Kota Cilegon | Pada Selasa malam, 20 Oktober 2026, Sertu Marinir Rico Sumantri membantu mengevakuasi penumpang KMP Batumandi setelah api terlihat di kapal tersebut. Di penumpang yang dievakuasi terdapat seorang anak perempuan berusia lima tahun. Peristiwa ini berlangsung ketika kapal sedang bersiap untuk bersandar di Dermaga 6 Pelabuhan Merak, setelah menempuh perjalanan dari Lampung menuju Jakarta.
Rico berada di kapal bersama rekan-rekannya dalam perjalanan itu. Saat KMP Batumandi mendekati dermaga, api terlihat di bagian buritan. Titik api berada di dek atas, pada area yang digunakan untuk memuat kendaraan kecil. Situasi tersebut membuat proses kedatangan kapal di pelabuhan berubah menjadi keadaan darurat dan penumpang perlu dibantu untuk keluar dari kapal.
Informasi yang tersedia menyebutkan lokasi munculnya api, yakni buritan kapal di dek atas. Namun, penyebab kebakaran tidak dijelaskan. Karena itu, tidak ada dasar untuk menyimpulkan bagaimana api bermula atau apa yang memicunya. Yang diketahui, kejadian berlangsung ketika kapal hendak bersandar, bukan saat kapal masih menjalani perjalanan dari Lampung.
Dalam keadaan tersebut, Sertu Rico ikut membantu evakuasi penumpang, termasuk anak berusia lima tahun. Peran itu menjadi bagian penting dari respons terhadap kebakaran di kapal, terutama karena penumpang perlu diarahkan menjauh dari area yang terdampak. Rincian mengenai urutan evakuasi, jumlah penumpang yang terlibat, serta kondisi mereka setelah turun dari kapal tidak tercantum dalam informasi peristiwa ini.
Kebakaran di KMP Batumandi dengan demikian terjadi pada momen kapal akan tiba di Dermaga 6 Pelabuhan Merak. Peristiwa itu melibatkan penumpang dari perjalanan Lampung menuju Jakarta dan mendorong dilakukannya evakuasi. Fakta utama yang dapat dipastikan adalah api tampak di buritan, tepatnya di dek atas untuk kendaraan kecil, sementara Rico membantu menyelamatkan penumpang, termasuk seorang anak perempuan berusia lima tahun.
Begitu proses evakuasi di KMP Batumandi berlangsung, Sertu Rico Sumantri segera membantu penumpang yang membutuhkan pertolongan. Dalam situasi tersebut, ia terlebih dahulu memprioritaskan penumpang lanjut usia. Prioritas itu menjadi bagian dari upaya membantu orang-orang yang perlu dievakuasi, sebelum Rico kemudian melihat seorang anak perempuan berusia lima tahun bersama ibunya. Perhatian Rico pun tertuju kepada keduanya, terutama karena sang anak tampak ketakutan dan belum bersedia mengikuti proses evakuasi. Kehadiran anak kecil yang merasa takut menambah tantangan dalam upaya membantu penumpang keluar dari kapal. Rico dan rekan-rekannya kemudian berusaha mendekatinya dengan cara yang dapat membuatnya lebih bersedia menerima bantuan.
Anak perempuan itu berada bersama ibunya yang panik dan menangis. Di tengah keadaan tersebut, anak itu sempat menolak untuk dievakuasi. Penolakan tersebut membuat Rico dan rekan-rekannya perlu membujuknya terlebih dahulu, alih-alih langsung membawanya. Mereka berusaha membuat anak itu bersedia dibantu dengan menjanjikan jajanan. Cara membujuk tersebut menjadi upaya untuk meredakan rasa takutnya dan membuat proses evakuasi dapat dilanjutkan. Keterangan Rico menggambarkan bahwa bantuan kepada anak itu tidak hanya berkaitan dengan tindakan evakuasi, tetapi juga dengan pendekatan yang diperlukan agar ia mau mengikuti pertolongan. Tidak ada rincian tambahan mengenai percakapan atau tindakan lain; inti keterangannya adalah bahwa anak itu takut, sempat menolak, lalu dibujuk bersama oleh Rico dan rekan-rekannya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa proses penyelamatan melibatkan penanganan kebutuhan penumpang yang berbeda-beda. Rico lebih dahulu membantu penumpang lanjut usia, lalu berupaya menolong anak yang masih kecil dan merasa takut. Sementara ibunya panik dan menangis, Rico bersama rekan-rekannya berusaha mendapatkan kesediaan anak itu melalui bujukan dan janji jajanan. Dengan demikian, pertolongan yang diberikan kepada anak perempuan tersebut berlangsung melalui pendekatan yang menyesuaikan keadaannya, tanpa mengabaikan upaya evakuasi. Keterangan ini menempatkan tindakan Rico sebagai bagian dari bantuan kepada penumpang di KMP Batumandi, sekaligus menyoroti tantangan ketika seorang anak menolak untuk dievakuasi. Setelah dibujuk, anak itu bersedia dibantu, sehingga upaya penyelamatan terhadap dirinya dapat dilakukan.
Proses evakuasi dari KMP Batumandi dilakukan dengan cara yang sederhana, tetapi membutuhkan kehati-hatian. Untuk turun dari kapal, Sertu Rico Sumantri menggunakan satu tali. Ia menggendong seorang anak berusia lima tahun saat bergerak turun, sehingga anak tersebut tetap berada dalam perlindungannya selama proses berlangsung. Situasi itu menuntut keduanya menjaga posisi dan keseimbangan, sementara jalur turun hanya mengandalkan tali yang tersedia.
Di bawah kapal, sebuah kapal nelayan telah menunggu untuk membantu mereka turun. Kehadiran kapal tersebut menjadi bagian penting dari proses pemindahan, karena memberikan tempat untuk menerima Rico dan anak yang digendongnya setelah mereka mencapai bagian bawah. Dengan bantuan itu, anak berusia lima tahun tersebut berhasil diselamatkan. Tidak ada keterangan bahwa anak mengalami kondisi tertentu setelah evakuasi, sehingga informasi yang dapat dipastikan adalah ia berhasil dibawa turun dari kapal.
Tim SAR juga menyampaikan bahwa tidak ada penumpang yang meninggal dalam insiden tersebut. Sebanyak 420 penumpang dan 40 awak kapal dievakuasi dengan selamat. Angka tersebut menunjukkan cakupan operasi penyelamatan yang melibatkan seluruh penumpang dan awak, termasuk anak yang dibawa turun oleh Rico. Keterangan resmi mengenai keselamatan para penumpang dan awak memberikan gambaran hasil evakuasi secara keseluruhan, sementara tindakan menggunakan tali menjadi salah satu bagian yang terekam dalam proses penyelamatan.
Aksi Rico saat menggendong anak dan turun menggunakan tali terekam kamera. Rekaman itu kemudian beredar dan menjadi perbincangan di media sosial. Video tersebut memperlihatkan tahapan evakuasi yang dilakukan, termasuk keberadaan kapal nelayan yang menunggu di bawah. Meski rekaman memberi gambaran visual mengenai momen tersebut, informasi mengenai jumlah korban dan hasil evakuasi tetap merujuk pada keterangan tim SAR. Dengan demikian, kejadian ini tercatat sebagai evakuasi yang berhasil, dengan seluruh penumpang dan awak kapal selamat serta anak berusia lima tahun berhasil dibawa turun dari KMP Batumandi.
Atas keberaniannya menyelamatkan seorang anak berusia lima tahun dalam evakuasi di KMP Batumandi, Sertu Rico Sumantri menerima penghargaan dari Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL). Penghargaan tersebut diberikan pada momen peringatan Sumpah Pemuda ke-92, dalam sebuah acara yang berlangsung di atas kapal induk Sriwijaya-100. Pemberian apresiasi itu menjadi pengakuan atas tindakan Rico ketika membantu penumpang di tengah situasi darurat di kapal feri tersebut.
Rico menyampaikan rasa bangga setelah menerima penghargaan itu. Ia juga menilai tindakannya sejalan dengan arahan KSAL agar TNI Angkatan Laut hadir dan memberikan manfaat bagi rakyat Indonesia. Arahan tersebut, menurut Rico, menjadi pedoman bagi prajurit dalam menjalankan tugas, termasuk saat menghadapi keadaan yang menuntut tindakan cepat untuk membantu masyarakat. Penghargaan itu sekaligus menyoroti peran personel TNI AL dalam upaya kemanusiaan di luar tugas rutin mereka. Dalam peristiwa evakuasi tersebut, perhatian tertuju pada keselamatan penumpang, khususnya anak yang berhasil diselamatkan oleh Rico.
Perkembangan berikutnya menyangkut kondisi KMP Batumandi. Kapal itu tenggelam pada Rabu, 21 Oktober 2026, di perairan Merak, Kota Cilegon, Banten. Meski sebagian besar badan kapal berada di bawah permukaan, sebagian bagian kapal milik PT ASDP Indonesia Ferry masih terlihat dari permukaan laut. Keadaan tersebut menjadi perhatian petugas yang mengatur lalu lintas pelayaran di sekitar lokasi. Petugas Vessel Traffic Service (VTS) Merak memperingatkan kapal-kapal yang melintas agar berhati-hati ketika memasuki alur penyeberangan. Peringatan itu ditujukan untuk meningkatkan kewaspadaan pelaut terhadap keberadaan bangkai kapal di kawasan tersebut.
Baca juga: Aksi Kemanusiaan Di Laut Lepas, KRI WSH-991 Evakuasi 11 Warga Papua Nugini | Akses Darat Terhambat, Pangkoops TNI Habema Perintahkan Evakuasi Udara Ibu Sinta dari Mbua | TNI Perkuat Pemantauan Aktivitas Gunung Anak Krakatau dan Pencarian Lima Jurnalis di Selat Sunda
