Kabupaten Ogan Komering Ilir | Manggala Agni Kementerian Kehutanan memusatkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di empat kabupaten di Sumatera Selatan, yakni Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Banyuasin (Muba), Muara Enim, dan Ogan Ilir. Penetapan wilayah tersebut menjadi sasaran pemadaman mencerminkan fokus petugas pada titik-titik yang memerlukan penanganan langsung. Upaya pemadaman diarahkan untuk mengendalikan kebakaran yang masih terjadi sekaligus membatasi dampak asap terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitar kawasan terdampak. Keempat daerah itu menjadi perhatian dalam operasi Manggala Agni di provinsi tersebut.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, menyampaikan informasi mengenai fokus penanganan itu di Palembang pada Senin. Keterangan tersebut menegaskan bahwa kegiatan pemadaman tidak dilakukan dengan cakupan yang sama di seluruh wilayah, melainkan dipusatkan pada kabupaten yang menjadi sasaran prioritas. OKI, Muba, Muara Enim, dan Ogan Ilir disebut sebagai lokasi yang perlu mendapat perhatian petugas. Dengan penetapan fokus tersebut, Manggala Agni mengarahkan penanganan karhutla pada daerah-daerah yang kondisi kebakarannya membutuhkan respons.
Di empat wilayah itu, Ogan Komering Ilir menjadi prioritas utama. Kebakaran masih berlangsung di sejumlah wilayah di kabupaten tersebut dan menghasilkan asap dalam jumlah besar. Kondisi tersebut membuat pengendalian api di OKI menjadi perhatian mendesak, karena kebakaran yang belum padam dapat terus menimbulkan asap dan memperluas dampaknya. Pemusatan penanganan di OKI menjadi langkah penting untuk merespons situasi yang masih aktif, sementara pemadaman di Muba, Muara Enim, dan Ogan Ilir tetap menjadi bagian dari upaya pengendalian karhutla di Sumatera Selatan. Keterangan ini sekaligus menunjukkan bahwa tingkat aktivitas kebakaran dan banyaknya asap menjadi pertimbangan dalam menentukan urutan prioritas pemadaman.
Di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), pemadaman kebakaran hutan dan lahan masih berlangsung di tiga kawasan, yaitu Sungai Menang, Cengal, dan Pangkalan Lampam. Ketiga wilayah tersebut menjadi perhatian karena asap tebal yang terlihat di sejumlah lokasi berasal dari area kebakaran di sana. Petugas terus berupaya menjangkau titik api dan mengendalikan penyebaran kobaran, sementara kondisi lapangan menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah penanganan. Asap yang cukup besar juga dapat mengganggu aktivitas warga dan jarak pandang, sehingga pengendalian api di kawasan ini tetap menjadi prioritas. Pemantauan diperlukan untuk mengetahui perubahan kondisi, termasuk apabila api bergerak mendekati kawasan yang lebih mudah dijangkau masyarakat.
Upaya pemadaman juga dilakukan di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dan Muara Enim. Di dua kabupaten tersebut, petugas menangani titik-titik kebakaran yang terpantau, dengan perhatian khusus di sekitar Gelumbang. Area kebakaran di kawasan itu cukup luas, sehingga penanganannya membutuhkan pemantauan berkelanjutan dan kerja lapangan yang terkoordinasi. Luas area menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi waktu serta jangkauan pemadaman. Karena itu, petugas berupaya menyesuaikan penanganan dengan kondisi di setiap titik, sekaligus mengawasi potensi api meluas ke area sekitarnya. Langkah ini berjalan seiring dengan upaya pemadaman di OKI, tempat asap tebal masih menjadi penanda pentingnya pengendalian kebakaran.
Sementara itu, di Kabupaten Ogan Ilir, fokus petugas adalah mengantisipasi kebakaran di sekitar jalan tol dan jalan lintas. Kedua jalur tersebut memerlukan perhatian karena asap dari kebakaran dapat mengurangi jarak pandang dan berpotensi mengganggu keselamatan pengguna jalan. Pemantauan di sekitar koridor transportasi membantu petugas mengenali kondisi lebih awal dan menentukan respons apabila api atau asap mendekati jalur kendaraan. Dengan demikian, penanganan di Ogan Ilir tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga pada pencegahan dampak kebakaran terhadap mobilitas masyarakat. Secara keseluruhan, penanganan tersebar di sejumlah kabupaten dengan kebutuhan berbeda: pemadaman aktif di OKI, Muba, dan Muara Enim, serta antisipasi di jalur strategis Ogan Ilir. Koordinasi dan pengawasan tetap dibutuhkan agar upaya tersebut berjalan efektif.
Manggala Agni menambah kekuatan personel untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan. Bantuan didatangkan dari Riau dan Jambi, sehingga jumlah petugas yang dikerahkan meningkat dari 254 menjadi 345 orang. Tambahan personel ini diharapkan memperkuat upaya pemadaman di sejumlah titik yang membutuhkan penanganan, terutama ketika kondisi kebakaran terus berkembang. Meski demikian, pengerahan tenaga tambahan belum tentu menjadi langkah terakhir. Jika kebakaran meluas, jumlah personel masih dapat ditambah sesuai kebutuhan operasi di lapangan.
Ferdian menyebut kondisi lokasi kebakaran menghadirkan beragam kendala bagi petugas. Area yang terbakar cukup luas, sementara kedalaman gambut membuat api berpotensi sulit dijangkau dan dipadamkan. Banyaknya bahan bakar berupa vegetasi juga dapat mendukung penyebaran api. Selain itu, arah angin yang berubah-ubah menyulitkan petugas memperkirakan pergerakan api dan menentukan langkah pemadaman secara konsisten. Berbagai faktor tersebut membuat penanganan harus disesuaikan dengan situasi di setiap lokasi, termasuk kondisi medan dan perubahan cuaca yang memengaruhi operasi.
Ketersediaan air menjadi hambatan utama dalam pelaksanaan pemadaman. Sejumlah kanal yang biasanya dimanfaatkan sebagai sumber air mulai mengering, sehingga akses terhadap pasokan untuk membasahi area terdampak menjadi lebih terbatas. Kondisi ini dapat menambah waktu dan upaya yang diperlukan untuk mendukung operasi, khususnya di kawasan gambut yang luas. Petugas perlu mempertimbangkan sumber air yang masih tersedia sekaligus menyesuaikan strategi dengan kondisi lapangan. Kombinasi keterbatasan air, vegetasi yang mudah terbakar, kedalaman gambut, dan angin yang berubah membuat pengerahan personel tambahan penting, tetapi keberhasilan penanganan juga bergantung pada kemampuan mengatasi kendala tersebut.
Untuk mendukung operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan, upaya penyediaan air dilakukan dengan membuat embung sebagai tempat penampungan. Keberadaan embung dapat membantu menyediakan cadangan air di sekitar area yang membutuhkan dukungan pemadaman. Air yang tertampung dapat dimanfaatkan petugas dalam operasi sesuai kondisi lapangan dan kebutuhan yang berkembang. Langkah ini menjadi bagian dari dukungan terhadap penanganan, terutama ketika ketersediaan sumber air perlu diperhatikan selama operasi berlangsung. Pembuatan embung juga diarahkan untuk membantu menjaga pasokan air agar lebih mudah dijangkau di lokasi yang relevan. Pelaksanaannya tetap disesuaikan dengan keadaan setempat dan koordinasi pihak-pihak yang terlibat dalam penanganan karhutla. Dengan penampungan air tersebut, dukungan bagi operasi di lapangan dapat diperkuat tanpa mengabaikan langkah pengendalian lain yang sedang ditempuh.
Selain membuat embung, kanal juga disekat agar air dapat ditahan dan tidak terus mengalir keluar dari kawasan yang memerlukannya. Penyekatan kanal ditujukan untuk memperlambat aliran serta membantu mempertahankan ketersediaan air di lahan. Air yang tertahan diharapkan mendukung kondisi kawasan tetap lebih basah dan dapat menjadi sumber dukungan bagi upaya pemadaman. Langkah ini melengkapi penyediaan embung, sebab keduanya berkaitan dengan upaya menjaga air tetap tersedia untuk operasi. Penyekatan dilakukan sebagai bagian dari penanganan di lapangan, dengan memperhatikan kondisi kanal dan lingkungan sekitarnya. Pengaturan air tersebut tidak menggantikan tindakan pemadaman, tetapi membantu menyediakan dukungan yang diperlukan ketika petugas menangani titik kebakaran. Upaya menahan air juga dipandang penting dalam menghadapi kondisi lahan yang rentan kering, sambil tetap memusatkan perhatian pada kebutuhan operasional dan keselamatan.
Sementara operasi penanganan berlangsung, penghitungan luas kebakaran di seluruh wilayah Sumatera Selatan masih dilakukan. Proses pendataan tersebut belum menghasilkan angka final yang dapat dijadikan kesimpulan mengenai total luasan terdampak. Data akhir akan dihitung oleh instansi terkait di tingkat pusat, sehingga hasil resmi perlu menunggu proses penghitungan dan verifikasi dari pihak berwenang.
Baca juga: Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla | Penanganan Karhutla Sektor Selatan Kalbar Diperkuat, TNI Alihkan Perkuatan Pasukan | Respons Cepat Diperkuat, Lanud Sjamsudin Noor Siagakan Tangki Portable Untuk Penanganan di Titik Rawan Karhutla
