Gasigogi Diproduksi di Indonesia, Lee Hwan-kyung Kembali Menggarap Kisah yang Lama Terhenti

oleh -652 Dilihat
oleh
Gasigogi Diproduksi di Indonesia, Lee Hwan-kyung Kembali Menggarap Kisah yang Lama Terhenti

Jakarta | Falcon Pictures memperkenalkan para pemain film Gasigogi di kantor perusahaan tersebut di Jakarta Selatan pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Pengumuman ini menandai diperkenalkannya jajaran pemeran utama untuk kisah yang kembali diangkat setelah lama terhenti. Film tersebut kini sedang menjalani proses produksi, sementara detail lebih lanjut mengenai jadwal penayangan dan unsur cerita belum menjadi bagian dari pengumuman ini.

Tiga nama yang diperkenalkan sebagai pemeran utama adalah Vino G. Bastian, Pevita Pearce, dan Faradina Mufti. Kehadiran ketiganya menjadi perhatian dalam proyek ini, yang mempertemukan para pemain Indonesia dengan sutradara asal Korea Selatan. Falcon Pictures memperkenalkan para pemeran itu dalam acara di kantor perusahaan, sekaligus memberi gambaran awal tentang perkembangan film yang tengah dikerjakan.

Gasigogi disutradarai Lee Hwan-kyung, pembuat film Korea Selatan yang sebelumnya menggarap Miracle in Cell No. 7 versi Indonesia. Pengalaman tersebut membuat namanya telah dikenal oleh penonton Indonesia, khususnya melalui adaptasi lokal dari film Korea yang populer. Dalam proyek terbaru ini, Lee kembali bekerja dengan industri perfilman Indonesia, kali ini melalui sebuah kisah yang disebut lama terhenti sebelum akhirnya diproduksi di Indonesia.

Perkenalan pemain dan kabar dimulainya produksi menjadi langkah awal bagi publik untuk mengikuti perjalanan film ini. Meski informasi mengenai peran masing-masing aktor maupun rincian alur belum diuraikan, nama-nama yang diumumkan memberikan petunjuk mengenai para pemeran sentral yang akan membawa cerita ke layar. Dengan Lee Hwan-kyung berada di balik kamera dan Falcon Pictures menangani proyek, Gasigogi kini bergerak dari kisah yang tertunda menuju proses pembuatan film. Perkembangan berikutnya, termasuk informasi karakter dan penayangan, dapat dinantikan seiring produksi berlangsung.

Lee Hwan-kyung menjelaskan bahwa kisah Gasigogi bukanlah proyek yang baru sekali ia pikirkan. Selama sekitar 15 tahun di Korea, ia telah mencoba menulis naskahnya kurang lebih lima kali. Namun, setiap upaya tersebut berakhir dengan naskah yang kembali terhenti sebelum proses penulisan selesai. Rentang waktu yang panjang itu memperlihatkan bahwa cerita ini berulang kali hadir dalam rencana kreatifnya, meski belum berhasil dituangkan hingga tuntas. Lee menyampaikan perjalanan tersebut sebagai latar belakang mengapa kisah yang sama lama tertunda untuk digarap kembali.

Menurut Lee, hambatan itu berkaitan dengan beratnya cerita tersebut bagi dirinya secara pribadi. Ia merasa kisah Gasigogi sangat menyayat hati dan menyakitkan, sehingga sulit baginya untuk mengubahnya menjadi tulisan. Perasaan itu membuat proses menulis bukan perkara mudah, meskipun ia telah berusaha memulainya beberapa kali. Lee tidak menggambarkan jeda-jeda tersebut sebagai keputusan yang diambil karena persoalan lain; ia menekankan bahwa muatan emosional ceritanya terasa begitu berat untuk dituliskan. Karena itu, setiap percobaan menulis berulang kali terhenti di tengah jalan.

Pengulangan upaya yang tidak selesai itu juga sempat memunculkan kabar di Korea bahwa proyek tersebut dihentikan dan Lee telah menyerah. Kabar itu beredar ketika naskah belum berlanjut, sejalan dengan kenyataan bahwa penulisannya berkali-kali berhenti. Lee menyebut bahwa selama 15 tahun ia mencoba sekitar lima kali, tetapi tidak menyelesaikan naskah karena kisahnya terasa sangat menyakitkan baginya. Dengan demikian, cerita tentang proyek yang konon dihentikan berangkat dari masa panjang ketika pengerjaan memang tidak berjalan hingga selesai. Kini, latar belakang tersebut memberi konteks pada kembalinya Lee untuk menggarap kisah yang lama tertahan itu. Pengalaman tersebut menunjukkan betapa sulitnya ia menghadapi materi cerita ini, tanpa mengubah pokok penjelasannya: ia telah mencoba, berhenti, lalu mencoba lagi, tetapi kesedihan personal dalam kisah itu terus membuatnya kesulitan menulis.Pada satu titik dalam perjalanan proyek ini, Lee Hwan-kyung merasa naskah yang telah lama terhenti mungkin sebaiknya dilupakan. Keraguan itu muncul setelah kisah tersebut tidak kunjung bergerak menuju produksi, sehingga ia mempertimbangkan untuk meninggalkannya. Namun, pertemuannya dengan tim Falcon Pictures mengubah cara pandangnya. Percakapan dengan Pak Naveen dan Ibu Erica memberinya dorongan serta keberanian baru untuk membuka kembali naskah yang sebelumnya ia anggap telah selesai. Dari pertemuan itu, Lee melihat kemungkinan bahwa cerita tersebut masih dapat diwujudkan dan menemukan jalan untuk menjangkau penonton.

Dukungan yang ia rasakan dalam pertemuan tersebut kemudian menguatkan keputusan Lee untuk membawa proyek ini ke Indonesia. Bagi sang sutradara, keputusan itu bukan sekadar memilih lokasi produksi, melainkan langkah untuk meneruskan visi cerita bersama mitra yang percaya pada potensinya. Ia dan tim memiliki pengalaman bekerja dengan penonton Indonesia melalui Miracle in Cell No. 7. Pengalaman tersebut membuat mereka memahami bahwa sebuah kisah dapat memiliki arti yang kuat ketika disampaikan dengan tulus dan dekat dengan penontonnya. Karena itu, mereka ingin menjadikan film baru ini kesempatan untuk menghadirkan sesuatu yang lebih bernilai.

Lee menjelaskan bahwa setelah Miracle in Cell No. 7, ia dan tim merasa yakin dapat memberikan hadiah yang lebih berharga dan bermakna bagi penonton Indonesia. Harapan itu menjadi salah satu alasan penting untuk menghidupkan kembali naskah dan mengerjakannya di Indonesia. Bukan hanya mengulang keberhasilan sebelumnya, proyek ini diharapkan membawa pengalaman emosional baru serta meninggalkan kesan bagi audiens. Keyakinan tersebut bertemu dengan kesiapan Falcon Pictures untuk mendukung proses realisasi cerita, sehingga gagasan yang sempat lama tertunda akhirnya memiliki kesempatan untuk berkembang menjadi film.

Produser Frederica menyambut kerja sama itu dengan rasa bangga. Ia menyatakan bahwa dirinya bangga dapat kembali bekerja bersama Lee untuk merealisasikan visi cerita tersebut. Bagi Frederica, kolaborasi ini menjadi kesempatan untuk menerjemahkan gagasan sang sutradara ke dalam sebuah karya yang dapat dinikmati penonton Indonesia. Pertemuan dengan Falcon Pictures, dorongan dari para mitra, serta tekad Lee untuk memberikan sesuatu yang bermakna pun menjadi titik balik bagi proyek ini. Kisah yang nyaris ditinggalkan memperoleh kembali arah dan tenaga untuk diwujudkan melalui produksi di Indonesia.

Selain para pemeran utama, film Gasigogi diperkuat oleh jajaran aktor dengan latar dan pengalaman yang beragam. Altaaf Akavi, Indro Warkop, Dea Panendra, Indra Jegel, dan Sadana Agung turut bergabung dalam proyek ini, bersama Irma Novita Rihi, Luisa Adreena, Pritt Timothy, Verdi Solaiman, serta Kiki Narendra. Kehadiran mereka menambah keluasan pilihan karakter dan memberi ruang bagi interaksi antarpemain yang diharapkan dapat mendukung perjalanan cerita.

Keragaman tersebut menjadi salah satu unsur yang menarik perhatian dalam produksi film ini. Setiap aktor membawa pendekatan dan warna tersendiri, sementara kombinasi pemain lintas generasi dapat menghadirkan dinamika yang berbeda di layar. Meski rincian mengenai karakter masing-masing belum diungkapkan, keterlibatan para pemeran ini menunjukkan skala kolaborasi yang dibangun untuk menghidupkan kisah Gasigogi. Para pemain akan bekerja bersama tim produksi dan sutradara Lee Hwan-kyung dalam mengembangkan cerita yang telah lama terhenti sebelum kembali diwujudkan di Indonesia.

Produser Frederica menyampaikan harapannya terhadap proyek tersebut dengan menyoroti dedikasi para pemain dan kru. Menurutnya, komitmen seluruh pihak yang terlibat, dipadukan dengan kemampuan Lee dalam merangkai cerita, menjadikan Gasigogi sebuah proyek istimewa. Penilaian itu mencerminkan keyakinan terhadap proses kreatif film, bukan kepastian mengenai bagaimana karya tersebut akan diterima setelah dirilis.

Frederica berharap kisah yang dibangun melalui kerja bersama itu mampu meninggalkan kesan emosional yang mendalam bagi penonton. Ia juga berharap film ini dapat menjadi karya yang berkesan bagi perfilman Indonesia dan menjangkau penonton di berbagai negara.

Baca juga: Hadiri Munas Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (PERIKLINDO), Bamsoet Apresiasi Terpilihnya Kembali Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko sebagai Ketua Umum | Uang Tak Kembali, Apakah Otomatis Penipuan? Praktisi Hukum Dedy Luqman Hakim Bedah Batas Wanprestasi dan Pidana | Keluarga Hendro Kacung Dicari, Jejak dari Tasikmadu Tuban Jadi Harapan untuk Bertemu Kembali