IHSG Berakhir Menguat, STRK dan MKNT Catat Kenaikan Tertinggi

oleh -31 Dilihat
oleh
IHSG Berakhir Menguat, STRK dan MKNT Catat Kenaikan Tertinggi

Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Rabu, 21 Oktober 2026, di zona hijau. Indeks acuan pasar saham Indonesia itu naik 49,47 poin, atau 0,94 persen, hingga mencapai level 5.328. Penguatan tersebut menandai berakhirnya sesi perdagangan dengan pergerakan positif secara keseluruhan, meskipun jumlah saham yang melemah tetap cukup besar.

Data perdagangan menunjukkan partisipasi yang beragam di saham-saham yang tercatat. Sebanyak 384 saham ditutup menguat, sementara 328 saham berakhir melemah dan 251 saham lainnya stagnan. Dengan demikian, saham yang naik lebih banyak daripada saham yang turun, tetapi selisihnya tidak terlalu lebar. Angka tersebut menggambarkan bahwa kenaikan indeks berlangsung di tengah dinamika pasar yang tidak sepenuhnya seragam.

Nilai transaksi pada hari itu mencapai Rp17,1 triliun, yang berasal dari perdagangan sebanyak 32,6 miliar saham. Besarnya volume tersebut menunjukkan aktivitas transaksi yang ramai sepanjang sesi. Namun, nilai transaksi dan volume perdagangan perlu dibaca bersama pergerakan harga serta sebaran saham, karena tingginya aktivitas tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa seluruh sektor atau emiten bergerak searah.

Penutupan pada level 5.328 dan kenaikan 0,94 persen menjadi gambaran utama kinerja IHSG pada Rabu tersebut. Perbandingan 384 saham yang menguat dan 328 saham yang melemah memberikan konteks tambahan atas kenaikan indeks, sementara 251 saham stagnan mencerminkan adanya emiten yang tidak mengalami perubahan harga berarti. Secara keseluruhan, perdagangan mencatat penguatan indeks dengan aktivitas pasar yang cukup besar, tercermin dari nilai transaksi Rp17,1 triliun dan volume 32,6 miliar saham. Angka-angka ini dapat menjadi acuan bagi investor untuk menilai kondisi sesi, tanpa mengesampingkan perkembangan pasar berikutnya maupun pergerakan masing-masing saham.

Penguatan pasar saham pada penutupan perdagangan tidak hanya tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sejumlah indeks acuan lain di Bursa Efek Indonesia juga berakhir di zona hijau, menunjukkan bahwa kenaikan berlangsung pada beberapa kelompok saham dan tidak terbatas pada indeks utama. Pergerakan tersebut memberi konteks yang lebih luas dalam membaca kondisi pasar pada hari perdagangan tersebut.

Indeks LQ45 naik 1,02 persen dan ditutup pada level 535. Indeks ini memuat saham-saham dengan likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar, sehingga pergerakannya kerap menjadi perhatian pelaku pasar. Pada saat yang sama, Jakarta Islamic Index (JII) menguat 1,12 persen ke level 310. Kenaikan JII menunjukkan bahwa saham-saham yang termasuk dalam kelompok indeks berbasis prinsip syariah juga bergerak positif pada akhir sesi.

Penguatan serupa tercatat pada IDX30, yang naik 1,04 persen hingga mencapai level 300. Indeks tersebut mencakup saham pilihan dengan likuiditas serta kapitalisasi pasar yang relatif besar. Sementara itu, MNC36 bertambah 1,05 persen dan ditutup pada level 235. Dengan demikian, keempat indeks tersebut mencatat kenaikan harian di atas satu persen, meskipun besaran kenaikan dan level penutupannya berbeda.

Data penutupan ini memperlihatkan bahwa optimisme pada perdagangan tidak hanya muncul pada IHSG, tetapi juga terlihat di berbagai indeks dengan cakupan dan karakteristik masing-masing. LQ45 dan IDX30 memberikan gambaran pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar, sedangkan JII merepresentasikan kelompok saham sesuai kriteria syariah. MNC36 melengkapi gambaran dengan pergerakan indeks saham pilihannya. Kesamaan arah penguatan menjadi catatan penting, namun angka tersebut tetap perlu dibaca sebagai potret satu sesi perdagangan, bukan jaminan bahwa tren positif akan berlanjut. Pergerakan selanjutnya dapat dipengaruhi dinamika pasar, aktivitas transaksi, serta sentimen investor. Karena itu, investor dapat mencermati perkembangan indeks-indeks tersebut bersama IHSG untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai arah pasar saham domestik pada penutupan hari itu.

Dalam daftar saham dengan kenaikan terbesar, PT Lovina Beach Brewery Tbk dengan kode saham STRK menempati posisi teratas. Saham STRK naik 34,31 persen dan tercatat pada harga Rp137. Angka tersebut menempatkan STRK sebagai emiten dengan persentase kenaikan paling tinggi di tiga saham yang dibahas. Dengan demikian, kenaikan STRK menjadi patokan pembanding bagi pergerakan SOLA dan MKNT dalam kelompok penguat ini.

Posisi berikutnya ditempati PT Xolare RCR Energy Tbk, yang diperdagangkan dengan kode SOLA. Saham perusahaan tersebut meningkat 33,90 persen ke Rp79. Besaran kenaikan SOLA berada sedikit di bawah STRK, dengan selisih 0,41 poin persentase. Meski demikian, SOLA tetap tercatat sebagai saham dengan penguatan terbesar kedua dalam daftar yang disajikan.

PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk atau MKNT berada di urutan ketiga. Saham MKNT bertambah 33,33 persen dan berada pada harga Rp4. Persentase kenaikan ini lebih rendah dibandingkan STRK maupun SOLA, tetapi tetap menjadikan MKNT bagian dari tiga saham dengan kenaikan tertinggi. Ketiga emiten tersebut sama-sama membukukan penguatan lebih dari 33 persen berdasarkan data yang tercantum.

Urutan berdasarkan persentase kenaikan dimulai dari STRK sebesar 34,31 persen, dilanjutkan SOLA sebesar 33,90 persen, lalu MKNT sebesar 33,33 persen. Selisih kenaikan STRK dan MKNT adalah 0,98 poin persentase, sementara jarak SOLA dan MKNT mencapai 0,57 poin persentase. Perbandingan ini menunjukkan kedekatan persentase penguatan ketiganya, tanpa mengubah urutan berdasarkan angka masing-masing.

Adapun harga yang tercatat untuk setiap saham berbeda: STRK berada di Rp137, SOLA di Rp79, dan MKNT di Rp4. Angka harga tersebut perlu dibaca bersama persentase kenaikannya, karena keduanya merupakan informasi berbeda yang dicantumkan untuk masing-masing emiten. Secara berurutan, STRK mencatat kenaikan tertinggi, SOLA berada pada peringkat kedua, dan MKNT melengkapi daftar tiga penguat teratas.

Meski IHSG mengakhiri perdagangan dengan penguatan dan sejumlah saham mencatat kenaikan tajam, beberapa emiten justru bergerak melemah cukup dalam. PT Agung Menjangan Mas Tbk (AMMS) menjadi salah satu saham dengan penurunan terbesar, setelah harganya terkoreksi 9,40 persen hingga ditutup pada Rp106. Pergerakan tersebut menempatkan AMMS di jajaran teratas saham yang mengalami tekanan pada perdagangan hari itu. Penurunan ini menjadi kontras dengan penguatan indeks utama, yang menggambarkan bahwa kenaikan pasar tidak dirasakan merata oleh seluruh saham.

Di bawah AMMS, PT Bahtera Bumi Jaya Tbk (PGJO) tercatat melemah 8,54 persen dan berakhir di level Rp750. Sementara itu, PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) turun 8 persen ke harga Rp92. Ketiga saham tersebut menjadi perhatian dalam daftar top losers karena persentase koreksinya tergolong besar dibandingkan pergerakan saham lainnya pada sesi yang sama. Meski demikian, data perubahan harga harian saja tidak cukup untuk menjelaskan penyebab penurunan. Investor yang meninjau pergerakan ketiganya tetap perlu mempertimbangkan informasi perusahaan, likuiditas, serta kondisi pasar secara lebih menyeluruh.

Secara umum, laporan perdagangan menyebut mayoritas indeks sektoral berada di zona hijau. Namun, uraian mengenai sektor industri dan teknologi tidak konsisten: keduanya disebut sebagai sektor yang melemah, tetapi juga dimasukkan dalam daftar sektor yang menguat. Karena keterangan tersebut saling bertentangan, arah pergerakan kedua sektor itu tidak dapat dipastikan berdasarkan informasi yang tersedia. Gambaran ini mengingatkan bahwa penguatan IHSG dan dominasi sektor yang naik dapat berlangsung bersamaan dengan koreksi tajam pada saham individual. AMMS, PGJO, dan LUCY pun menutup daftar pelemah utama, dengan masing-masing turun 9,40 persen, 8,54 persen, dan 8 persen.

Baca juga: Tim Pelatnas Taekwondo Indonesia Meraih 1 Medali Perak Kejuaraan Tertinggi Untuk Kategori Poomsae