Mas Asmaoen: Dokter Indonesia Pertama dan Batas Kesetaraan pada Zaman Kolonial

oleh -51 Dilihat
oleh
Mas Asmaoen: Dokter Indonesia Pertama dan Batas Kesetaraan pada Zaman Kolonial

Jakarta | Mas Asmaoen lahir di Surakarta pada 1880, pada masa ketika kesempatan memperoleh pendidikan tinggi bagi penduduk bumiputra di Hindia Belanda masih sangat terbatas. Ia kelak dikenal sebagai orang Indonesia pertama yang menjadi dokter setelah menempuh pendidikan kedokteran di Belanda. Perjalanan tersebut berlangsung dalam tatanan kolonial yang membedakan akses dan pengakuan berdasarkan asal-usul. Karena itu, kisah pendidikannya bukan hanya mengenai pencapaian pribadi, tetapi juga memperlihatkan batas-batas kesetaraan yang dihadapi orang bumiputra dalam dunia pendidikan dan profesi pada awal abad ke-20.

Langkah awal Asmaoen dalam bidang kedokteran dimulai di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen, yang lebih dikenal dengan singkatan STOVIA. Sekolah di Batavia ini didirikan untuk mendidik calon tenaga medis bumiputra bagi kebutuhan pelayanan kesehatan di Hindia Belanda. Kurikulumnya memberikan bekal ilmu dan keterampilan kedokteran, tetapi kedudukan lulusannya tidak sepenuhnya sama dengan dokter Eropa. Mereka memperoleh gelar dokter Jawa, sebuah sebutan yang menandai jalur pendidikan sekaligus perbedaan status dalam struktur kolonial. Bagi Asmaoen dan rekan-rekannya, STOVIA membuka peluang untuk memasuki profesi medis, meskipun pengakuan terhadap kualifikasi mereka tetap dibatasi oleh hierarki yang berlaku.

Pada 1904, Dirk Fock, Menteri Urusan Daerah Jajahan, membuka kesempatan bagi lulusan STOVIA untuk melanjutkan pendidikan kedokteran di Belanda. Tujuannya ialah agar mereka dapat memperoleh gelar yang dipandang setara dengan gelar dokter orang Eropa. Kesempatan tersebut menjadi perubahan penting, sebab pendidikan lanjutan di Belanda berpotensi memperluas ruang profesional para lulusan bumiputra sekaligus menantang pembedaan status yang telah lama melekat pada gelar dokter Jawa. Tiga peserta mengikuti jalur itu: Abdul Rivai, Mas Boenjamin, dan Mas Asmaoen. Mereka melanjutkan studi di Universitas Amsterdam. Bagi Asmaoen, keberangkatan tersebut menandai peralihan dari pendidikan kedokteran di Hindia Belanda menuju proses memperoleh kualifikasi yang diakui dalam sistem pendidikan Eropa. Langkah ini menjadikannya bagian dari kelompok kecil yang menempuh jalur tersebut, sekaligus awal dari pencapaian yang kemudian melekat pada namanya.

Pada 1908, Mas Asmaoen menuntaskan pendidikan kedokteran di Universitas Amsterdam. Kelulusan itu menandai capaian penting bagi seorang mahasiswa Indonesia di tengah lingkungan pendidikan tinggi Eropa pada masa kolonial. Menurut uraian sejarawan Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda, 1600–1950 (2008), Asmaoen dan mahasiswa Indonesia lain yang menempuh pendidikan kedokteran dikenal cemerlang. Namun, di tiga peserta tersebut, Asmaoen menjadi orang pertama yang berhasil menyelesaikan studinya.

Dua rekannya, Abdul Rivai dan Mas Boenjamin, menyusul kemudian. Mereka tidak menyelesaikan pendidikan pada waktu yang sama karena memiliki kesibukan masing-masing. Perbedaan waktu kelulusan ini tidak mengurangi arti keberhasilan mereka, tetapi menempatkan Asmaoen sebagai pelopor dalam kelompok mahasiswa tersebut. Riwayat itu juga memperlihatkan bahwa perjalanan pendidikan para pelajar Indonesia di Belanda tidak berlangsung seragam: kemampuan akademik harus berjalan beriringan dengan berbagai tanggung jawab dan keadaan pribadi.

Dengan kelulusannya, Asmaoen tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang menjadi dokter. Sebutan itu merujuk pada keberhasilan memperoleh pendidikan dan kualifikasi kedokteran, sekaligus menandai langkah awal keterlibatan orang Indonesia dalam profesi yang saat itu sangat terbatas aksesnya. Pencapaian tersebut layak dikenang bukan semata-mata sebagai kisah keberhasilan individu, melainkan juga sebagai bagian dari sejarah pendidikan dan mobilitas kaum terpelajar Indonesia pada zaman kolonial.

Meski demikian, gelar dokter tidak dengan sendirinya menghapus batas-batas yang berlaku dalam masyarakat kolonial. Kelulusan dari universitas ternama bukan jaminan bahwa seseorang akan diterima setara, memperoleh ruang profesional tanpa hambatan, atau memiliki masa depan yang lebih baik. Karena itu, keberhasilan Asmaoen perlu dipahami dalam dua sisi: ia membuka catatan sejarah sebagai dokter Indonesia pertama, tetapi berlangsung di tengah tatanan yang tetap membatasi kesempatan dan pengakuan bagi orang Indonesia. Prestasinya menjadi penting justru karena menunjukkan kemampuan yang dapat dicapai, sekaligus mengingatkan bahwa pendidikan tinggi saja belum tentu mampu mengatasi ketimpangan struktural pada masa itu.

Setelah menyelesaikan pendidikan kedokterannya, Mas Asmaoen melanjutkan pengalaman profesional di Eropa. Ia bekerja selama beberapa bulan di Institute of Naval and Tropical Medicine di Hamburg, Jerman. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk berkecimpung dalam lingkungan medis yang berkaitan dengan kesehatan pelaut dan penyakit tropis, sebelum ia kembali memasuki jalur kedinasan di Hindia Belanda. Masa kerja di Hamburg menjadi bagian penting dari perjalanan seorang dokter Indonesia yang menempuh pendidikan dan karier di tengah struktur kolonial.

Berikutnya, Asmaoen diangkat sebagai perwira kesehatan Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL), tentara kerajaan Hindia Belanda. Pengangkatan ini menempatkannya dalam posisi yang belum pernah diduduki orang Indonesia sebelumnya. Dengan demikian, ia tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang menjadi perwira kesehatan KNIL. Pencapaian itu menunjukkan bahwa kemampuan profesionalnya membuka jalan menuju jabatan yang sebelumnya didominasi orang Eropa. Namun, keberhasilan formal tersebut tidak serta-merta menghapus batas sosial dan rasial yang berlaku di lingkungan militer kolonial.

Dalam kesehariannya sebagai perwira, Asmaoen menghadapi penolakan dari para perwira Belanda yang tidak bersedia memperlakukannya sebagai rekan setara. Hambatan itu bukan semata persoalan hubungan pribadi, melainkan mencerminkan hierarki kolonial yang membatasi pengakuan terhadap orang Indonesia, bahkan ketika mereka memenuhi kualifikasi untuk menduduki jabatan profesional. Status perwira tidak memberinya ruang yang sama dalam lingkungan kerja. Akibatnya, kariernya di KNIL tidak berkembang sebagaimana yang mungkin diharapkan dari pengangkatannya, dan perjalanan dinasnya di lembaga itu akhirnya kandas.

Sesudah itu, Asmaoen dipindahkan ke Irian. Penugasan tersebut menandai babak baru dalam kariernya, tetapi keadaan kesehatannya kemudian memburuk dan ia jatuh sakit. Pada akhirnya, ia kembali ke Belanda dan menetap di sana. Rangkaian perpindahan ini memperlihatkan jarak pencapaian individual dan kesetaraan yang sesungguhnya pada masa kolonial. Asmaoen berhasil menembus jabatan yang belum pernah dipegang orang Indonesia, tetapi pengakuan terhadap kedudukannya tetap dibatasi oleh sikap dan tata hubungan kolonial. Kariernya menjadi contoh bagaimana kompetensi profesional tidak selalu cukup untuk mengatasi diskriminasi yang tertanam dalam institusi.

Gelar dokter dan jabatan militer tidak serta-merta menghapus batas sosial yang dibentuk oleh pemerintahan kolonial. Asmaoen telah menempuh pendidikan kedokteran dan mencapai kedudukan dalam dinas militer, tetapi pencapaian itu belum membuatnya diterima setara oleh lingkungan Eropa di Hindia Belanda. Dalam masyarakat kolonial, penghormatan terhadap keahlian seseorang kerap dibatasi oleh pandangan tentang asal-usul dan warna kulit. Karena itu, keberhasilan profesional Asmaoen hadir berdampingan dengan pengalaman diskriminasi, bukan sebagai jaminan bahwa ia dapat melampaui seluruh hierarki sosial yang berlaku.

Keterangan sejarawan Harry A. Poeze membantu menjelaskan bagaimana hierarki tersebut bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Di Hindia Belanda, asal-usul dan warna kulit turut menentukan cara seseorang dipandang, siapa yang dianggap dekat, serta bagaimana hubungan sosial dibangun. Status pendidikan atau pekerjaan dapat memberi seseorang ruang tertentu, tetapi tidak selalu mengubah prasangka yang melekat pada identitasnya. Pengalaman Asmaoen memperlihatkan ketegangan pengakuan atas kapasitasnya sebagai dokter dan perlakuan yang masih dipengaruhi pembagian rasial. Dengan demikian, kesetaraan formal dalam profesi tidak otomatis berarti penerimaan dalam pergaulan ataupun pengakuan sebagai pribadi yang setara.

Pengalaman Asmaoen di Belanda berbeda dari kehidupannya di Hindia Belanda.

Baca juga: Kodim 1714/Puncak Jaya Gelar Doa Bersama dan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Jembatan di Kampung Kulonggame | Pertama Kali ke Tangerang dari Jakata Naik KRL? Ini Rute, Jadwal dan Cara Transitnya