Lima Fondasi yang Menopang Ketahanan Kesehatan Indonesia

oleh -41 Dilihat
oleh
Lima Fondasi yang Menopang Ketahanan Kesehatan Indonesia

Jakarta | Ketahanan kesehatan nasional sering dikaitkan dengan jumlah rumah sakit, puskesmas, tenaga medis, atau kecanggihan peralatan. Semua unsur tersebut penting, tetapi penambahannya saja tidak otomatis membuat layanan lebih tangguh. Fasilitas baru dapat kurang bermanfaat apabila kekurangan tenaga terlatih, pasokan obat tidak lancar, pembiayaan tidak memadai, atau tata kelola layanan belum siap. Demikian pula, teknologi digital tidak akan banyak membantu jika jaringan internet tidak tersedia, data tidak terintegrasi, dan petugas belum memperoleh pelatihan yang sesuai. Ketahanan terbentuk ketika berbagai kapasitas dapat berfungsi bersama, termasuk dalam situasi darurat maupun ketika kebutuhan masyarakat berubah.

Karena itu, kesehatan perlu dipandang sebagai sebuah sistem yang saling terhubung, bukan kumpulan proyek yang berdiri sendiri. Kebijakan di tingkat pusat berpengaruh terhadap kesiapan daerah, sementara kondisi geografis, sosial, dan ekonomi menentukan bagaimana layanan dapat dijangkau. Gangguan pada satu mata rantai dapat merambat ke bagian lain. Keterlambatan pengadaan, misalnya, bisa menghambat pelayanan, menambah beban tenaga kesehatan, dan mengurangi kepercayaan masyarakat. Sebaliknya, koordinasi yang baik memungkinkan sumber daya dialihkan sesuai kebutuhan dan informasi penting digunakan secara cepat. Perencanaan yang menyeluruh membantu mengenali ketergantungan tersebut sebelum krisis terjadi.

Kerangka 5M menawarkan cara sederhana untuk meninjau kebutuhan secara terpadu: Man (manusia), Money (pembiayaan), Materials (bahan dan perlengkapan), Machines (mesin serta teknologi), dan Methods (metode atau tata kerja). Kelima unsur ini perlu tersedia dalam komposisi yang tepat, dikelola secara konsisten, dan disesuaikan dengan konteks setempat. Tenaga kesehatan, misalnya, memerlukan anggaran, obat dan alat, dukungan teknologi, serta prosedur yang jelas agar dapat memberikan layanan bermutu. Kerangka ini bukan daftar pengadaan semata, melainkan alat untuk melihat hubungan antarkebutuhan dan menemukan celah dalam sistem. Dengan menilai seluruh unsur secara bersamaan, pemerintah dan pemangku kepentingan dapat menyusun prioritas yang lebih realistis. Pendekatan tersebut juga mendorong evaluasi berkala, sehingga investasi kesehatan tidak hanya menambah kapasitas di atas kertas, tetapi memperkuat kemampuan layanan untuk bertahan, beradaptasi, dan menjangkau masyarakat secara berkelanjutan.

Kerangka 5M menjelaskan lima unsur yang mendukung penyelenggaraan layanan dan ketahanan kesehatan, yaitu man, money, material, machine, dan methods. Kerangka ini membantu melihat kebutuhan secara menyeluruh, bukan sebagai daftar komponen yang terpisah. Setiap unsur memiliki fungsi tersendiri, tetapi kontribusinya bergantung pada keberadaan dan kesiapan unsur lainnya. Karena itu, pemahaman terhadap 5M dapat menjadi dasar untuk menilai bagaimana berbagai sumber daya dan proses saling menunjang dalam suatu sistem kesehatan. Ketahanan tidak hanya ditentukan oleh satu unsur yang tersedia, melainkan juga oleh kemampuan menghubungkan seluruh unsur agar bekerja secara selaras, terarah, dan berkelanjutan.

Man merujuk pada sumber daya manusia yang menjalankan, mengelola, dan mendukung pekerjaan di bidang kesehatan. Kemampuan, pengetahuan, keterampilan, serta kesiapan mereka memengaruhi mutu pelaksanaan tugas dan koordinasi. Money berarti pembiayaan yang memungkinkan kegiatan direncanakan dan dijalankan. Ketersediaan serta pengelolaan dana mendukung pemenuhan kebutuhan dan keberlangsungan layanan. Material mencakup bahan dan perlengkapan yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan. Mutu, kecukupan, dan pengelolaan material turut menentukan apakah proses dapat berjalan sesuai kebutuhan. Ketiga unsur tersebut saling terkait: tenaga manusia memerlukan dukungan pembiayaan dan material, sementara pembiayaan perlu diarahkan secara tepat untuk menunjang kebutuhan kerja.

Machine mencakup teknologi dan peralatan yang membantu pelaksanaan maupun pengelolaan pekerjaan. Fungsinya berkaitan dengan dukungan terhadap proses, kapasitas, dan ketepatan kerja; manfaatnya bergantung pada kesiapan sumber daya manusia, pembiayaan, serta pemeliharaan dan ketersediaan material pendukung. Methods adalah metode kerja, termasuk tata cara dan pengaturan proses yang menjadi pedoman pelaksanaan kegiatan. Metode yang jelas membantu mengarahkan penggunaan sumber daya dan menjaga konsistensi pekerjaan. Namun, metode tidak dapat berjalan sendiri tanpa manusia yang menerapkannya, dana yang mendukung, bahan yang dibutuhkan, serta teknologi dan peralatan yang sesuai. Dengan demikian, kelima unsur membentuk satu kesatuan. Kelemahan atau perubahan pada satu unsur dapat memengaruhi unsur lain, sehingga pengelolaannya perlu dilakukan secara terkoordinasi dan saling melengkapi.

Ketua Pertasindo, Mayjen (Purn) dr. dr. Dian Andriani Ratna Dewi, menekankan bahwa lima fondasi ketahanan kesehatan perlu diperkuat secara bersama. Menurut pandangannya, mengabaikan satu unsur saja dapat menggagalkan upaya membangun ketahanan kesehatan yang memadai bagi masyarakat. Pesan ini menunjukkan bahwa kekuatan sistem tidak cukup dinilai dari kemajuan pada satu bidang, sementara unsur lain tertinggal. Setiap fondasi memiliki peran yang saling berkaitan, sehingga kelemahan pada satu bagian dapat menghambat hasil dari bagian lainnya.

Salah satu kebutuhan penting adalah sumber daya manusia yang berkualitas. Tenaga kesehatan dan pihak pendukungnya memerlukan kompetensi yang sesuai, kesiapan untuk menjalankan tugas, serta dukungan agar dapat bekerja secara efektif. Di samping itu, pembiayaan perlu tersedia secara berkelanjutan. Ketersediaan dana yang terencana membantu menjaga layanan dan berbagai kegiatan kesehatan agar tidak bergantung pada dukungan sesaat. Aspek lain yang tak kalah penting ialah metode kerja yang terstruktur. Kejelasan proses, pembagian peran, dan koordinasi dapat membantu upaya kesehatan dijalankan secara konsisten, bukan hanya ketika muncul keadaan mendesak.

Penguatan kelima fondasi karena itu perlu dilakukan dengan memperhatikan keselarasan di semuanya. Penataan pembiayaan, misalnya, perlu berjalan seiring dengan kesiapan SDM dan metode kerja, agar sumber daya dapat digunakan sesuai kebutuhan. Demikian pula, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan akan lebih berarti apabila didukung oleh tata kerja yang memungkinkan kemampuan tersebut diterapkan. Pandangan Dian tidak menempatkan satu unsur sebagai jawaban tunggal, melainkan menegaskan pentingnya menjaga keterhubungan antarfondasi. Dengan memperkuatnya secara seimbang dan terarah, berbagai upaya dapat saling mendukung dalam membangun ketahanan kesehatan. Pendekatan ini juga mendorong pemangku kepentingan untuk menilai kebutuhan secara menyeluruh, mengenali bagian yang masih lemah, dan menyusun langkah perbaikan yang saling melengkapi. Tujuannya bukan sekadar memenuhi kebutuhan pada satu titik, tetapi memastikan unsur-unsur yang ada dapat bekerja bersama demi ketahanan kesehatan masyarakat yang memadai, sebagaimana ditekankan narasumber.

The 3rd Symposium of Indonesian Health Resilience Association (Siera) direncanakan berlangsung pada 21–23 Oktober 2026 di Jakarta, diselenggarakan oleh Pertasindo. Pertemuan ini mengangkat tema yang berfokus pada kerangka 5M sebagai landasan untuk membahas ketahanan kesehatan Indonesia. Melalui tema tersebut, forum diharapkan dapat mendorong pembahasan lintas bidang mengenai kebutuhan, kapasitas, dan langkah penguatan sistem kesehatan, sekaligus menyediakan ruang bagi para pemangku kepentingan untuk menyampaikan perspektif dan pengalaman mereka.

Ketua Panitia, Kolonel (Purn) dr. dr. Agus Sutarman, menjelaskan bahwa Siera dirancang untuk memperluas kolaborasi, membangun jejaring, serta memperkuat pertukaran pengetahuan. Tujuan itu penting karena tantangan kesehatan tidak dapat ditangani oleh satu kelompok atau lembaga saja. Pertemuan pembuat kebijakan, penyedia layanan, kalangan ilmiah, dan komunitas kesehatan dapat membantu mempertemukan kebutuhan di lapangan dengan riset serta arah kebijakan. Dialog semacam ini juga membuka peluang bagi peserta untuk berbagi praktik yang relevan dan menjajaki kerja sama setelah simposium berakhir.

Peserta yang diperkirakan hadir mencakup regulator, praktisi kesehatan, akademisi, peneliti, serta komunitas medis militer. Keragaman latar belakang tersebut diharapkan memperkaya diskusi, baik mengenai kebijakan maupun pelaksanaan layanan dan kesiapan menghadapi situasi darurat. Keterlibatan komunitas medis militer juga menghadirkan pengalaman khusus tentang dukungan kesehatan dalam kondisi yang menuntut koordinasi dan respons cepat. Dengan menghimpun berbagai unsur itu, Siera dapat menjadi titik temu untuk memahami isu ketahanan kesehatan dari beragam sudut pandang.

Panitia juga menjadwalkan kehadiran sejumlah.

Baca juga: Tak Hanya Logistik, Hercules TNI AU Bawa Dukungan Kesehatan dan Peralatan Untuk Menopang Perjuangan Pasukan Karhutla Kalsel | Tingkatkan Literasi Kesehatan, Koramil Trucuk Bojonegoro dan Puskesmas Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis | Uji Hasil Penelitian Disertasi Doktor Ilmu Hukum, Bamsoet Tegaskan Kepastian Hukum Harus Jadi Fondasi Utama Pelaksanaan Program Strategis Nasional