Jakarta | Pada usia 29 tahun, Keziah Veendorp menjalani babak kehidupan yang berbeda dari masa-masanya sebagai pemain sepak bola profesional. Mantan kapten muda Belanda itu kini lebih banyak mencurahkan waktu untuk keluarga sekaligus mengembangkan usaha barang bekas di Belanda. Perubahan tersebut menandai pergeseran dari rutinitas kompetisi dan lapangan menuju kegiatan yang berpusat pada kehidupan sehari-hari serta dunia usaha.
Usaha itu dibangun Veendorp bersama istrinya, Djanisha. Keduanya mengembangkan bisnis barang bekas sebagai bagian dari perjalanan baru setelah Veendorp menempuh masa panjang di sepak bola. Meski kini fokusnya tidak lagi semata-mata pada karier sebagai pemain, pengalaman bertahun-tahun di lingkungan profesional tetap menjadi bagian penting dari kisah hidupnya. Peralihan ini menggambarkan bagaimana seorang atlet dapat memasuki fase berbeda ketika perjalanan di lapangan mencapai titik baru.
Dalam menjalani kegiatan usaha, Veendorp dan Djanisha terlibat bersama dalam pengembangan bisnis mereka. Fokus pada barang bekas juga menempatkan pasangan tersebut di bidang yang berbeda dari dunia olahraga, dengan perhatian pada kegiatan jual beli dan pengelolaan usaha. Bagi Veendorp, keseharian saat ini mencakup waktu bersama keluarga dan tanggung jawab membangun usaha, sebuah kombinasi yang berbeda dari jadwal dan tuntutan sepak bola profesional.
Kisah Veendorp memperlihatkan perubahan arah setelah perjalanan panjang sebagai pemain, tanpa perlu menyederhanakannya menjadi satu alasan tertentu untuk meninggalkan sepak bola profesional. Pada usia yang relatif muda, ia kini membagi perhatian kehidupan keluarga dan usaha bersama Djanisha. Babak baru ini bukan sekadar pergantian pekerjaan, melainkan juga penyesuaian pada pola hidup yang berbeda. Dari lapangan sepak bola menuju bisnis barang bekas di Belanda, Veendorp membangun keseharian baru bersama istrinya, sambil melanjutkan perjalanan di luar kompetisi profesional.
Di Kropswolde, wilayah Groningen, Keziah Veendorp dan istrinya memulai babak baru dengan membuka kringloopwinkel Vindhet pada 2026. Toko barang bekas ini menjadi usaha keluarga yang menawarkan pilihan barang untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk mempercantik rumah. Kehadirannya memberi warga setempat tempat untuk mencari barang layak pakai dengan harga terjangkau, sekaligus memperpanjang masa guna benda yang masih dapat dimanfaatkan. Nama Vindhet kini melekat pada sebuah toko lokal yang tumbuh dari minat pribadi pasangan tersebut, bukan dari rencana usaha besar yang berdiri terpisah dari kehidupan mereka.
Barang yang dijual mencakup pakaian, furnitur, peralatan dapur, dan dekorasi rumah. Ragam tersebut membuat pengunjung dapat menemukan kebutuhan yang berbeda dalam satu tempat, mulai dari perlengkapan praktis hingga benda yang bisa memberi sentuhan baru pada ruangan. Harga yang terjangkau menjadi bagian penting dari daya tarik toko, terutama bagi mereka yang ingin berbelanja secara hemat atau mencari barang bekas yang masih berguna. Seperti halnya toko barang bekas lainnya, pilihan yang tersedia dapat berubah mengikuti barang yang masuk, sehingga isi toko tidak selalu sama dari waktu ke waktu.
Usaha Vindhet berawal dari kegemaran Veendorp dan istrinya mengumpulkan barang bekas serta menjualnya kembali. Ketertarikan itu kemudian berkembang menjadi toko fisik, tempat mereka dapat berbagi pilihan barang dengan masyarakat sekitar. Dengan demikian, Vindhet bukan hanya ruang jual beli, tetapi juga kelanjutan dari kebiasaan yang telah mereka nikmati bersama. Menurut laporan RTV Midden-Groningen tertanggal 24 Juni 2026, toko tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat dalam beberapa bulan pertama setelah dibuka. Respons awal itu menunjukkan bahwa konsep toko keluarga dengan barang beragam dan harga yang bersahabat menemukan peminat di Kropswolde. Bagi Veendorp dan istrinya, penerimaan tersebut menjadi awal yang menggembirakan bagi usaha yang dibangun berdasarkan minat bersama.Jual beli barang bekas bukanlah minat yang baru muncul setelah Keziah Veendorp meninggalkan lapangan sepak bola. Ketika masih aktif sebagai pesepak bola, ia telah tertarik mencari barang-barang bekas yang masih memiliki potensi untuk digunakan kembali. Kegiatan itu berawal sebagai kesibukan pribadi di luar rutinitas olahraga, sekaligus kesempatan untuk menemukan benda yang menarik dan memperbaikinya. Veendorp biasanya menjelajahi platform jual beli daring untuk mencari barang yang sesuai. Dari sana, ia memilih benda yang dianggap layak dipulihkan, lalu mengerjakannya sebelum menjualnya kembali. Proses sederhana tersebut mempertemukan ketertarikannya pada barang lama dengan gagasan untuk memberi barang itu kesempatan kedua.
Seiring waktu, kegiatan mencari, memperbaiki, dan menjual kembali barang bekas berkembang menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar kegemaran. Pengalaman berulang dalam memilih barang dan merawatnya membuat Veendorp semakin akrab dengan proses tersebut. Ia tidak hanya melihat barang bekas sebagai benda yang sudah tidak diperlukan pemilik sebelumnya, tetapi juga sebagai barang yang masih dapat dimanfaatkan oleh orang lain. Dengan demikian, jual beli daring menjadi titik awal bagi kegiatan yang kemudian terus bertumbuh. Minat yang sebelumnya dijalankan di sela-sela karier sepak bola itu perlahan memperoleh bentuk yang lebih nyata. Peralihannya berlangsung dari kebiasaan pribadi menuju gagasan usaha yang dapat dijalankan secara bersama-sama.
Perkembangan berikutnya membawa kegiatan tersebut ke ruang fisik melalui sebuah toko barang bekas yang dikelola Veendorp bersama keluarganya. Kehadiran toko menandai babak baru: minat yang dahulu dijalankan dengan mencari barang di platform daring kini memiliki wujud sebagai usaha bersama. Keluarga menjadi bagian dari pengelolaan, sehingga kegiatan itu tidak lagi hanya bertumpu pada pengalaman pribadi Veendorp. Perubahan ini memperlihatkan bagaimana kegemaran yang tumbuh saat ia masih menjadi pesepak bola dapat berkembang menjadi usaha fisik. Meski bentuknya berubah, gagasan dasarnya tetap berangkat dari pencarian barang bekas, pemulihan, dan penjualan kembali. Perjalanan tersebut menjadi salah satu sisi baru dalam kehidupan Veendorp di luar sepak bola.
Sebelum dikenal melalui babak baru di luar lapangan, Keziah Veendorp lebih dahulu menonjol sebagai pemain sepak bola muda di Belanda. Ia lahir di Sappemeer pada 17 Februari 1997 dan tumbuh dalam lingkungan pembinaan sepak bola yang membawanya ke akademi FC Groningen. Di sana, Veendorp ditempa sebagai pemain bertahan dengan kemampuan membaca permainan dan mengolah bola. Perkembangannya membuat namanya diperhatikan, bukan hanya karena posisinya di lapangan, tetapi juga karena potensi yang dinilai menjanjikan pada usia muda.
Salah satu penanda penting dalam karier juniornya adalah peran sebagai kapten tim nasional Belanda U-17. Veendorp menjadi bagian dari skuad yang melaju hingga final Piala Eropa U-17 pada 2014, sebuah pencapaian yang memperlihatkan tingkat kepercayaan pelatih terhadap kepemimpinannya. Pengalaman tampil dalam turnamen besar kelompok umur itu turut membangun reputasinya sebagai salah satu prospek yang patut diikuti. Pada masa tersebut, ia bahkan sempat dijuluki “The Next Virgil van Dijk”, perbandingan yang mencerminkan harapan tinggi terhadap kualitasnya sebagai bek tengah.
Meski dikenal terutama sebagai bek tengah, Veendorp juga dapat bermain sebagai gelandang bertahan. Fleksibilitas ini memberi tim pilihan tambahan dalam menyusun pertahanan maupun membangun serangan dari lini belakang, sekaligus menjadi salah satu alasan sejumlah klub Eropa dikabarkan tertarik kepadanya. Namanya pun pernah dikaitkan dengan tim nasional Indonesia U-23, tetapi kabar tersebut sebatas spekulasi dan bukan bukti bahwa ia pernah memperkuat Indonesia. Latar belakangnya menggambarkan jalur pemain muda yang pernah dipenuhi sorotan, tanggung jawab, dan peluang profesional. Karena itu, perubahan menuju kehidupan baru sebagai perintis toko barang bekas menghadirkan kontras yang kuat.
