Embung Penganten Ali di Ciracas Dikebut, Disiapkan untuk Tampung Air dan Ruang Publik

oleh -71 Dilihat
oleh
Embung Penganten Ali di Ciracas Dikebut, Disiapkan untuk Tampung Air dan Ruang Publik

Jakarta | Pembangunan Embung Penganten Ali masih berlangsung di Jalan Penganten Ali III, RW 6, Ciracas, Jakarta Timur. Kawasan embung ini memiliki luas total 0,9 hektare dan ditargetkan selesai pada 15 Desember 2026. Kehadirannya disiapkan untuk menampung air sekaligus menyediakan ruang publik bagi warga. Dengan demikian, proyek ini menggabungkan fungsi pengelolaan air dengan pemanfaatan kawasan untuk kepentingan masyarakat sekitar.

Camat Ciracas Panangaran Ritonga menyebut progres pekerjaan telah mencapai sekitar 60 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa pembangunan masih berjalan dan belum memasuki tahap penyelesaian. Target waktu yang telah ditetapkan menjadi acuan untuk menuntaskan pekerjaan di kawasan tersebut. Informasi mengenai capaian itu juga memberi gambaran umum tentang perkembangan proyek tanpa mengubah jadwal penyelesaian yang direncanakan.

Berada di lingkungan RW 6, Embung Penganten Ali menjadi salah satu fasilitas yang disiapkan di wilayah Ciracas. Luas kawasan 0,9 hektare memberi gambaran mengenai skala area yang akan ditata sebagai embung dan ruang publik. Warga dapat menantikan penyelesaian proyek sesuai target, sementara fungsi penampungan air menjadi bagian utama dari tujuan pembangunan. Pemanfaatan sebagai ruang publik juga menempatkan kawasan ini sebagai fasilitas yang dapat mendukung aktivitas masyarakat ketika pekerjaan telah rampung.

Selama pembangunan masih berlangsung, informasi tentang lokasi, luas, progres, dan target penyelesaian menjadi hal penting bagi masyarakat untuk memahami perkembangan proyek. Pemerintah setempat menyampaikan bahwa pekerjaan telah berjalan sekitar 60 persen, dengan sasaran penyelesaian pada 15 Desember 2026. Setelah rampung, embung ini diharapkan dapat menjalankan peran yang telah direncanakan, yakni menampung air dan menghadirkan ruang publik di Ciracas. Hingga target tersebut tercapai, pembangunan di Jalan Penganten Ali III tetap menjadi bagian dari upaya menghadirkan fasilitas lingkungan di kawasan itu. Kepastian mengenai jadwal dan capaian pekerjaan memberikan kerangka yang jelas bagi warga dalam mengikuti proses pembangunan Embung Penganten Ali.

Embung Penganten Ali dirancang untuk menambah kapasitas tampungan air di kawasan Ciracas sekaligus mendukung pengelolaan aliran air yang lebih terkendali. Ketika hujan turun, tampungan dapat menahan sebagian limpasan sebelum air mengalir ke saluran dan lingkungan sekitarnya. Peran ini penting terutama saat curah hujan tinggi, karena aliran yang tertahan dapat membantu mengurangi tekanan terhadap sistem drainase. Dengan demikian, embung diharapkan ikut menekan risiko genangan dan banjir di kawasan sekitar, meski efektivitasnya tetap bergantung pada kondisi saluran, pemeliharaan, serta pengelolaan kawasan secara menyeluruh.

Ikhwan Maulani, Ketua Subkelompok Geologi dan Konservasi Air Baku Dinas SDA DKI Jakarta, menjelaskan bahwa embung tersebut diarahkan tidak hanya sebagai tempat penampungan, tetapi juga sebagai waduk konservasi. Pengembangan dengan fungsi konservasi dimaksudkan untuk mendukung tata air, menjaga keseimbangan lingkungan, dan memperkuat upaya pelestarian sumber daya air. Pendekatan ini menempatkan embung sebagai bagian dari infrastruktur yang memiliki manfaat hidrologis sekaligus ekologis, bukan semata-mata bangunan untuk menampung air ketika hujan.

Dalam rencana penataannya, luas kawasan dibagi menjadi penampang kering sekitar 0,5 hektare dan penampang basah sekitar 0,4 hektare. Pembagian tersebut membedakan area yang dapat digunakan untuk fungsi pendukung dari bagian yang menampung air. Penampang basah menjadi elemen utama untuk menjaga ketersediaan tampungan, sedangkan penampang kering dapat mendukung ruang terbuka dan penataan lingkungan di sekitar embung. Pengaturan kedua bagian perlu memperhatikan keterhubungan fungsi, agar aktivitas di area kering tidak mengganggu kapasitas tampungan maupun kondisi air.

Fungsi konservasi juga berkaitan dengan upaya menjaga kualitas ekologis lingkungan dan mendukung konservasi air tanah. Air yang tertahan dapat memberi kesempatan bagi proses peresapan ke dalam tanah, bergantung pada karakteristik geologi dan desain dasar embung. Karena itu, pengembangan perlu mempertimbangkan kualitas air masuk, kondisi vegetasi, serta pemeliharaan rutin untuk mengurangi penumpukan sampah dan sedimentasi. Jika dikelola secara konsisten, Embung Penganten Ali berpotensi menjadi bagian dari tata air lokal yang lebih tangguh, sekaligus menjaga lingkungan sekitar tetap berfungsi sebagai ruang resapan dan konservasi air.

Embung Penganten Ali di Ciracas tidak hanya dirancang sebagai tempat penampungan air. Kawasan ini juga disiapkan sebagai ruang terbuka hijau dan ruang interaksi publik bagi warga. Dengan fungsi tersebut, embung diharapkan dapat mendukung kebutuhan lingkungan sekaligus menyediakan tempat bagi masyarakat untuk beraktivitas di luar ruangan. Warga nantinya dapat memanfaatkannya untuk berolahraga maupun berekreasi, sesuai pengaturan dan kondisi kawasan setelah fasilitas tersedia.

Rencana penataan mencakup sejumlah fasilitas penunjang, lain anjungan, jembatan, gerbang warga, area tempat duduk, shelter, gerbang utama, toilet umum, pos jaga, rumah cacah, serta jembatan penghubung atau ramp excavator. Kehadiran unsur-unsur tersebut dirancang untuk melayani kebutuhan yang berbeda. Area duduk dan shelter dapat menjadi tempat beristirahat, sementara akses berupa gerbang dan jembatan membantu menghubungkan bagian-bagian kawasan. Toilet umum dan pos jaga turut masuk dalam daftar fasilitas yang disiapkan.

Ikhwan menjelaskan bahwa fasilitas tersebut mendukung operasional embung sekaligus kenyamanan masyarakat. Artinya, penataan kawasan tidak semata-mata berfokus pada fungsi teknis untuk menampung air, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana embung dapat digunakan dan diakses oleh warga. Fasilitas yang berkaitan dengan operasional, seperti rumah cacah dan jalur penghubung atau ramp excavator, direncanakan berdampingan dengan fasilitas yang menunjang kegiatan publik.

Perpaduan fungsi ini menjadi bagian penting dari pengembangan embung sebagai ruang yang memiliki manfaat bagi lingkungan dan kehidupan sehari-hari warga. Namun, daftar fasilitas tersebut menggambarkan rencana penunjang dalam penataan, bukan kepastian bahwa seluruhnya telah selesai dibangun atau sudah dapat digunakan. Tahapan pekerjaan dan kesiapan fasilitas tetap perlu diperhatikan sebelum masyarakat memanfaatkan kawasan. Setelah penataan berjalan sesuai rencana, ruang terbuka hijau ini diharapkan dapat mendukung kegiatan olahraga dan rekreasi warga, sementara fungsi penampungan air serta kebutuhan operasional embung tetap terjaga.

Dinas SDA DKI Jakarta berharap pengembangan Embung Penganten Ali tidak berhenti pada penyediaan tampungan air. Kawasan ini diarahkan mengusung konsep green, education, dan recreation, yang memadukan fungsi ekologis dengan ruang untuk kegiatan masyarakat. Pendekatan tersebut diharapkan memperkuat manfaat embung bagi warga sekitar sekaligus mendukung pilihan rekreasi dan olahraga di Jakarta Timur. Ruang terbuka yang tertata dapat memberi kesempatan bagi masyarakat untuk beraktivitas di lingkungan yang dekat dengan alam, sambil mengenal pentingnya pengelolaan air. Dengan demikian, embung dirancang sebagai fasilitas yang berguna dalam keseharian, bukan semata infrastruktur pengendali air.

Di samping menjadi tampungan air, kawasan embung diharapkan berperan sebagai kawasan konservasi air tanah dan ruang terbuka hijau. Kedua fungsi itu penting untuk mendukung lingkungan perkotaan yang lebih lestari. Pengembangan kawasan juga diharapkan memperhatikan keamanan dan inklusivitas, sehingga ruang publik dapat digunakan oleh beragam kelompok masyarakat. Akses dan suasana yang nyaman akan mendukung kegiatan rekreasi maupun olahraga tanpa mengabaikan tujuan konservasi. Perpaduan fungsi tersebut sejalan dengan gagasan menjadikan embung sebagai ruang yang memberi manfaat lingkungan sekaligus membuka ruang interaksi warga. Pelaksanaannya perlu menjaga keseimbangan aktivitas publik dan fungsi utama kawasan sebagai bagian dari pengelolaan sumber daya air.

Nama Jalan Penganten Ali sendiri dikaitkan dengan identitas budaya Betawi dan sebuah kisah tentang pemuda bernama Ali. Dalam cerita yang dikaitkan dengan nama jalan tersebut, Ali disebut mencintai pujaan hatinya pada era kolonial. Informasi yang tersedia juga menggambarkan kawasan itu dahulu sebagai permukiman kecil dengan beragam persoalan sosial.