Jakarta | Peningkatan konsumsi Pertalite mendorong pemerintah mengevaluasi kebutuhan kuota tambahan untuk memastikan ketersediaan bahan bakar bersubsidi tersebut. Perhitungan masih berlangsung dan mencakup kebutuhan yang diperkirakan muncul hingga periode berikutnya. Pemerintah belum menetapkan besaran tambahan alokasi karena data konsumsi serta proyeksi kebutuhan masih dikaji. Evaluasi ini menjadi dasar untuk menentukan apakah kuota yang tersedia perlu disesuaikan dengan perkembangan permintaan di lapangan.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung menyampaikan pada Sabtu, 24 Oktober 2026, bahwa proses evaluasi belum selesai. Pemerintah masih menghitung kebutuhan Pertalite dan akan memantau perkembangan konsumsi sampai akhir bulan. Dengan demikian, angka kebutuhan yang digunakan untuk mengambil keputusan diharapkan mencerminkan kondisi terbaru, bukan hanya perkiraan awal. Pemeriksaan tersebut juga memberi ruang bagi pemerintah untuk menilai pola permintaan sebelum menentukan langkah lebih lanjut.
Belum adanya keputusan penambahan kuota menunjukkan bahwa pemerintah masih berada pada tahap pengumpulan dan pengolahan informasi. Kenaikan konsumsi menjadi pertimbangan penting, tetapi tidak serta-merta menghasilkan tambahan alokasi dalam jumlah tertentu. Besaran yang diperlukan harus dihitung terlebih dahulu agar penyesuaian dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan yang terukur. Selama proses itu berjalan, keputusan resmi mengenai tambahan kuota belum ditetapkan.
Evaluasi hingga penghujung Oktober akan membantu pemerintah membandingkan konsumsi aktual dengan kuota yang telah dialokasikan. Hasil perhitungan tersebut dapat menjadi bahan untuk menentukan kecukupan pasokan dan kemungkinan perubahan alokasi Pertalite. Pemerintah belum menyampaikan angka tambahan ataupun jadwal keputusan, sehingga informasi mengenai kuota baru masih menunggu hasil evaluasi. Perkembangan konsumsi dalam sisa bulan ini akan menjadi salah satu dasar pertimbangan dalam pembahasan tersebut. Sampai perhitungan selesai, pemerintah masih menelaah kebutuhan tambahan sebelum menetapkan kebijakan. Karena itu, masyarakat dan pelaku usaha perlu menunggu keterangan resmi berikutnya, sementara pemerintah menuntaskan evaluasi sesuai perkembangan data yang tersedia.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Laode Sulaeman, menyatakan besaran tambahan kuota Pertalite belum dapat dipastikan. Pemerintah masih menghitung kebutuhan sebelum menetapkan apakah alokasi untuk bahan bakar minyak bersubsidi tersebut perlu ditambah. Karena perhitungan belum rampung, belum ada angka resmi mengenai volume tambahan yang akan diberikan.
Ketidakpastian itu juga berlaku pada kemungkinan kenaikan hingga 10 persen dari alokasi Pertalite 2026 yang sebesar 29,27 juta kiloliter. Angka tersebut masih menjadi acuan alokasi yang telah ditetapkan, bukan dasar untuk menyimpulkan bahwa penambahan sebesar 10 persen pasti akan dilakukan. Besaran akhirnya bergantung pada hasil penghitungan kebutuhan dan keputusan pemerintah setelah proses tersebut selesai.
Laode menjelaskan bahwa pekerjaan yang sedang berjalan saat itu lebih dahulu mencakup tambahan kuota solar. Dengan demikian, proses penambahan untuk solar tidak serta-merta berarti keputusan mengenai Pertalite sudah dibuat atau dapat langsung diumumkan. Kedua jenis BBM tersebut memiliki penghitungan kuota masing-masing, sehingga perkembangan pada satu jenis bahan bakar tidak dapat dianggap sebagai kepastian bagi jenis lainnya.
Pemerintah masih menelaah kebutuhan Pertalite sebelum menentukan langkah selanjutnya. Penghitungan ini penting untuk memastikan alokasi sesuai dengan kebutuhan konsumsi, sekaligus menjadi dasar bagi kebijakan kuota. Sampai proses tersebut menghasilkan keputusan, kemungkinan tambahan kuota—termasuk jika jumlahnya mendekati atau mencapai 10 persen—tetap belum dapat dipastikan. Karena itu, angka tambahan Pertalite masih dalam penghitungan dan belum ditetapkan secara resmi. Informasi mengenai alokasi baru perlu menunggu hasil kajian serta pengumuman dari pihak berwenang, bukan hanya mengacu pada perkiraan persentase atau besaran alokasi tahun 2026.
Kenaikan konsumsi Pertalite belakangan ini dikaitkan dengan perubahan pilihan bahan bakar di kalangan masyarakat. Sebagian pengguna yang sebelumnya membeli BBM non-subsidi mulai beralih ke jenis bersubsidi tersebut, terutama ketika harga produk non-subsidi meningkat. Perubahan itu turut mencakup konsumen yang sebelumnya menggunakan bahan bakar beroktan 92, seperti Pertamax. Peralihan pilihan ini menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan pemerintah dalam menilai kebutuhan pasokan Pertalite dan kemungkinan penyesuaian kuota.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa perkembangan konsumsi domestik berlangsung di tengah gejolak pasar minyak dunia. Ketegangan Amerika Serikat dan Iran, yang memicu penutupan Selat Hormuz, berdampak pada kenaikan harga minyak internasional. Situasi tersebut dapat mendorong sebagian masyarakat memilih Pertalite sebagai alternatif yang lebih terjangkau dibandingkan BBM non-subsidi. Dengan demikian, kenaikan permintaan tidak hanya berkaitan dengan pola penggunaan sehari-hari, tetapi juga dipengaruhi perubahan kondisi energi global dan dampaknya terhadap harga bahan bakar.
Pada Jumat, 23 Oktober 2026, Bahlil menyampaikan bahwa penyesuaian kuota masih dikaji. Pemerintah perlu memastikan pasokan tetap terjaga apabila permintaan terus meningkat, sekaligus menghitung konsekuensi kebijakan terhadap anggaran. Kajian tersebut juga mencakup penghitungan ulang kebutuhan penyaluran agar distribusi dapat mengikuti perkembangan konsumsi. Pemerintah belum menetapkan besaran tambahan kuota sebelum seluruh perhitungan diselesaikan. Pertimbangan itu diperlukan karena Pertalite merupakan BBM bersubsidi, sehingga perubahan volume yang disalurkan berhubungan dengan kebutuhan pembiayaan negara dan pengawasan distribusi. Evaluasi atas peralihan pengguna dari BBM non-subsidi akan membantu pemerintah memperkirakan permintaan secara lebih tepat. Pada saat yang sama, ketersediaan di lapangan perlu dijaga agar konsumen yang bergantung pada Pertalite tetap memperoleh pasokan. Keputusan akhir, menurut keterangan tersebut, akan mempertimbangkan keseimbangan kebutuhan masyarakat, kemampuan anggaran, dan kelancaran penyaluran di berbagai daerah.Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat kenaikan konsumsi Pertalite yang mulai terlihat signifikan sejak pertengahan tahun. Perubahan tersebut menjadi perhatian pemerintah karena peningkatan permintaan dapat memengaruhi perhitungan kuota bahan bakar minyak bersubsidi. Data distribusi harian digunakan sebagai salah satu dasar untuk menilai apakah alokasi yang tersedia masih memadai atau perlu ditambah.
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, menyebut rata-rata distribusi Pertalite sebelumnya berada di angka 75.795 kiloliter per hari. Namun, permintaan melonjak tajam setelah harga Pertamax naik pada 10 Juni 2026, dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Perbedaan harga tersebut dinilai turut mendorong sebagian konsumen beralih ke Pertalite, sehingga penyaluran harian perlu dipantau lebih cermat.
Kenaikan konsumsi tidak serta-merta menjadi dasar untuk menetapkan tambahan kuota. BPH Migas bersama pemerintah perlu mencermati perkembangan penyaluran secara berkala, termasuk membandingkan realisasi terbaru dengan proyeksi kebutuhan hingga penghujung tahun. Evaluasi juga perlu mempertimbangkan pola permintaan di berbagai wilayah, agar perkiraan tambahan tidak hanya didasarkan pada lonjakan sesaat dan tetap mencerminkan kebutuhan masyarakat.
Perhitungan tersebut berkaitan erat dengan ketersediaan anggaran, mengingat tambahan penyaluran Pertalite membawa konsekuensi pembiayaan. Di sisi lain, kuota yang telah ditetapkan perlu dijaga agar pasokan tetap aman dan tidak habis sebelum periode berjalan berakhir. Pemerintah menargetkan evaluasi kebutuhan tambahan difinalisasi pada akhir Oktober. Hasil kajian diharapkan memberi gambaran yang lebih jelas mengenai besaran alokasi yang diperlukan, kemampuan anggaran untuk mendukungnya, serta langkah yang dapat memastikan keamanan kuota Pertalite hingga akhir tahun.
Baca juga: TNI Bersama Pemerintah Perkuat Penanggulangan Karhutla | Minat Produk USD Meningkat, Proteksi di Era Global Makin Dibutuhkan | Ketika tubuh terasa lebih nyaman, kepercayaan diri pun dapat meningkat
