Laba Barito Pacific Turun Tajam meski Pendapatan Naik hingga September 2026

oleh -51 Dilihat
oleh
Laba Barito Pacific Turun Tajam meski Pendapatan Naik hingga September 2026

Jakarta | PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) mencatat laba bersih setelah pajak yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US9 juta hingga kuartal III/2026. Dengan menggunakan kurs Rp18.147 per dolar AS, nilai tersebut setara sekitar Rp4,15 triliun. Angka ini menunjukkan penurunan tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ketika laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai US2 juta.

Secara tahunan, laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk menyusut 60,65%. Perbandingan tersebut memakai basis sembilan bulan yang sama, sehingga mencerminkan perubahan kinerja BRPT sejak Januari hingga September 2026 dibandingkan Januari hingga September 2025. Meski nilainya tetap mencapai ratusan juta dolar AS, besarnya penurunan menjadi sorotan dalam laporan keuangan terbaru perseroan.

Angka laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk perlu dibedakan dari laba bersih konsolidasian. Hingga kuartal III/2026, BRPT membukukan laba bersih konsolidasian sebesar US$616 juta, atau sekitar Rp11,18 triliun dengan kurs Rp18.148 per dolar AS. Nilai konsolidasian ini juga turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, saat perusahaan mencatat US$1,82 miliar.

Penurunan laba bersih konsolidasian secara tahunan mencapai 66,14%. Dengan demikian, kedua ukuran laba sama-sama memperlihatkan kontraksi, tetapi besarannya berbeda: laba konsolidasian tercatat lebih tinggi daripada laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Perbedaan ini penting saat membaca kinerja, karena kedua angka tersebut memiliki cakupan yang tidak sama. Angka konsolidasian menggambarkan hasil pada tingkat kelompok usaha, sedangkan angka atribusi menunjukkan bagian laba yang diperuntukkan bagi pemilik entitas induk. Oleh karena itu, penyebutan angka secara tepat membantu pembaca memahami skala laba dan penurunannya tanpa mencampuradukkan dua ukuran keuangan tersebut. Secara keseluruhan, data sampai September memperlihatkan bahwa kenaikan pendapatan, sebagaimana tercermin dalam judul laporan, tidak diikuti oleh peningkatan laba pada kedua kategori itu.

Hingga akhir September 2026, Barito Pacific mencatat kenaikan pendapatan bersih konsolidasian sebesar 56,3% secara tahunan (year-on-year/yoy), menjadi US$8,7 miliar. Angka tersebut menunjukkan bahwa pendapatan yang dibukukan sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan pendapatan ini berlangsung ketika laba perusahaan justru mengalami penurunan tajam, sehingga arah perubahan kedua indikator keuangan itu berbeda. Pendapatan bersih konsolidasian dan laba merupakan ukuran yang berbeda dalam laporan keuangan. Karena itu, pertumbuhan pendapatan tidak serta-merta berarti laba turut meningkat pada periode pelaporan yang sama. Dalam data hingga September ini, kenaikan pemasukan dan penyusutan laba terjadi bersamaan, tanpa mengubah fakta bahwa masing-masing indikator menunjukkan perkembangan yang berlawanan.

Sumber menyebut peningkatan pendapatan bersih terutama berasal dari kenaikan pendapatan bersih entitas anak, Chandra Asri Group. Entitas tersebut bergerak di sektor petrokimia dan menjadi bagian penting dalam pencatatan kinerja konsolidasian Barito Pacific. Kontribusi kenaikan dari Chandra Asri Group turut mengangkat total pendapatan bersih kelompok perusahaan hingga mencapai US$8,7 miliar. Informasi yang tersedia menekankan pertumbuhan pendapatan entitas anak tersebut sebagai pendorong utama kenaikan pendapatan konsolidasian secara tahunan. Dengan demikian, angka pertumbuhan 56,3% mencerminkan peningkatan pendapatan pada tingkat grup, dengan kenaikan Chandra Asri Group disebut sebagai sumber utama. Uraian ini menjelaskan asal pertumbuhan pendapatan yang dilaporkan, tanpa menyamakan kenaikan pendapatan dengan perubahan pada laba.

Perbedaan arah kedua angka tersebut menjadi bagian penting dalam membaca hasil keuangan Barito Pacific hingga akhir September 2026. Pendapatan bersih konsolidasian meningkat 56,3% yoy, sementara laba tercatat turun tajam. Kedua perkembangan itu dapat disampaikan secara bersamaan sebagai gambaran bahwa peningkatan skala pendapatan tidak identik dengan kenaikan laba. Data yang disebutkan menguraikan besarnya pertumbuhan pendapatan dan peran Chandra Asri Group, tetapi tidak merinci faktor tambahan yang menjelaskan penurunan laba. Oleh sebab itu, pembacaan yang cermat perlu membatasi kesimpulan pada informasi tersebut: pendapatan grup naik, terutama ditopang kenaikan pendapatan bersih Chandra Asri Group, sedangkan laba bergerak turun. Pemisahan dua indikator ini membantu menjaga pemahaman tetap sesuai dengan angka dan keterangan yang tersedia untuk periode sembilan bulan tersebut.

Pendapatan bersih sektor energi Barito Pacific (BRPT) meningkat 9,63% secara tahunan menjadi US$501 juta selama sembilan bulan hingga September 2026. Kenaikan ini terjadi ketika laba perseroan turun tajam, sehingga kinerja pendapatan segmen energi menjadi salah satu penopang operasional yang perlu dicermati. Dalam pelaporan segmen, perusahaan juga menyebut pertumbuhan sekitar 9,6% secara tahunan pada pendapatan energi terbarukan, yang mencapai US$501 juta untuk periode sembilan bulan. Angka tersebut menunjukkan kontribusi segmen yang lebih kuat dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Namun, perkembangan pendapatan tidak serta-merta menggambarkan keseluruhan profitabilitas, karena biaya, margin, serta kondisi pada lini bisnis lain turut memengaruhi hasil akhir BRPT.

Pertumbuhan di sektor energi terbarukan didukung tambahan pembangkitan panas bumi setelah proyek retrofit, sementara output pembangkit angin tercatat stabil. Tambahan produksi panas bumi memperluas pasokan listrik dari aset yang telah beroperasi, sedangkan kestabilan pembangkit angin membantu menjaga kontribusi produksi selama periode pelaporan. Kedua faktor tersebut menjadi penjelas utama kenaikan pendapatan yang disebut perusahaan. Meski demikian, informasi mengenai pendapatan perlu dibaca bersama dinamika biaya dan efisiensi, sebab peningkatan volume atau kontribusi produksi belum tentu menghasilkan kenaikan laba dalam proporsi yang sama. Di sisi lain, pendapatan sektor lainnya turun 20% secara tahunan menjadi US$4 juta. Penurunan tersebut menandai kontribusi yang lebih kecil dari lini di luar segmen utama.

Pada periode yang sama, EBITDA BRPT mencapai US$1,40 miliar. Perseroan mengaitkan dukungan terhadap EBITDA dengan margin pengolahan kilang yang solid, integrasi segmen ritel bahan bakar, serta kelanjutan efisiensi biaya di segmen energi terbarukan. Margin kilang yang terjaga berperan mendukung kinerja pengolahan, sementara integrasi ritel bahan bakar dapat memperkuat hubungan antarlini usaha. Upaya efisiensi biaya juga membantu menopang hasil segmen energi terbarukan di tengah perubahan kondisi operasional. Capaian EBITDA tersebut memberikan gambaran kinerja operasional sebelum memperhitungkan sejumlah pos nonoperasional dan beban lain. Karena itu, kenaikan pendapatan energi dan EBITDA perlu dipandang terpisah dari laba bersih, yang tetap dipengaruhi berbagai komponen biaya serta kinerja seluruh portofolio usaha perseroan.

Presiden Direktur Barito Pacific, Agus Pangestu, menyampaikan bahwa kondisi bisnis global pada kuartal III/2026 masih diwarnai berbagai tantangan. Tekanan tersebut terutama terasa di sektor energi, yang menghadapi perubahan kondisi pasar dan ketidakpastian dalam kegiatan usaha. Situasi geopolitik yang belum menentu turut memengaruhi arah perdagangan dan pasokan, sementara volatilitas pasar membuat pergerakan harga sulit diprediksi. Kombinasi faktor-faktor ini menjadi latar penting untuk memahami kinerja perseroan selama periode tersebut.

Agus juga mengingatkan bahwa perbandingan kinerja dengan kuartal III/2025 perlu mempertimbangkan tingginya basis pembanding pada tahun sebelumnya. Pada periode itu, Barito Pacific membukukan keuntungan bargain purchase yang berasal dari akuisisi Aster. Keuntungan tersebut merupakan pos yang tidak berulang, sehingga turut memperbesar angka laba pada periode pembanding. Karena itu, penurunan laba yang terlihat secara tahunan tidak sepenuhnya mencerminkan perubahan pada kegiatan operasional berkelanjutan perseroan.

Menurut Agus, apabila keuntungan nonberulang dari transaksi tersebut dikecualikan, Barito Pacific tetap mencatat kinerja operasional dan keuangan yang kuat.