Kabupaten Aceh Selatan | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 2.236 kejadian bencana di Indonesia hingga Kamis, 29 Oktober 2026. Angka kumulatif tersebut disampaikan Berton SP Panjaitan, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, dalam konferensi pers daring. Data itu menggambarkan jumlah kejadian yang telah masuk dalam pencatatan BNPB sampai tanggal yang disebutkan, bukan angka untuk satu hari saja. Dengan demikian, cakupan waktunya merujuk pada keseluruhan kejadian yang telah tercatat hingga batas waktu tersebut. Informasi ini menjadi gambaran umum mengenai akumulasi laporan kebencanaan yang dihimpun lembaga itu selama periode berjalan sampai 29 Oktober 2026.
Dalam menyampaikan angka tersebut, BNPB menempatkan 2.236 sebagai jumlah kejadian yang tercatat secara nasional. Angka itu perlu dibaca sesuai keterangan waktu dan sumbernya: data dihimpun dalam pencatatan BNPB dan disampaikan oleh Berton dalam forum konferensi pers daring. Tanpa rincian tambahan dalam keterangan yang tersedia, jumlah tersebut tidak menjelaskan pembagian berdasarkan jenis kejadian, lokasi, atau tingkat dampak. Karena itu, angka kumulatif ini sebaiknya dipahami secara terbatas sebagai hitungan kejadian yang telah dicatat sampai Kamis, 29 Oktober, bukan sebagai uraian lengkap mengenai kondisi setiap wilayah atau akibat yang ditimbulkan.
Penyebutan tanggal batas penting agar pembaca tidak menafsirkan angka tersebut sebagai data yang terus diperbarui setelah konferensi pers berlangsung. Laporan ini merujuk pada keadaan pencatatan hingga 29 Oktober 2026, sebagaimana disampaikan oleh pejabat BNPB tersebut. Jika ada pembaruan atau penambahan laporan pada waktu berikutnya, hal itu berada di luar cakupan angka yang disebutkan di sini. Dalam konteks laporan kebencanaan, perbedaan waktu pencatatan dapat memengaruhi total kumulatif, sehingga penanda tanggal menjadi bagian penting dari informasi. Berdasarkan keterangan yang tersedia, fakta utama yang dapat ditegaskan adalah BNPB mencatat total 2.236 kejadian bencana di Indonesia sampai tanggal tersebut.
Dalam laporan kebencanaan hingga 29 Oktober, BNPB mencatat sejumlah laporan kejadian yang diterima dalam lima hari sebelum keterangan disampaikan. Peristiwa yang disebutkan meliputi banjir di beberapa kabupaten serta tanah longsor di satu wilayah di Jawa Barat. Informasi tersebut memberikan gambaran mengenai jenis kejadian dan lokasi yang dilaporkan kepada BNPB dalam periode itu. Rincian yang tersedia dalam laporan ini terbatas pada kejadian dan daerahnya, sehingga tidak menjadi dasar untuk menyebutkan dampak atau perkembangan penanganan. Penyebutan lokasi secara jelas membantu pembaca mengetahui wilayah yang masuk dalam catatan terbaru, tanpa menambahkan keterangan di luar bahan yang tersedia. Setiap kejadian perlu dipahami sesuai batas informasi yang dicantumkan.
Salah satu laporan banjir berasal dari Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Di Provinsi Sumatera Utara, BNPB juga menerima laporan banjir di Kabupaten Langkat dan Kabupaten Mandailing Natal. Dengan demikian, laporan banjir yang disebutkan mencakup tiga kabupaten di dua provinsi. Bahan yang tersedia tidak menguraikan waktu kejadian secara terperinci, titik terdampak, skala genangan, ataupun kondisi warga di masing-masing wilayah. Karena itu, penyebutan banjir di ketiga kabupaten tersebut hanya menggambarkan kejadian yang masuk dalam laporan BNPB pada rentang lima hari sebelum keterangan disampaikan. Tidak ada angka maupun penjelasan lain yang dapat digunakan untuk menggambarkan besaran peristiwa.
Selain banjir, laporan terbaru juga mencakup tanah longsor di Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Kejadian ini dicantumkan bersama laporan banjir dari Aceh Selatan, Langkat, dan Mandailing Natal sebagai bagian dari informasi kebencanaan hingga 29 Oktober. Tidak tersedia keterangan tambahan mengenai lokasi spesifik longsor, waktu kejadian, dampak, korban, kerusakan, atau langkah penanganan. Oleh sebab itu, informasi yang dapat disampaikan pada bagian ini terbatas pada jenis kejadian dan kabupaten tempat laporan diterima. Rangkaian laporan tersebut menunjukkan wilayah yang disebut dalam pembaruan BNPB, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan tingkat keparahan maupun situasi terkini di masing-masing daerah. Pembaruan ini merangkum laporan yang diterima dalam periode yang disebutkan, bukan uraian lengkap tentang setiap kejadian.
BNPB menerima laporan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Laporan tersebut menjadi bagian dari informasi kebencanaan yang dihimpun hingga 29 Oktober. Data yang disampaikan mencakup kejadian karhutla dan luas area terbakar yang tercatat secara kumulatif di sejumlah provinsi.
Berton menyatakan BNPB tidak lagi menyampaikan data karhutla dari enam provinsi prioritas, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Pada hari penyampaian informasi, BNPB tidak menerima laporan kebakaran dari provinsi-provinsi tersebut. Karena itu, data pada hari tersebut disajikan untuk wilayah yang memiliki laporan, tanpa rincian karhutla dari enam provinsi prioritas itu.
Luas karhutla kumulatif yang dilaporkan di sepuluh provinsi lainnya mencapai 462 hektare. Kalimantan Timur mencatat area terbakar terluas, yakni 169 hektare, disusul Sulawesi Tengah dengan 85 hektare. Berikutnya, luas yang tercatat di Sulawesi Tenggara mencapai 56 hektare, sedangkan Sulawesi Selatan mencatat 50 hektare. Di Maluku, area terbakar tercatat seluas 31 hektare, dan di Maluku Utara mencapai 23 hektare.
Rincian lainnya meliputi Nusa Tenggara Timur dengan luas 10 hektare, Gorontalo 4 hektare, Kalimantan Selatan 4 hektare, serta Jawa Timur 2 hektare. Seluruh angka tersebut merupakan bagian dari total kumulatif 462 hektare yang disampaikan BNPB untuk sepuluh provinsi. Laporan di Morowali Utara, Sulawesi Tengah, tercatat dalam cakupan data wilayah, sementara angka luasan menunjukkan rekapitulasi yang disampaikan untuk provinsi-provinsi tersebut. Penyajian ini menggambarkan sebaran area terbakar berdasarkan laporan yang diterima pada periode pelaporan, sekaligus memperlihatkan perbedaan luas antarwilayah. Kalimantan Timur memiliki angka tertinggi dalam daftar, sementara Jawa Timur tercatat dengan luasan terkecil.
BNPB tetap menyiagakan 59 armada untuk mendukung operasi modifikasi cuaca di sejumlah wilayah. Kesiapan tersebut melibatkan berbagai unsur pemerintah dan dunia usaha. Sebanyak 40 unit berasal dari BNPB, 15 unit dari TNI, masing-masing satu unit dari Kementerian Kehutanan dan pemerintah daerah, serta dua unit dari perusahaan atau pihak swasta. Ketersediaan armada ini menjadi bagian dari dukungan untuk menjalankan penerbangan penyemaian sesuai kebutuhan dan kondisi cuaca setempat.
Operasi masih difokuskan terutama di tiga provinsi, yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan. Menurut Berton, total bahan semai berupa dry ice dan natrium klorida (NaCl) yang telah disebarkan mencapai 22.600 kilogram. Penyemaian dilakukan sebagai upaya mendukung pembentukan hujan, terutama ketika terpantau potensi hujan yang besar. Pelaksanaan di setiap wilayah tetap mempertimbangkan perkembangan cuaca, sehingga jumlah sorti maupun keputusan untuk terbang dapat berbeda.
Di Kalimantan Tengah, tim telah menyemaikan 11.700 kilogram bahan semai melalui delapan sorti penerbangan. Sementara itu, di Kalimantan Selatan, penyemaian tidak dilakukan karena wilayah tersebut mengalami hujan lebat. Kondisi hujan menjadi pertimbangan operasional, sehingga penerbangan penyemaian tidak dilaksanakan pada saat itu. Perbedaan kegiatan di kedua provinsi tersebut menunjukkan bahwa operasi disesuaikan dengan keadaan atmosfer dan kebutuhan masing-masing wilayah, bukan dijalankan dengan pola yang sama setiap hari.
Adapun di Sumatera Selatan, operasi dilaksanakan dalam delapan sorti dengan jumlah dry ice dan NaCl lebih dari 10.000 kilogram. Berton menyampaikan bahwa hujan telah turun di sejumlah wilayah. Ia menjelaskan bahwa operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi kondisi tersebut.
Baca juga: Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla | Lanud Sjamsudin Noor Dukung Operasi Modifikasi Cuaca, Perkuat Upaya Penanganan Karhutla Kalimantan | Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari
