Dari Bangkok ke Parung, Nivia Membangun Usaha Kara Risoles Bersama Ibu

oleh -11 Dilihat
oleh
Dari Bangkok ke Parung, Nivia Membangun Usaha Kara Risoles Bersama Ibu

Jakarta | Setelah lima tahun bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bangkok, Nivia kembali ke Indonesia dan melanjutkan karier di bidang IT support. Pengalaman bekerja di lingkungan kantor menjadi bagian penting dalam perjalanan profesionalnya. Namun, sejak Juli, rutinitas itu berubah: Nivia resmi membantu usaha Kara Risoles secara penuh bersama ibunya, Ninda. Keputusan tersebut menandai babak baru, ketika perhatian dan waktunya kini lebih banyak tercurah pada usaha keluarga yang mereka bangun bersama.

Kara Risoles bukan usaha yang muncul begitu saja. Ninda telah merintis bisnis risoles itu sekitar dua tahun sebelum Nivia bergabung penuh. Kegiatan produksi berpusat di Parung, Bogor, tempat ibu dan anak tersebut menjalankan usaha mereka. Dengan pengalaman dan tenaga Nivia kini terlibat langsung, pembagian peran dalam usaha keluarga ikut berkembang. Peralihan ini membawa perubahan nyata dalam kesehariannya: dari jadwal kerja kantoran menuju aktivitas yang berkaitan erat dengan proses membesarkan bisnis makanan rumahan.

Bergabung dengan Kara Risoles berarti Nivia memilih ritme hidup yang lebih lambat dibandingkan rutinitas karier sebelumnya, sekaligus mengambil bagian dalam perjalanan usaha yang telah dirintis ibunya. Pilihan tersebut tidak menghapus pengalaman kerja yang ia miliki, tetapi mengarahkannya pada bentuk pekerjaan yang berbeda. Kini, ia dan Ninda menaruh perhatian pada pengembangan usaha risoles dari Parung, sambil menjalani peran sebagai rekan kerja sekaligus keluarga. Kisah Nivia memperlihatkan perubahan jalur karier yang konkret: setelah bertahun-tahun bekerja di Bangkok dan kemudian menekuni IT support di Indonesia, ia kini membangun Kara Risoles bersama sang ibu. Fokusnya bergeser dari pekerjaan kantoran ke usaha keluarga, dengan kegiatan produksi yang menjadi pusat aktivitas mereka. Perubahan itu berlangsung melalui keterlibatan penuh Nivia sejak Juli, setelah bisnis tersebut lebih dahulu tumbuh selama kurang lebih dua tahun. Bagi Nivia, perjalanan ini kini berpusat pada kerja bersama Ninda dan upaya membesarkan Kara Risoles secara bertahap di Parung.Perkembangan Kara Risoles bertumpu pada perpaduan pengalaman Ninda dalam menjalankan bisnis dan kemampuan teknologi yang dibawa putrinya, Nivia. Keduanya memiliki latar belakang yang berbeda, tetapi saling melengkapi dalam mengelola usaha keluarga tersebut. Pengalaman panjang Ninda membantu membangun dasar bisnis yang kuat, sementara keterampilan Nivia membuka peluang untuk bekerja lebih teratur dan menyesuaikan usaha dengan kebutuhan masa kini.

Sebelum mengembangkan Kara Risoles, Ninda telah berpengalaman sebagai konsultan bisnis selama lebih dari 30 tahun, sejak 1995. Pengetahuan yang ia kumpulkan dari pekerjaannya menjadi bekal dalam memahami pengelolaan usaha, termasuk mempertimbangkan langkah yang diperlukan agar bisnis dapat bertahan dan berkembang. Pengalaman itu juga memberinya sudut pandang praktis dalam mengambil keputusan serta menghadapi berbagai tantangan yang muncul sepanjang perjalanan usaha.

Nivia membawa keahlian yang berbeda melalui pekerjaannya di bidang IT support. Pengalaman tersebut membiasakannya berhadapan dengan teknologi dan mencari solusi ketika menghadapi kendala. Kemampuan ini dapat mendukung proses kerja Kara Risoles, mulai dari membantu pemanfaatan perangkat digital hingga memperkenalkan cara kerja yang lebih efisien. Peran Nivia bukan sekadar membantu kegiatan harian, melainkan juga melengkapi pengalaman bisnis ibunya dengan perspektif teknologi.

Nivia menyampaikan bahwa ia pulang dan mulai membantu ibunya secara penuh sejak Juli. Keputusan untuk terlibat langsung itu membuat keduanya dapat bekerja berdampingan dalam mengembangkan Kara Risoles. Ninda membawa pemahaman bisnis yang dibentuk selama puluhan tahun, sedangkan Nivia menyumbangkan keterampilan teknologi dan dukungan operasional. Perpaduan tersebut menjadi landasan penting bagi pertumbuhan usaha, karena keputusan bisnis dapat berjalan seiring dengan penerapan kemampuan digital. Dengan bekerja bersama, ibu dan anak ini menggabungkan pengalaman serta keahlian masing-masing untuk mendukung perkembangan Kara Risoles dari waktu ke waktu.

Nivia tidak hanya menyiapkan Kara Risoles dari belakang layar, tetapi juga ikut berjualan langsung di bazar UMKM. Ia menyapa pengunjung, memperkenalkan produk, dan melayani pembeli yang datang ke stan. Berada di tengah keramaian membuatnya dapat mengetahui tanggapan pelanggan secara langsung, sekaligus menjelaskan pilihan rasa dan produk yang ditawarkan. Meski kegiatan bazar cukup melelahkan karena membutuhkan tenaga dan waktu, Nivia menikmati kesempatan untuk berinteraksi dengan orang-orang yang mencicipi atau membeli risolesnya. Pengalaman tersebut memberinya ruang untuk membangun kedekatan dengan pelanggan, bukan sekadar melakukan transaksi.

Dalam salah satu bazar, Nivia membawa 200 risoles dan berhasil menjual lebih dari 130 buah dalam waktu singkat. Hasil itu menjadi pengalaman yang menggembirakan baginya, terutama karena produk dapat diterima oleh pengunjung yang ditemuinya secara langsung. Namun, capaian tersebut merupakan hasil dari satu kegiatan bazar, bukan ukuran tetap bagi setiap penjualan atau pameran berikutnya. Jumlah pembeli dapat berbeda-beda, bergantung pada suasana acara, lokasi, dan kondisi pengunjung. Karena itu, pengalaman tersebut lebih tepat dipandang sebagai salah satu momen yang menunjukkan adanya minat terhadap Kara Risoles.

Selain berjualan langsung, Nivia mempromosikan Kara Risoles melalui Instagram, X (Twitter), dan Threads. Media sosial membantu menyampaikan informasi produk dan menjangkau calon pelanggan di luar pengunjung bazar. Saat mengikuti pameran di PIK 2, suasana acara dinilai sepi dan jumlah orang yang datang ke stan tidak ramai. Nivia kemudian mengunggah informasi tentang keikutsertaannya di Threads. Unggahan itu mendorong sejumlah pelanggan untuk datang, sementara yang lain memilih memesan melalui Grab. Bahkan, pada hari terakhir pameran, ada pelanggan yang melakukan pemesanan ulang. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa promosi digital dapat membantu menghubungkan usaha dengan pelanggan ketika kunjungan langsung terbatas, meskipun hasilnya tidak selalu sama pada setiap acara.

Kara Risoles menawarkan pilihan yang berbeda dari risoles tradisional, terutama melalui ragam rasa gurih dan manis yang dirancang untuk selera beragam. Untuk penggemar cita rasa gurih, tersedia beef truffle dengan sentuhan truffle, bolognese yang terinspirasi saus pasta, serta smoked beef mayo yang memadukan daging asap dan mayones. Pilihan manisnya mencakup ubi ungu mozzarella, matcha, dan jasuke, singkatan dari jagung, susu, dan keju. Perpaduan bahan dan rasa tersebut memberi pelanggan alternatif selain isian risoles yang lebih umum. Kulit risoles juga dibuat dalam beragam warna yang disesuaikan dengan isi, sehingga setiap varian memiliki tampilan khas dan lebih mudah dikenali.

Untuk menjangkau pelanggan, Kara Risoles menjual produknya melalui beberapa saluran. Bazar menjadi salah satu tempat bagi calon pembeli untuk melihat pilihan rasa dan mencoba produk secara langsung. Pelanggan juga dapat memesan melalui layanan pesan antar GrabFood, GoFood, dan ShopeeFood. Di luar penjualan langsung kepada konsumen, usaha ini memasok risoles beku secara rutin kepada salah satu kafe di Jakarta. Pasokan tersebut memperluas jangkauan produk sekaligus menjadi bagian dari kegiatan usaha sehari-hari. Produk beku Kara Risoles dapat bertahan hingga tiga bulan apabila disimpan di freezer. Ketahanan ini didukung teknik pembekuan yang digunakan, sehingga produk dapat disiapkan sebagai persediaan tanpa harus langsung dijual atau dikonsumsi.

Saat ini, operasional Kara Risoles dijalankan oleh tim kecil yang terdiri atas empat orang. Skala tim tersebut mencerminkan usaha yang masih berkembang, dengan Nivia dan Ninda terlibat dalam membangun bisnis bersama. Keduanya berharap Kara Risoles dapat terus tumbuh, menjangkau lebih banyak pelanggan, dan mengembangkan kegiatan produksi maupun penjualan. Seiring perkembangan usaha, mereka ingin menambah jumlah karyawan agar pekerjaan dapat dibagi dan kapasitas bisnis meningkat. Harapan itu juga berkaitan dengan keinginan untuk membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

Baca juga: Asrenum Panglima TNI Bersama Wamenhan RI Bahas RUU Reforma Agraria | Gerak Cepat Babinsa Bersama Tim Karhutla Padamkan Api | Panglima TNI Bersama Menko Polkam Lepas Satgas Terpadu Port Visit 2026