Emas dan Perak Tertekan Usai Inflasi AS Ubah Perkiraan Suku Bunga

oleh -61 Dilihat
oleh
Emas dan Perak Tertekan Usai Inflasi AS Ubah Perkiraan Suku Bunga

Jakarta | Harga emas dan perak melemah selama tiga hari berturut-turut setelah data inflasi Amerika Serikat melampaui perkiraan pasar. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pelaku pasar menilai kembali prospek kebijakan moneter, khususnya arah suku bunga Federal Reserve. Indeks Harga Konsumen (IHK) AS naik 0,6% pada September 2026, lebih cepat dibandingkan kenaikan 0,4% pada Agustus. Angka tersebut memberi sinyal bahwa tekanan harga belum mereda secepat yang diharapkan, sehingga ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan dapat menjadi lebih terbatas.

Reaksi pasar terhadap data tersebut turut menguatkan perkiraan bahwa Federal Reserve mungkin perlu mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka kemungkinan kenaikan tambahan. Ekspektasi seperti ini biasanya menopang dolar AS dan imbal hasil obligasi, karena aset berbunga menjadi relatif lebih menarik bagi investor. Pada saat yang sama, penguatan dolar dapat membuat logam mulia yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut lebih mahal bagi pembeli di luar AS. Kombinasi faktor itu menambah tekanan terhadap harga emas dan perak dalam jangka pendek, meski arah pasar tetap dapat berubah seiring data ekonomi berikutnya.

Suku bunga yang lebih tinggi berpotensi mengurangi daya tarik emas dan perak karena kedua logam tidak memberikan bunga atau imbal hasil rutin. Investor yang mencari pendapatan dapat memilih instrumen seperti obligasi ketika imbal hasilnya meningkat, sehingga biaya peluang untuk memegang logam mulia ikut naik. Namun, emas kerap dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Peran tersebut tidak serta-merta menjamin kenaikan harga setiap kali inflasi meningkat: responsnya juga bergantung pada ekspektasi suku bunga, nilai dolar, imbal hasil riil, dan permintaan investasi. Karena itu, pelemahan beruntun mencerminkan perhatian pasar pada dampak kebijakan moneter, bukan hilangnya seluruh fungsi perlindungan emas. Perkembangan data inflasi dan komunikasi pejabat Federal Reserve selanjutnya akan menjadi perhatian untuk menilai apakah tekanan terhadap logam mulia berlanjut atau mereda.

Harga emas mencatat penurunan tajam pada perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026. Berdasarkan data Refinitiv, emas ditutup pada US$4.105,12 per troy ons, melemah 1,2% dibandingkan penutupan sebelumnya. Level tersebut menjadi harga penutupan terendah sejak 4 Agustus 2026, menandai tekanan yang semakin terlihat di pasar logam mulia. Koreksi ini juga memperpanjang pelemahan emas menjadi tiga hari berturut-turut. Dalam rentang tersebut, harga telah turun dengan akumulasi sebesar 2,11%. Pergerakan itu menunjukkan investor terus menilai kembali prospek aset lindung nilai di tengah perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Pelemahan dalam beberapa sesi terakhir terjadi ketika perhatian pasar tertuju pada perkembangan inflasi AS dan dampaknya bagi arah suku bunga.

Tekanan terhadap emas berlanjut pada perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026. Pada pukul 06.39 WIB, harga tercatat turun 0,08% ke US$4.101,9 per troy ons. Meski penurunan pada awal sesi tersebut lebih terbatas dibandingkan koreksi sehari sebelumnya, harga bergerak semakin jauh dari level penutupan Rabu. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa sentimen negatif belum sepenuhnya mereda. Pelaku pasar masih mencermati indikator ekonomi dan perubahan perkiraan suku bunga, yang dapat memengaruhi daya tarik emas. Logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga, sehingga perubahan prospek suku bunga dapat mengubah pertimbangan investor dalam membandingkannya dengan instrumen lain. Namun, pergerakan harga pada satu waktu pengamatan tidak dengan sendirinya memastikan arah perdagangan selanjutnya.

Salah satu faktor yang menekan harga adalah penguatan indeks dolar AS sebesar 0,5% ke 102,55. Dolar yang lebih kuat membuat emas berdenominasi dolar relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga berpotensi mengurangi minat beli dari sebagian investor internasional. Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga naik. Kenaikan imbal hasil tersebut menambah tekanan karena surat utang menawarkan pendapatan, sementara emas tidak menghasilkan kupon. Kombinasi dolar yang menguat dan imbal hasil yang meningkat dapat mendorong investor mengalihkan sebagian dana dari logam mulia. Dalam konteks ini, perubahan perkiraan suku bunga setelah data inflasi AS menjadi perhatian penting untuk menilai apakah tekanan pada emas berlanjut atau mereda pada sesi berikutnya.

Perak mengalami tekanan lebih tajam dibandingkan emas setelah data inflasi Amerika Serikat mendorong pasar menilai kembali arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Pada Rabu, 14 Oktober 2026, harga perak ditutup di US$55,63 per troy ons, anjlok 6,3% dalam sehari. Penurunan tersebut membawa harga ke level penutupan terendah sejak 17 Juli 2026, sekaligus menandai perubahan sentimen yang cukup besar di pasar logam mulia.

Tekanan masih terlihat pada perdagangan berikutnya. Pada Kamis, 15 Oktober 2026 pukul 06.39 WIB, perak tercatat turun 0,05% ke US$55,64 per troy ons. Pergerakan tipis itu menunjukkan harga belum pulih setelah aksi jual tajam sehari sebelumnya. Pelaku pasar kini mencermati apakah kenaikan imbal hasil dan perubahan prospek kebijakan moneter akan terus membatasi minat terhadap aset yang tidak memberikan bunga, termasuk perak.

Perubahan ekspektasi suku bunga tercermin dalam CME FedWatch Tool. Setelah data inflasi dirilis, peluang kenaikan suku bunga pada bulan tersebut diperkirakan sekitar 42%, meningkat dari 22% sebelum publikasi data. Sementara itu, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan mencapai 93%. Angka tersebut menggambarkan bahwa investor semakin memperhitungkan kebijakan yang lebih ketat, meski proyeksi pasar dapat berubah apabila data ekonomi berikutnya memberikan sinyal berbeda.

Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi umumnya menjadi hambatan bagi perak. Biaya peluang untuk memegang logam tanpa imbal hasil meningkat ketika suku bunga naik, sedangkan dolar AS dan imbal hasil aset berbunga dapat memperoleh dukungan. Namun, prospek perak juga dipengaruhi permintaan industri dan kondisi ekonomi global, sehingga arah harganya tidak semata-mata ditentukan keputusan bank sentral.

Wakil Ketua The Fed untuk Pengawasan Michelle Bowman menyampaikan bahwa bank sentral masih memiliki waktu untuk mengamati perkembangan ekonomi dan pasar keuangan setelah kenaikan suku bunga pada September, sebelum menentukan langkah berikutnya. Pernyataan itu memberi ruang bagi penilaian lebih lanjut, bukan kepastian bahwa kenaikan tambahan akan segera dilakukan. Bagi investor, perhatian kini tertuju pada data inflasi, tenaga kerja, dan indikator aktivitas ekonomi berikutnya. Kombinasi sinyal tersebut dan komunikasi pejabat The Fed berpotensi menentukan apakah tekanan terhadap perak berlanjut atau mereda dalam sesi-sesi mendatang.

David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, menilai data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi daripada perkiraan telah mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga. Angka tersebut memperbesar kemungkinan bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga, atau mempertahankan kebijakan ketat lebih lama, untuk meredam tekanan harga. Perkiraan suku bunga yang lebih tinggi biasanya mendukung dolar AS karena aset berdenominasi dolar menjadi lebih menarik bagi investor. Penguatan mata uang tersebut kemudian menambah tekanan terhadap emas, yang diperdagangkan dalam dolar dan tidak memberikan imbal hasil bunga.

Menurut Meger, perubahan ekspektasi ini menjadi faktor penting di balik pelemahan logam mulia dalam jangka pendek. Ketika dolar menguat dan imbal hasil aset berbunga meningkat, biaya peluang untuk memegang emas ikut naik.

Baca juga: Taruna Akmil Raih Medali Perak dan Emas pada Akmil Open Tournament Pencak Silat Piala Panglima TNI 2026