Gelombang Aksi Mahasiswa Uji Dominasi Penguasa Serbia Jelang Pemilu

oleh -91 Dilihat
oleh
Gelombang Aksi Mahasiswa Uji Dominasi Penguasa Serbia Jelang Pemilu

Kota Beograd | Pusat Beograd dipenuhi massa pada Kamis malam ketika aksi yang digerakkan mahasiswa menjelang pemilihan parlemen pada Minggu berlangsung di ibu kota Serbia. Para peserta berkumpul di Alun-Alun Slavija, salah satu ruang publik utama kota, dan memenuhi kawasan di sekitarnya. Menurut kelompok pemantau independen Archive of Public Gatherings, sekitar 150.000 orang mengikuti unjuk rasa tersebut. Angka itu menggambarkan besarnya mobilisasi dan perhatian publik yang tercurah pada peristiwa politik menjelang pemungutan suara. Kehadiran massa dalam jumlah besar membuat aksi ini menjadi salah satu demonstrasi penting di pusat Beograd dalam rangkaian gerakan mahasiswa yang menentang dominasi penguasa.

Suasana di alun-alun berlangsung meriah dan penuh semangat. Peserta membawa bendera dengan tulisan “mahasiswa sedang menang” dan meneriakkan yel-yel bersama-sama. Seruan dan atribut itu menyampaikan pesan bahwa para pengunjuk rasa melihat gerakan mereka sebagai kekuatan yang mampu memengaruhi arah politik negara. Berkumpulnya peserta dari berbagai kalangan di lokasi tersebut juga memperlihatkan bagaimana aksi mahasiswa telah menarik dukungan luas. Meski jumlah peserta menjadi sorotan, inti demonstrasi bukan hanya besarnya kerumunan, melainkan pula tuntutan agar suara masyarakat diperhatikan menjelang pemilihan. Pemandangan massa di Slavija menjadikan aspirasi itu terlihat jelas di ruang publik.

Demonstrasi tersebut menjadi tantangan serius bagi Presiden Aleksandar Vucic dan Partai Progresif Serbia (SNS), yang telah berkuasa sejak 2012. Dengan pemilihan parlemen tinggal beberapa hari, aksi besar di pusat ibu kota menambah tekanan politik pada pemerintahan dan menyoroti persaingan untuk memperoleh dukungan pemilih. Gerakan mahasiswa menunjukkan bahwa isu-isu yang mereka angkat dapat menghimpun massa dalam jumlah signifikan, sekaligus membuat perhatian tertuju pada respons para pemimpin Serbia. Besarnya partisipasi tidak dengan sendirinya menentukan hasil pemungutan suara, tetapi memberikan gambaran tentang kuatnya mobilisasi menjelang hari pemilihan. Bagi Vucic dan SNS, kerumunan di Slavija menjadi tanda bahwa dominasi politik mereka menghadapi ujian terbuka di hadapan publik.

Student List menghadirkan kandidat-kandidat yang mendapat dukungan mahasiswa sebagai alternatif politik menjelang pemilu Serbia. Gerakan ini berupaya mengakhiri dominasi Partai Progresif Serbia (SNS), yang telah berkuasa selama lebih dari 14 tahun. Kehadirannya menandai upaya untuk membawa suara mahasiswa dan tuntutan perubahan ke dalam arena pemilihan, sekaligus menawarkan pilihan bagi warga yang menginginkan arah pemerintahan berbeda.

Dukungan terhadap daftar tersebut tidak hanya datang dari kalangan muda. Marija Nedeljkovic Radic, 47 tahun, mengatakan ia hadir untuk mendukung Student List karena kaum muda telah memberinya harapan bahwa kehidupan di negara yang normal mungkin terwujud. Ia menuturkan bahwa baru kali ini dirinya percaya perubahan seperti itu benar-benar dapat terjadi. Kesaksiannya menunjukkan bagaimana gerakan mahasiswa mampu membangkitkan optimisme di kalangan warga yang lebih luas, termasuk mereka yang selama ini mungkin merasa bahwa perubahan sulit dicapai.

Harapan tersebut bertemu dengan kritik terhadap cara pemerintahan dijalankan. Jugoslav Gasic, seorang profesor universitas sekaligus satu dari 250 kandidat Student List, mengecam pemerintah karena menurutnya kepentingan partai ditempatkan di atas kepentingan masyarakat. Pernyataan itu menyoroti persoalan yang menjadi salah satu pokok kampanye daftar tersebut: apakah lembaga dan keputusan negara dijalankan untuk melayani warga, atau justru diarahkan demi mempertahankan kepentingan politik tertentu.

Gasic menyerukan agar berakhir masa 14 tahun yang ia gambarkan sebagai periode penghinaan, kekacauan, dan pengkhianatan. Ia juga mengecam keadaan ketika kepentingan pribadi dan kepentingan partai diutamakan. Kritik itu memberi konteks pada pencalonan para kandidat yang didukung mahasiswa: mereka tampil bukan sekadar sebagai wajah baru dalam pemilu, melainkan sebagai tantangan terhadap pola politik yang, menurut Gasic, telah mengesampingkan masyarakat. Dengan mengusung 250 kandidat, Student List berusaha mengubah ketidakpuasan menjadi pilihan elektoral yang terorganisasi. Apakah tawaran ini dapat menandingi kekuatan SNS akan ditentukan oleh pemilih, tetapi dukungan lintas generasi memperlihatkan bahwa seruan perubahan telah menjangkau lebih dari kalangan mahasiswa saja.

Gerakan mahasiswa yang kemudian mengguncang politik Serbia berawal dari tragedi di stasiun kereta api Novi Sad. Pada 1 November 2024, kanopi beton di bagian luar stasiun yang baru direnovasi ambruk dan menewaskan 16 orang. Korban mencakup anak-anak, sementara sejumlah orang lain mengalami luka-luka. Peristiwa itu segera memicu duka sekaligus kemarahan publik, terutama karena stasiun tersebut baru saja menjalani pekerjaan renovasi besar. Bagi banyak warga, insiden itu bukan semata kecelakaan konstruksi, melainkan tanda bahwa keselamatan masyarakat dan pertanggungjawaban pejabat perlu diperiksa secara serius.

Perhatian kemudian tertuju pada proses renovasi, pengawasan proyek, serta keputusan lembaga yang bertanggung jawab atas infrastruktur. Di ruang publik, tragedi tersebut secara luas dikaitkan dengan dugaan korupsi, ketidakberesan pengadaan, dan lemahnya kontrol mutu. Namun, kaitan-kaitan itu merupakan tuduhan dan kecurigaan yang harus diuji melalui penyelidikan independen; tidak tepat menyebut korupsi sebagai fakta yang telah terbukti. Keluarga korban, mahasiswa, dan kelompok masyarakat sipil menuntut agar dokumen proyek dibuka, bukti dipertahankan, dan pihak yang bertanggung jawab diidentifikasi melalui proses hukum yang adil. Tuntutan tersebut memperoleh dukungan dari warga yang menginginkan jawaban jelas tentang bagaimana tragedi dapat terjadi.

Mahasiswa mengambil peran penting dengan mengadakan aksi, memblokir kegiatan kampus, dan mengorganisasi demonstrasi di berbagai kota. Seruan awal untuk keadilan bagi korban berkembang menjadi gerakan antikorupsi yang lebih luas. Para demonstran meminta penyelidikan transparan, pengungkapan informasi pemerintah, serta pertanggungjawaban politik dan hukum. Mereka juga mengajukan tuntutan pemilihan umum lebih awal, dengan alasan bahwa kepercayaan terhadap pemerintahan telah terkikis. Dengan demikian, runtuhnya kanopi menjadi pemicu bagi mobilisasi yang melampaui satu proyek atau satu kota. Aksi-aksi itu mempertemukan tuntutan keselamatan, keterbukaan, dan perubahan politik, sekaligus menempatkan respons pemerintah terhadap tragedi sebagai ujian bagi legitimasi penguasa menjelang pemilu.

Presiden Serbia Aleksandar Vučić tetap menunjukkan sikap menantang terhadap gerakan mahasiswa yang terus menggelar aksi dan menekan pemerintah. Pada Kamis, ia menuduh gerakan tersebut sebagai upaya kudeta yang dibiayai pihak asing, sekaligus menyerukan para pendukungnya agar mengalahkan para demonstran. Pernyataan itu mempertegas pertarungan politik menjelang pemilihan, ketika mahasiswa berupaya mempertahankan tekanan publik dan pemerintah menampilkan gerakan mereka sebagai ancaman terhadap negara.

Vučić sebelumnya telah mengumumkan pemilihan lebih awal, di tengah gelombang protes yang meluas. Namun, percepatan jadwal pemungutan suara belum meredakan kekhawatiran mengenai kondisi politik yang akan menentukan apakah persaingan berlangsung secara adil. Sebanyak 24 organisasi masyarakat sipil memperingatkan bahwa prasyarat bagi pemilu bebas dan adil belum terpenuhi. Mereka menyoroti dugaan intimidasi, penangkapan, dan serangan, serta penyalahgunaan sumber daya publik. Lingkungan media yang dinilai tidak sehat juga menjadi perhatian, karena dapat membatasi akses masyarakat terhadap informasi berimbang dan menghambat persaingan yang setara.

Ketegangan turut tercermin dalam langkah penegak hukum. Pada Rabu, jaksa di Beograd memeriksa enam orang yang ditangkap atas dugaan merencanakan kekerasan dan kerusuhan pada hari pemilihan. Proses tersebut berlangsung saat retorika politik semakin keras dan berbagai pihak saling menyampaikan tuduhan mengenai ancaman terhadap ketertiban. Informasi mengenai perkara itu belum menjawab bagaimana pemungutan suara akan berlangsung, tetapi menambah sorotan pada keamanan, kebebasan berkampanye, dan perlakuan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam persaingan politik.

Hasil pemilu masih sulit diperkirakan.