Destry Damayanti Dorong Industri dan Hilirisasi Hadapi Perubahan Ekonomi Global

oleh -41 Dilihat
oleh
Destry Damayanti Dorong Industri dan Hilirisasi Hadapi Perubahan Ekonomi Global

Jakarta | Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menilai Indonesia perlu memperkuat industrialisasi dan memperdalam hilirisasi untuk menghadapi perubahan lanskap ekonomi global. Ketegangan geopolitik dan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan mengubah pola perdagangan, investasi, serta persaingan antarnegara. Dalam situasi tersebut, Indonesia perlu meningkatkan kemampuan mengolah potensi domestik menjadi produk bernilai tambah, sekaligus membangun industri yang lebih produktif dan mampu bersaing. Langkah ini penting agar perekonomian tidak hanya bergantung pada penjualan bahan mentah atau terpapar perubahan kondisi global.

Destry menyebut jumlah penduduk yang besar dan kekayaan sumber daya alam sebagai modal penting bagi Indonesia untuk berkembang menjadi salah satu kekuatan ekonomi Asia. Namun, kedua keunggulan itu tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan yang kuat. Indonesia perlu menopangnya dengan fondasi ekonomi yang kokoh, peningkatan produktivitas, serta kapasitas industri yang mampu menciptakan nilai tambah lebih tinggi. Pengembangan hilirisasi, menurut pandangan tersebut, dapat memperluas kegiatan ekonomi di dalam negeri dan mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih optimal. Dengan demikian, potensi nasional dapat memberi manfaat yang lebih besar bagi perekonomian.

Pandangan itu disampaikan Destry dalam paparan bertajuk “The Emerging Giant: Indonesia’s Next Decade in Asia’s Growth Story” pada Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026, Senin (26/10/2026). Ia menekankan pentingnya menyiapkan arah pembangunan yang jelas agar peluang yang tersedia dapat mendukung pertumbuhan jangka panjang. “Kita perlu memperkuat fondasi ekonomi dan memiliki rencana untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujar Destry. Pernyataan tersebut menempatkan industrialisasi dan hilirisasi sebagai bagian dari upaya memperkokoh ketahanan ekonomi, meningkatkan produktivitas, serta mengubah keunggulan demografi dan sumber daya alam menjadi kekuatan yang nyata. Tantangan berikutnya adalah memastikan kebijakan, investasi, dan inovasi berjalan searah, sehingga industri nasional mampu beradaptasi terhadap perubahan teknologi dan dinamika ekonomi dunia tanpa kehilangan fokus pada penciptaan nilai tambah di dalam negeri. Dengan fondasi yang lebih kuat, Indonesia dapat memperbesar kontribusinya dalam pertumbuhan kawasan Asia.Perubahan geopolitik dan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) turut mengubah pola perdagangan, arus investasi, serta persaingan antarnegara. Pergeseran rantai pasok global dan pemanfaatan teknologi baru dapat membuka pasar, tetapi juga meningkatkan tekanan terhadap negara yang belum memiliki kapasitas industri dan tenaga kerja yang memadai. Karena itu, Indonesia memerlukan strategi ekonomi jangka panjang agar mampu menjaga daya saing sekaligus menangkap peluang pertumbuhan di tengah perubahan tersebut.

Destry Damayanti menilai Indonesia memiliki pengalaman membangun industri, terutama sejak akhir 1980-an hingga awal 1990-an. Namun, dalam perkembangan berikutnya, perekonomian kembali banyak bertumpu pada ekspor komoditas. Ketergantungan ini membuat nilai ekonomi yang diperoleh di dalam negeri belum optimal, terutama ketika bahan mentah atau produk olahan awal dikirim ke pasar global untuk diproses lebih lanjut di negara lain. Menurutnya, industri perlu kembali menjadi salah satu penggerak utama ekonomi nasional.

Upaya tersebut berkaitan erat dengan pendalaman hilirisasi. Pengolahan sumber daya alam, katanya, sebaiknya tidak berhenti pada tahap awal, melainkan diteruskan melalui rangkaian produksi yang lebih panjang dan beragam. Destry menyoroti bahwa rantai nilai industri Indonesia masih belum cukup dalam. Sejumlah produk memang telah melewati proses pengolahan, tetapi belum mencapai tahap yang menghasilkan barang akhir dengan nilai tambah tinggi. Kondisi ini membatasi peluang penciptaan pekerjaan, penguasaan teknologi, dan peningkatan pendapatan dari ekspor.

Dalam menggambarkan tantangan itu, Destry menyebut, “Economic Complexity Index kita masih rendah, dan ada produk yang baru diproses setengahnya sebelum diekspor.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa ukuran kemajuan bukan hanya besarnya volume ekspor, tetapi juga keragaman kemampuan produksi dan kompleksitas barang yang dihasilkan. Hilirisasi yang lebih mendalam dapat membantu memperbaiki posisi Indonesia dalam rantai nilai global.

Strategi industri, dengan demikian, perlu mendorong keterhubungan antartahap produksi di dalam negeri: dari pengolahan bahan baku, penyediaan komponen, hingga pembuatan produk bernilai tambah lebih tinggi. Perpanjangan rantai pasok domestik memerlukan investasi, teknologi, keterampilan, dan kepastian kebijakan yang konsisten. Dengan fondasi tersebut, sumber daya alam dapat menjadi titik awal bagi industri yang lebih beragam, bukan sekadar komoditas untuk diekspor.

Menurut Destry, industrialisasi perlu ditopang oleh sejumlah prasyarat yang saling berkaitan. Peningkatan produktivitas menjadi dasar agar kapasitas produksi dan nilai tambah dapat tumbuh secara berkelanjutan. Pada saat yang sama, pemanfaatan teknologi perlu diperkuat supaya industri mampu beradaptasi terhadap perubahan proses produksi, kebutuhan pasar, serta persaingan yang semakin dinamis. Teknologi bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari upaya meningkatkan efisiensi dan menjaga daya saing.

Ketersediaan tenaga kerja juga menentukan keberhasilan industrialisasi. Industri membutuhkan pekerja yang memadai dan mampu mendukung penggunaan teknologi serta proses produksi yang terus berkembang. Selain itu, pencapaian skala ekonomi dapat membantu kegiatan industri menjadi lebih efisien dan kompetitif. Keempat aspek tersebut—produktivitas, teknologi, tenaga kerja, dan skala ekonomi—perlu bergerak bersama. Tanpa dukungan yang seimbang, industri nasional akan lebih sulit menghadapi perubahan teknologi dan perdagangan global, termasuk perubahan pola persaingan dan tuntutan pasar. Karena itu, penguatan kapasitas industri perlu diarahkan agar pelaku usaha dapat beradaptasi dan bersaing, bukan hanya memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga merespons perubahan yang berlangsung di tingkat global.

Destry juga menekankan pentingnya investasi produktif sebagai pendorong pertumbuhan Indonesia dalam satu dekade mendatang. Investasi semacam ini dapat memperkuat kegiatan ekonomi dan mendukung pengembangan industri, terutama ketika perubahan global menuntut kapasitas produksi yang lebih tangguh. Dalam konteks tersebut, Danantara dinilai memiliki potensi untuk membuka ruang bagi peluang baru. Destry menyatakan, “Danantara dapat menjadi lokomotif pertumbuhan dengan membuka peluang bagi proyek strategis serta memberi kesempatan dan kepercayaan kepada sektor swasta untuk ikut berinvestasi.” Peran itu menempatkan Danantara sebagai salah satu penggerak yang dapat mempertemukan peluang strategis dengan partisipasi dunia usaha. Dengan melibatkan sektor swasta, investasi produktif diharapkan tidak hanya menjadi sumber pembiayaan, tetapi juga membantu mendorong pertumbuhan dan memperkuat kemampuan industri nasional menghadapi perubahan ekonomi global pada tahun-tahun mendatang.

Investasi memiliki peran penting dalam menghadapi perubahan ekonomi global, tetapi dampaknya tidak semestinya diukur hanya dari jumlah proyek yang dibangun atau nilai modal yang masuk. Destry Damayanti menekankan bahwa investasi perlu memperkuat kapasitas produksi, mendorong peningkatan produktivitas, dan menciptakan kesempatan kerja. Dengan demikian, kegiatan investasi dapat memberi manfaat yang lebih luas bagi perekonomian dan mendukung daya saing industri dalam jangka panjang.

Penguatan kapasitas produksi membutuhkan kebijakan yang saling terhubung. Pembangunan infrastruktur, pengembangan keterampilan tenaga kerja, akses pembiayaan, dan dukungan terhadap industri perlu berjalan searah dengan kebutuhan sektor usaha. Tanpa keterkaitan tersebut, proyek dapat berdiri sendiri dan belum tentu menghasilkan kenaikan produktivitas atau penyerapan tenaga kerja yang optimal. Karena itu, perencanaan investasi perlu mempertimbangkan rantai nilai, kebutuhan pasar, serta kemampuan pelaku industri untuk mengembangkan kegiatan produksi.

Koordinasi antarpemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam memastikan arah pembangunan. Pemerintah, Bank Indonesia, dunia usaha, dan lembaga terkait perlu menyelaraskan kebijakan serta berbagi informasi mengenai tantangan dan peluang ekonomi. Perencanaan jangka menengah dan panjang yang terarah dapat membantu menjaga kesinambungan program, mengurangi tumpang tindih, dan memastikan dukungan yang dibutuhkan tersedia pada waktunya. Pendekatan ini juga membantu kebijakan pembangunan bergerak sebagai satu agenda, bukan sebagai inisiatif yang terpisah-pisah.

Dalam kerangka tersebut Destry mengingatkan mandat Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas.

Baca juga: Di tengah perubahan sosial, ekonomi, teknologi dan politik yang berlangsung cepat, generasi muda dituntut tidak hanya menjadi penonton | Menerima Kunjungan Persahatan Duta Besar Maroko untuk Indonesia, Bamsoet Dorong Peningkatan Kerja Sama Ekonomi Indonesia dan Maroko | Menerima Ketum PERIKLINDO Jenderal Moeldoko Bamsoet Dorong Indonesia Jadi Basis Industri Kendaraan Listrik Dunia