Jakarta | Indonesia disebut menguasai sekitar 60 persen pasokan nikel dunia seiring meningkatnya kapasitas pengolahan di dalam negeri. Penguatan sektor hilir tersebut membuat Indonesia tidak lagi hanya berperan sebagai pemasok bijih nikel, tetapi juga sebagai produsen berbagai produk olahan untuk kebutuhan industri global. Perkembangan ini mempertegas posisi nasional dalam rantai pasok nikel, terutama di tengah meningkatnya permintaan bahan baku untuk stainless steel, baterai kendaraan listrik, dan teknologi penyimpanan energi.
Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) mencatat, produksi nasional pada 2025 mencapai 2,5 juta ton nikel dalam bentuk produk intermediate atau setengah jadi. Data tersebut disampaikan Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah pada 14 Oktober 2026. Besarnya volume produksi menunjukkan bahwa aktivitas pemrosesan domestik telah berkembang secara signifikan, baik dari sisi kapasitas fasilitas maupun kemampuan industri dalam menghasilkan material dengan nilai tambah lebih tinggi.
Capaian tersebut ditopang oleh pengoperasian fasilitas pemurnian dan pemrosesan nikel, atau smelter, yang menggunakan teknologi pirometalurgi dan hidrometalurgi. Teknologi pirometalurgi umumnya memanfaatkan proses suhu tinggi untuk mengolah bijih menjadi produk nikel tertentu, sedangkan hidrometalurgi menggunakan tahapan pelindian dan pemisahan secara kimia. Penggunaan kedua pendekatan itu memungkinkan pengolahan berbagai jenis bijih serta mendukung produksi intermediate yang dibutuhkan oleh industri lanjutan. Dengan bertambahnya fasilitas dan kapasitas pemurnian, kontribusi Indonesia terhadap pasokan nikel dunia semakin besar. Kondisi ini juga menjadi dasar bagi penguatan industri hilir, meskipun keberlanjutan pertumbuhan tetap bergantung pada ketersediaan energi, efisiensi produksi, kepatuhan lingkungan, dan konsistensi kebijakan pemerintah.
Sepanjang 2025, produksi nikel olahan di Indonesia menunjukkan komposisi yang mencakup sejumlah produk intermediate utama. Dari total produksi tersebut, sebanyak 2,05 juta ton berasal dari nickel pig iron (NPI), ferronickel (FeNi), dan nickel matte. Ketiga jenis produk ini menjadi bagian terbesar dalam struktur produksi nikel olahan nasional pada periode tersebut. NPI dan FeNi umumnya tercatat sebagai produk yang dihasilkan melalui proses pemurnian dan pengolahan bijih nikel, sedangkan matte juga termasuk dalam kelompok produk intermediate yang diproduksi oleh fasilitas pengolahan di dalam negeri.
Selain volume 2,05 juta ton yang terdiri atas NPI, FeNi, dan matte, Indonesia menghasilkan 450 ribu ton produk intermediate lainnya dalam bentuk mixed hydroxide precipitate (MHP) dan nikel sulfat. Dengan demikian, rincian produksi nikel olahan sepanjang 2025 mencakup dua kelompok utama, yaitu produk berbasis NPI, FeNi, dan matte, serta produk MHP dan nikel sulfat. Penyebutan masing-masing bentuk produk tersebut menggambarkan beragam keluaran dari fasilitas pemurnian nikel nasional, sesuai dengan jenis proses dan teknologi yang digunakan oleh setiap fasilitas.
Pada tahun yang sama, total kapasitas produksi fasilitas pemurnian nikel di Indonesia telah mencapai 2,7 juta ton Ni. Angka kapasitas tersebut menjadi bagian dari gambaran mengenai skala fasilitas pengolahan nikel yang beroperasi di dalam negeri. Kapasitas ini dicatat bersama rincian produksi nikel olahan yang mencakup 2,05 juta ton NPI, FeNi, dan matte, serta 450 ribu ton MHP dan nikel sulfat.
Federasi Industri Nikel Indonesia (FINI) menilai Indonesia sebagai pemasok nikel terbesar di dunia, dengan porsi sekitar 60 persen dari pasokan global. Penilaian tersebut disampaikan bersamaan dengan data produksi dan kapasitas pemurnian nasional pada 2025. Dengan komposisi produk intermediate serta kapasitas pemurnian yang telah mencapai 2,7 juta ton Ni, data tersebut menjadi dasar keterangan mengenai posisi Indonesia dalam pasokan nikel dunia.
Produksi nikel olahan Indonesia pada 2026 diperkirakan mengalami koreksi setelah mencatat kinerja kuat pada tahun sebelumnya. Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) memperkirakan volume produksi dapat turun sekitar 3,5 hingga 4 persen dibandingkan capaian 2025 yang berada di kisaran 2,5 juta ton nikel (Ni). Penurunan tersebut dipandang sebagai penyesuaian sementara dalam industri yang masih menghadapi perubahan jadwal pembangunan, pemeliharaan fasilitas, serta dinamika operasional smelter.
Tekanan terhadap produksi tidak serta-merta mencerminkan pelemahan struktural sektor nikel nasional. Indonesia tetap memiliki basis sumber daya, fasilitas pengolahan, dan rantai pasok yang terus berkembang. Sejumlah proyek baru juga memasuki tahapan penting, meskipun kontribusinya terhadap volume produksi nasional belum sepenuhnya terlihat pada 2026. Masa transisi ini membuat pertumbuhan kapasitas berjalan tidak seragam di setiap fasilitas.
Peningkatan yang lebih kuat diproyeksikan terjadi pada 2027, seiring masuknya proyek smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) ke tahap komisioning dan operasi penuh. Teknologi tersebut memungkinkan pengolahan bijih nikel kadar rendah menjadi produk terutama mixed hydroxide precipitate (MHP), yang dapat digunakan sebagai bahan baku industri baterai. Ketika fasilitas mulai mencapai tingkat utilisasi yang lebih tinggi, tambahan pasokan diperkirakan memperkuat kapasitas pengolahan domestik.
FINI memperkirakan kapasitas produksi MHP Indonesia pada akhir 2027 akan meningkat signifikan hingga melampaui 900 ribu ton nikel. Kenaikan ini akan memperluas peran Indonesia dalam rantai pasok bahan baku baterai global sekaligus meningkatkan diversifikasi produk hasil pengolahan. Realisasi proyeksi tersebut tetap bergantung pada kelancaran komisioning, kesiapan infrastruktur pendukung, ketersediaan bahan baku, serta konsistensi operasional proyek-proyek HPAL. Dengan beroperasinya fasilitas baru secara penuh, lonjakan kapasitas diharapkan dapat mengimbangi penurunan sementara pada 2026.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerapkan kebijakan produksi bijih nikel yang lebih terukur melalui rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB). Pemerintah tidak merencanakan kenaikan produksi secara signifikan pada 2026. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno menyatakan, RKAB nikel dipertahankan pada kisaran 260–270 juta ton per tahun. Kebijakan ini ditujukan untuk menjaga keseimbangan ketersediaan bahan baku, kapasitas pengolahan, dan kondisi pasar.
Peluang penambahan produksi tetap terbuka, tetapi hanya bagi perusahaan yang dapat menunjukkan kebutuhan nyata dari smelter yang masih mengalami kekurangan pasokan bijih. Dengan demikian, revisi kuota tidak diberikan secara otomatis kepada seluruh pemegang izin, melainkan dinilai berdasarkan kebutuhan riil pabrik pemurnian. Pemerintah akan mempertimbangkan kapasitas terpasang, tingkat operasional, stok bahan baku, serta spesifikasi teknologi yang digunakan oleh smelter.
Jenis bijih yang dapat diajukan dalam revisi juga menyesuaikan kebutuhan fasilitas pengolahan. Permohonan dapat mencakup bijih limonit maupun saprolit, sepanjang karakteristik dan kualitasnya sesuai dengan spesifikasi smelter. Pendekatan selektif tersebut diharapkan memastikan tambahan produksi benar-benar mendukung kegiatan hilirisasi, bukan sekadar meningkatkan volume penambangan tanpa tujuan pengolahan yang jelas.
Pembatasan diperlukan untuk mencegah kelebihan pasokan di pasar nikel. Jika produksi meningkat jauh melampaui kebutuhan industri, harga berpotensi tertekan dan dapat mengurangi daya tarik investasi serta penerimaan pelaku usaha. Pemerintah masih memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk mengajukan revisi atau tambahan kuota paling lambat 31 Juli 2026. Namun, persetujuannya bergantung pada hasil evaluasi pemerintah, termasuk verifikasi kebutuhan smelter dan prospek keberlanjutan kegiatan hilirisasi.
Baca juga: Hadiri Peringatan 10 Tahun Hubungan Jiangxi–Indonesia, Bamsoet Dorong Peningkatan Kerja Sama Dari Perdagangan ke Investasi dan Basis Produksi | Pastikan Pasokan Air Tetap Siaga, Satgas Pam Irigasi Embung Jokowi Lanud Sjamsudin Noor Rawat Kesiapan Pompa Untuk Penanganan Karhutla | Pasokan Beras ASN Tiba di Yahukimo, Diangkut Hercules C-130 TNI AU
