Kecepatan Internet Indonesia Masih Tertinggal di Asia Tenggara pada Agustus 2026

oleh -41 Dilihat
oleh
Kecepatan Internet Indonesia Masih Tertinggal di Asia Tenggara pada Agustus 2026

Jakarta | Laporan Speedtest Global Index edisi Agustus 2026 yang dirilis Ookla menempatkan Indonesia pada peringkat ke-70 dunia untuk kecepatan internet mobile. Dalam daftar yang sama, Indonesia berada di peringkat ke-113 dunia untuk fixed broadband. Kedua angka tersebut memberikan gambaran mengenai posisi Indonesia dalam peta kecepatan internet global pada periode pelaporan terbaru.

Untuk layanan mobile, posisi Indonesia pada Agustus 2026 tercatat naik dua peringkat dibandingkan bulan sebelumnya. Perubahan tersebut menunjukkan adanya pergeseran posisi Indonesia dalam pemeringkatan global, meskipun negara ini masih berada di bawah sejumlah negara Asia Tenggara yang tercantum dalam laporan Ookla.

Sementara itu, peringkat ke-113 dunia untuk fixed broadband menempatkan Indonesia pada posisi yang berbeda dari layanan mobile. Speedtest Global Index memisahkan kedua kategori tersebut untuk menggambarkan performa koneksi internet bergerak dan koneksi internet tetap secara terpisah. Karena itu, capaian Indonesia pada masing-masing kategori perlu dibaca sesuai jenis layanan yang diukur.

Data Agustus ini menjadi pembaruan atas posisi Indonesia dalam daftar kecepatan internet dunia. Peringkat mobile yang meningkat dua posisi dibandingkan Juli menjadi salah satu temuan utama laporan, sedangkan posisi fixed broadband menunjukkan kedudukan Indonesia dalam klasifikasi koneksi tetap global. Laporan tersebut juga memperlihatkan bahwa posisi Indonesia belum melampaui sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.

Dengan demikian, temuan Ookla menempatkan Indonesia pada peringkat ke-70 untuk internet mobile dan peringkat ke-113 untuk fixed broadband pada Agustus 2026. Angka itu menjadi acuan untuk melihat posisi Indonesia secara internasional pada bulan tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa peringkat mobile dan fixed broadband memiliki hasil yang tidak sama. Perbandingan kawasan tetap menjadi bagian dari gambaran yang disajikan dalam Speedtest Global Index.

Pada Agustus 2026, kinerja internet mobile Indonesia menunjukkan kecepatan unduh sebesar 66,34 Mbps. Angka ini menggambarkan kemampuan jaringan dalam menerima data, seperti saat pengguna mengakses situs web, menonton video, mengunduh berkas, atau menggunakan layanan berbasis cloud. Sementara itu, kecepatan unggah Indonesia tercatat 19,80 Mbps, yang berpengaruh terhadap pengiriman foto dan video, pencadangan data, konferensi video, serta aktivitas digital lain yang memerlukan pengiriman informasi ke server.

Dari sisi latensi, Indonesia mencatat waktu tanggap 20 milidetik. Latensi mengukur jeda pengiriman permintaan dan penerimaan respons dari jaringan. Nilai yang lebih rendah umumnya mendukung pengalaman yang lebih responsif, terutama ketika pengguna bermain gim daring, melakukan panggilan video, atau menjalankan aplikasi interaktif. Ketiga indikator tersebut—kecepatan unduh, kecepatan unggah, dan latensi—memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kualitas koneksi dibandingkan hanya melihat satu ukuran kecepatan.

Dalam daftar negara Asia Tenggara, Indonesia berada di posisi keenam dengan kecepatan unduh 66,34 Mbps. Vietnam memimpin kawasan sekaligus menempati peringkat ke-9 dunia, dengan kecepatan 219,93 Mbps. Posisi berikutnya ditempati Malaysia yang mencatat 165,32 Mbps dan berada di peringkat ke-14 dunia. Singapura menyusul dengan 164,35 Mbps di posisi ke-16 dunia, sedangkan Thailand mencatat 143,45 Mbps dan berada di peringkat ke-26.

Kamboja juga berada di atas Indonesia dengan kecepatan 111,90 Mbps dan menempati peringkat ke-43 dunia. Di bawah Indonesia, Filipina mencatat 66,33 Mbps serta berada di peringkat ke-71 dunia. Selisih Indonesia dan Filipina hanya 0,01 Mbps, sehingga performa unduh kedua negara tersebut tergolong sangat berdekatan dalam daftar regional. Perbandingan ini menempatkan Indonesia cukup jauh dari negara-negara dengan capaian tertinggi di kawasan, khususnya Vietnam, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Kamboja.

Kinerja koneksi fixed broadband Indonesia pada Agustus 2026 masih menunjukkan posisi yang relatif rendah dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara. Berdasarkan laporan yang sama, rata-rata kecepatan unduh internet tetap di Indonesia tercatat sebesar 51,40 Mbps. Sementara itu, kecepatan unggah mencapai 36,23 Mbps dengan latensi 8 milidetik. Angka latensi tersebut menunjukkan waktu respons koneksi, sedangkan kecepatan unduh dan unggah menggambarkan kemampuan jaringan dalam menerima serta mengirimkan data.

Dalam pemeringkatan global, Indonesia berada di posisi ke-113 dari 149 negara. Peringkat ini menempatkan Indonesia di bawah sejumlah negara Asia Tenggara yang tercantum dalam laporan. Singapura menjadi negara dengan performa fixed broadband tertinggi di kawasan sekaligus menempati peringkat pertama dunia, dengan kecepatan unduh rata-rata 462,50 Mbps. Vietnam berada di posisi ke-8 dunia dengan 301,48 Mbps, disusul Thailand yang menempati peringkat ke-9 dengan 298,92 Mbps.

Negara Asia Tenggara lainnya juga mencatat kinerja lebih baik daripada Indonesia. Malaysia berada di peringkat ke-44 dunia dengan kecepatan 179,32 Mbps, sedangkan Filipina menempati posisi ke-62 dengan 114,34 Mbps. Brunei berada di peringkat ke-93 dengan 86,45 Mbps. Bahkan, Kamboja yang mencatat 54,74 Mbps menempati posisi ke-108, sehingga masih berada di atas Indonesia dalam daftar global tersebut. Perbedaan ini memperlihatkan adanya kesenjangan performa jaringan tetap di kawasan, baik dari sisi kapasitas unduh maupun posisi kompetitif secara internasional. Bagi pengguna, kesenjangan tersebut dapat memengaruhi pengalaman mengakses layanan berbasis data, seperti konferensi video, permainan daring, penyimpanan awan, dan streaming beresolusi tinggi. Peningkatan infrastruktur, perluasan jaringan serat optik, serta pemerataan akses menjadi faktor penting untuk memperbaiki posisi Indonesia pada pemeringkatan berikutnya.

Data yang ditampilkan untuk Agustus 2026 menempatkan Indonesia pada posisi keenam dalam daftar kecepatan internet mobile di Asia Tenggara. Peringkat tersebut menggambarkan posisi Indonesia berdasarkan angka yang tercantum dalam sumber, bukan hasil penghitungan ulang atau penyesuaian terhadap data negara lain. Jarak Indonesia dengan Filipina terlihat sangat tipis, sehingga perbedaan keduanya perlu dibaca secara proporsional dan tidak dianggap sebagai kesenjangan besar.

Daftar mobile juga memuat informasi mengenai kecepatan unduh, kecepatan unggah, dan latensi, disertai peringkat global untuk masing-masing ukuran. Namun, rincian tersebut sebaiknya dipahami sebagai bagian dari konteks pengukuran, bukan sebagai satu-satunya dasar untuk menilai kualitas koneksi secara keseluruhan. Perbedaan metode, waktu pengambilan data, jenis jaringan, serta kondisi penggunaan dapat memengaruhi hasil yang tercatat.

Pada kategori fixed broadband, Indonesia berada di posisi kesembilan dalam daftar regional yang ditampilkan sumber. Posisi ini harus dibedakan dari peringkat mobile karena kedua kategori mengukur jenis akses yang berbeda. Internet tetap umumnya berkaitan dengan koneksi rumah atau kantor, sedangkan internet mobile bergantung pada jaringan seluler dan kondisi pemakaian di lokasi tertentu. Karena itu, kedua daftar tidak tepat diperlakukan sebagai satu ukuran yang sama.

Beberapa ketidakteraturan terdapat pada penomoran dan susunan daftar regional, termasuk kemunculan Laos pada kategori mobile serta urutan peringkat fixed broadband. Fakta yang dapat digunakan secara konsisten adalah posisi Indonesia yang tercantum pada peringkat keenam untuk mobile dan posisi kesembilan untuk fixed broadband. Angka pengunduhan, pengunggahan, latensi, serta peringkat dunia tetap merujuk pada sumber sebagaimana ditampilkan, tanpa penambahan, koreksi, atau perkiraan atas informasi yang tidak tersedia. Dengan pembacaan tersebut, posisi Indonesia terlihat jelas dalam dua daftar yang berbeda, sementara selisih dengan Filipina pada kategori mobile tetap sangat kecil.

Baca juga: Persib Bandung Lolos Fase Grup ACL Two 2026/2027, Umuh Muchtar Bicara Target Besar di Asia