Jakarta | Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) mulai mengubah cara masyarakat memperoleh informasi tentang organisasi. Jika sebelumnya publik umumnya membuka situs web, membaca siaran pers, atau menghubungi kanal resmi, kini mereka dapat mengajukan pertanyaan melalui teknologi pencarian berbasis AI dan menerima rangkuman jawaban secara langsung. Jalur baru ini membuat informasi mengenai kebijakan, kinerja, maupun reputasi sebuah lembaga dapat ditemukan tanpa pengunjung selalu mengakses lembaga atau sumber resmi secara langsung.
Perubahan tersebut disampaikan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria sebagai pembicara kunci dalam Konvensi Humas Indonesia di Solo, Jawa Tengah, pada Sabtu (17/10/2026). Pandangan itu menyoroti perubahan mendasar dalam ekosistem informasi: organisasi tidak lagi sepenuhnya mengendalikan titik pertemuan pertama pesan mereka dan publik. Jawaban yang muncul dari pencarian AI dapat dibentuk dari berbagai sumber yang tersedia, lalu disajikan dalam format ringkas yang mudah dikonsumsi.
Bagi praktisi humas, keadaan ini menggeser cara membangun hubungan dengan masyarakat. Komunikasi tidak cukup hanya mengandalkan penyampaian pesan melalui konferensi pers, media sosial, atau publikasi di kanal milik organisasi. Humas perlu memahami bahwa informasi tentang lembaga beredar dan ditafsirkan di berbagai ruang digital. Karena itu, mereka perlu memastikan fakta penting mudah ditemukan, konsisten, dan didukung sumber yang jelas, sekaligus sigap membenahi informasi yang keliru atau sudah tidak relevan.
Ketersediaan informasi organisasi yang akurat dan tepercaya menjadi semakin penting ketika publik menilai lembaga melalui jawaban yang disusun sistem AI. Data yang tidak lengkap, pernyataan yang bertentangan, atau pembaruan yang terlambat berisiko menghasilkan gambaran yang kurang tepat. Sebaliknya, dokumentasi terbuka, penjelasan kebijakan yang mudah dipahami, serta pembaruan berkala membantu memperkuat landasan informasi yang beredar. Upaya ini bukan semata strategi agar organisasi terlihat dalam hasil pencarian, melainkan bagian dari tanggung jawab komunikasi publik.
Dengan demikian, teknologi pencarian AI perlu dipandang sebagai perantara baru dalam arus informasi, bukan pengganti hubungan langsung lembaga dan masyarakat. Humas tetap perlu menyediakan kanal resmi yang responsif, mendengarkan pertanyaan publik, dan menyampaikan koreksi secara terbuka. Ketika informasi yang mendasari jawaban digital dijaga mutunya, organisasi memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan kepercayaan, sekaligus membantu masyarakat membuat penilaian berdasarkan keterangan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Penekanan Nezar menunjukkan bahwa peran humas kini tidak berhenti pada upaya membuat informasi mudah ditemukan. Ketersediaan informasi memang penting, tetapi akses saja belum menjamin masyarakat memahami persoalan secara utuh. Di tengah arus pesan yang cepat dan berlimpah, humas perlu memastikan data yang disampaikan akurat, penjelasannya jelas, dan konteksnya memadai. Informasi yang mudah dijangkau tetapi tidak lengkap atau sulit dipahami dapat menimbulkan kebingungan, bahkan mengurangi kepercayaan publik. Karena itu, ukuran keberhasilan komunikasi bukan sekadar seberapa cepat pesan muncul atau seberapa luas jangkauannya, melainkan juga apakah masyarakat memperoleh pemahaman yang benar dan dapat menggunakannya untuk menilai suatu isu.
Tantangan berikutnya adalah membangun mutu dan kredibilitas informasi secara konsisten. Humas perlu memeriksa sumber, memastikan ketepatan data, serta menyajikan penjelasan yang menjawab pertanyaan publik, bukan hanya mengulang pernyataan resmi. Kedalaman juga menuntut kemampuan menerangkan sebab, dampak, dan keterbatasan informasi dengan bahasa yang mudah dimengerti. Pendekatan ini membantu masyarakat membedakan fakta dari dugaan dan memahami mengapa suatu keputusan atau kebijakan diambil. Dalam lingkungan digital yang dipenuhi berbagai klaim, keterbukaan mengenai dasar informasi dan proses verifikasi dapat menjadi bagian penting dari upaya menjaga kepercayaan. Komunikasi yang bertanggung jawab memberi ruang bagi konteks, ketelitian, dan koreksi apabila ditemukan kekeliruan.
AI dapat mendukung pekerjaan humas, misalnya membantu mengolah bahan, merangkum informasi, atau mempercepat penyusunan draf. Namun, penggunaan teknologi itu sendiri tidak otomatis menghasilkan komunikasi yang baik. Hasil tetap bergantung pada kemampuan manusia untuk menetapkan tujuan, menilai relevansi, memeriksa ketepatan, dan memahami dampak pesan terhadap masyarakat. Kebijaksanaan diperlukan agar keluaran AI tidak diterima begitu saja, terutama ketika menyangkut data sensitif, isu kompleks, atau informasi yang berpotensi menyesatkan jika kehilangan konteks. Penekanan pada peran manusia bukan berarti menolak teknologi. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan secara produktif ketika disertai pengawasan dan pertimbangan profesional. Dengan demikian, humas dapat menggabungkan efisiensi AI dengan penilaian manusia untuk menyampaikan informasi yang tepercaya dan memberi pemahaman lebih mendalam.
Pandangan Nezar menempatkan kecerdasan buatan sebagai alat bantu yang dapat memperkuat pekerjaan manusia, bukan sebagai pengganti daya pikir dan tanggung jawab. Dalam praktik komunikasi publik, teknologi ini dapat membantu mengolah data, merangkum dokumen, menyusun draf, atau mempercepat distribusi informasi. Namun, keluaran sistem tetap bergantung pada kualitas bahan, konteks, dan cara penggunaannya. Karena itu, kemudahan dan kecepatan tidak dengan sendirinya menjamin bahwa suatu pesan benar, adil, atau sesuai kebutuhan publik. Praktisi humas tetap perlu menilai tujuan komunikasi, memahami persoalan, dan menentukan keputusan akhir berdasarkan pertimbangan profesional.
Penggunaan AI dalam komunikasi publik perlu disertai transparansi, etika, dan akuntabilitas. Transparansi berarti menjelaskan peran teknologi ketika penggunaannya relevan bagi pemahaman khalayak, terutama jika AI berkontribusi besar pada materi yang dipublikasikan. Prinsip etika menuntut kehati-hatian terhadap bias, privasi, hak cipta, serta potensi manipulasi informasi. Sementara itu, akuntabilitas memastikan adanya pihak yang bertanggung jawab atas isi dan dampak pesan, termasuk ketika kekeliruan berasal dari keluaran otomatis. Sistem tidak dapat dimintai pertanggungjawaban moral atau profesional; tanggung jawab tetap berada pada manusia dan lembaga yang memilih, memeriksa, serta menyebarkan informasi tersebut.
Bagi praktisi humas, hal ini memperkuat kewajiban untuk memverifikasi fakta, memeriksa sumber, dan menguji konteks sebelum informasi disampaikan kepada publik. Pemeriksaan perlu mencakup angka, kutipan, nama, dan klaim yang dihasilkan atau dirangkum oleh perangkat AI. Praktisi juga perlu mengikuti perkembangan teknologi agar memahami kemampuan, batasan, serta risiko baru yang muncul, tanpa mengabaikan kode etik profesi dan kebijakan organisasi. Ketika produksi dan penyebaran informasi semakin mudah, kesalahan pun dapat menyebar lebih cepat dan merusak kepercayaan. Oleh sebab itu, penggunaan AI yang bertanggung jawab harus mengutamakan ketepatan, keterbukaan, dan pertimbangan manusia. Dengan pendekatan tersebut, teknologi dapat meningkatkan efisiensi kerja humas sekaligus menjaga mutu informasi dan hubungan yang dapat dipercaya dengan masyarakat.
Ketua Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia, Boy Kelana, mengingatkan bahwa kemajuan teknologi komunikasi tidak serta-merta membuat manusia semakin memahami satu sama lain. Perangkat dan platform digital memungkinkan pesan dikirim dalam hitungan detik, menjangkau banyak orang sekaligus, dan melintasi batas wilayah. Namun, kecepatan serta jangkauan itu tidak menjamin pesan dipahami secara utuh, apalagi ditafsirkan dengan cara yang sama. Komunikasi yang semakin mudah tetap memerlukan konteks, penjelasan, dan kemampuan untuk mendengarkan.
Di saat yang sama, akses informasi yang semakin luas menghadirkan tantangan baru bagi masyarakat. Beragam klaim beredar berdampingan di ruang digital, sementara pembaca harus menentukan mana yang merupakan fakta, opini, manipulasi, atau kebohongan. Perbedaan tersebut tidak selalu tampak jelas, terutama ketika informasi disajikan dengan bahasa meyakinkan, dikemas menyerupai laporan yang kredibel, atau tersebar melalui akun dan jaringan yang dikenal. Tanpa kecermatan memeriksa sumber serta konteks, seseorang dapat menerima atau meneruskan informasi yang belum teruji.
Boy menyoroti risiko disinformasi, deepfake, manipulasi persepsi, dan berita palsu yang dapat dibuat serta disebarkan dalam skala besar dan dengan kecepatan tinggi.
Baca juga: Ketika tubuh terasa lebih nyaman, kepercayaan diri pun dapat meningkat | Dalam kepercayaan astrologi Tiongkok, peruntungan setiap shio dipercaya dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu | Jangan Diabaikan, Ini 4 Arti Mimpi Jatuh dari Ketinggian Menurut Kepercayaan Astrologi
