Asap Karhutla Terpantau di Jakarta, BMKG dan Ahli Jelaskan Pergerakannya

oleh -21 Dilihat
oleh
Kabut Asap Karhutla Membatasi Aktivitas Warga Samarinda dan Mengancam Kesehatan Anak

Jakarta | Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan dan Sumatra terpantau mencapai Jakarta. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membenarkan bahwa sebaran asap tersebut meluas hingga sejumlah wilayah di Pulau Jawa. Citra pemantauan BMKG yang dirilis pukul 10.00 memperlihatkan asap telah memasuki Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta.

Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa pemantauan membagi sebaran asap menjadi dua wilayah utama. Kelompok pertama berasal dari kebakaran di Merauke, Papua Selatan, dengan perluasan hingga Maluku. Kelompok kedua bersumber dari kebakaran di Kalimantan dan Sumatra, lalu bergerak ke sebagian Banten, Jawa Barat, serta DKI Jakarta.

Keterangan Guswanto tersebut disampaikan saat dikonfirmasi pada Jumat, 16 Oktober 2026. Pemetaan ini menunjukkan bahwa sebaran asap tidak hanya berada di sekitar lokasi kebakaran, tetapi juga dapat menjangkau wilayah lain. Meski demikian, keterangan mengenai cakupan sebaran itu perlu dibedakan dari informasi tentang kondisi kualitas udara di setiap daerah. Citra yang menunjukkan keberadaan asap tidak dengan sendirinya menjelaskan tingkat paparan atau dampak yang dirasakan masyarakat di lokasi tertentu.

BMKG juga mendeteksi pergerakan asap melintasi batas negara. Asap dari Sumatra terpantau bergerak menuju Semenanjung Malaysia dan Singapura, sedangkan asap dari Kalimantan terdeteksi menuju Semenanjung Malaysia. Jalur pergerakan tersebut melengkapi gambaran sebaran regional yang dipantau lembaga itu, di tengah meluasnya asap ke beberapa wilayah Indonesia.

Adapun penjelasan ahli mengenai pergerakan asap disampaikan pada Sabtu, 17 Oktober 2026, sehari setelah keterangan Guswanto. Perbedaan waktu ini penting agar pernyataan pejabat BMKG dan pandangan ahli tidak tercampur sebagai satu keterangan yang disampaikan bersamaan. Berdasarkan informasi pemantauan yang tersedia, inti perkembangan peristiwa adalah terdeteksinya asap dari sejumlah titik kebakaran, dengan sebaran yang mencapai wilayah barat Indonesia, termasuk Jakarta, serta beberapa kawasan di negara tetangga. Rincian sebaran tersebut menggambarkan pergerakan yang dipantau pada waktu pelaporan, bukan kepastian bahwa seluruh wilayah yang disebut mengalami dampak dengan tingkat yang sama.

Daryono, anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia, menjelaskan bahwa angin timuran lazim terjadi di Indonesia ketika musim kemarau. Namun, pola tersebut tidak berarti arah dan kecepatannya seragam di seluruh wilayah. Kondisi setempat, waktu pengamatan, serta keadaan atmosfer dapat membuat angin bergerak berbeda satu daerah dan daerah lain. Karena itu, arah angin yang terukur di Kalimantan belum tentu sama dengan aliran udara di Laut Jawa atau Jakarta. Perbedaan tersebut juga dapat muncul pada waktu yang sama, terutama ketika kondisi cuaca lokal memengaruhi sirkulasi udara.

Pergerakan asap tidak hanya ditentukan oleh angin yang dirasakan di permukaan. Partikel halus dari kebakaran, termasuk PM2.5, dapat terangkat melalui turbulensi dan konveksi menuju lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Proses ini memungkinkan asap mencapai ketinggian ratusan hingga ribuan meter. Pada lapisan tersebut, arah dan kecepatan angin bisa berbeda dari kondisi di dekat permukaan tanah. Akibatnya, asap dapat menempuh jalur yang tidak tampak dari pengamatan angin sehari-hari. Meski warga merasakan angin bertiup ke satu arah, aliran udara di ketinggian dapat membawa partikel menuju wilayah lain.

Pola angin juga dapat berubah sementara akibat gangguan atmosfer. Daerah bertekanan rendah dan sirkulasi siklonik, misalnya, dapat mengubah arah aliran udara di sekitarnya. Masa peralihan monsun turut membuat pola angin lebih bervariasi, sehingga kondisi pada suatu hari belum tentu sama dengan hari berikutnya. Faktor-faktor tersebut perlu diperhatikan saat menilai kemungkinan perpindahan asap antardaerah. Jika aliran udara di lapisan yang membawa partikel bergerak dari kawasan kebakaran menuju Laut Jawa dan Jakarta, asap berpotensi terbawa hingga ratusan kilometer. Dengan demikian, jarak dari sumber kebakaran saja tidak cukup untuk menentukan wilayah yang mungkin terdampak; ketinggian dan perubahan sirkulasi udara juga berperan.

Terpantau atau terdeteksinya asap yang bergerak menuju wilayah Jakarta tidak serta-merta menunjukkan bahwa kota tersebut sedang mengalami pencemaran udara berat. Keberadaan asap di suatu kawasan perlu dibedakan dari tingkat konsentrasi polutan yang benar-benar mencapai permukaan dan dihirup masyarakat. Menurut Daryono, karakter asap dapat berubah selama perjalanan dari sumber kebakaran. Asap bercampur dengan udara di sekitarnya, mengalami proses kimia, lalu dapat mengencer atau mengendap. Karena itu, kondisi di titik asal kebakaran belum tentu sama dengan kondisi udara di Jakarta setelah asap menempuh jarak tertentu. Pengamatan arah pergerakan saja belum cukup untuk menetapkan besarnya dampak.

Seberapa besar pengaruh asap di Jakarta bergantung pada beberapa faktor yang bekerja bersama. Emisi dari kebakaran menentukan banyaknya material yang dilepaskan ke atmosfer, sedangkan arah dan kecepatan angin memengaruhi jalur serta waktu tempuhnya. Curah hujan dapat turut mengubah keberadaan partikel di udara, dan kestabilan atmosfer berpengaruh terhadap apakah asap menyebar atau bertahan pada lapisan tertentu. Perubahan faktor-faktor tersebut membuat konsentrasi bisa berbeda dari waktu ke waktu. Dengan demikian, asap yang terpantau dalam citra atau laporan pergerakan tidak otomatis berarti konsentrasi di permukaan Jakarta meningkat, terlebih tanpa data pengukuran yang menunjukkan perubahan tersebut.

Guswanto menyampaikan bahwa arah angin di Indonesia umumnya bertiup dari timur hingga tenggara menuju barat laut. Namun, citra yang ia jelaskan memperlihatkan pergerakan asap di Pulau Jawa ke arah tenggara hingga barat. Perbedaan gambaran umum pola angin dan lintasan pada citra ini menjadi alasan untuk membaca informasi sesuai waktu, lokasi, dan lapisan atmosfer yang diamati, bukan menarik kesimpulan hanya dari satu pola. Hal penting yang perlu dipantau ialah apakah konsentrasi asap di Jakarta benar-benar meningkat di permukaan, atau asap hanya melintas pada lapisan atmosfer atas. Pemantauan berkelanjutan diperlukan untuk membedakan kedua keadaan tersebut. Tanpa kepastian mengenai konsentrasi permukaan, arah lintasan asap saja tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan tingkat kualitas udara di Jakarta.

Guswanto mengimbau masyarakat untuk mengurangi paparan ketika kualitas udara memburuk. Imbauan tersebut disampaikan sebagai langkah kehati-hatian saat asap atau partikel di udara berpotensi mengganggu kenyamanan aktivitas. Warga diminta mempertimbangkan kembali kegiatan di luar ruang apabila kondisi udara sedang kurang baik, serta membatasi waktu berada di luar sesuai keadaan. Pesan ini menekankan kewaspadaan terhadap perubahan kualitas udara, tanpa menyimpulkan bahwa kondisi tertentu sedang berlangsung di seluruh wilayah atau menetapkan ukuran kualitas udara tertentu.

Selain mengurangi aktivitas di luar ruang, Guswanto menyarankan masyarakat menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar saat udara memburuk. Jenis yang ia rekomendasikan adalah KN95, KF94, atau N95. Menurut penjelasannya, masker tersebut lebih efektif menyaring partikel udara dibandingkan masker yang tidak memiliki kemampuan penyaringan serupa. Karena itu, pemilihan masker menjadi bagian dari upaya membatasi paparan partikel ketika seseorang tidak dapat menghindari kegiatan di luar. Rekomendasi ini merupakan imbauan yang disampaikan Guswanto dalam konteks kondisi udara yang memburuk.

Masyarakat dapat menjadikan imbauan tersebut sebagai panduan sederhana: mengurangi kegiatan di luar ruang saat kualitas udara menurun dan memakai salah satu jenis masker yang disebutkan apabila perlu keluar. Penekanannya bukan pada kepastian bahwa setiap kawasan mengalami tingkat pencemaran yang sama, melainkan pada kehati-hatian ketika udara terasa atau terpantau memburuk. Dengan demikian, pesan Guswanto tetap berfokus pada dua langkah yang ia sampaikan, yakni membatasi aktivitas luar ruang dan mengenakan masker KN95, KF94, atau N95 karena lebih efektif menyaring partikel udara.

Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla