Denpasar | Antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) masih terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali pada Selasa malam, 13 Oktober. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena berlangsung ketika aktivitas perjalanan masyarakat masih berjalan. Kendaraan yang hendak mengisi BBM tampak memadati area SPBU dan ruas jalan di sekitarnya.
Situasi itu terlihat di sepanjang Jalan Raya Gilimanuk–Denpasar. Kendaraan roda dua dan kendaraan lainnya mengular di depan SPBU, membentuk antrean yang memanjang mengikuti akses menuju lokasi pengisian. Pengendara harus menunggu secara bergantian untuk memperoleh BBM, sementara kendaraan lain tetap melintas di ruas jalan tersebut.
Padatnya kendaraan yang mengantre turut memengaruhi kelancaran lalu lintas di sepanjang jalur itu. Ruang jalan menjadi lebih terbatas karena sebagian kendaraan berada di depan SPBU dan menunggu giliran. Akibatnya, arus kendaraan tidak dapat bergerak seleluasa kondisi normal, sehingga kemacetan muncul di sekitar lokasi antrean. Pengguna jalan yang melintasi Jalan Raya Gilimanuk–Denpasar harus menghadapi kepadatan tersebut saat antrean masih berlangsung. Gambaran di lapangan menunjukkan bahwa persoalan antrean BBM belum sepenuhnya berakhir di Bali pada malam itu, meskipun ketersediaan stok menjadi perhatian dalam perkembangan berita ini.
Antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar minyak (BBM) di Bali turut berdampak pada kelancaran arus lalu lintas. Untuk menangani situasi tersebut, aparat kepolisian dikerahkan ke lapangan. Personel dari Polresta Denpasar, Polres Badung, dan Polres Tabanan menjalankan tugas pengaturan kendaraan di tengah kepadatan yang muncul akibat antrean pengisian BBM.
Kehadiran personel kepolisian ditujukan untuk membantu mengurai jalur kendaraan yang melambat atau tertahan. Pengaturan dilakukan agar kendaraan yang mengantre tidak menutup ruang bagi pengguna jalan lain secara lebih luas. Dengan demikian, arus kendaraan tetap dapat bergerak dan kepadatan di sekitar antrean tidak berkembang menjadi kemacetan yang lebih parah.
Penanganan ini menjadi bagian penting dari upaya menjaga kelancaran mobilitas masyarakat selama antrean BBM masih berlangsung. Personel dari tiga wilayah kepolisian tersebut turun langsung untuk mengatur situasi lalu lintas sesuai kondisi yang dihadapi di lapangan. Fokus utama langkah tersebut adalah mengurangi penumpukan kendaraan serta menjaga agar antrean tidak menimbulkan gangguan yang meluas terhadap perjalanan pengguna jalan.
Langkah aparat juga menunjukkan bahwa dampak antrean BBM tidak hanya berkaitan dengan waktu tunggu masyarakat saat mengisi bahan bakar, tetapi dapat memengaruhi pergerakan kendaraan di jalan. Karena itu, pengaturan oleh kepolisian diperlukan untuk menjaga kepadatan tetap terkendali. Penempatan personel dari Polresta Denpasar, Polres Badung, dan Polres Tabanan menjadi respons terhadap kondisi lalu lintas yang terdampak antrean, dengan tujuan utama mengurai jalur kendaraan dan mencegah kemacetan bertambah parah.
Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax di wilayah Bali berada dalam kondisi aman serta mencukupi. Penegasan tersebut disampaikan ketika antrean kendaraan masih terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Menurut Koster, kondisi antrean yang berlangsung di lapangan tidak menunjukkan bahwa persediaan kedua jenis BBM tersebut mengalami kekurangan.
Pernyataan itu disampaikan setelah Koster mengikuti pertemuan tertutup bersama Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri. Pertemuan tersebut berlangsung selama sekitar dua jam pada Selasa sore, 13 Oktober, di ruang rapat Pertamina Fuel Terminal Sanggaran, Pedungan, Denpasar. Pertemuan ini menjadi bagian dari pembahasan mengenai situasi penyaluran dan ketersediaan BBM di Bali, terutama setelah muncul antrean di sejumlah lokasi.
Usai pertemuan, Koster menyampaikan bahwa stok Pertalite dan Pertamax masih tersedia dalam jumlah yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, antrean yang masih tampak tidak serta-merta berkaitan dengan habisnya persediaan BBM. Kondisi di lapangan tetap menjadi perhatian pemerintah daerah dan Pertamina, mengingat antrean dapat mengganggu mobilitas masyarakat serta menimbulkan kekhawatiran pengguna kendaraan. Penjelasan mengenai kecukupan stok diharapkan memberikan gambaran bahwa pasokan BBM di Bali tetap terjaga. Pemerintah juga perlu memastikan informasi mengenai distribusi dan pelayanan di SPBU tersampaikan secara jelas, sehingga masyarakat memperoleh kepastian saat memenuhi kebutuhan bahan bakar. Dalam konteks tersebut, hasil pertemuan tertutup Koster dan jajaran Pertamina menjadi dasar pernyataan bahwa pasokan Pertalite serta Pertamax berada dalam kondisi aman dan mencukupi, meskipun antrean masih ditemukan di sejumlah titik.
Gubernur Bali Wayan Koster menilai antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dalam beberapa hari terakhir tidak disebabkan oleh habisnya persediaan BBM. Menurutnya, persoalan utama berada pada kelancaran distribusi logistik dari terminal menuju SPBU. Gangguan dalam proses tersebut membuat pasokan tidak tiba secara merata dan tepat waktu, sehingga terjadi penumpukan kendaraan di beberapa lokasi.
Koster menegaskan bahwa stok Pertalite dan Pertamax secara umum masih tersedia. Ia meminta situasi di lapangan tidak langsung dipahami sebagai kelangkaan akibat persediaan nasional atau regional yang kosong. Perbedaan ketersediaan stok dan kelancaran penyaluran perlu menjadi perhatian, karena BBM yang tersedia di terminal tetap membutuhkan proses distribusi agar dapat diterima oleh SPBU dan masyarakat.
Pada Selasa, 13 Oktober, pasokan baru Pertalite telah tiba di Terminal BBM Manggis dan Terminal BBM Sanggaran. Informasi tersebut disampaikan untuk memperjelas bahwa pengiriman BBM tetap berlangsung, sekaligus menunjukkan adanya upaya menjaga ketersediaan pasokan di Bali. Setelah tiba di terminal, BBM selanjutnya perlu disalurkan ke sejumlah SPBU sesuai kebutuhan dan kondisi distribusi di masing-masing wilayah.
Koster juga mengimbau masyarakat agar tidak panik menghadapi antrean yang terjadi. Warga diminta membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak melakukan aksi borong atau panic buying. Pembelian secara berlebihan dapat meningkatkan tekanan terhadap pasokan di SPBU, karena permintaan dalam waktu yang sama menjadi lebih tinggi daripada kondisi normal. Tindakan tersebut justru berpotensi memperpanjang antrean dan menyulitkan masyarakat lain yang membutuhkan BBM. Karena itu, masyarakat diharapkan tetap tenang, mengikuti informasi resmi, serta tidak menimbun Pertalite maupun Pertamax selama proses distribusi berjalan.
Baca juga: HUT ke-48 FKPPI, Bamsoet Tegaskan Arahan Ketua Umum, Bahwa FKPPI Organisasi Perjuangan, Bukan Kendaraan Politik Cari Kekuasaan | Rapat Pleno Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan KADIN Indonesia, Bamsoet Tegaskan Kenyamanan Berusaha Adalah Bagian dari Keamanan Nasional | Wakili Panglima TNI, Kaster TNI Tegaskan Komitmen Indonesia Bagi Perdamaian Indo-Pasifik
