Kesiapan Mental Pemuda Jadi Bekal Menuju Indonesia Emas 2045

oleh -41 Dilihat
oleh
Kesiapan Mental Pemuda Jadi Bekal Menuju Indonesia Emas 2045

Manado | Hanna Monareh, psikolog klinis RSUP Prof. Dr. D. Kandou Manado, menyampaikan bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 membutuhkan pemuda yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kuat secara mental. Pandangan itu ia sampaikan di Manado pada Kamis, dalam konteks peringatan Hari Sumpah Pemuda. Pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan generasi muda tidak cukup diukur dari nilai, gelar, atau penguasaan pengetahuan semata. Kemampuan menghadapi tekanan, mengelola emosi, dan bangkit ketika mengalami kegagalan juga menjadi bekal penting untuk berkontribusi bagi masa depan bangsa.

Kesiapan mental berkaitan dengan cara seseorang mengenali kondisi dirinya dan merespons berbagai tantangan secara sehat. Bagi pemuda, tantangan dapat muncul dalam pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial, maupun proses menentukan arah hidup. Perubahan yang cepat juga menuntut mereka untuk beradaptasi tanpa kehilangan rasa percaya diri dan tujuan. Ketangguhan bukan berarti tidak pernah merasa cemas, sedih, atau ragu. Sebaliknya, ketangguhan tampak dalam kesediaan menghadapi perasaan tersebut, mencari dukungan yang tepat, dan mengambil langkah untuk menyelesaikan masalah secara bertahap.

Dalam semangat Hari Sumpah Pemuda, perhatian terhadap kesehatan mental perlu menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi penerus. Lingkungan keluarga, sekolah, perguruan tinggi, tempat kerja, dan masyarakat dapat membantu dengan membangun ruang yang aman untuk berbicara serta mendorong kebiasaan saling mendukung. Pemuda juga perlu memiliki kesempatan mengembangkan kemampuan mengenali batas diri, mengelola tekanan, dan meminta pertolongan ketika dibutuhkan. Dukungan profesional dapat dipertimbangkan apabila masalah terasa berat atau berlangsung lama. Dengan perhatian yang seimbang pada kecakapan akademis dan ketangguhan mental, kaum muda memiliki landasan lebih kuat untuk belajar, bekerja sama, dan menghadapi perubahan. Bekal ini penting agar mereka dapat berperan aktif dalam mewujudkan Indonesia yang maju pada 2045, sekaligus menjaga kesejahteraan diri selama menempuh proses tersebut.

Menurut Hanna, salah satu tantangan yang khas dihadapi sebagian pemuda masa kini adalah tekanan sosial yang hadir melalui ruang digital. Media sosial memungkinkan mereka terhubung dan memperoleh informasi, tetapi juga membuat kehidupan orang lain—termasuk pencapaian, penampilan, dan gaya hidup—terlihat terus-menerus. Paparan yang tinggi dapat mendorong kebiasaan membandingkan diri dengan standar yang belum tentu realistis atau menggambarkan keseluruhan kehidupan seseorang.

Perbandingan tersebut berisiko menimbulkan kecemasan, terutama ketika anak muda merasa tertinggal dalam pendidikan, karier, hubungan, maupun pencapaian pribadi. Unggahan yang menampilkan keberhasilan sering kali tidak menunjukkan proses, kesulitan, atau dukungan yang melatarinya. Jika hanya melihat hasil yang tampak, seseorang dapat menyimpulkan bahwa dirinya kurang berhasil, sekalipun sebenarnya sedang berkembang sesuai keadaan dan kemampuannya sendiri. Risiko ini tidak berarti setiap pemuda mengalami kecemasan akibat media sosial; dampaknya dapat berbeda-beda.

Hanna juga menyoroti kemungkinan munculnya imposter syndrome, yaitu perasaan tidak cukup berharga atau tidak pantas menerima keberhasilan, meskipun seseorang telah meraih prestasi. Dalam keadaan demikian, pencapaian mungkin dianggap sebagai kebetulan, sementara keberhasilan orang lain dipandang sebagai bukti bahwa mereka lebih mampu. Keraguan semacam ini dapat mengurangi rasa percaya diri dan membuat seseorang sulit menikmati hasil kerja kerasnya. Mengenali perasaan tersebut menjadi langkah penting agar prestasi tidak terus-menerus dinilai melalui standar orang lain.

Di samping tekanan digital, tuntutan untuk selalu produktif dapat berkontribusi pada burnout. Harapan untuk terus belajar, bekerja, berorganisasi, dan menjaga kehidupan sosial berpotensi membuat waktu istirahat terasa seperti kemunduran. Ketika beban berlangsung lama tanpa pemulihan yang memadai, kelelahan emosional dan menurunnya motivasi dapat muncul. Karena itu, kesehatan mental perlu dipahami sebagai bagian dari kesiapan menghadapi masa depan, bukan sebagai persoalan yang hanya muncul setelah seseorang berada dalam krisis. Kesadaran terhadap batas diri, pengelolaan paparan media sosial, dan dukungan dari lingkungan dapat membantu pemuda merespons tekanan secara lebih sehat, tanpa menganggap bahwa semua pengalaman mereka sama.

Menurut Hanna, pemuda saat ini semakin sadar bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesejahteraan hidup. Percakapan mengenai stres, kecemasan, dan kebutuhan mencari bantuan profesional juga makin mudah dijumpai. Namun, kesadaran tersebut belum dengan sendirinya membuat seseorang mampu menghadapi tekanan. Tantangan berikutnya adalah mengubah pengetahuan menjadi keterampilan yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari: mengenali emosi, mengelolanya secara sehat, dan tetap mengambil langkah ketika menghadapi kesulitan.

Kemampuan itu berbeda dari sekadar memberi label pada pengalaman pribadi. Informasi kesehatan mental yang tersedia luas dapat membantu seseorang memahami kondisi dan mencari pertolongan, tetapi tidak menggantikan penilaian tenaga profesional. Self-diagnosis yang berlebihan berisiko membuat individu menyimpulkan bahwa dirinya mengalami gangguan tertentu tanpa pemeriksaan yang memadai. Hanna menekankan perlunya membangun pemahaman yang lebih praktis: menyadari apa yang dirasakan, mempertimbangkan pemicunya, lalu memilih respons yang tepat. Ketika masalah terasa berat atau berlangsung lama, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan yang kompeten merupakan langkah yang lebih bertanggung jawab.

Tekanan pemuda juga datang dari ketidakpastian karier dan masa depan. Perubahan teknologi, kebutuhan industri, dan pola kerja yang bergerak cepat membuat jalur menuju pekerjaan tidak selalu mudah diprediksi. Dalam situasi semacam ini, rencana dapat berubah dan kegagalan sementara mungkin terjadi. Menurut Hanna, pemuda membutuhkan fleksibilitas kognitif, yakni kesanggupan meninjau ulang cara berpikir, menyesuaikan strategi, serta belajar dari keadaan baru. Kontrol impuls juga penting agar keputusan tidak semata-mata dipengaruhi kepanikan atau dorongan sesaat. Dengan keterampilan tersebut, mereka dapat memberi jeda sebelum bereaksi, menilai pilihan yang tersedia, dan mencari dukungan ketika diperlukan. Kesiapan mental bukan berarti tidak pernah merasa takut atau kecewa, melainkan mampu merespons emosi dan hambatan tanpa mudah tenggelam dalam keputusasaan. Latihan berkelanjutan di keluarga, sekolah, kampus, maupun lingkungan kerja dapat membantu kesadaran kesehatan mental berkembang menjadi daya lenting yang nyata.

Dari sudut pandang psikologi klinis, Hanna menempatkan kesehatan mental sebagai fondasi kesiapan generasi muda. Kesiapan ini tidak hanya berarti memiliki pengetahuan atau keterampilan untuk memasuki dunia kerja. Pemuda juga perlu mengenali kondisi dirinya, mengelola emosi, membangun hubungan yang sehat, serta menyesuaikan diri ketika menghadapi perubahan. Berbagai aspek tersebut saling berkaitan: kemampuan dan cita-cita lebih mudah dikembangkan ketika seseorang memiliki kesejahteraan psikologis yang cukup untuk menjalani prosesnya.

Potensi, kreativitas, dan inovasi pemuda merupakan modal penting bagi masa depan Indonesia. Namun, modal itu tidak akan tumbuh optimal apabila jiwa tidak sehat. Tekanan yang dibiarkan menumpuk dapat mengganggu konsentrasi, kepercayaan diri, pengambilan keputusan, dan kemampuan untuk terus berkarya. Karena itu, merawat kesehatan mental bukan tanda kelemahan ataupun hambatan bagi keberhasilan. Sebaliknya, hal tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kapasitas diri agar anak muda mampu menggunakan potensinya secara lebih berkelanjutan.

Kemampuan mengolah stres juga menjadi bekal penting, terutama saat menghadapi masa transisi menuju kedewasaan. Pada tahap ini, seseorang mungkin berhadapan dengan tuntutan pendidikan dan pekerjaan, kemandirian, relasi, maupun pertanyaan mengenai arah hidup. Pengalaman yang kerap disebut quarter-life crisis dapat membuat masa depan terasa tidak pasti dan memunculkan perbandingan diri dengan orang lain. Respons setiap individu berbeda, sehingga mengenali pemicu stres dan memahami kebutuhan pribadi dapat membantu seseorang menentukan langkah yang sesuai.

Tantangan tersebut berlangsung dalam kehidupan digital yang bergerak cepat. Arus informasi dan tuntutan untuk selalu terhubung dapat memberi manfaat, tetapi juga menambah tekanan apabila batas penggunaan media dan waktu istirahat tidak terjaga.

Baca juga: Sinergi Menuju Indonesia Emas 2045: Kodim Bojonegoro Perkuat Karakter Kebangsaan Komponen Masyarakat | Catatan Politik Bamsoet: Pendidikan Gratis dan Relevansinya Mewujudkan Indonesia Emas 2045 | Wapang TNI Tinjau Kesiapan Yonif TP di Sumedang dan Majalengka