Krisis Air Bersih Pulau Tonduk Berlangsung Bertahun-tahun, Pemkab Sumenep Siapkan Bantuan

oleh -31 Dilihat
oleh
Krisis Air Bersih Pulau Tonduk Berlangsung Bertahun-tahun, Pemkab Sumenep Siapkan Bantuan

Sumenep | Warga Pulau Tonduk, Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, telah menghadapi kesulitan memperoleh air bersih selama bertahun-tahun. Persoalan tersebut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat karena sumber air yang tersedia di Pulau Tonduk tidak layak dikonsumsi. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, warga harus mendatangkan air dari Pulau Raas.

Pasokan dari pulau tetangga itu digunakan untuk berbagai keperluan harian, termasuk kebutuhan minum dan aktivitas rumah tangga. Ketergantungan tersebut membuat masyarakat Pulau Tonduk tidak dapat sepenuhnya mengandalkan sumber air di wilayah tempat mereka tinggal. Air yang dibeli dari Raas menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan dasar ketika sumber setempat tidak dapat digunakan.

Camat Raas Achmad Fikri mengatakan, kondisi kekurangan air bersih di Pulau Tonduk berlangsung sepanjang tahun. Dengan demikian, persoalan tersebut tidak hanya muncul pada musim kemarau, ketika ketersediaan air biasanya menjadi lebih terbatas. Kesulitan mendapatkan air tetap dirasakan warga dalam berbagai kondisi musim dan telah berlangsung dalam waktu yang panjang.

Untuk memperoleh pasokan, warga perlu membeli air dengan harga Rp10.000 hingga Rp12.000 per jeriken berkapasitas 25 liter. Biaya itu harus dikeluarkan setiap kali masyarakat membutuhkan tambahan air dari Pulau Raas. Bagi warga yang memerlukan air secara rutin, pembelian tersebut menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan sehari-hari selama sumber air di Pulau Tonduk belum layak dikonsumsi.

Keterangan mengenai kondisi ini menunjukkan bahwa akses terhadap air bersih masih menjadi persoalan mendasar bagi masyarakat Pulau Tonduk. Warga tidak hanya menghadapi keterbatasan sumber air, tetapi juga harus bergantung pada pasokan dari wilayah lain untuk mencukupi kebutuhan harian. Situasi tersebut berlangsung bertahun-tahun dan tetap dirasakan sepanjang tahun, termasuk di luar musim kemarau.

Pemerintah Kabupaten Sumenep menyiapkan langkah bantuan untuk meringankan krisis air bersih yang dialami warga Pulau Tonduk. Salah satu upaya yang ditempuh ialah meminta Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) turut membantu penyediaan serta pemasokan air bersih ke wilayah tersebut. Permintaan itu disampaikan Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo di Sumenep, Sabtu, 10 Oktober 2026.

Fauzi menyampaikan bahwa kebutuhan air bersih warga Pulau Tonduk harus segera mendapat perhatian karena persoalan tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun. Menurut dia, pemerintah daerah membutuhkan dukungan berbagai pihak agar pasokan air dapat menjangkau masyarakat secara lebih teratur. Karena itu, Baznas diminta mengambil bagian melalui bantuan yang dapat digunakan untuk mendukung distribusi air bagi warga.

Selain mengupayakan bantuan pasokan, Pemkab Sumenep juga merencanakan dukungan terhadap biaya pembelian air yang selama ini ditanggung masyarakat. Warga Pulau Tonduk masih membeli air dari Pulau Raas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut membuat mereka harus mengeluarkan biaya tambahan, terutama karena distribusi air antarpulau memerlukan waktu, sarana angkutan, dan ongkos pengiriman.

Fauzi menjelaskan, pemerintah kabupaten akan mengkaji skema bantuan biaya agar beban pengeluaran warga dapat berkurang. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat tetap memperoleh air bersih tanpa harus menanggung seluruh biaya pembelian dan pengangkutan secara mandiri. Pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan serta kemampuan anggaran dan mekanisme bantuan yang tersedia.

Permintaan kepada Baznas dan rencana dukungan biaya itu menjadi bagian dari respons Pemkab Sumenep terhadap kebutuhan mendesak warga Pulau Tonduk. Pemerintah daerah berupaya menggabungkan bantuan distribusi dengan pengurangan beban pembelian, sehingga penanganan tidak hanya berfokus pada penyediaan air, tetapi juga pada kemampuan masyarakat untuk mendapatkannya. Koordinasi dengan pihak terkait diharapkan dapat mempercepat realisasi bantuan bagi warga yang terdampak.

Bupati Sumenep meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) turun langsung ke Pulau Tonduk untuk menangani kebutuhan air bersih warga dalam jangka pendek. Permintaan tersebut mencakup pengiriman bantuan berupa jeriken dan tandon yang dapat digunakan untuk menampung serta menyalurkan air kepada masyarakat. Langkah ini diarahkan untuk membantu pemenuhan kebutuhan sehari-hari selama persoalan ketersediaan air bersih di pulau tersebut masih berlangsung.

Dengan membawa jeriken, BPBD dapat mendukung proses distribusi air kepada warga yang memerlukan pasokan untuk keperluan dasar. Sementara itu, tandon diperlukan sebagai tempat penampungan agar air yang dikirim dapat dikelola dan digunakan secara lebih teratur di lokasi. Bantuan langsung ini merupakan bentuk respons sementara terhadap kondisi yang dihadapi masyarakat Pulau Tonduk, bukan penyelesaian menyeluruh atas persoalan sumber air dan distribusi yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Fauzi menjelaskan bahwa ketergantungan terhadap pasokan dari wilayah lain bukan hanya terjadi di Pulau Tonduk. Sejumlah pulau di Kabupaten Sumenep memang tidak memiliki sumber air yang layak dikonsumsi, sehingga kebutuhan air warganya harus dipenuhi melalui pengiriman dari pulau lain. Kondisi geografis tersebut membuat penyediaan air membutuhkan dukungan distribusi antarpulau, termasuk melalui pengangkutan dan penyimpanan menggunakan sarana seperti jeriken dan tandon.

Permintaan kepada BPBD menempatkan pemerintah daerah pada penanganan kebutuhan yang mendesak, terutama agar warga tetap memperoleh akses air untuk keperluan sehari-hari. Pelaksanaan bantuan di lapangan tetap menjadi bagian penting dari respons jangka pendek yang disiapkan pemerintah untuk menghadapi krisis air bersih di Pulau Tonduk. Adapun langkah lanjutan mengenai pemenuhan sumber air yang lebih berkelanjutan memerlukan penanganan tersendiri sesuai kondisi tiap wilayah kepulauan.

Persoalan air bersih di Pulau Tonduk tidak semata-mata berkaitan dengan ketersediaan sarana, tetapi juga kondisi alamiah sumber air bawah tanah. Menurut Fauzi, air sebenarnya dapat ditemukan melalui sumur-sumur yang digali warga. Namun, air tersebut memiliki rasa asin sehingga tidak dapat digunakan untuk konsumsi sehari-hari. Kondisi itu membuat masyarakat tetap membutuhkan pasokan air bersih dari luar pulau untuk memenuhi kebutuhan minum dan keperluan rumah tangga lainnya.

Upaya mencari sumber air alternatif melalui pengeboran juga pernah dilakukan. Kegiatan tersebut berlangsung melalui program kementerian, tetapi belum menghasilkan temuan sumber air yang layak dikonsumsi. Air baru ditemukan pada kedalaman sekitar 200 meter. Sumber air pada kedalaman tersebut diperkirakan memiliki kemungkinan tidak asin, meskipun kepastian mengenai kualitas dan kelayakannya masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Dengan demikian, pengeboran yang telah dilakukan belum dapat langsung menjawab kebutuhan air bersih warga Pulau Tonduk.

Achmad Fikri menambahkan bahwa penelitian kementerian menunjukkan sumber air tanah di Tonduk memang sulit dijangkau. Kondisi geologi setempat membuat pencarian air membutuhkan pengeboran hingga kedalaman tertentu, sementara sumber yang ditemukan cenderung memiliki rasa asin. Temuan tersebut menjadi salah satu faktor yang menjelaskan mengapa penyediaan air bersih di pulau itu berlangsung lama dan tidak mudah diselesaikan hanya dengan pembuatan sumur biasa.

Pemerintah Kabupaten Sumenep selanjutnya akan mencari alternatif penyediaan air bersih bagi masyarakat Pulau Tonduk. Rencana tersebut disiapkan dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber air tanah serta hasil survei dan pengeboran yang telah dilakukan. Pemkab Sumenep akan menyesuaikan langkah berikutnya dengan kondisi lapangan dan kebutuhan warga, sehingga pasokan air bersih dapat diupayakan melalui pilihan yang paling memungkinkan bagi wilayah kepulauan tersebut.