Jakarta | Nama Ria Ricis menjadi perhatian setelah ia meninggalkan komentar pada konten Tasya Farasya yang dikaitkan dengan tren “Stop the Wedding”. Tren tersebut ramai dibicarakan di media sosial, terutama TikTok, dan menjadi latar bagi unggahan Tasya yang menampilkan sejumlah momen dari kehidupan rumah tangganya. Di momen yang terlihat dalam konten itu adalah pernikahannya dengan Ahmad Assegaf serta perceraian mereka.
Di kolom komentar, Ricis menuliskan pesan, “kuat2 bahagia selalu sehat masuk surgaaa kaaa.” Komentar tersebut muncul pada Senin, 26 Oktober 2026, sebagaimana keterangan waktu yang disebut dalam sumber. Pesan itu ditujukan kepada Tasya melalui unggahan yang sedang ramai diperbincangkan tersebut.
Unggahan Tasya menampilkan kembali rangkaian momen yang berkaitan dengan pernikahan dan perceraiannya, sehingga mendapat perhatian warganet dalam perbincangan mengenai tren “Stop the Wedding”. Tren ini menjadi ramai di berbagai platform, khususnya TikTok, dan membuat konten Tasya ikut disorot. Kolom komentarnya kemudian menjadi tempat pengguna media sosial menyampaikan tanggapan, termasuk Ricis.
Isi komentar Ricis merupakan pesan singkat yang memuat harapan agar Tasya tetap kuat, bahagia, dan sehat, serta doa agar masuk surga. Kalimat tersebut ditulis dengan gaya santai dan ejaan informal sebagaimana tampil di kolom komentar. Kata-kata yang digunakan Ricis dapat dibaca langsung sebagai isi pesannya, tanpa perlu menambahkan tafsir mengenai alasan ia menulis komentar itu.
Peristiwa ini mencatat interaksi publik Ricis dan konten Tasya di tengah ramainya tren tersebut. Informasi yang beredar menyebutkan unggahan Tasya menampilkan momen pernikahan dan perceraian dengan Ahmad Assegaf, sementara Ricis memberikan komentar berupa doa dan dukungan. Tidak ada keterangan tambahan dalam informasi tersebut mengenai maksud pribadi di balik komentar maupun hubungan personal keduanya. Dengan demikian, perhatian pada peristiwa ini berpusat pada konten yang diunggah Tasya, tren yang sedang ramai, dan kalimat yang ditinggalkan Ricis pada Senin, 26 Oktober 2026.
Sebelum komentar Ria Ricis menjadi perhatian di tengah ramainya tren Stop the Wedding, Tasya Farasya lebih dahulu membagikan curahan hati melalui akun Threads. Unggahannya menyinggung keadaan yang ia hadapi setelah berpisah dari mantan suaminya. Tasya menulis bahwa meski sudah satu tahun berlalu sejak perpisahan itu, masih ada persoalan yang perlu ia selesaikan. Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa berakhirnya hubungan pernikahan tidak serta-merta membuat seluruh urusan yang menyertainya ikut selesai.
Dalam tulisannya, Tasya menyampaikan bahwa menurut dirinya, yang berakhir hanyalah pernikahan, sementara masalah yang tertinggal masih harus ia tanggung. Ia tidak merinci persoalan apa yang dimaksud, sehingga unggahan itu lebih tepat dipahami sebagai ungkapan mengenai beban yang masih ia rasakan, bukan penjelasan terperinci tentang suatu perkara tertentu. Ia juga menekankan bahwa proses membereskan hal-hal yang tersisa tetap berjalan setelah hubungan tersebut berakhir. Dengan begitu, curahan itu memperlihatkan jarak selesainya sebuah ikatan dan tuntutan untuk menghadapi konsekuensi yang belum tuntas.
Tasya turut menanggapi komentar orang-orang yang menilai dirinya berubah setelah bercerai atau menganggapnya sedang mencari perhatian. Ia menulis bahwa dirinya merasa masih waras. Respons singkat itu menunjukkan bahwa ia menyadari adanya penilaian dari publik, sekaligus menyampaikan bagaimana ia memandang kondisinya sendiri di tengah berbagai komentar. Ia tidak memberikan uraian lebih jauh mengenai tanggapan tersebut dalam pernyataan yang disampaikan. Unggahan di Threads itu pun menjadi bagian dari percakapan yang lebih luas tentang pengalaman Tasya setelah berpisah, tanpa membuka rincian masalah yang masih ia hadapi. Inti pesannya berpusat pada kenyataan bahwa satu tahun setelah perpisahan, ia masih berupaya menyelesaikan persoalan yang tertinggal, sementara penilaian orang lain ikut muncul di ruang publik. Karena itu, penting untuk membedakan isi yang benar-benar ia sampaikan dari dugaan mengenai perkara di baliknya. Tasya berbicara tentang beban yang berlanjut, bukan menguraikan detailnya.Dalam pesannya kepada para pengikut, Tasya Farasya mengingatkan perempuan agar tidak terburu-buru menentukan pasangan hidup. Ia mengajak mereka memperhatikan sikap dan kebiasaan calon suami, bukan hanya terpikat oleh janji atau status hubungan. Menurut Tasya, keputusan menikah sebaiknya disertai pertimbangan matang mengenai bagaimana seseorang memperlakukan pasangan dan menjalankan tanggung jawabnya. Nasihat itu ia sampaikan sebagai pengingat agar perempuan mengenali tanda-tanda perilaku yang berpotensi menyulitkan kehidupan rumah tangga kelak.
Tasya secara khusus menyebut laki-laki yang gemar melakukan gaslighting, atau membuat pasangan meragukan penilaian dan perasaannya sendiri. Ia juga menyinggung sosok yang tidak mandiri dalam pendirian, serta lebih memilih berkumpul dengan teman-temannya daripada pulang kepada istri dan anak. Kebiasaan pulang pagi seolah-olah tidak memiliki keluarga turut menjadi hal yang ia soroti. Dalam pesannya, perilaku tersebut bukan perkara sepele yang harus diabaikan begitu saja. Ia mendorong pengikutnya untuk menilai apakah calon pasangan menunjukkan rasa hormat, kepedulian, dan komitmen terhadap kehidupan bersama.
Selain kebiasaan sehari-hari, Tasya menyoroti laki-laki yang menginginkan status sebagai suami dan ayah, tetapi belum memahami tanggung jawab yang menyertainya. Ia mengingatkan bahwa gelar dalam keluarga tidak serta-merta membuktikan seseorang siap hadir dan berperan. Tasya juga menyebut laki-laki yang masih harus diajari cara menjadi pribadi dewasa, seolah pasangan harus terus membimbingnya dalam hal mendasar. Pesan tersebut disampaikan sebagai seruan agar perempuan tidak menganggap tugas mendewasakan pasangan sebagai kewajiban mereka. Sebelum menikah, ia mengajak pengikutnya memperhatikan kesediaan calon pasangan untuk bertanggung jawab, bersikap matang, dan membangun keluarga secara setara. Nasihat Tasya itu menjadi bagian dari percakapan yang ramai seputar tren Stop the Wedding, dengan penekanan pada pentingnya memilih pasangan secara cermat, tanpa mengabaikan tanda-tanda yang membuat seseorang merasa tidak dihargai atau harus menanggung semuanya sendirian.
Di tengah ramainya perbincangan mengenai tren “Stop the Wedding”, perhatian warganet juga tertuju pada tanggapan Tasya Farasya terhadap komentar di media sosial. Salah satu pengguna meminta Tasya agar berhenti mengungkap aib mantan suaminya. Komentar tersebut disertai pandangan bahwa semakin banyak orang membicarakan seseorang, semakin berkurang pula dosa orang yang dibicarakan. Pernyataan itu kemudian mendapat balasan langsung dari Tasya.
Menanggapi pendapat tersebut, Tasya menulis, “alhamdulillah, bagus, soalnya banyak banget dosanya.” Balasan singkat itu ramai diperbincangkan dan memunculkan beragam respons dari pengguna media sosial. Sebagian warganet menyoroti pilihan katanya, sementara yang lain mengaitkannya dengan percakapan publik yang sedang berlangsung tentang hubungan Tasya dan mantan suaminya. Meski demikian, komentar itu merupakan respons terhadap satu unggahan dan tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh latar persoalan yang dibicarakan.
Tasya juga mengunggah potongan video resepsi pernikahannya dengan Ahmad melalui akun Instagram. Dalam unggahan tersebut, ia menyertakan pernyataan kuasa hukumnya, Sangun Ragahdo. Video itu menampilkan Sangun yang menyampaikan bahwa kliennya merasa kecewa karena telah memberikan kepercayaan, tetapi kemudian merasa dikhianati. Cuplikan resepsi dan pernyataan kuasa hukum tersebut kembali menarik perhatian publik, terutama karena muncul saat berbagai komentar mengenai Tasya ramai beredar di media sosial. Unggahan itu memperlihatkan bagian dari acara pernikahan mereka, disertai penjelasan dari pihak kuasa hukum mengenai perasaan kliennya. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai pandangan kuasa hukum yang mewakili Tasya, bukan sebagai kesimpulan mengenai persoalan yang tengah menjadi pembicaraan. Sejauh yang tampak dalam unggahan, fokus video berada pada kenangan resepsi dan keterangan Sangun tentang kekecewaan kliennya atas kepercayaan yang diberikan.
