Danantara Siapkan Industri Tekstil untuk Perluas Lapangan Kerja

oleh -332 Dilihat
oleh
Danantara Siapkan Industri Tekstil untuk Perluas Lapangan Kerja

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Danantara Indonesia memutuskan memasuki sektor tekstil dengan pertimbangan utama memperluas kesempatan kerja. Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa sektor ini memiliki kemampuan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar apabila dikembangkan secara terencana dan berkelanjutan. Karena itu, keterlibatan Danantara tidak semata-mata diarahkan untuk mengejar pertumbuhan investasi, tetapi juga untuk memperkuat industri padat karya yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Menurut Dony, pertumbuhan industri tekstil di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir cenderung mengalami stagnasi. Kondisi tersebut berdampak pada terbatasnya penciptaan pekerjaan baru di sektor formal. Sebagian pencari kerja kemudian bergeser ke sektor informal karena pilihan pekerjaan yang tersedia di industri pengolahan semakin terbatas. Perpindahan ini menunjukkan bahwa penguatan kembali industri tekstil diperlukan, baik untuk menjaga kapasitas produksi nasional maupun menyediakan sumber penghasilan yang lebih stabil bagi tenaga kerja.

Dalam keterangannya, Dony menyampaikan bahwa Danantara berencana membangun industri tekstil sendiri. Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan basis produksi yang mampu membuka lapangan pekerjaan secara luas. Dengan membangun dan mengelola industri dari hulu hingga hilir secara lebih terintegrasi, Danantara diharapkan dapat mendorong peningkatan kapasitas produksi, memperkuat rantai pasok, serta meningkatkan daya saing tekstil nasional.

Pernyataan itu disampaikan Dony dalam acara dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran yang berlangsung di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, pada Kamis, 8 Oktober. Ia menegaskan bahwa tujuan pembukaan lapangan kerja menjadi alasan penting di balik langkah Danantara masuk ke bisnis tekstil. Pengembangan sektor tersebut diharapkan tidak hanya menciptakan pekerjaan langsung di pabrik, tetapi juga mendorong peluang pada bidang pendukung, seperti distribusi, penyediaan bahan baku, jasa logistik, dan usaha kecil yang terhubung dengan rantai industri tekstil.

Investasi Danantara di sektor tekstil dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat arah industrialisasi nasional. Menurut Dony, kebijakan ini bukan semata-mata keputusan bisnis, melainkan bagian dari kehendak Presiden Prabowo Subianto untuk mengubah struktur perekonomian Indonesia. Perubahan tersebut diarahkan menuju industrial-based economy, atau ekonomi berbasis industri, yang menempatkan kegiatan produksi sebagai penggerak utama pertumbuhan.

Dalam kerangka tersebut, industri tekstil memiliki posisi penting karena keterkaitannya dengan berbagai tahapan produksi dan kebutuhan tenaga kerja. Penguatan sektor ini dapat mendorong peningkatan kapasitas industri nasional, memperluas kegiatan usaha, serta menciptakan peluang kerja bagi masyarakat. Dengan demikian, investasi tidak hanya dinilai dari potensi keuntungan finansial, tetapi juga dari dampaknya terhadap pembangunan ekonomi dan kesejahteraan sosial.

Penegasan mengenai orientasi industri menunjukkan bahwa pemerintah ingin mendorong perekonomian yang lebih produktif dan memiliki basis produksi yang kuat. Sektor industri pada akhirnya diharapkan mampu membuka banyak lapangan kerja, terutama ketika investasi diikuti oleh pengembangan kapasitas, peningkatan aktivitas produksi, dan keterlibatan tenaga kerja dalam rantai industri. Arah ini menjadikan tekstil sebagai bagian dari agenda yang lebih luas, bukan kebijakan yang berdiri sendiri.

Danantara juga berencana menanamkan investasi pada sektor-sektor lain yang memiliki kapasitas besar dalam menyerap tenaga kerja. Rencana tersebut memperlihatkan upaya untuk menempatkan penciptaan lapangan kerja sebagai salah satu pertimbangan penting dalam menentukan prioritas investasi. Melalui pendekatan itu, investasi diharapkan mendukung transformasi ekonomi nasional secara bertahap, sekaligus memperkuat peran industri sebagai fondasi pertumbuhan dan perluasan kesempatan kerja.

Sebelum merealisasikan rencana pengembangan sektor tekstil, Danantara menyiapkan langkah melalui koordinasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan. Persiapan tersebut diarahkan untuk memahami kondisi industri secara menyeluruh, termasuk tantangan produksi, ketersediaan bahan baku, daya saing, kebutuhan investasi, serta potensi penyerapan tenaga kerja. Pendekatan ini dinilai penting agar kebijakan dan program yang disusun dapat menjawab kebutuhan pelaku usaha sekaligus memperkuat fondasi industrialisasi nasional.

Dony telah melakukan diskusi intensif dengan berbagai asosiasi pengusaha tekstil dan alas kaki. Dialog tersebut membahas persoalan yang dihadapi industri, mulai dari tekanan biaya, perubahan permintaan pasar, persaingan produk impor, hingga kebutuhan peningkatan teknologi dan kapasitas produksi. Masukan dari asosiasi menjadi bahan penting bagi Danantara dalam memetakan peluang pengembangan ekosistem usaha yang lebih terintegrasi. Dengan koordinasi tersebut, perluasan industri diharapkan tidak hanya meningkatkan investasi, tetapi juga menciptakan lebih banyak lapangan kerja berkualitas.

Selain berdialog dengan pelaku usaha, Dony bertemu dengan Menteri Perdagangan Budi Santoso serta Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji. Pertemuan itu menegaskan pentingnya keterpaduan kebijakan perdagangan dan kebijakan industri. Salah satu kesepakatan utama yang mengemuka adalah perlunya deregulasi kebijakan untuk mempercepat industrialisasi di Indonesia. Penyederhanaan aturan, pengurangan hambatan administratif, serta kepastian proses perizinan dipandang dapat membantu perusahaan mengambil keputusan investasi secara lebih cepat dan terukur.

Danantara juga membuka peluang kerja sama bagi mitra swasta dari dalam dan luar negeri yang memiliki kapasitas untuk mendorong penguatan industri nasional. Kemitraan tersebut dapat mencakup investasi fasilitas produksi, pengembangan teknologi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, penguatan rantai pasok, serta perluasan akses pasar. Seleksi mitra akan mempertimbangkan kemampuan, rekam jejak, dan komitmen terhadap pengembangan industri domestik. Melalui kerja sama yang terarah, Danantara berupaya membangun industri tekstil dan alas kaki yang lebih produktif, kompetitif, dan mampu menyerap tenaga kerja secara berkelanjutan.

Danantara Indonesia sedang merencanakan pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) baru di bidang tekstil. Rencana tersebut menjadi salah satu bentuk konkret perhatian terhadap penguatan industri tekstil nasional sekaligus upaya memperluas peluang kerja. Dengan adanya entitas usaha baru, sektor ini diharapkan dapat dikembangkan secara lebih terarah sesuai kebutuhan industri dan potensi yang tersedia.

Namun, pembentukan perusahaan baru bukan satu-satunya opsi yang dipertimbangkan. CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa peluang untuk mengembangkan perusahaan tekstil yang telah ada tetap terbuka. Pendekatan tersebut memungkinkan penguatan dilakukan melalui aset, kapasitas, dan pengalaman perusahaan yang sudah beroperasi, tanpa harus sepenuhnya bergantung pada pembangunan entitas baru.

Rosan menjelaskan, perhatian Danantara tidak hanya tertuju pada pendirian perusahaan tekstil baru, tetapi juga pada kemungkinan mengembangkan perusahaan yang dinilai memiliki potensi. Salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan ialah peningkatan mesin dan teknologi. Pembaruan tersebut penting untuk membantu meningkatkan kemampuan produksi, mendukung efisiensi, serta memperkuat daya saing industri tekstil dalam menghadapi perubahan kebutuhan pasar.

Pernyataan itu disampaikan Rosan di Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa, 22 September. Keterangan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan industri tekstil akan dikaji melalui beberapa kemungkinan, baik dengan membentuk BUMN baru maupun memperkuat perusahaan yang telah tersedia. Dengan mempertimbangkan kondisi dan potensi masing-masing perusahaan, Danantara dapat menentukan bentuk pengembangan yang paling sesuai bagi pertumbuhan sektor tekstil dan penciptaan lapangan kerja.