Jakarta | Irfan Hakim ramai dibicarakan di media sosial setelah menjual kaos bertema kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah daerah di Indonesia. Perhatian publik tertuju pada desainnya yang menampilkan dua orangutan mengenakan masker. Gambar tersebut segera memunculkan beragam tanggapan karena mengangkat isu lingkungan melalui sebuah produk yang dapat dikenakan sehari-hari. Bagi sebagian orang, kaos itu menjadi cara untuk menyampaikan kepedulian terhadap dampak karhutla. Namun, perbincangan juga berkembang mengenai bagaimana isu bencana dan penderitaan satwa liar sebaiknya diangkat dalam bentuk merchandise.
Desain dua orangutan bermasker bukan sekadar pilihan visual atau hiasan pada pakaian. Masker yang dikenakan satwa tersebut menggambarkan ancaman asap dan kondisi lingkungan yang memburuk ketika hutan terbakar. Kebakaran tidak hanya merusak tutupan hutan, tetapi juga mengganggu habitat serta kehidupan satwa yang bergantung pada ekosistem tersebut. Orangutan dipilih sebagai gambaran yang kuat karena spesies ini erat kaitannya dengan hutan Indonesia. Melalui ilustrasi itu, perhatian diarahkan pada makhluk hidup yang terdampak, meski tidak selalu terlihat langsung dalam pemberitaan tentang kebakaran.
Karena itu, kaos tersebut membawa pesan mengenai akibat kerusakan hutan terhadap satwa liar, bukan hanya berfungsi sebagai barang dagangan atau merchandise. Kehadirannya menghubungkan produk dengan isu yang lebih luas, yakni perlunya menjaga hutan dan memahami dampak karhutla bagi manusia maupun satwa. Perbincangan di media sosial menunjukkan bahwa penggunaan karya komersial untuk menyuarakan persoalan lingkungan dapat memancing perhatian sekaligus pertanyaan tentang tujuan dan cara penyampaiannya. Dalam konteks ini, desain orangutan bermasker menjadi titik awal diskusi tentang pentingnya kepedulian terhadap habitat, serta bagaimana pesan mengenai bencana lingkungan dapat menjangkau masyarakat melalui media yang dekat dengan keseharian mereka.
Keputusan Irfan Hakim menjual kaos bergambar orangutan ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tengah melanda memunculkan perdebatan di kalangan netizen. Sebagian mempertanyakan kepantasan kegiatan berjualan dilakukan pada saat bencana masih menjadi perhatian. Bagi mereka, situasi tersebut menuntut kepekaan dalam menentukan waktu dan cara menyampaikan suatu kegiatan, termasuk ketika produk yang ditawarkan mengangkat isu satwa dan lingkungan.
Keberatan itu terutama berkaitan dengan kesan yang dapat muncul dari penjualan kaos di tengah kondisi darurat. Sebagian netizen menilai langkah tersebut berpotensi dipandang sebagai upaya mencari keuntungan saat masyarakat sedang menghadapi dampak karhutla. Pandangan ini mencerminkan keraguan terhadap kesesuaian pesan yang dibawa oleh desain kaos dan keputusan untuk memasarkannya pada waktu tersebut, bukan penilaian yang mewakili seluruh netizen.
Perdebatan juga memperlihatkan bahwa niat di balik sebuah produk tidak selalu diterima dengan cara yang sama oleh publik. Bagi sebagian orang, perhatian tertuju pada isu yang diangkat melalui gambar orangutan. Namun, sebagian lainnya lebih menyoroti waktu penjualan dan kemungkinan adanya unsur komersial. Perbedaan titik perhatian itu membuat tindakan yang sama dapat memunculkan tafsir berlainan, terutama ketika berlangsung dalam situasi bencana.
Karena itu, kritik yang muncul sebaiknya dipahami sebagai keberatan sebagian netizen terhadap kepantasan dan potensi keuntungan dari penjualan tersebut. Reaksi itu tidak dengan sendirinya menggambarkan pendapat semua orang, ataupun membuktikan tujuan Irfan dalam membuat kaos. Tanggapan yang beragam menunjukkan bahwa konteks karhutla turut memengaruhi cara publik menilai kegiatan tersebut. Isu yang disorot bukan hanya desainnya, tetapi juga pertanyaan mengenai apakah menjual produk pada saat bencana dapat dianggap tepat oleh masyarakat yang mengikuti peristiwa itu.
Di tengah perdebatan mengenai kaos bergambar orangutan, Irfan Hakim memberikan penjelasan tentang tujuan yang ingin ia capai melalui produk tersebut. Kritik yang muncul membuat perhatian publik tertuju pada pesan di balik desain sekaligus kemungkinan manfaat komersial dari penjualannya. Dalam merespons sorotan itu, Irfan menekankan bahwa penilaian terhadap kaos tersebut sebaiknya tidak hanya berangkat dari dugaan bahwa produk dibuat untuk menghasilkan keuntungan. Ia menyampaikan bahwa gagasan utamanya berkaitan dengan upaya membawa pesan positif kepada masyarakat secara lebih luas. Dengan demikian, penjelasannya memberi gambaran tentang alasan di balik pemilihan kaos sebagai medium untuk menyampaikan nilai kebaikan.
Dalam pernyataannya, Irfan menyebut secara tegas, “Bukan keuntungan penjualan yang menjadi tujuan. Tapi, tujuan utamanya adalah menyebar pesan kebaikan melalui kaos ini.” Ucapan tersebut dikutip pada Kamis, 15 Oktober 2026. Kalimat itu menjadi inti jawabannya atas kritik yang berkembang: ia menempatkan penyampaian pesan di atas hasil penjualan. Menurut penjelasan yang disampaikan, kaos dipandang sebagai sarana untuk mengantarkan gagasan baik, bukan semata-mata barang dagangan yang dinilai dari nilai komersialnya. Penegasan ini memberi konteks bagi publik untuk memahami alasan di balik produk tersebut, tanpa menghapus kenyataan bahwa desainnya telah memicu tanggapan beragam.
Dengan menekankan maksud tersebut, Irfan mengarahkan pembicaraan pada fungsi pesan yang ingin disampaikan lewat sebuah benda yang dapat dikenakan. Ia tidak menjadikan keuntungan sebagai tolok ukur utama keberhasilan kaos itu, melainkan menyoroti sejauh mana nilai kebaikan dapat diperkenalkan kepada orang lain. Pernyataan ini juga menjawab pertanyaan mengenai motivasi di balik penjualan: menurut Irfan, kegiatan tersebut berkaitan dengan penyebaran pesan, bukan sekadar upaya memperoleh pemasukan. Penjelasannya tidak serta-merta mengakhiri perdebatan, tetapi memperjelas posisi yang ia sampaikan kepada publik. Dengan begitu, audiens dapat membedakan tujuan yang dinyatakan Irfan dari beragam penilaian yang muncul terhadap desain maupun aspek komersial produk.
Kaos bergambar orangutan tersebut, menurut penjelasan Irfan Hakim, tidak sekadar dibuat sebagai produk untuk dikenakan. Ia ingin menjadikan merchandise itu sebagai sarana untuk menyampaikan kepedulian terhadap lingkungan. Gambar orangutan di kaos diharapkan dapat mengundang perhatian dan membuka ruang percakapan mengenai kondisi satwa serta alam yang menjadi tempat hidupnya. Dengan demikian, desain pakaian itu membawa pesan yang melampaui fungsi merchandise, yakni mengingatkan masyarakat pada persoalan lingkungan yang perlu diperhatikan.
Perhatian yang ingin disebarkan secara khusus berkaitan dengan nasib orangutan, yang habitatnya terancam akibat kebakaran hutan. Ketika hutan terbakar, ruang hidup satwa dapat terdampak dan keberadaan orangutan menghadapi ancaman. Pesan tersebut menempatkan gambar pada kaos dalam konteks yang lebih luas: bukan hanya representasi seekor satwa, melainkan pengingat mengenai kaitan kerusakan lingkungan dan keselamatan makhluk yang bergantung pada hutan. Melalui barang yang dapat dipakai sehari-hari, Irfan bermaksud membawa isu itu ke ruang publik dan membuatnya lebih mudah terlihat oleh orang lain.
Penjelasan tentang tujuan lingkungan ini perlu dibedakan dari respons yang muncul terhadap desain kaos tersebut. Sebagian netizen menyampaikan kritik dan perdebatan mengenai merchandise itu, sementara Irfan menerangkan maksud yang ingin dibawanya melalui gambar orangutan. Kritik publik merupakan tanggapan terhadap kaos dan desainnya; tujuan yang dinyatakan Irfan adalah menggunakan merchandise sebagai media untuk menyebarkan kepedulian terhadap lingkungan, terutama ancaman kebakaran hutan terhadap habitat orangutan. Kedua hal tersebut dapat disampaikan secara terpisah tanpa menganggap bahwa penjelasan mengenai tujuan otomatis menghapus kritik, ataupun menambahkan alasan di luar keterangan yang telah disampaikan.

