Emas Tertekan Harga Energi, Perak Ikut Melemah di Pasar Global

oleh -51 Dilihat
oleh
Emas Tertekan Harga Energi, Perak Ikut Melemah di Pasar Global

Jakarta | Harga emas dunia mengalami koreksi tajam pada Kamis, 22 Oktober 2026. Mengacu pada data Refinitiv, logam mulia tersebut ditutup di US.023,98 per troy ons, turun 2,81% dibandingkan penutupan sebelumnya. Penurunan dalam satu hari ini membawa harga emas ke posisi terendah sejak 20 Juli 2026, sehingga nilainya berada pada titik paling rendah dalam lebih dari tiga bulan.

Pergerakan tersebut menandai perubahan yang cukup besar bagi pasar emas global. Setelah sebelumnya diperdagangkan pada tingkat yang lebih tinggi, emas kehilangan sebagian nilainya hingga kembali mendekati kisaran US$4.000 per troy ons. Besarnya koreksi terlihat dari persentase penurunan harian, sementara pencapaian level terendah sejak Juli menunjukkan tekanan telah membawa harga ke bawah rentang perdagangan beberapa bulan terakhir.

Meski demikian, perkembangan pada sesi berikutnya memperlihatkan pergerakan yang sedikit berbeda. Pada Jumat, 23 Oktober 2026 pukul 06.46, harga emas tercatat naik tipis 0,01% menjadi US$4.024,46 per troy ons. Kenaikan kecil ini membuat harga kembali berada di atas penutupan hari sebelumnya, tetapi besarnya perubahan masih terbatas dan belum menghapus koreksi tajam yang terjadi pada Kamis.

Dengan demikian, data dua sesi tersebut menunjukkan bahwa emas masih bergerak di sekitar US$4.024 per troy ons setelah mengalami penurunan harian yang signifikan. Kenaikan pada Jumat pagi dapat dicatat sebagai pemulihan tipis, bukan perubahan besar pada arah pergerakan harga. Perbandingan penutupan Kamis dan catatan Jumat pukul 06.46 juga penting: angka pertama merupakan harga penutupan, sedangkan angka berikutnya menggambarkan pembaruan harga pada waktu tertentu. Karena itu, keduanya memberi gambaran tentang perkembangan berurutan, tetapi tidak sepenuhnya setara sebagai ukuran penutupan harian.

Bagi pelaku pasar, titik terendah dalam lebih dari tiga bulan menjadi perkembangan yang patut diperhatikan ketika menilai kondisi emas. Data tersebut menggarisbawahi pelemahan pada Kamis sekaligus menunjukkan adanya perubahan kecil pada awal perdagangan Jumat. Harga selanjutnya tetap dapat bergerak, sehingga angka US$4.024,46 per troy ons sebaiknya dipahami sesuai waktu pencatatannya, bukan sebagai kepastian arah pasar sepanjang hari.

Kenaikan harga minyak global memberi tekanan tambahan terhadap emas, meskipun logam mulia kerap dipandang sebagai aset lindung nilai. Harga minyak melonjak sekitar 3% dan mencapai level tertinggi dalam lima bulan, sehingga perhatian pasar tertuju pada dampaknya terhadap inflasi dan arah kebijakan moneter. Ketika biaya energi meningkat, kekhawatiran bahwa tekanan harga akan bertahan lebih lama turut menguat. Perkembangan ini dapat mengurangi daya tarik emas, yang tidak memberikan imbal hasil, terutama ketika investor memperkirakan suku bunga tetap tinggi.

Kecemasan mengenai pasokan energi muncul setelah serangan Houthi di Arab Saudi memicu kekhawatiran akan gangguan terhadap aliran minyak. Pasar merespons risiko tersebut melalui kenaikan harga, sementara pelaku pasar menilai kemungkinan dampak lanjutan pada biaya energi. Lonjakan minyak menjadi salah satu faktor yang membentuk ekspektasi inflasi, karena energi merupakan komponen penting dalam biaya produksi dan transportasi. Dengan demikian, peningkatan harga minyak tidak hanya menjadi isu bagi pasar komoditas, tetapi juga memengaruhi perkiraan investor mengenai langkah bank sentral.

David Meger, direktur perdagangan logam di High Ridge Futures, menyampaikan bahwa kenaikan harga energi memperbesar kecemasan inflasi. Menurut pandangannya, kondisi tersebut memperkuat perkiraan bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan kebijakan ketat untuk waktu lebih lama atau kembali menaikkan suku bunga. Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi atau bertahan pada level ketat dapat membebani harga emas, karena aset tersebut tidak menawarkan bunga. Hubungan kenaikan energi, inflasi, dan kebijakan moneter ini membantu menjelaskan mengapa emas tertekan ketika harga minyak bergerak naik.

Tekanan pada emas juga berlangsung dalam konteks penilaian pasar terhadap risiko pasokan dan prospek inflasi yang berkembang. Selama harga energi tetap menjadi perhatian, ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve berpotensi menjadi faktor penting bagi pergerakan logam mulia. Namun, kenaikan minyak dan kekhawatiran inflasi tidak secara otomatis menentukan arah harga emas; keduanya menjadi bagian dari gambaran yang lebih luas yang dipertimbangkan investor. Untuk saat ini, lonjakan minyak menyuntikkan kekhawatiran bahwa inflasi dapat tetap tinggi dan suku bunga mungkin tidak segera turun, sehingga membatasi dukungan bagi emas.

Prospek suku bunga Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang menekan daya tarik emas di pasar global. Logam mulia ini kerap dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi, terutama ketika daya beli uang tergerus kenaikan harga. Namun, emas tidak memberikan bunga atau imbal hasil rutin kepada pemegangnya. Karena itu, ketika suku bunga meningkat atau pasar memperkirakan kebijakan moneter akan tetap ketat, investor dapat lebih tertarik pada instrumen berbunga, seperti obligasi dan deposito. Biaya peluang untuk menyimpan emas pun terasa lebih besar, sehingga permintaan terhadap aset tersebut berpotensi melemah.

Tekanan terhadap emas menguat setelah data inflasi konsumen dan produsen Amerika Serikat yang dirilis pada pekan sebelumnya melampaui perkiraan pasar. Angka yang lebih tinggi dari ekspektasi dapat memberi sinyal bahwa tekanan harga belum sepenuhnya mereda. Kondisi itu berpotensi membuat Federal Reserve atau The Fed mempertahankan suku bunga pada tingkat tinggi lebih lama, atau bahkan membuka ruang bagi kenaikan tambahan. Meski pejabat bank sentral diperkirakan belum mengubah suku bunga dalam pertemuan 27–28 Oktober, investor tetap mencermati kemungkinan keputusan berikutnya. Sikap hati-hati tersebut turut menjaga ketidakpastian di pasar dan membatasi minat terhadap emas.

Perhatian pasar kini beralih pada arah kebijakan menjelang akhir tahun. CME FedWatch Tool menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada Desember sebesar 78%, mencerminkan besarnya perhatian investor terhadap risiko pengetatan lebih lanjut. Perkiraan tersebut dapat berubah mengikuti data ekonomi dan pernyataan pejabat The Fed, sehingga belum menjadi kepastian keputusan. Investor juga menunggu data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau PCE Amerika Serikat yang dijadwalkan terbit pada 29 Oktober. PCE merupakan salah satu ukuran inflasi yang diperhatikan bank sentral dalam menilai perkembangan harga. Jika hasilnya kembali lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi suku bunga tinggi dapat menguat dan menambah tekanan pada emas. Sebaliknya, inflasi yang lebih lunak berpotensi meredakan kekhawatiran, meski respons pasar juga akan dipengaruhi oleh rincian data dan panduan kebijakan berikutnya.

Ekonom Intesa Sanpaolo menilai pasar logam mulia masih belum memiliki arah yang jelas. Pergerakan harga emas dan perak diperkirakan tetap rentan terhadap perubahan sentimen, sehingga volatilitas berpotensi bertahan tinggi dalam waktu dekat. Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar perlu mencermati perkembangan ekonomi global serta faktor-faktor yang memengaruhi permintaan dan biaya energi.

Untuk emas, Intesa Sanpaolo memperkirakan harga dapat bergerak di sekitar rata-rata US$4.200 per troy ons selama beberapa kuartal mendatang. Proyeksi tersebut mencerminkan pandangan bahwa belum ada katalis kuat yang cukup untuk mendorong harga secara konsisten ke satu arah. Pada saat yang sama, permintaan perhiasan global mengalami penurunan tajam, sehingga menjadi salah satu faktor yang dapat membatasi dukungan terhadap harga emas. Perubahan permintaan dari konsumen utama dan kondisi pasar yang lebih luas tetap menjadi hal penting untuk dipantau.

Perkembangan pasokan dan permintaan juga terlihat pada pasar perak di India. Pemerintah negara tersebut menerbitkan izin impor sekitar 6.500 metrik ton untuk enam bulan ke depan.

Baca juga: Taruna Akmil Raih Medali Perak dan Emas pada Akmil Open Tournament Pencak Silat Piala Panglima TNI 2026 | Harga Emas Hari Ini 4 September Naik Tajam! Rincian Lengkap Antam, Galeri24, dan UBS