Jakarta | Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar mendorong pelaku ekonomi kreatif di daerah untuk berani menyasar pasar ekspor dan memperkenalkan karya mereka kepada konsumen dunia. Menurutnya, produk lokal memiliki peluang untuk berkembang lebih luas apabila pelaku usaha mampu menampilkan keunikan, membangun identitas yang kuat, serta memanfaatkan platform digital secara tepat. Dorongan itu disampaikan Irene dalam pernyataan yang diterima di Jakarta pada Sabtu.
Keunikan produk dapat menjadi pembeda di tengah persaingan pasar yang semakin terbuka. Ragam budaya, keterampilan, bahan baku, dan cerita dari tiap daerah dapat memberi nilai tambah bagi barang maupun jasa kreatif. Namun, potensi tersebut perlu dikemas dengan baik agar mudah dikenali dan dipahami oleh calon pembeli, termasuk mereka yang berada di luar Indonesia. Identitas yang konsisten membantu konsumen memahami karakter produk serta alasan produk itu berbeda dari pilihan lain.
Irene mengingatkan pelaku usaha agar tidak hanya membidik audiens domestik yang jumlahnya sekitar 280 juta orang. Mereka juga dapat mempertimbangkan jangkauan audiens global yang disebut mencapai 8 miliar. Perbandingan itu menunjukkan besarnya ruang yang tersedia bagi produk kreatif Indonesia untuk menemukan pasar baru, tanpa mengabaikan kebutuhan dan peluang di dalam negeri. Menjangkau pembeli internasional bukan berarti setiap usaha harus langsung beroperasi dalam skala besar; langkah dapat dimulai dengan mengenali segmen konsumen yang paling sesuai.
Platform digital dapat membantu pelaku daerah menampilkan katalog, menjelaskan proses pembuatan, berkomunikasi dengan calon pelanggan, dan memasarkan produk lintas wilayah. Kehadiran daring juga membuka kesempatan untuk menguji minat pasar dan memperoleh masukan sebelum memperluas penjualan. Agar upaya tersebut berjalan efektif, pelaku usaha perlu memperhatikan mutu, informasi produk, layanan, serta kesiapan memenuhi permintaan secara konsisten.
Ajakan untuk menembus pasar global sekaligus menempatkan identitas daerah sebagai aset ekonomi. Dengan menggabungkan karakter lokal, penyajian yang relevan bagi konsumen, dan pemanfaatan teknologi, pelaku ekonomi kreatif dapat memperluas jangkauan tanpa kehilangan ciri khas. Langkah ini memberi peluang bagi karya daerah untuk dikenal lebih luas dan memperkuat posisi produk kreatif Indonesia di pasar internasional.
Irene Umar mendorong pelaku ekonomi kreatif untuk melihat kekayaan daerah sebagai sumber gagasan sekaligus bahan baku produk. Nusantara memiliki beragam bahan alam yang dapat dikembangkan, termasuk bahan yang berasal dari lingkungan setempat dan ramuan herbal. Potensi tersebut dapat menjadi titik awal bagi pelaku usaha untuk merancang produk yang berakar pada karakter daerah, bukan sekadar mengikuti tren yang seragam.
Namun, ketersediaan bahan lokal perlu diikuti proses pengolahan yang cermat. Pelaku ekraf dapat meningkatkan nilai bahan baku dengan memperhatikan mutu, fungsi, desain, kemasan, serta kenyamanan penggunaannya. Pengembangan produk juga perlu mempertimbangkan kebutuhan konsumen modern, seperti kepraktisan, kejelasan informasi, dan kesesuaian dengan gaya hidup. Dengan demikian, kekayaan alam tidak hanya hadir sebagai unsur cerita, tetapi menjadi bagian yang nyata dari manfaat dan kualitas produk.
Identitas lokal dapat membantu produk Indonesia tampil berbeda di tengah persaingan, termasuk persaingan yang kerap menitikberatkan harga. Ciri khas bahan, teknik pengolahan, motif, atau pengetahuan tradisional dapat memberi konteks dan karakter yang tidak mudah disamakan. Keunikan itu perlu disampaikan secara jelas kepada calon pembeli, dengan tetap menjaga kualitas dan relevansi produk. Pendekatan tersebut memberi alasan bagi konsumen untuk mengenali nilai yang ditawarkan, di luar pertimbangan harga semata.
Irene juga menekankan pentingnya mempelajari media sosial dan platform digital sebagai sarana pemasaran. Pelaku usaha perlu memahami cara menggunakan kanal tersebut untuk memperkenalkan produk, menyampaikan kisah di balik bahan dan prosesnya, serta berinteraksi dengan calon konsumen. Pemanfaatan ruang digital dapat membuka peluang untuk menjangkau pembeli di luar pasar domestik, meski pelaku tetap perlu mengenali karakter audiens dan menyesuaikan komunikasi. Penguasaan kanal digital bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi; hal ini merupakan bagian dari upaya memperluas akses pasar. Jika kekuatan bahan lokal dipadukan dengan pengolahan yang sesuai kebutuhan dan penyampaian yang tepat, produk daerah memiliki landasan untuk menawarkan nilai yang lebih jelas kepada konsumen lintas wilayah.
Pengembangan merek lokal tidak dapat bergantung pada upaya satu pihak saja. Irene Umar memandang kolaborasi pelaku usaha, platform digital, dan pemerintah sebagai unsur penting untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif. Setiap pihak memiliki peran yang saling melengkapi: pelaku usaha mengembangkan produk dan menjaga kualitas, platform digital menyediakan jalur promosi serta penjualan, sementara pemerintah dapat mendukung melalui kebijakan dan program yang membuka peluang bagi usaha daerah.
Kerja bersama tersebut dapat membantu produk kreatif menjangkau konsumen yang lebih luas, termasuk pasar global. Kehadiran kanal digital memberi pelaku usaha kesempatan memperkenalkan karya tanpa selalu bergantung pada jangkauan toko fisik. Namun, akses pasar perlu diiringi pengembangan produk yang konsisten dan memiliki identitas kuat. Potensi daerah—mulai dari bahan, keterampilan, hingga cerita dan tradisi setempat—dapat menjadi dasar untuk menghasilkan produk yang berbeda dan relevan bagi konsumen.
Bagi Irene, penguatan merek juga berkaitan dengan dampak yang lebih luas daripada pertumbuhan satu usaha. Perjuangan pelaku ekonomi kreatif dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri dan keluarga, sekaligus menciptakan nilai bagi lingkungan sekitar. Ketika usaha berkembang dan kebutuhan produksi meningkat, peluang kerja pun dapat terbuka bagi lebih banyak orang. Dengan demikian, upaya membangun produk lokal bukan hanya soal penjualan, melainkan juga tentang memperkuat kehidupan masyarakat dan perekonomian daerah.
Irene menekankan bahwa ide kreatif akan terus tersedia selama para pelaku bergerak bersama dan terus mencari cara untuk mengembangkan potensi yang ada. Tantangan seperti keterbatasan jangkauan, promosi, maupun pengembangan produk dapat dihadapi melalui dukungan dan pertukaran pengalaman. Pesan bahwa pelaku tidak berjalan sendiri menjadi pengingat penting: kolaborasi dapat menumbuhkan keyakinan, memperluas kesempatan, dan menjaga agar ekosistem kreatif tetap bergerak. Dengan keterlibatan berbagai pihak, merek lokal memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh, dikenal, dan bersaing di pasar yang semakin luas.
Kreator konten sekaligus pendiri Mother of Pearl (MOP), Tasya Farasya, menilai kepercayaan konsumen merupakan fondasi penting bagi pertumbuhan merek lokal. Kepercayaan tidak terbentuk hanya melalui promosi, tetapi juga melalui mutu produk, komunikasi yang terbuka, serta kemampuan merek memenuhi kebutuhan penggunanya. Karena itu, pelaku usaha perlu memahami perubahan pasar dan menghadirkan inovasi yang relevan, bukan sekadar mengikuti tren sesaat.
Menurut Tasya, merek perlu terus menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen, sekaligus mempertimbangkan dampak proses bisnisnya. Keberlanjutan dapat menjadi bagian dari inovasi, misalnya dengan mengupayakan pemanfaatan kembali limbah kosmetik melalui praktik upcycling. Langkah seperti ini dapat membantu mengurangi sisa produk sekaligus memberi nilai baru pada material yang sebelumnya berpotensi terbuang. Konsistensi dalam menjalankan upaya tersebut juga dapat memperkuat hubungan dengan konsumen yang semakin memperhatikan tanggung jawab sebuah jenama.
Pertumbuhan merek, lanjut Tasya, sebaiknya melibatkan lebih banyak pihak dalam ekosistem. Afiliator dan kreator konten dapat membantu memperkenalkan produk kepada audiens, sementara tenaga kerja lokal berperan dalam berbagai tahap pengembangan usaha. Ketika sebuah merek berkembang, manfaatnya dapat meluas menjadi peluang ekonomi bagi pihak-pihak yang terlibat, tidak terbatas pada peningkatan penjualan. Kolaborasi yang terbangun juga dapat memperkuat kapasitas usaha dan membuka ruang bagi lebih banyak pelaku untuk berpartisipasi.
Tasya menekankan bahwa jenama lokal tidak harus selalu menunggu tren dari luar.
Baca juga: Catatan Politik Bamsoet; Penyesuaian Transfer Daerah Idealnya Tidak Menimbukan Ekses Bagi Daerah | Minat Produk USD Meningkat, Proteksi di Era Global Makin Dibutuhkan
