Panggung Seni SMAN 35 Jakarta: Tari Betawi Freya Delovia Raih Juara Pertama

oleh -353 Dilihat
oleh
Panggung Seni SMAN 35 Jakarta: Tari Betawi Freya Delovia Raih Juara Pertama

Jakarta | Kapanlagi Pensi Bareng 2026 menghadirkan suasana meriah di SMAN 35 Jakarta. Sejak rangkaian unjuk bakat dimulai, siswa dan guru berkumpul untuk menyaksikan para peserta tampil di hadapan dewan juri serta warga sekolah. Area acara terasa hidup oleh percakapan, dukungan, dan antusiasme penonton yang menantikan setiap penampilan. Meski persiapan berlangsung relatif singkat, para peserta tetap berusaha memberikan kemampuan terbaik. Masing-masing juga menghadapi kendala dalam proses latihan maupun persiapan, tetapi hal itu tidak menghalangi mereka untuk naik ke panggung dengan percaya diri dan menunjukkan hasil kerja kerasnya.

Terik matahari menjadi tantangan tersendiri sepanjang acara. Suasana yang panas tidak menyurutkan semangat peserta, yang tetap berupaya menjaga energi dan konsentrasi saat tampil. Penampilan demi penampilan berlangsung dengan kualitas yang tetap menarik perhatian. Para penonton menyimak beragam bakat yang ditampilkan, sementara dewan juri mengamati setiap peserta dengan saksama. Dukungan dari teman-teman dan guru turut membangun suasana yang hangat serta menyemangati mereka di atas panggung. Setiap sesi menjadi kesempatan bagi para siswa untuk menunjukkan kreativitas, keberanian, dan kemampuan mereka, sekaligus berbagi pengalaman dalam sebuah perayaan seni sekolah.

Siswa dan para guru menikmati setiap sesi unjuk bakat hingga akhir. Tepuk tangan dan sorakan terdengar sebagai bentuk apresiasi setelah para peserta menyelesaikan penampilannya. Respons tersebut menjadi penyemangat bagi mereka yang telah berlatih dan bersiap dalam waktu terbatas, sekaligus menambah kemeriahan acara. Di tengah cuaca panas, dukungan kesegaran dari Aqua dan Mizone turut membantu menjaga asupan mineral, stamina, serta fokus peserta saat tampil. Dengan suasana yang penuh dukungan, Pensi Bareng 2026 tidak hanya menjadi panggung untuk berkompetisi, tetapi juga ruang bagi warga sekolah untuk berkumpul, mengapresiasi bakat, dan merayakan usaha setiap peserta. Semangat kebersamaan itu terasa dalam setiap penampilan dan sambutan penonton.

Gelar juara pertama dalam Panggung Seni SMAN 35 Jakarta diraih Freya Delovia lewat penampilan tari tradisional Betawi Nandak Ganjen. Ia membawakan tarian tersebut dengan gerak yang lincah dan energik, menghadirkan suasana panggung yang hidup. Setiap rangkaian gerak menjadi bagian dari penampilan yang memikat perhatian penonton, sekaligus memperlihatkan kekayaan seni tradisi Betawi. Keberhasilan Freya menempati posisi teratas menunjukkan bahwa tari tradisional dapat tampil menarik di hadapan penonton ketika dibawakan dengan penghayatan dan penguasaan gerak yang baik. Nandak Ganjen pun menjadi pilihan yang menonjol dalam ajang seni sekolah tersebut.

Karakter Nandak Ganjen yang dinamis memberi ruang bagi Freya untuk menunjukkan kelincahan dan tenaga dalam menari. Penampilannya tidak hanya menampilkan gerak yang cepat dan bersemangat, tetapi juga membawa pesan tentang semangat. Perpaduan energi tarian dan pesan yang disampaikan membuat penampilannya terasa kuat serta mudah dinikmati. Penonton dapat merasakan suasana ceria dan penuh daya dari gerak-gerak yang ia bawakan. Dengan penampilan tersebut, Freya mampu menjadikan tari Betawi sebagai pusat perhatian di panggung, sekaligus memperkenalkan tradisi daerah melalui pertunjukan yang segar dan berkesan bagi para hadirin.

Prestasi ini merupakan hasil dari ketekunan Freya dalam mengasah kemampuan menari sejak SMP. Proses berlatih yang ia jalani menjadi bekal untuk menguasai gerak, menjaga energi, dan membangun penampilan yang meyakinkan. Pengalaman serta latihan tersebut tercermin dalam caranya membawakan Nandak Ganjen di Panggung Seni SMAN 35 Jakarta. Juara pertama ini juga menambah catatan pencapaiannya di bidang tari. Sebelumnya, Freya pernah meraih juara pertama dalam ajang FLS2N. Rangkaian prestasi itu menunjukkan konsistensi dan dedikasinya dalam menekuni seni tari, serta menjadi bukti bahwa ketekunan dapat mendukung pencapaian di panggung kompetisi.

Dalam persiapan menuju penampilannya di Panggung Seni SMAN 35 Jakarta, Freya Delovia merasa tidak menghadapi kendala khusus. Sebab, tarian Betawi yang ia bawakan sudah dikuasai, sehingga proses persiapan dapat dijalani dengan lebih tenang. Penguasaan terhadap materi tari membuat Freya tidak perlu mempelajari kembali gerakan dari awal, sehingga ia dapat berfokus menjalani penampilannya. Meski demikian, pengalaman dan kesiapan tersebut tidak serta-merta membuat dirinya yakin akan menjadi pemenang utama. Freya tetap memandang hasil kompetisi sebagai sesuatu yang belum dapat dipastikan sebelum pengumuman disampaikan. Dengan sikap itu, ia mengikuti rangkaian acara tanpa menganggap kemenangan sebagai sesuatu yang sudah pasti, walau telah siap menampilkan tarian.

Pada saat menebak siapa yang berpeluang memperoleh gelar juara, Freya justru memperkirakan pemenang mungkin berasal dari kategori band. Perkiraan itu menunjukkan bahwa ia tidak menempatkan dirinya sebagai calon terkuat, meskipun telah membawakan tari yang dikuasainya. Karena itu, pengumuman hasil menjadi momen yang tidak ia sangka akan berakhir dengan namanya disebut sebagai juara pertama. Ketika mengetahui hasil tersebut, Freya merasa sangat senang. Kebahagiaan itu menandai kejutan sekaligus penghargaan atas penampilannya dalam kompetisi. Ia berhasil meraih posisi tertinggi walaupun sebelumnya tidak terlalu percaya diri dan sempat menduga kemenangan akan jatuh kepada peserta dari kategori lain. Reaksi bahagia itu memperlihatkan betapa berarti hasil tersebut.

Bagi Freya, pencapaian ini juga menjadi bagian dari pengalaman tampil di panggung sekolah dan mengikuti acara yang mempertemukan beragam penampil. Namun, harapannya tidak berhenti pada hasil yang ia raih. Ia ingin Kapanlagi Pensi Bareng terus berkembang dan mampu mencapai kesuksesan yang lebih besar pada penyelenggaraan berikutnya. Harapan tersebut mencakup acara yang semakin meriah serta menghadirkan suasana yang lebih seru bagi para peserta maupun penonton. Dengan demikian, Kapanlagi Pensi Bareng dapat terus menjadi ruang bagi penampilan seni dan hiburan yang dinantikan. Keinginannya itu mencerminkan dukungan agar kegiatan ini tetap berlanjut, semakin dikenal, dan memberikan pengalaman menyenangkan bagi semua pihak yang terlibat, seiring bertambahnya keberhasilan dari waktu ke waktu.

NACL berawal dari kegiatan ekstrakurikuler musik di SMAN 35 Jakarta. Saat itu, para anggotanya masih duduk di kelas 10 dan mulai mengenal satu sama lain melalui kegiatan sekolah serta pertemanan yang telah terjalin. Bagas Adhiansyah dan Arkan Al Faridzi kemudian mengajak sejumlah siswa untuk berkumpul dan bermain musik. Ajakan tersebut berawal dari dorongan ketua ekstrakurikuler, yang mendorong mereka membentuk kelompok agar dapat berlatih bersama dan mengembangkan minat musik. Dari pertemuan sederhana itu, terbentuklah lingkaran pertemanan yang perlahan tumbuh menjadi sebuah band.

Formasi NACL terdiri atas Galih Adrianto sebagai drummer, Mandala Ibni sebagai bassist, serta Jemima Gendis yang memainkan piano dan keyboard sekaligus menjadi vocalist. Glayds Calista juga bergabung sebagai vocalist. Setiap anggota membawa peran dan kemampuan masing-masing, sementara kebersamaan mereka menjadi dasar untuk belajar dan tampil bersama. Pada awalnya, latihan berlangsung santai di studio. Suasana yang tidak terlalu formal memberi ruang bagi mereka untuk mencoba berbagai lagu, mengenali karakter permainan satu sama lain, dan menemukan kecocokan. Ketika memasuki kelas 11, hubungan mereka semakin akrab dan kerja sama sebagai kelompok pun semakin terbentuk.

Kecocokan antarsiswa tersebut mendorong mereka memakai nama NACL saat tampil di berbagai panggung dan lomba sekolah. Proses latihan tidak hanya berisi pengulangan lagu, tetapi juga menjadi kesempatan untuk saling berbagi pengetahuan. Anggota yang lebih memahami teori atau teknik tertentu bersedia mengajarkannya kepada teman-teman lain. Mereka berlatih dengan kerja sama dan kesabaran, termasuk ketika harus mengulang bagian yang belum rapi atau menyesuaikan permainan agar terdengar selaras. Kebiasaan belajar bersama membantu mereka mempersiapkan penampilan sebagai sebuah tim.

Baca juga: Panglima TNI Kunjungi ITS Giuseppe Garibaldi di Jakarta | Ukir Prestasi Tingkat Nasional, Dandim Bojonegoro Raih Juara III Dansatgas Terbaik TMMD 129 | Sambut HUT ke-81 TNI, Bhakti Kesehatan TNI Layani Masyarakat di Jakarta