagang pasar serta pelaku UMKM. Dengan demikian, apresiasi ini menyoroti pentingnya pendampingan dan edukasi keuangan yang relevan bagi masyarakat yang mengelola usaha, sekaligus mendorong perhatian berkelanjutan pada akses layanan keuangan yang inklusif.
Pesan Rano Karno menegaskan bahwa transformasi pasar rakyat tidak dapat diukur semata-mata dari tersedianya fasilitas digital. Kehadiran teknologi menjadi langkah awal, tetapi belum otomatis mengubah cara pedagang menjalankan usaha atau membuat layanan keuangan terasa berguna. Perubahan baru memiliki arti ketika sarana tersebut dapat digunakan dalam kegiatan sehari-hari dan menjawab kebutuhan nyata pelaku usaha. Karena itu, perhatian perlu diarahkan pada bagaimana layanan berjalan dan memberi manfaat, bukan hanya pada penyediaan perangkat atau akses.
Layanan keuangan yang benar-benar berfungsi dapat membantu pedagang mengelola usaha dengan lebih baik. Akses yang tersedia perlu disertai pemahaman dan dukungan agar pedagang dapat mengenali pilihan layanan, menggunakannya sesuai kebutuhan, serta mengelola aktivitas keuangan usahanya. Tanpa proses tersebut, fasilitas digital berisiko hanya menjadi sarana yang tersedia tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Pendampingan menjadi jembatan akses dan penggunaan, sehingga layanan dapat berperan dalam mendukung kegiatan usaha secara berkelanjutan.
Pemberdayaan pedagang juga penting agar akses keuangan tidak berhenti pada kemudahan transaksi. Dukungan yang terus diberikan dapat membantu pelaku usaha memperkuat pengelolaan bisnis, membuka peluang untuk memperoleh pembiayaan, dan meningkatkan kemampuan bersaing. Manfaat itu membutuhkan proses, karena kebutuhan dan kesiapan setiap pedagang dapat berbeda. Dengan pendampingan berkelanjutan, pedagang memiliki ruang untuk memahami layanan yang tersedia dan mempertimbangkan pemanfaatannya bagi perkembangan usaha. Dengan demikian, transformasi pasar rakyat mencakup lebih dari penggunaan teknologi: layanan keuangan perlu berjalan, memberi dampak nyata, serta didukung upaya pemberdayaan yang konsisten agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Agus H. Widodo menilai keberhasilan industri jasa keuangan semestinya tidak hanya diukur melalui besarnya nilai transaksi atau kecanggihan teknologi yang digunakan. Ukuran yang lebih bermakna adalah dampak nyata layanan terhadap kehidupan dan kegiatan usaha masyarakat. Bagi pedagang pasar, misalnya, layanan keuangan yang berhasil ialah layanan yang membantu mengelola pemasukan, memenuhi kebutuhan modal, dan menjaga kelangsungan usaha secara bertanggung jawab. Karena itu, inovasi perlu berjalan seiring dengan pemahaman atas tantangan sehari-hari pelaku usaha.
Pandangan tersebut mendorong Bank Jakarta untuk menempatkan edukasi dan pendampingan sebagai bagian penting dari layanan perbankan. Literasi keuangan yang baik dapat membantu masyarakat memahami pilihan yang tersedia, memperhitungkan risiko, serta mengambil keputusan finansial secara bijak. Pengetahuan mengenai pengelolaan arus kas, tabungan, pembiayaan, dan keamanan transaksi juga dapat memperkuat kesiapan pedagang dalam menggunakan layanan formal. Dengan pemahaman yang memadai, keputusan keuangan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan usaha.
Di sisi lain, inklusi keuangan yang berkualitas membuka peluang ekonomi dengan memperluas akses masyarakat terhadap produk dan layanan yang sesuai. Akses saja belum cukup; layanan perlu mudah digunakan, aman, dan relevan dengan kondisi pengguna. Pedagang pasar membutuhkan pilihan yang mendukung transaksi sehari-hari sekaligus membantu mereka mengembangkan usaha, tanpa mendorong penggunaan produk yang tidak dipahami. Pendekatan yang dekat dengan komunitas memungkinkan bank mengenali kebutuhan tersebut dan menjelaskan manfaat maupun kewajiban setiap layanan secara terbuka.
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026 mencatat indeks literasi keuangan DKI Jakarta sebesar 84,01 persen dan indeks inklusi keuangan sebesar 99,74 persen. Angka ini menunjukkan luasnya akses sekaligus menjadi pijakan untuk terus memperkuat pemanfaatan layanan perbankan secara produktif dan aman. Upaya berikutnya bukan semata memperbanyak pengguna atau transaksi, melainkan memastikan masyarakat mampu memanfaatkan akses tersebut untuk tujuan yang tepat. Bagi pelaku usaha, pendampingan yang berkelanjutan dapat membantu menghubungkan pengetahuan finansial dengan keputusan konkret, sehingga layanan perbankan mendukung ketahanan usaha dan peluang pertumbuhan.
Dalam rangka Bulan Inklusi Keuangan, Bank Jakarta berpartisipasi dalam Jakarta Financial Festival 2026 yang mengusung tema “Kumpul Asik, Melek Finansial, Ekonomi Tumbuh”. Festival ini berlangsung pada 23–24 Oktober 2026 dan menghadirkan rangkaian kegiatan untuk mendekatkan informasi serta layanan keuangan kepada masyarakat. Melalui partisipasi tersebut, Bank Jakarta mendorong pengunjung mengenal pilihan layanan yang dapat digunakan dalam kegiatan sehari-hari sekaligus memahami manfaat pengelolaan keuangan yang lebih baik.
Salah satu layanan yang diperkenalkan adalah transaksi digital, sebagai pilihan praktis untuk mendukung pembayaran dan aktivitas keuangan. Pengunjung juga memperoleh pengenalan mengenai produk pembiayaan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Informasi ini diharapkan membantu pelaku usaha memahami akses pembiayaan yang tersedia untuk mendukung kebutuhan dan pengembangan bisnis mereka. Dengan mempertemukan layanan digital dan informasi pembiayaan dalam satu kegiatan, festival membuka kesempatan bagi masyarakat untuk bertanya serta memperoleh pemahaman langsung.
Rangkaian acara turut mengangkat hubungan kesehatan finansial dan kesehatan fisik melalui kampanye “Sehat Finansial, Sehat Badannya, Kuat Jakartanya”. Selain edukasi keuangan, pengunjung dapat memanfaatkan fasilitas pemeriksaan kesehatan yang disediakan dalam kegiatan tersebut. Pendekatan ini memperluas pengalaman festival, dengan mengajak masyarakat memperhatikan kesejahteraan secara menyeluruh, bukan hanya memahami produk dan transaksi keuangan.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Bank Indonesia, Perumda Pasar Jaya, dan Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIIJK) DKI Jakarta. Kerja sama lintas lembaga tersebut menjadi ruang untuk menyampaikan edukasi dan layanan secara lebih dekat kepada warga, termasuk pelaku usaha di lingkungan pasar.
Agus menyampaikan.
Baca juga: Panglima TNI Kunjungi ITS Giuseppe Garibaldi di Jakarta | Panglima TNI Hadiri Pelantikan Menteri Keuangan RI | Sambut HUT ke-81 TNI, Bhakti Kesehatan TNI Layani Masyarakat di Jakarta
