Jakarta | Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan kondisi makroekonomi Jakarta masih baik, meskipun dunia tengah menghadapi berbagai tekanan. Ia menyampaikan pandangan tersebut setelah menghadiri acara GMAHK Taman Harapan di Jakarta pada Minggu. Pernyataan itu menggambarkan penilaian Pramono mengenai keadaan ekonomi ibu kota di tengah situasi global yang penuh tantangan. Ia tidak menafikan adanya tekanan di tingkat dunia, tetapi menilai kondisi Jakarta masih menunjukkan keadaan yang baik. Dalam keterangannya, Pramono mengaitkan pandangan tersebut dengan aktivitas yang berlangsung di ibu kota, termasuk penyelenggaraan sejumlah acara besar.
Menurut Pramono, acara-acara berskala besar yang digelar di Jakarta menjadi salah satu cerminan keadaan ekonomi kota. Beragam kegiatan tersebut menunjukkan adanya aktivitas yang terus berjalan di ruang publik dan melibatkan berbagai pihak. Penilaian itu disampaikan sebagai pandangan gubernur tentang dinamika ekonomi Jakarta, bukan sebagai ukuran tunggal untuk menilai seluruh kondisi ekonomi. Ia menggunakan keberlangsungan acara besar sebagai salah satu petunjuk yang mendukung pernyataannya bahwa makroekonomi ibu kota masih baik. Di tengah tekanan global, kegiatan semacam itu, menurutnya, memperlihatkan bahwa kehidupan dan aktivitas kota tetap berlangsung.
Pernyataan Pramono menempatkan penyelenggaraan acara di Jakarta dalam konteks pembahasan ekonomi. Festival, konser, dan kegiatan besar lain dapat menghadirkan keramaian serta menggerakkan sejumlah aktivitas, sehingga menjadi bagian dari gambaran yang ia sampaikan. Namun, penilaian mengenai keadaan makroekonomi tersebut tetap perlu dipahami sebagai pendapat Pramono berdasarkan keterangannya seusai acara GMAHK Taman Harapan. Ia menyebut kegiatan besar sebagai salah satu cerminan, bukan satu-satunya dasar untuk menyimpulkan seluruh kondisi ekonomi. Dengan demikian, pernyataan gubernur tersebut menekankan bahwa Jakarta masih memiliki aktivitas yang berjalan meski tekanan di tingkat global belum mereda, sekaligus menunjukkan bagaimana ia membaca situasi kota saat ini.
Jakarta Running Festival (JRF) menjadi salah satu contoh acara olahraga yang disebut Pramono dalam pembahasan mengenai kegiatan berskala besar di ibu kota. Festival ini diselenggarakan pada 24–25 Oktober dan memperlihatkan bagaimana olahraga dapat menjadi ruang pertemuan bagi warga sekaligus menarik perhatian peserta dari berbagai daerah. Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut tampak dari keterlibatan pelari yang datang dari dalam negeri maupun luar negeri. Kehadiran peserta dengan latar dan asal yang beragam menempatkan JRF sebagai agenda yang melampaui kegiatan komunitas lokal, tanpa menghilangkan kedekatannya dengan warga Jakarta sendiri. Acara seperti ini menunjukkan bahwa olahraga dapat menyatukan orang melalui pengalaman bersama.
JRF juga memberi gambaran tentang beragam kegiatan yang dapat menghidupkan suasana kota. Peserta, pendamping, dan penonton berkumpul di sekitar rangkaian acara, sementara penyelenggaraan festival menghadirkan aktivitas di ruang publik. Bagi sebuah kota besar, agenda semacam ini dapat menjadi kesempatan bagi warga dan pengunjung untuk menikmati Jakarta dalam konteks yang berbeda dari rutinitas sehari-hari. Daya tariknya tidak hanya terletak pada perlombaan, tetapi juga pada suasana kebersamaan dan partisipasi lintas wilayah yang terbentuk di sekitarnya. Minat peserta dari berbagai negara turut memperlihatkan bahwa acara di Jakarta dapat menjangkau audiens yang lebih luas.
Dalam konteks ekonomi kota, festival olahraga dapat mendukung kegiatan usaha di sekitar lokasi melalui kebutuhan peserta dan pengunjung, misalnya konsumsi, transportasi, serta layanan lainnya. Dampak tersebut bergantung pada skala acara dan pola belanja pengunjung, sehingga JRF lebih tepat dipahami sebagai salah satu contoh potensi kegiatan yang menggerakkan aktivitas perkotaan, bukan sebagai ukuran tunggal kinerja ekonomi. Pernyataan Pramono tentang festival ini menyoroti pentingnya agenda publik yang menarik minat masyarakat, termasuk ketika Jakarta menghadapi tekanan global. Dengan antusiasme peserta dari dalam dan luar negeri, Jakarta Running Festival menunjukkan bagaimana acara olahraga dapat mempertemukan partisipasi warga dan daya tarik kota.
Konser internasional dapat menghadirkan dampak ekonomi yang melampaui penjualan tiket. Kehadiran penonton dari luar negeri turut mendorong permintaan terhadap transportasi, akomodasi, makanan, dan berbagai layanan pendukung di Jakarta. Dalam keterangannya mengenai konser Kanye West bertajuk “Ye Live in Jakarta 2026”, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut acara tersebut menarik sekitar 30.000 penonton dari mancanegara. Angka itu merujuk pada pengunjung asing yang datang untuk menyaksikan konser, bukan jumlah keseluruhan penonton. Pembedaan cakupan ini penting agar besarnya kunjungan internasional dan skala acara tidak tercampur ketika menilai kontribusinya terhadap kegiatan ekonomi kota.
Pramono juga menyampaikan bahwa jumlah pengunjung konser secara keseluruhan mencapai kurang lebih 60.000 orang. Dari total tersebut, sekitar 30.000 orang merupakan pengunjung asing, sementara sisanya berasal dari dalam negeri. Dengan demikian, angka sekitar 30.000 penonton mancanegara adalah bagian dari total sekitar 60.000 pengunjung, bukan angka tambahan di luar jumlah keseluruhan. Arus pengunjung dalam skala besar berpotensi menghidupkan aktivitas usaha di sekitar lokasi maupun di berbagai titik kota. Belanja wisatawan dan penonton, mulai dari perjalanan hingga kebutuhan selama berada di Jakarta, dapat menciptakan peluang bagi pelaku usaha lokal, pekerja jasa, serta sektor perhotelan.
Selain konser Kanye West, konser The Weeknd dan festival Pestapora 2026 juga disebut turut berkontribusi terhadap perekonomian Jakarta. Pestapora yang digelar di Kemayoran mencatat nilai perputaran transaksi lebih dari Rp250 miliar, menurut angka yang disampaikan dalam sumber. Nilai tersebut menunjukkan besarnya aktivitas ekonomi yang terkait dengan penyelenggaraan festival, meskipun perputaran transaksi tidak serta-merta sama dengan pendapatan bersih penyelenggara atau penerimaan pemerintah. Rangkaian acara musik berskala besar dapat menggerakkan banyak mata rantai, termasuk produksi acara, penyediaan perlengkapan, kuliner, transportasi, dan jasa kreatif. Jika dikelola dengan baik, agenda hiburan semacam ini dapat memperkuat daya tarik Jakarta sebagai tujuan acara sekaligus memberi ruang bagi usaha lokal untuk menjangkau pengunjung yang lebih luas.
Pertumbuhan ekonomi Jakarta tercatat sebesar 5,52 persen, lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29 persen. Selisih tersebut menunjukkan bahwa perekonomian ibu kota tumbuh lebih cepat dibandingkan angka nasional dalam periode yang menjadi rujukan data. Capaian ini menjadi salah satu gambaran penting mengenai kondisi ekonomi Jakarta, terutama ketika berbagai tekanan dari luar negeri turut memengaruhi prospek ekonomi. Angka pertumbuhan itu tidak berarti bahwa semua sektor atau pelaku usaha mengalami perkembangan yang sama. Namun, secara keseluruhan, data tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomi Jakarta masih menunjukkan daya tumbuh di tengah situasi yang penuh tantangan.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menilai perekonomian ibu kota masih dapat tumbuh meskipun menghadapi tekanan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global. Kondisi global tersebut menjadi latar yang perlu diperhatikan dalam membaca capaian pertumbuhan, karena perubahan situasi internasional dapat memberi tekanan terhadap perekonomian. Meski demikian, menurut Pramono, Jakarta tetap memiliki ruang untuk mempertahankan pertumbuhan. Penilaian ini sejalan dengan angka 5,52 persen yang melampaui capaian nasional, tetapi tidak menghapus adanya tantangan. Ketidakpastian masih menjadi faktor yang harus dihadapi pemerintah dan masyarakat, sementara pertumbuhan yang tercatat memberi gambaran bahwa kegiatan ekonomi di ibu kota tetap bergerak.
Pramono juga menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan terobosan untuk membangun kota saat menghadapi tekanan ekonomi. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa upaya pembangunan tetap menjadi perhatian pemerintah di tengah kondisi yang tidak menentu. Namun, tanpa rincian lebih lanjut mengenai bentuk terobosan itu, yang dapat dicatat adalah arah umum yang disampaikan: Jakarta berupaya melanjutkan pembangunan sambil menghadapi tekanan ekonomi.
Baca juga: Di tengah perubahan sosial, ekonomi, teknologi dan politik yang berlangsung cepat, generasi muda dituntut tidak hanya menjadi penonton | Menerima Kunjungan Persahatan Duta Besar Maroko untuk Indonesia, Bamsoet Dorong Peningkatan Kerja Sama Ekonomi Indonesia dan Maroko | Bamsoet Apresiasi Nikah Massal Bersama Perkumpulan Bumi Alumni UNPAD, Hadirkan Kepedulian Sosial dan Gerakkan Ekonomi Alumni
